Teror 45 Hari Di PKL

Teror 45 Hari Di PKL
Episode 37


__ADS_3

Aku naik ke motor Alex yang tinggi, membuatku sedikit kesusahan karena memegang dua kantong belanjaan.


" Susah banget sih Lex naik ke motormu." Ucapku dengan kesal walaupun sudah berhasil naik ke atas motornya.


"Ngomong dong dari tadi, sini belanjaannya." Ucap Alex.


"Peka kek dari tadi, dasar cowok." Jawabku.


Alex tertawa.


"Idih ketawa lagi udah salah." Ucapku kembali.


Aku menyodorkan belanjaannya dari sela tangannya yang memegang stang motor. Alex mengambil belanjaan yang ku berikan dan juga tidak sengaja memegang tanganku karena gak langsung ku lepaskan belanjaan yang ku pegang begitu sampai di depannya. Aku kaget karena tangannya yang sangat dingin.


"Dingin banget tanganmu Lex." Ucapku.


"Ya karena udaranya juga dingin Joana." Jawabnya.


"Oh kirain nervous bonceng aku." Ucapku sambil sedikit tertawa.


"Pedenya, yaudah lepasin belanjaannya." Ucap Alex kembali.


Aku pun melepaskan genggaman ku dari kantong plastik belanjaan.


"Pegangan aku mau jalan nih." Ucap Alex.


"Iya." Jawabku.


Di sepanjang perjalanan pulang Alex hanya diam saja, aku juga bingung mau membicarakan apa dengannya, karena semua sudah kami bahas sewaktu makan. Tiba-tiba tanpa tanda, hujan pun mulai turun di awali dengan gerimis yang semakin lama semakin deras. Alex langsung menepi di halte yang sedang kosong saat itu.


"Yah dikit lagi padahal sampe kos, makin deras pula. Gimana nih bakso teman-teman." Ucapku.


"Nanti sampai kos di panaskan aja lagi, kan kuahnya di pisah." Jawab Alex.


" Oh baguslah kalau kuahnya di pisah. Tapi Lex, hujannya kayaknya bakal lama nih kita terobos aja deh, gimana??" usulku.


"Emang situ pake jaket??" tanyanya.


"Enggak sih, lagian akukan belum mandi gakpapa kita terobos aja, mantel mu mana??" tanyaku kembali.


"Di kos lupa ku bawa." Jawab Alex.

__ADS_1


"Lex, jangan bilang kau gak bisa kena air hujan." Ucapku melihat ke arahnya.


Alex melihat ke arahku.


"Bisalah, yakin ni mau terobos, gakpapa?? yakin setelah ini kau gak sakit??" tanya Alex.


"Iya Lex yakin, dari pada disini sampe malam." Jawabku.


"Bentar lagi aja,lagian masih magrib. Selesai magrib kita jalan." Ucap Alex sembari duduk di halte.


"Karena itu makanya aku minta pulang tau, disini sepi banget." Ucapku.


"Aku gak bakal macem-macem tenang aja." Balas Alex.


"Idih, aku juga gak mikir kemana-mana. Aku cuma takut aja sama perampok." Ucapku melirik Alex.


"Udah tenang aja, kita tunggu sampai selesai magrib." Ucap Alex kembali.


Suasana di halte sangat sepi, hujan yang cukup deras dan sedang magrib, tidak heran jika tidak ada satu orang pun yang lewat. Aku dan Alex hanya saling diam menunggu hujan sedikit reda, kami sepakat untuk jalan pukul 19.15 wib. Sekarang menunjukkan pukul 18.50 wib, semakin gelap dan dingin. Syukurnya di halte ada lampu kecil dan tidak jauh dari halte ada lampu jalan sehingga, walaupun tidak ada orang lalu lalang suasana tidak begitu mencekam karena masih ada penerangan.


Beberapa menit kami hanya duduk diam, Alex membuka hoodie nya, aku tidak begitu peduli apa yang dilakukannya. Ketika dia sudah membuka hoodie nya, dia berdiri dan menghadap ke arahku. Aku melihatnya berdiri di depanku dengan heran. Dia memasukkan hoodie nya ke kepalaku.


"Pake ini biar jalan kita" ucapnya.


"Iya, gakpapa lagian udah dekat kok. Kau sadar gak kalau bajumu itu basah bisa tembus pandang jadi pake aja." Ucapnya.


Spontan aku melihat bajuku dan benar saja aku sedang memakai kaos warna putih yang lumayan tipis. Dengan cepat aku langsung memakai hoodie yang di berikan Alex.


"Dasar wanita." Balas Alex sambil melirikku sinis.


"Makasih Lex." Ucapku padanya.


"Iya, sama-sama." Jawab Alex.


Aku jadi malu dengan Alex, dengan bodohnya aku gak sadar apa yang sedang ku pakai. Alex hanya memakai kaos oblong tanpa lengan dan berdiri dekat di hadapanku. Baru kali itu aku melihat jelas lengannya yang kecoklatan dan ototnya, yang membuat jantungku berdegup kencang. Gumamku dalam hati.


"Kenapa lagi jantungku ini, duh tolong lah hati jangan murahan cepat banget jatuh hati sama orang. Kemaren Jonathan masa sekarang Alex." Ucapku dalam hati sambil menunduk.


Aku meyakinkan diriku, enggak mungkin aku suka Alex aku hanya kaget karena dia tiba-tiba baik, iya pasti karena itu.


" Yaudah yuk jalan." Ucap Alex.

__ADS_1


"Iya." Jawabku sambil berdiri membawa belanjaan.


"Sini semua belanjaannya, biar ku ikat di stang motorku aja" ucap Alex.


"Gak kesusahan nanti??" tanyaku.


"Enggak, biar kau bisa pegangan. Agar kita cepat sampai." Ucap Alex.


Ku berikan semua belanjaan padanya, setelah dia mengikat semua belanjaan, kami pun jalan.


"Pegangan yang benar, terserah mau gimana pokoknya pegangan yang benar aku mau ngebut biar cepat sampai." Ucap Alex.


Ku pegang pinggangnya, aku berpikir dia tidak mungkin ngebut segila itu hanya karena hujan jadi ku pikir bisa santai aja dengan memegang pinggangnya. Ternyata dia melajukan motornya dengan sangat kencang, gak pake mikir karena takut langsung ku peluk dia dengan erat dan ku pejamkan mataku, aku benar-benar takut.


Tanpa terasa 5 menit kami sudah sampai di depan kos, jujur saja tanganku gemetar karena tidak pernah di bonceng segitu kencangnya dengan sepeda motor. Begitu sampai aku langsung turun dan ku pukul lengannya.


"Dasar gila, kau lihat tanganku gak berhenti bergetar." Ucapku kesal.


Alex tertawa.


"Maaf Jo, kalau gak gitu kita bakal basah banget." Jawabnya dan kemudian memegang kedua tanganku yang bergetar dengan tangannya.


"Awas lepasin." Ucapku.


"Sebentar, biar gak bergetar lagi tanganmu." Jawabnya.


Dia yang memegang tanganku, ku lihat wajahnya, dia tersenyum dan aku jadi ikut tersenyum melihat senyumnya. Ternyata dia sosok yang hangat.


Begitu melihat matanya, aku merasa wajahku panas langsung ku tarik tanganku dan Alex pun hanya terdiam saat ku tarik tanganku. Memang benar sih aku jadi tidak begitu basah tapi tetap saja dia gila.


Aku mengetuk pintu, Jonathan membukakan pintu kami. Dia melihat ke arahku dan aku hanya menunduk. Ternyata teman-teman sedang menunggu kami di ruang tengah, tidak menunggu kami sih pasti baksonya.


"Nanti ku kembalikan hoodienya ya Lex, Kau mandilah aku gak mandi, ganti baju di kamar aja." Ucapku.


"Iya." Jawabnya.


"Mana baksonya??" tanya Tasya.


Ku letakkan semua belanjaan di meja.


"Sebagian pake uang Alex, nanti kita hitungan ya aku ganti baju dulu." Ucapku sambil berlari kecil ke kamar.

__ADS_1


Akhirnya kami sampai di kos dengan selamat, ku pikir aku akan mati kena serangan jantung di atas motornya.


To be continue.


__ADS_2