
"Kaka,bagaimana kaka bisa di sini?tanya Anin.
"Tadi Kaka..."ucap Robert
"Anin.."panggil seseorang..
'deg'.....
"Kak Aksa..?"panggil Anin lirih.
"Enggak-enggak,ini pasti halusinasi ku saja,nggak mungkin kak Aksa di sini"gumam Anin dan menggeleng kan kepala nya untuk tidak percaya dengan suara nya.
Sedangkan Gilang dan Mayang,hanya bisa melongo melihat siapa yang telah memanggil Anin.
"Anin..?"panggil Aksa lagi.
Tepat panggilan yang kedua Anin pun membalikan badan nya,hingga bertemu pandang pada Aksa beberapa saat,hingga suara deheman Robert mampu menyadarkan mereka berdua dari tatapan masing-masing.
"Ehem...."dehem Robert.
"Kak Aksa"ucap Anin mengambil tas nya dan ingin berlalu,tapi sayang sebelum pergi tangan nya di cekal oleh Aksa.
"Lepaskan tangan ku kak,biarkan aku pergi kak"ucap Anin dingin.
"Tidak akan,sebelum kamu mau mendengar penjelasan kaka dulu"ucap Aksa yang masih mencekal tangan Anin.
"lepas tangan ku atau aku teriak"ancam Anin
"Teriak lah,jika kamu ingin malu di depan semua orang"ancam Aksa balik.
__ADS_1
"Apa mau kaka?"tanya Anin.
"dengarkan penjelasan ku atau aku tidak akan melepaskan tangan mu ini"ucap Aksa tak memberi pilihan.
"Apa yang ingin kak Aksa jelaskan,semua nya sudah jelas bukan?"ucap Anin dengan nada yang bergetar menahan tangis.
"Anin,Kaka mohon dengarkan penjelasan kaka,setelah itu terserah kamu"ucap Aksa.
Melihat Anin yang keras kepala,membuat Robert ingin membantu Aksa dengan membujuk Anin,agar mau mendengar penjelasan Aksa.
"Nin,dengar kan penjelsan Aksa,setelah itu terserah semua keputusan ada pada dirimu sendiri"ucapan Robert membuat Anin terdiam sejenak.
"Huftttt..."Anin membuang nafas nya dengan kasar."Baiklah,ayo duduk di sebelah sana"tunjuk Anin pada kursi yang masih kosong,berada di pinggir jendela supaya bisa melihat pekat nya malam dengan di hiasi banyak sorot kendaraan yang lalu lalang di sana.
"Apa yang ingin Kaka jelaskan"ucap Anin setelah mendarat bokong nya dengan nyaman,tanpa basa-basi lagi.
Setelah menjelaskan semua nya,Aksa pun masih was-was dengan apa jawaban yang akan Anin tanggapi tentang masalah foto tersebut.
"Terus kenapa Kaka,yang memberikan waktu pada ku satu Minggu,dan setelah itu Kaka sendiri yang mengingkari nya"tanya Anin dengan dingin.
"Anin,tolong maafkan aku,bukan maksud ku untuk mengingkari nya,tapi.."ucapan Aksa berhenti.
"Tapi kenapa?,apa karna kedatangan mantan kak Aksa,dan ingin merubah keputusan kaka?"cecar Anin.
"Bukan itu Nin,"ucap Robert terpotong.
"Lantas karna apa?,kalau pun Kaka tidak ingin tanggung jawab,setidak nya jangan memberikan pilihan,yang membuat orang mempunyai harapan-harapan darimu"ucap Anin.
"Maafkan aku Nin"ucap Aksa lirih.
__ADS_1
"Jika satu kata maafmu itu bisa merubah semua nya kak,akan banyak orang akan melakukan hal yang sama dengan mu"ucap Anin.
"kalau.."ucap Anin terpotong.
"Aku takut akan penolakan mu Nin,maka dari itu aku tidak menemui mu,karna aku belum siap mendengar penolakan darimu"ucap Aksa.
"Itu bukan alsan buat ku kak,itu hanya pendapat mu,apakah kamu akan mundur sebelum mengalami perjuangan?tanya Anin yang hanya gelengan kepala,merasa bahwa Aksa tidak bekerja dengan keras untuk memperjuangkan diri nya.
"Baiklah,tidak perlu ada yang di jelaskan lagi,aku ingin pulang,aku sudah lelah kak"ucap Anin lirih dan menunduk.
"Aku mencintaimu Nin,sungguh?.Beri aku kesempatan sekali saja untuk memperjuangkan masa depan kita"ucapan Aksa mampu mengangkat pandangan Anin.
Anin menatap netra Aksa mencari kejujuran di sana,tak nampak sedikitpun kebohongan.
"Kakak janji,tidak akan mengecewakan mu,tolong beri Kaka kesempatan,untuk menebus kesalahan kakak"ucap Aksa memohon.
"Aku akan memberikan Kaka kesempatan,jika Kaka mengecewakan aku lagi,jangan pernah berharap buat melihat aku"ucap Anin setelah lama terdiam.
"Benarkah..?,kamu tidak berbohong kan Nin?"tanya Aksa dengan kegembiraan nya.
Anin hanya menganggukkan kepalanya bertanda membenarkan ucapan Aksa.
"Terima kasih sayang"ucap Aksa.
'blush'..
Panggilan Aksa mampu membuat pipi Anin timbul rona merah.
"Kak apa aku boleh nanya sesuatu?"tanya Anin.
__ADS_1