
"Hah ..kenapa kau sulit sekali untuk di perdaya"gumam Aksa.
"Kaka ngomong sesuatu?"tanya Anin.
"Tidak.."jawab Aksa cepat.
"Baiklah,sekarang katakan siapa dalang di balik ini semua"tanya Anin.
"Dia..dia adalah Veronika,aku tau ini mungkin jadi kabar yang mengejutkan buat kamu Nin"ucap Aksa.
Anin menutup mulut nya dan air mata nya mengalir dengan deras.
"Kak,apakah sebegitu benci kah,sampai kak Veronika menjebak ku"ucap Anin bergetar.
Aksa pun langsung memeluk Anin dengan penuh kelembutan.
"Anin,maafkan aku,karna aku tidak kontrol diriku sendiri,lalu membuat mu jadi begini"ucap Aksa yang masih mengelus punggung Anin.
'ceklek'..
Suara pintu di dorong dari luar,hingga menyembulkan Robert yang baru datang dari mengantar sang mama.
"Apa yang kau lakukan Aksa,kau apakan adik ku,kenapa Anin menangis?"tanya Robert menarik kerah baju Aksa.
"Kak, hentikan...!!"ucap Anin teriak,"Anin menangis bukan karna kak Aksa,tapi..tapi karna kak Veronika yang telah menjebak ku"ucap nya yang menangis pilu di hadapan kedua pria tampan itu.
__ADS_1
"Ap..apa!!,kurang ajar kau Vero,liat apa yang akan aku lakukan padamu"ucap Robert menghampiri Anin dan memeluk nya,dia pun menatap Aksa bahwa ia meminta maaf.
"Maafkan aku,karna salah paham padamu"ucap Robert.
""Tak apa-apa,aku pun akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku"balas Aksa.
"Sekarang istirahat lah,Kaka dan Aksa akan menjagamu"ucap Robert yang di angguk i oleh Anin.
Anin pun merebahkan tubuh nya dan masih menggenggam tangan Robert hingga terdengar dengkuran halus dari Anin.
"Maaf kan Kaka dek,karna Kaka tidak bisa menjagamu dengan baik"ucap Robert lirih.
"Jangan menyalahkan dirimu,yang seharusnya di salahkan ialah aku,yang sudah merusak masa depan nya,tapi aku berjanji akan bertanggung jawab dengan masa depan adik mu"ucap Aksa tegas.
"ayolah kawan,aku terasa ingin di hukum mati saja dengan tatapan mengerikan mu itu"ucap Aksa mencairkan suasana.
"Ah..sudah lah,sekarang kau istirahat,biarkan aku yang menjaga anin,"ucap Robert mengusir Aksa untuk mengistirahatkan tubuh nya, karena Robert tau kalau Aksa dari kemarin tidak istirahat dengan benar.
"Tidak..tidak,biarkan aku yang menjaga calon istri ku"ucap Aksa.
"Hei...sejak kapan Anin jadi calon istrimu?"seru Robert.
"Sejak hari ini,dan itu sudah kami putuskan,karna aku akan segera menikahi nya,untuk mempertanggung jawabkan semua yang sudah aku perbuat"ucap Aksa dengan membanggakan diri sendiri.
"Cihh...sombong sekali kau ini,anda saja kejadian itu tidak terjadi,pasti Anin akan menolak mu mentah-mentah"ucap Robert mengejek Aksa.
__ADS_1
"Tentu itu tidak akan terjadi dalam kamus ku,karna aku akan terus mengejarnya sampai aku mendapat kan nya"ucap Aksa tersenyum percaya diri.
"Baik..baiklah,kau menang saat ini,ya sudah lah,aku akan istirahat,jika nanti kau lelah bangun kan saja aku,untuk bergantian dengan mu menjaga Anin"ucap Robert berjalan menuju sofa yang ada di dekat ranjang Anin.
Di sisi lain Veronika telah merasa frustasi karna ia telah terjebak dalam permainan nya sendiri.
"Akkhh....sial,ini semua gara-gara Anin,awas saja kau Anin,akan aku balas dua kali lipat dengan apa yang terjadi dengan ku hari ini"ucap Vero kesal.
'Tring....tring...tring'
Suara telfon milik Veronika pun memecahkan angan-angan Veronika saat ini.
"Halo..!!"ucap Veronika tanpa melihat siapa yang tengah menelfon nya.
"Apa begini caramu mengangkat telfon dari papi mu Vero"seru Ramon dari sebrang sana.
"Maaf Pi,Vero nggak tau,kalau papi yang nelfon,ada apa papi nelfon Vero?"tanya Veronika.
"Ah...sudahlah lupakan,papi mau tanya bagaimana dengan anak sialan itu?"tanya Ramon.
"Maafkan aku Pi,semua nya berantakan gara-gara anak ****** sialan itu"ucap Vero geram.
"Dasar bodoh,melakukan itu saja tidak becus"ucap Ramon marah.
"Ta....tapi pi.."ucapan Veronika terputus karna sang papi mematikan tlfon sepihak.
__ADS_1