
Keesokan harinya yang pertama kali bangun yaitu Anggi, Anggi terbangun untuk sholat subuh, aku sekilas melihat Anggi sedang sholat dikamar tapi karena mataku yang masih sangat berat aku tertidur kembali. Aku terbangun pukul setengah 9 pagi, kulihat semua teman-temanku sudah mandi dan sudah bersiap. Aku terbangun juga karena aroma parfum yang sangat menyengat namun aroma seperti wangi bunga melati, aku terbangun melihat sekelilingku sambil mengusap mataku.
“Kalian sudah siap semua, kenapa tidak bangunkan aku?? jadi aku mandi sama siapa dong?? “ tanyaku sambil terduduk.
“Tenang Jo, aku belum mandi kok aku nungguin kau bangun kan kita udah janjian harus mandi berdua jangan sendiri-sendiri lagi.” Jawab Irene.
“Jadi kenapa gak bangunkan aku Ren??” tanyaku lagi pada Irene.
“Aku gak tega Jo, kau kan kemaren baru mimpi buruk aku yakin kau masih ngantuk dan pasti badanmu terasa tidak enak, iyakan??” ucap Irene yang sedang main handphone, duduk di pojok kamar sambil melirikku.
“Duh duh duh pengertian amat sih.” Ucapku kembali sambil tersenyum.
“Udah ah yuk mandi Jo, aku udah gerah ini udah panas tau." Ucap Irene sambil bergegas mengambil baju dan perlengkapan mandinya.
“Iya iya ayuk, entar aku ambil bajuku dan perlengkapan mandi ku.” Jawabku sambil buru-buru bangkit.
Kami pun keluar kamar barengan, jarak dari kamar mandi ke kamar kami tidak begitu jauh karena kamar kami dekat dengan dapur. Lagi-lagi aku berpapasan dengan abang kelasku kali ini bukan Jonathan tapi Alex, dia lebih ekstrim dia hanya menggunakan handuk keluar dari kamar mandi. Membuatku takjub betapa tidak tau malunya mereka melakukan hal itu, padahal dengan sadar mereka tau mereka sedang tinggal bersama anak cewe yang semuanya masih gadis.
Karena aku tidak mau dianggap mesum aku hanya melirik sedikit kearahnya dan kembali menunduk. Sampai di kamar mandi aku bahkan makin kaget karena aku hampir saja terpeleset karena sisa pasta gigi di lantai. Wah sangat menjijikkan membuatku sangat kesal.
“Wah wah, luar biasa banget si Alex ya pasta gigi bersisa kayak gini, ihh menjijikkan banget deh aku hampir jatuh malah licin banget lagi nih lantai." Gerutuku dengan wajah kesal.
“Benar-benar dua lelaki itu bisa-bisanya mandi seperti ini, kemaren si Jo keluar tanpa pake baju, sekarang si Alex hanya menggunakan handuk. Mereka tidak sadar ada kita di rumah ini hah!" ucapku dengan emosi ke Irene.
Irene tertawa, “ biarin lah Jo, lumayan kita dapat pemandangan bagus setiap mau ke kamar mandikan. So seksi," ucap Irene sambil tertawa.
“Ih kau aja yang liat begitu pemandangan indah, indah apaan Ren tulang-tulang begitu." Jawabku.
Irene tertawa, kami mandi sambil cerita-cerita dan tertawa bersama. Baru kali ini aku mandi bareng dengan seseorang dan ternyata seru juga, aku ngerasa mandi jadi hal yang menyenangkan. Akhirnya kami selesai juga, oh iya sebelum kami mandi aku terpaksa sedikit membersihkan kamar mandi karena gak lucu juga kan saat mandi aku jatuh karena lantai yang licin. Ku putuskan mengalah dan membersihkan lantai sedikit agar aku tidak kenapa-kenapa. Kan lucu kalau tiba-tiba keluar kamar mandi pincang karena kepeleset pasta gigi, malah jadi bahan sama dua lelaki itu lagi.
Kami langsung keluar dari kamar mandi sambil tertawa, tiba-tiba Jonathan menarik lengan bajuku dan berkata.
__ADS_1
“Jo, udah gakpapa?? kamu gak sakit kan?? baik-baik ajakan??” tanya Jonathan sambil memastikan melihat ke mataku.
Aku terdiam sesaat karena mata Jonathan yang memandangiku penuh cemas, membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang dan aku merasa pipiku terasa panas, malah semakin panas.
“Hah, ya.. ah enggak aku gakpapa kok bang," jawabku sedikit terbata.
“Oia bang, gakpapa ya manggil bang Nathan. Bagiku aneh jika memanggilmu Jo karena panggilanku juga Jo. Aku merasa memanggil diriku sendiri." Sambung ku sambil melepaskan tarikan Jonathan di bajuku.
“Eh sorry ya Jo, sorry aku lupa melepas tanganku. Aku gak bermaksud apa-apa loh ya. Bagus deh kalau kamu gak kenapa-kenapa lain kali tidur tuh doa.” Ucap Jonathan padaku.
“Yaudah deh, aku mau mandi dulu ya.” Ucap Jonathan kembali sambil berjalan ke kamar mandi.
Aku dan Irene hanya mengangguk saja, belum lagi aku dan Irene ingin berjalan, Jonathan memanggil ku lagi.
“Joana nanti jadikan kalian bicara di aula??” tanya Jonathan.
“Oh iya bang jadi kok,” jawabku.
Aku hanya tersenyum dan jalan menuju kamar, aku bingung kenapa dia jadi gitu, buatku merinding parah. Sampainya di kamar aku langsung tanya ke Irene.
“Ren, itu si Nathan kenapa sih, kerasukan apa dia?? aneh banget cara dia liat dan menatapku kemaren tuh gak gitu Ren, ihh aku jadi serem deh. Ada maunya ya dia??” ucapku dengan penuh kebingungan.
Semua teman-temanku yang ada di kamar tertawa bersamaan.
“Gak tau Jo, tapi beneran deh waktu kamu semalam mimpi buruk itu dia paling ketakutan dan beneran guncang badanmu supaya kamu bangun. Dia kayak bingung gitu tau gak Jo, beneran panik banget dia Jo.” Ucap Irene sambil memakai make up.
“Ah beneran kau Ren, jangan ngarang cerita deh ah,” balasku pada Irene.
“Iya Jo, Irene bener dia khawatir banget. Soalnya kemaren badan lu udah dingin kayak es tapi badan lo gemetar, gemetar hebat Jo kita sampe bisa liat getaran tangan lo. Kita juga panik dan teriak makanya tuh bang Jo datang ke kamar.” Ucap Ruth.
“Tapi aneh banget tau Jo, masa ibu semang kita sama sekali gak bangun. Kamu liat kan semalam Cuma ada kita doang, apa dia gak tidur di rumah ini ya. Kalau dia tidur di rumah ini pasti dia bangun dan merasa bising semalam kita tuh bising banget soalnya.” Ucap Tasya sambil mengerutkan dahinya.
__ADS_1
“Dia tidur di rumah ini tapi aku gak tau apa yang ada dipikirannya, karena tadi pagi saat aku ambil wudhu aku liat dia dan suaminya keluar kamar, yang kamarnya tepat di belakang kamar kita. Ku liat mereka sama-sama mau ke kamar mandi sepertinya mau ambil wudhu juga.” Ucap Anggi kepada kami.
Kami semua yang mendengar perkataan Anggi terheran-heran, kenapa ibu semang kami seperti itu. Apa dia tidak ingin mencampuri urusan kami atau ada hal lain yang ia tutupi. Kami semua bertanya-tanya.
“Ihh aneh banget sih wee, kok perasaanku jadi gak enak ya.” Ucap Tasya.
“Udah ah gausah dipikirkan mending kita langsung jalan aja yuk udah jam 11 siang ni. Kita belum makan pagi dan sekarang udah mau makan siang buruan yuk kita bahas di aula aja barengan abang kelas juga.” Ucap Ruth.
Kami pun bergegas keluar dari kamar satu per satu, sebelum keluar kamar aku mengunci jendela kamar, dan yang mengunci pintu kamar ialah Ruth dia yang bertanggung jawab memegang kunci kamar. Karena dari kami semua Ruth jugalah yang tidur paling larut, Ruth tidak suka berdiam dikamar dia lebih baik duduk di ruang tengah dari pada harus berdiam dikamar agar tidak mengganggu kami. Oleh karenanya dialah yang memegang kunci kamar agar leluasa masuk dan keluar kamar.
Saat kami keluar kamar, kami melihat Jonathan dan Alex sudah duduk di ruang tengah seperti sedang menunggu kami, karena mereka duduk sambil menatap ke arah kami.
“Sudah selesai tuan putri??” tanya Alex kepada kami.
“Kami sudah menunggu kurang lebih satu jam, apakah sebaiknya tidak membuat seseorang menunggu sampai satu jam??” lanjut Alex.
Aku yang malas menanggapinya hanya diam saja, salah satu temanku menjawab.
“Sorry bang, kami memang yang bilang jam 10 tapi kami yang tidak tepat waktu..” Jawab Anggi.
“Udah lah gakpapa biasa itu, udah selesaikan kalau gitu yuk jalan. Tapi sebelum kita bicarakan hal penting ada baiknya kita makan dulu ya perutku sudah kosong." Ucap Jonathan.
“Oh iya bang, kita emang mau makan dulu. Yaudah yuk jalan," jawab Ruth.
Jonathan memang orang yang simpel dia tidak suka sesuatu yang ribet, dia mau semua hal cepat dan efisien. Sebenarnya dia juga orang yang tepat waktu tapi karena memaklumi kami cewe ada lima orang jadi untuk itu dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Gimana pun satu orang cewe butuh waktu lama untuk mempersiapkan diri apalagi menunggu lima cewe sekaligus. Dia sudah memprediksi hal ini terjadi jadi dia sudah memperhitungkan kapan dia harus bersiap agar tidak merasa menunggu terlalu lama.
Kami pun berjalan bersama melihat lingkungan sekitar dan mencari tempat makan yang nyaman agar dapat makan dengan enak. Setelah melihat beberapa tempat kami memutuskan untuk singgah di salah satu rumah makan khas Melayu yang cukup besar. Kami memutuskan makan bersama disana, pas sekali di rumah makan itu juga tersedia lesehan, jadi bisa makan bersama di bawah.
Setelah ini kira-kira apa yang akan mereka bahas ya...
Tungguin lanjutannya ya sobat.
__ADS_1
To be continue.