Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 48


__ADS_3

Akhirnya kami semua selesai bersiap untuk melakukan penelitian, hari ini kami semua pergi melakukan penelitian jam 8 pagi. Udara pagi yang segar dari pepohonan yang rindang membuat suasana pagi terasa sangat nyaman. Udara yang sejuk membuat pikiran lebih ringan.


Hari ini kami melakukan penelitian di salah satu rumah tokoh adat di desa ini, rumah yang masih tradisional menarik perhatian kami untuk melakukan wawancara mengenai asal usul desa. Informan kami ini di rekomendasikan oleh Pak Lurah, karena beliau merupakan salah satu tokoh adat yang merupakan keturunan asli dari awal dari desa ini ada. Desa ini adalah desa yang masih sangat kental adat Melayunya.


Sesampainya di rumah tokoh adat, kami memperkenalkan diri kami satu persatu begitu juga dengan beliau yang memperkenalkan dirinya kepada kami. Beliau minta di panggil Pak Abdul saja. Kami pun memanggil beliau, Pak Abdul.


Sebelum beliau bercerita mengenai asal usul desa, beliau mengajak kami untuk berkeliling rumahnya. Begitu kami keliling rumah nya, kami merasa ini bukan rumah biasa melainkan rumah yang disulap menjadi museum. Disana banyak terdapat peninggalan-peninggalan sejarah dari keluarga beliau.


"Pak, maaf saya ingin bertanya." Ucapku.


"Ya, silahkan nak mau bertanya apa??" jawab pak Abdul.


"Mengapa benda-benda sejarah ini tidak di buatkan saja museum khusus di desa ini, sebagai wisata pendidikan di masa depan??" tanyaku.


"Saya juga inginnya seperti itu, tapi saya belum bisa mempercayai siapapun untuk mengurus peninggalan-peninggalan ini. Karena dalam keluarga saya ada waktu-waktu tertentu untuk merawat benda-benda ini." Jawab Pak Abdul.


"Oh begitu pak." Ucapku.


"Iya neng." Ucap pak Abdul sambil tersenyum.

__ADS_1


Rumah beliau sangat besar, lebar dan luas namun sangat sejuk walaupun tidak ada ac atau pun kipas angin di dalam rumahnya. Sampailah kami di ujung belakang rumah pak Abdul yang ternyata sudah dekat pinggir sungai, disana ada semacam saung untuk duduk bersama yang tepat di atas air. Aku takjub melihatnya, benar-benar rumah yang indah. Aku sangat bersyukur diberi kesempatan untuk menjelajahi rumah sebagus ini.


Di saung itu beliau menyuruh kami duduk, dan disitulah beliau mulai menceritakan asal usul desa. Dengan jamuan makanan-makanan khas melayu, teh dengan aroma melati membuat suasana menjadi sempurna. Beliau mulai menceritakan kisah desa dari jam 9.30 pagi sampai pada jam 12 siang, setelah selesai bercerita Anggi dan Tasya sholat berjamaah dengan keluarga pak Abdul sebelum kami pamit pulang.


Tepat pukul 13.30 siang kami permisi pamit pulang, tadinya pak Abdul ingin menjamu makan siang untuk kami. Kami bukan menolak karena tidak ingin tapi saat itu kami benar-benar sudah kenyang dengan berbagai kue, gorengan, minuman, yang sudah disediakan pak Abdul untuk kami. Jadi kami memutuskan untuk pamit pulang.


Di perjalanan menuju kami pulang ke kos, Alex berkata.


"Ke pantai yuk, mumpung udah selesai penelitian hari ini. Katanya ingin bertukar cerita hari ini kayaknya pas deh, karena besok kita kan libur penelitian." Usul Alex.


"Boleh tuh." Ucap Jonathan.


"Yaudah ayok." Ucapku.


"Permisi dulu sana sama pacarmu, biar gk ribet dia." Ucap Alex sambil melihat Jonathan.


"Biarin deh, aku lagi gak ngomong sama dia." Jawab Jonathan.


"Dasar pasangan labil." Ucap Alex.

__ADS_1


Jonathan pun langsung mengepit leher Alex dengan lengannya.


"Aduh, duh sakit lepas." Ucap Alex.


"Nanti kalau kau pacaran, lebih parah dariku. Aku akan tertawa sangat keras di depanmu dan pacarmu ingat itu." Ucap Jonathan.


"Tidak akan, aku akan memanjakan pacarku agar gak labil kayak pacarmu. Nasib Jesica pacaran sama kulkas." Jawab Alex.


Kami pun tertawa mendengar perkataan Alex. Kami menunggu di pinggir jalan, menunggu becak yang lewat, 5 menit kami berdiri dua becak pun lewat dan kami pergi ke pantai tanpa menggunakan becak langganan kami.


Di perjalanan di becak yang isinya Aku, Irene, Anggi dan Tasya. Kami bernyanyi sepanjang perjalanan, mengeluarkan rasa sesak kami yang mencoba bertahan di rumah kos yang aneh, membuat kami kelelahan setiap harinya karena harus selalu waspada agar tidak terlena.


30 menit di perjalanan, akhirnya kami sampai di pantai yang berbeda, kali ini kami berada di pantai yang bernuansa Bali. Dengan ornamen khas Bali namun ada juga tempat-tempat romantis. Kami memilih duduk di pondok yang bernuansa Bali, karena memang tempat nya yang nyaman.


Disana kami memesan es dan mie, karena kami belum makan siang kami memilih mie sebagai makanan berat. Tapi gak lupa kami juga memesan sedikit cemilan untuk menemani kami saling bertukar cerita.


Disinilah semua terbongkar, semua yang kami alami perorangan disini semua kami ceritakan. Ternyata tidak hanya aku, Alex dan Anggi. Ternyata semuanya sudah mengalami kejadian yang menurut ku tidak kalah menyeramkan dari apa yang sudah ku alami.


To be continue.

__ADS_1


Terimakasih untuk semua pembaca setiaku, dukungan like, komen, share, vote, hadiah dan favorit kalian adalah semangatku ❤️❤️.


__ADS_2