
Pagi ini kami semua bangun pukul 7 pagi, ku lihat sekeliling kamar, Tasya, Anggi dan Irene sudah tidak ada di kamar. Karena tinggal Ruth yang tidur di sampingku, aku membangunkan Ruth.
"Ruth, yang lain mana??" tanyaku.
"Di dapur bantu bude masak." Jawab Ruth.
"Yah aku gak bisa bantu." Ucapku.
"Sayang golek aja dulu, sebentar lagi di buka bude perbannya." Ucap Alex.
"Iya sayang." Jawabku.
20 menit aku golek dan hampir ketiduran, bude, Irene, Tasya dan Anggi datang menghampiriku ke kamar. Mereka membantu bude membuka perbanku. Dan betapa kagetnya aku dan teman-temanku setelah perbanku di buka, biru dan memar di kulitku menghilang, luka-lukaku mengering.
"Bude, ini udah sembuh??" tanyaku pada bude.
"Iya neng, udah sembuh." Jawab bude sambil tersenyum.
"Ren pinjam cermin dong, aku mau liat leherku yang merah kemaren." Ucapku pada Irene.
Irene mengambil cermin dari tasnya dan memberikannya padaku. Ku lihat leherku sudah tidak ada lagi bekas memar maupun merah, aku tercengang melihatnya.
"B-ude, kok bisa??" tanyaku pada bude tercengang.
"Bisa dong sayang, itu rempah-rempah andalan kakek untuk luka agar cepat mengering dan memar cepat pulih jadi tidak membekas di kulit." Jawab bude.
Karena penasaran aku mencoba berdiri cepat, dan ternyata kakiku masih terasa sakit.
"Aww, tapi kaki kok masih sakit ya bude??" tanyaku pada bude sambil memegang tangan bude untuk menjaga keseimbangan tubuhku.
"Joana sayang, rempah-rempah kakek hanya mengeringkan luka dan menyamarkan memar bukan langsung menghilangkan sakit. Jadi kamu masih harus hati-hati jalannya ya." Jawab bude.
"Iya bude, Terimakasih ya bude." Jawabku sembari tersenyum ke arah bude dan kembali duduk di kasur.
Saat bude hendak keluar dari kamar, aku memanggil bude lagi.
__ADS_1
"Bude, maaf bude. Joana mau tanya, sudah boleh mandi kah??" tanyaku pada bude.
"Sudah sayang, mau bude bantu siapkan mandi air hangat??" tanya bude kembali padaku.
"Terimakasih bude, gak usah bude air biasa lebih segar." Jawabku.
"Oke sayang, hati-hati jalannya ya sayang." Ucap bude.
"Iya bude." Jawabku.
Aku duduk di kasur, Alex bangun dan duduk di depanku.
"Sayang mau mandi??" tanya Alex.
"Iya sayang, udah gerah rasanya." Jawabku.
"Air disini dingin loh, mandi pake air hangat ya." Ucap Alex.
"Enggak usah sayang, pengen mandi pake air biasa aja." Jawabku.
"Yaudah itu di lorong balik lemari ada kamar mandi sayang." Ucap Alex menunjuk lorong di kamarnya.
Sebelum aku menutup pintu kamar mandi, Alex berkata padaku.
"Kalau sayang susah berdiri, mandi di dalam bathtub aja ya, kalau kedinginan itu ada setelan air hangatnya. Airnya itu udah hangat tidak lagi panas ya sayang." Ucap Alex dari luar kamar mandi.
"Iya sayang." Jawabku.
"Oh ini yang bude maksud mau siapkan mandi air hangat." Batinku yang aku pikir bude harus memasak air panas untukku.
Aku pun tersenyum sendiri di kamar mandi.
"Kalau kamar mandiku begini aku mah betah mandi sejam." Gumamku sambil tersenyum sendiri.
Ilustrasi kamar mandi Alex.
__ADS_1
Aku mencoba mandi tanpa air hangat, betapa kagetnya aku kalau air disini seperti air di pegunungan. Akhirnya aku memutuskan mandi dengan air hangat di bathtub, tadinya aku berencana hanya mandi sebentar ternyata aku menghabiskan waktu cukup lama karena kesulitan untuk bergerak. Badanku terasa seperti kayu yang sangat kaku, jadi harus ekstra hati-hati dan perlahan untuk bergerak.
Setelah aku selesai mandi, ternyata di kamar tinggal Alex yang sedang menungguku.
"Sayang, yang lain mana??" tanyaku.
"Udah di ruang tengah sayang, dosen kita, kepala desa, pak Kodir dan bu Bety udah datang. Sekarang mereka lagi makan pagi bareng." Jawab Alex.
"Emang ini udah jam berapa sayang??" tanyaku pada Alex.
"Jam 9 sayang, aku juga kaget mereka cepat sekali sampai untung bude sudah selesai masak." Jawab Alex.
"Berarti aku mandinya lama banget ya." Ucapku dan duduk di kasur.
"Gakpapa sayang, masih sakit kan badannya??" tanya Alex padaku.
"Iya, kaku banget rasanya susah bergerak." Jawabku.
"Yaudah sayang, gakpapa pelan-pelan aja, kita makan disini aja ya. Tadi aku udah permisi kok sama kakek." Ucap Alex.
Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju. Aku dan Alex makan di kamar sambil ngobrol dan bercanda, sampai akhirnya Irene chatting aku memberitahu bahwa mereka sudah selesai makan dan akan memulai pembicaraan. Aku dibantu oleh Alex keluar dari kamar sampai di ruang tengah.
"Maaf ya bapak, ibu, sudah menunggu saya lama. Saya masih sedikit kesulitan untuk bergerak cepat." Ucapku sambil duduk.
"Ya Allah neng, kok sampe gini." Ucap bu Bety.
"Ini juga udah jauh membaik bu, memar dan lukanya sudah hilang." Jawab Alex.
"Ya Allah neng, ibu jadi nyesal gak nyuruh kalian cepat keluar dari rumah itu." Ucap bu Bety kembali.
"Gakpapa bu, sudah rencana Yang Maha Kuasa." Jawabku sambil tersenyum.
Kami pun memulai pembicaraan dengan dibuka oleh Ruth sebagai ketua kelompok, kami menerangkan semua kejadian versi kami masing-masing dari awal dengan semua yang kami rasakan, kami alami sampai pada puncak kejadian yang mengharuskan kami untuk tidak melanjutkan program PKL kami di desa tersebut.
__ADS_1
To be continue.
Terimakasih untuk semua teman-teman yang sudah membaca cerita saya. Dukung cerita saya dengan like, komen, share, vote dan tambahkan ke favorit teman-teman ya 😉.