Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 10


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Di kediaman Keluarga Tuan Dahlan Permana.


Andi sedang asik bermain chat dengan seseorang di ponselnya. Tanpa sadar Mbo Yuyun yang memanggilnya, dia tidak mendengar suara Mbo Yuyun sama sekalih.


"Den Andi, dari tadi Mbo Yuyun panggil, apa engga dengar sama sekalih?" Tanya Mbo Yuyun kesal, seraya mengguncangkan tubuhnya pelan.


"Eeh.. Mbo, maaf saya engga dengar. Ada apa yah Mbo?" Andi menanyakan tujuan Mbo Yuyun memanggilnya.


"Anu, Den Andi mau makan malam jam berapa? Mbo Yuyun akan siapkan?"


"Mbo siapkan makan malam untuk si bocil saja, saya ada janji dengan teman saya diluar." Ucapnya santai, berjalan ke kamarnya meninggalkan Mbo Yuyun, yang masih merasa heran dengan sikap anak majikannya.


"Iya.. Den."


"Den Andi.. Den Andi.. istrinya selalu dipanggil bocil. Kalau Nyonya dan Tuan tahu, pasti mereka akan sedih mendengarnya." Mbo Yuyun bergumam pelan menggelengkan kepalanya.


"Tok.. tok.. tok.."


Andi mengetuk pintu kamarnya, karena tidak ada jawaban Andipun masuk saja dan pintunyapun tidak terkunci. Andi melihat istri terpaksanya itu sedang tidur si sofa dan memakai selimut.


"Aiish.. kerjaannya tidur saja! Jam segini sudah tidur, dasar bocil engga tahu waktu kalau tidur. Mana tidurnya kayak kerbau lagi, huu.. payah." Andi mengomel sendiri, tanpa memeriksa kondisi istrinya barang sejenakpun.


Andi masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, 20 menit diapun sudah selesai. Setelah itu Andi memakai pakaian kemeja lengan pendek berwarna putih dan celana panjang hitam, Andi nampak tampan dengan rambutnya yang dibelah pinggir.


Setelah Andi merasa pas dengan penampilannya, diapun meninggalkan Mutiara yang masih tertidur pulas di sofa, pikirnya.


"Bocil.. bocil.. mungkin habis tenggelam tadi dia langsung mandi terus mengantuk. Biarkan saja deh, tuh bocil tidur. Lagian nanti, kalau lapar juga bangun sendiri." Andi bergumam pelan seraya menggelengkan kepalanya heran.


*******


Di Rumah Sakit.


Angga dalam perjalanan pulang dari Bandung langsung menuju Rumah Sakit, sebelumnya dia sudah menghubungi Mami Safira akan menjenguk Papi Dahlan.


Mami Safira shock, saat tahu anaknya Angga akan menemui mereka di Rumah Sakit.

__ADS_1


"Papi.. Angga mau kesini menjenguk Papi. Apa kita masih akan bersandiwara? Atau kita beri tahu Angga yang sebenarnya?"


"Bersandiwara saja Mih. Kalau kita bongkar sandiwara kita kepadanya, nanti takut bocor sampai telinga Andi dan menantu kita." Tolak Papi Dahlan.


"Iya juga, yah Pih."


"Papi engga mau usaha kita sia-sia, jika kita beritahu yang lain. Mami harus chek dulu, apakah mereka sudah saling menyukai dan mencintai satu sama lainnya. Kalau belum ada cinta diantara mereka, sandiwara ini akan terus berlanjut sampai mereka saling mencintai." Ujar Papi Dahlan dengan gamblang.


"Okay Pih, jadi rahasia ini cukup kita berdua dan para Dokter juga Suster saja yang tahu?"


"Iya, Mih." Ucap Papi Dahlan singkat.


Keduanyapun sudah bersiap, akan memulai berakting di depan anaknya Angga.


Angga bertanya kepada Suster jaga, dimana letak kamar Pasien yang bernama Dahlan Permana dirawat. Lalu setelah Suster itu menunjukkan letak kamarnya, Anggapun mengetuk pintu kamar rawat tersebut dengan pelan.


"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu di ketuk.


Andi masuk kedalam kamar rawat tersebut, setelah di perintahkan masuk oleh Mami Safira.


"Assalamu'alaikum, Mami, Papi." Ucap salam dari Angga, seraya mencium punggung tangan kedua orang tuanya takzim.


"Sayang, kenapa kamu sudah pulang saja? Bukankah kamu dua sampai tiga hari lagi baru pulang?" Tanya Mami Safira merasa heran.


"Iya Mih, tapi Angga sudah minta izin pulang duluan sama ketua KKN Angga, kalau Papi sakit jantung. Ketua KKN juga memakluminya dan memberikan izin Angga untuk pulang terlebih dulu."


"Ooh begitu, bagus deh kalau begitu, nanti Papi bisa cepat pulih." Ucap Papi menimpali.


"Iya Pih. Tapi, memangnya Papi punya riwayat sakit jantung? Biasanya kalau sudah terkena serangan jantung itu, sangat tidak baik mendengar berita-berita buruk ataupun tidak boleh dikagetkan dengan begitu keras, bukan?" Tanya Angga penasaran.


"Deg.." Jantung Papi Dahlan dan Mami Safira berdebar bersamaan, saat anaknya mengatakan perihal sakit jantung yang dialami Papi Dahlan, padahal kenyataannya tidak sakit jantung sama sekalih.


"Kenapa kalian malah melamun? Angga bertanya loh, Mami dan Papi?" Tanya Angga menjadi merasa aneh dengan sikap keduanya, seraya menatap mereka bergantian, padahal Angga sungguh khawatir dengan kondisi Papinya saat ini.


"Eeh.. Mami hanya sedang memikirkan kondisi Papi kamu, sayang." Dusta Mami Safira menutupi rasa terkejutnya, saat Angga menanyakan soal penyakit suaminya.


"Ooh.. terus, kalau Papi kenapa melamun?" Tanya Angga kemudian, seraya menatap lekat Papinya.

__ADS_1


"P.. papi tidak melamun, hanya masih tidak percaya saja, kalau anak Papi yang manja ini sekarang sudah sangat pintar sekalih." Ucap Papi Dahlan memuji anak bungsunya, untuk menutupi rasa gugupnya.


"He.. he.. he.. Angga sudah engga manja kali Pih, Angga 'kan sudah kuliah dan sudah dewasa Pih." Kekeh Angga menolak dikatakan manja oleh Papinya.


Angga duduk disamping tempat tidur Papi, lalu dia ingin mengechek kondisi Papinya dengan teliti. Angga kuliah jurusan kedokteran, setidaknya dia sedikit mengerti dengan masalah kesehatan.


"Eeh.. kamu mau apa Nak?" Kaget Papi Dahlan saat tangannya disentuh oleh anaknya. Papi Dahlanpun, menarik lengannya dengan cepat.


"Engga Pih, Angga hanya ingin mengechek kondisi jantung Papi saat ini. Apa sudah membaik atau belum?"


"Kata Dokter sudah lebih baik, mungkin satu sampai dua hari lagi Papi sudah boleh pulang, bukan begitu Mih?" Dusta Papi Dahlan dengan melibatkan istrinya.


"Iya sayang, semuanya benar apa yang dikatakan Papimu. Apa kamu tidak cape dan letih, sayang? Sepertinya kamu selama KKN kurang istirahat?" Tanya Mami mengalihkan pembicaraan.


"Iya Mih, Angga sedikit cape dan kurang tidur sih selama KKN kemarin."


"Iya sudah, sekarang kamu pulang saja ke rumah. Oh iya, Kakakmu kemarin sudah menikah, dan maaf Mami dan Papi tidak memberitahu perihal ini kepadamu Nak."


"Angga sudah tahu soal pernikahan dadakan Kak Andi Mih, tapi kenapa begitu mendadak? Apa tidak bisa menunggu Papi sembuh dulu?"


"Ooh.. soal itu karena Kakakmu itu selalu mengelak kalau ditanya soal pernikahan, jadi saat Papi kritis, Mami dan Papi memaksa Kakakmu menikah saat itu juga."


"Menikah sama siapa Mih? Tapi, Angga senang sih Kak Andi akhirnya menikah juga. Namun setahu Angga, Kak Andi masih sangat mencintai Kak Alya Mentari."


"Kakakmu menikah dengan anaknya teman Papi, di Yogyakarta." Sahut Papi menimpali.


"Ooh.. Papi hebat bisa buat Kak Andi mau menikah secepat itu, padahal mereka belum saling mengenal dan mencintai, bukan?" Tanya Angga penasaran.


"Iya sayang, tapi kalau kamu sudah melihat Kakak iparmu, pasti kamu akan mengagumi betapa cantiknya menantu Mami itu." Puji Mami Safira tentang menantunya, sedangkan Papi Dahlan tersenyum dan mengangguk kecil setuju dengan apa yang dikatakan istri tercintanya.


"Aah masa Mih? Kalau seperti itu, kenapa engga Angga saja yang disuruh menikahinya?"


"Huuh... ngaco saja kamu kalau ngomong."


"He.. he.. he... bercanda Mih."


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2