Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 11


__ADS_3

Sesampainya di rumah entah kenapa aku merasa Alex dan Jonathan berbeda saat melihatku malam itu, aku merasa mereka melihatku dengan penuh pertanyaan yang ingin mereka utarakan kepadaku namun mereka hanya menatapku dalam diam. Begitu juga temanku lainnya menatapku dengan penuh tanda tanya, hanya Irene yang berbeda wajahnya sangat jelas menunjukkan bahwa ia sangat khawatir padaku.


Aku sangat lelah, walaupun sebagian kegiatan tidak lagi teringat dalam pikiranku. Aku berusaha mengingat apa saja yang ku lalui namun ingatan itu hanya berhenti di momen ketika aku sampai di puskesmas dan setelahnya aku tidak mengingat apapun.


Sampai di rumah kami tidak bertemu dengan pemilik rumah, aku dan Irene masuk ke dalam kamar yang lainnya duduk di ruang tengah. Mereka duduk namun diam tidak berbicara satu dengan yang lain, tiba-tiba perutku bunyi aku merasa sangat lapar.


“Ren, lapar banget aku.” Ucapku pada Irene.


“Astaga Jo, kau belum ada makan ya siang dan malam ini, yaudah sebentar ya aku cari makan keluar.” Jawab Irene.


“Sama aku aja Ren, aku mau milih makanan sendiri.” Ucapku.


“Oke kalau gitu cuci wajah dulu yuk ganti baju.” Saran Irene.


“Oke,” jawabku.


Aku dan Irene keluar dari kamar dan menuju kamar mandi, masih mau melangkahkan kaki Alex menegurku.


“Jo, mau ngapain??” tanya Alex padaku.


“Ke kamar mandi bang, mau basuh wajah ganti baju.” Jawabku.


“Basuh wajah aja di kamar mandi, ganti baju di kamar aja gausah tutup tuh pintu kamar mandi.” Ucap Alex.


“Emangnya kenapa??” tanyaku.


“Bawel banget sih jo, ikutin aja saran yang paling tua.” Ucap Alex.


“iya, iya,” jawabku sambil melirik sinis.


Irene tersenyum melihat Alex yang tiba-tiba mencair seperti itu.


Saat aku dan Irene ke kamar mandi, Ruth dan Tasya ke kamar menaburkan garam kasar di sekeliling kamar. Awalnya mereka ragu namun mereka mau tidak mau menuruti bu bidan tersebut. Karena mereka khawatir akan ada hal aneh lainnya yang akan menimpaku. Namun ternyata penaburan garam itu bukannya membuat kami menjadi tenang selama disana, namun itu menjadi awal yang akan membuat kami takjub akan teror yang kami terima.


Setelah menabur garam mereka berbaring sambil menungguku keluar dari kamar mandi karena mereka juga ingin ke kamar mandi. Setelah aku dan Irene selesai membasuh wajah aku ganti baju di kamar berdua dengan Irene karena Ruth dan Tasya ke kamar mandi untuk membasuh wajah. Setelah selesai ganti baju aku pergi ke ruang tengah.


“Anggi, bang, aku dan Irene mau keluar nih beli makanan kalian mau nitip gak?? Belum pada makan kan??” tanyaku.


“Belum Jo, aku belum makan malam. Emang udah kuat jalan Jo??” tanya anggi.


“Aku gk sakit Anggi, aku gakpapa.” Jawabku ke Anggi sambil memegang pipinya untuk meyakinkan Anggi.


“Samaku aja, aku naik sepeda motor.” Jawab Alex ketus sambil main game online di handphonenya.


“Gak ah, aku bareng Irene aja.” Jawabku.


“Kalau gamau yaudah tuh pake motorku di ruangan sebelah nih kuncinya.” Ucap Alex sambil menaruh kuncinya di meja.


“Motor abang, motor apa??” tanyaku.


“Motor trail.” Jawab Alex.


“Gak bisa aku bawanya, jalan aja deh.” Jawabku.


Alex menatapku.

__ADS_1


“Kalau gak bisa yaudah terima dong tawaranku, ini udah malam Jo jangan keras kepala deh. Aku juga lapar kalau kamu mau sini aku aja yang beliin, tapi kamu gk makan nasi kan aku gatau kamu suka apa.” Ucap Alex.


Entah kenapa aku merasa Alex mulai beda, atau mungkin aku aja yang baru tau sisi lain dari dirinya.


“Iya iya, gausah marah gitu wajahnya lex, ntar tua.” Jawabku setengah tersenyum.


“Oia aku kok gak pernah liat motornya, bang Jo, gak bawa motor??” tanyaku.


Jujur saja walaupun awalnya aku kesal dengan Jonathan namun dia memiliki pesonanya tersendiri dia kalem dan terlihat lembut. Wanita mana pun jika melihatnya pasti terpesona sama denganku yang sepertinya mulai terpesona karena tatapan lembutnya.


“Enggak jo, aku bareng Alex.” Jawab Jonathan dengan tersenyum.


“Oh gitu toh,” jawabku.


“Jadi gak nih??” tanya Alex sambil berdiri di hadapanku, badannya yang tinggi membuatku sangat kaget.


“Apaan sih, jadi, aku lapar.” Jawabku sambil memukul dadanya, aku refleks karena kaget.


Alex yang juga kaget karena pukulan ku memegang dadanya.


“Wah berani banget sentuh aku, sakit tau.” Ucap Alex.


“Makanya jangan kayak gitu aku kaget, badanmu besar kayak raksasa lex.” Jawabku.


“Lu bisa ya sopan sama Jonathan tapi gk bisa sopan samaku ya.” Ucap Alex sambil memegang pinggangnya dengan kedua tangannya.


“Itu beda,” jawabku sambil menghadap ke belakang melirik dimana Ruth dan Tasya.


Ternyata mereka semua sudah berkumpul di ruang tengah sambil tersenyum melihatku dan Alex berdebat.


“Apaan sih sok tau banget.” Jawabku ketus namun pipiku mulai terasa panas.


Jonathan hanya tersenyum melihat ke arahku.


“Udah, udah jadi gak beli makannya kita semua lapar nih..” Ucap Ruth.


“Iya jadi, yaudah ayok lex.” Ucapku ke Alex.


“Panggil dulu aku abang, cepat.” Jawab Alex.


Ku tatap dia lama dengan kesal.


“Ihh ayok lah bang lex.” Ucapku dengan nada kesal.


“Nah gitu dong, kalau mau di tolongin harus tau diri. Mana jaket mu??” tanya Alex.


“Gak ada.” Jawabku.


“Entar Jo, pake jaket ku aja.” Ucap Jonathan tiba-tiba.


Aku kaget namun rasanya senang sekali.


“Iya bang Nathan.” jawabku tersenyum senang.


Alex melihatku tersenyum berkata, “ idih norak.”

__ADS_1


“Biarin, bodo amat.” Kataku sambil mengejek Alex.


Gak lama Jonathan mengambil jaketnya dan memakaikannya padaku, aku kaget ketika Jonathan memakaikan jaketnya padaku dan mengancingkan nya. Wajahku semakin panas seketika.


“Eh aku bisa sendiri bang.” Ucapku sambil menatapnya.


“Gakpapa jo sekalian kerja gak boleh nanggung.” Jawab Jonathan sambil tersenyum.


Temanku yang lain semuanya tersenyum dan mengatakan secara serentak.


“Cie..cie... cintaku bersemi di PKL.”


“Apaan sih wee, biasa aja ahh.” Jawabku dengan malu-malu.


“Udah nih, hati-hati lex.” Ucap Jonathan.


“Yang satu norak, yang satu genit, cocok emang dah, cocok..” Ucap Alex sambil berbalik badan jalan menuju ruangan sebelah untuk mengeluarkan motornya.


“Apaan sih, situ yang norak.” Jawabku sambil memukul punggung Alex.


Alex berhenti dan melihat ke arahku.


“Suka banget sih Jo mukul, sakit tau.” Ucap Alex sambil melotot ke arahku.


“Makanya jangan ngasal kalau ngomong, ayok ah buruan aku lapar.” Ucapku ke Alex.


Aku berjalan di belakang Alex, aku fokus melihat badan Alex yang bidang dan tinggi aku bergumam dalam hati, “wih tinggi juga ni anak bocah.” Sambil tersenyum memikirkan bagaimana jika ia tau kalau aku memanggilnya anak bocah, seperti apa reaksinya.


Setelah Alex mengeluarkan sepeda motornya, kami pun pergi bersama mencari makanan yang sudah di pesan teman-teman di grup chatting kami. Setelah semua makanan teman-teman kami beli, kami mencari makananku dan Alex, aku dan Alex memutuskan membeli mie ayam bakso sementara teman lainnya membeli nasi bungkus.


Setelah selesai mencari makanan, kami pun langsung bergegas pulang ke rumah, sesampainya di depan rumah aku melihat teman-temanku sedang ngobrol dengan ibu kos kami. Mulai sekarang aku akan memanggilnya ibu kos agar lebih mudah.


“Lex liat deh mereka lagi ngobrol dengan ibu kos.” Ucapku spontan.


“Lex, lex, lex, ku tarik juga bibirmu Jo. Susah banget sih manggil abang..” Jawab Alex.


Ku lirik Alex, “yang penting masih sopan kan.” Jawabku.


“Apaan gitu sopan, tapi yaudah deh ngalah aja percuma juga.” Ucap Alex.


“Gitu dong.” Jawabku tersenyum puas.


Alex memasukkan kembali motornya, aku membawa makanan ke dalam rumah. Sesampainya aku didepan pintu rumah ibu kos , aku berdiri sambil memberi salam kepada teman-temanku yang tersenyum ke arahku. Aku yang seketika ingat mimpiku hanya tersenyum tipis saja membalas senyuman ibu kos. Melihat wajahnya aku sedikit merinding dan takut karena mengingat adegan di mimpiku.


“Ada apa wee, bicara apa kalian tadi??” tanyaku sambil meletakkan semua makanan di meja tempat kami berkumpul.


“Entar aja di bahas Jo, kita makan dulu aja udah lapar nih.” Ucap Tasya.


“Iya ntar aja jo bahas nya.” Sambung Ruth.


Alex masuk ke dalam rumah duduk di kursinya, kami para cewe mempersiapkan piring, gelas, sendok dan minuman. Kami makan bersama di ruang tengah sambil bercanda dan tertawa bersama, aku sangat menikmati momen kebersamaan kami ku pikir aku akan sulit masuk ke mereka. Ternyata aku salah mereka semua orang-orang baik dan asik yang membuat setiap momen jadi berkesan bagiku seperti mempunyai keluarga baru.


Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk tidur dan istirahat karena sudah sangat larut malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.45 wib, kami semua beberes dan kemudian masuk ke dalam kamar. Hanya dalam waktu 10 menit kami semua tertidur pulas karena kelelahan, malam ini menjadi malam tenang bagi kami setelah melewati berbagai macam adegan hari ini yang membuat kami amat sangat lelah. Tidak ada yang terjadi, kami semua dapat tertidur dengan tenang.


To be continue.

__ADS_1


__ADS_2