Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 14


__ADS_3

🥰🥰🤭Happy Reading🥰🥰


Mutiara dan Angga berlari kecil mengellingi komplek rumahnya. Hingga keduanyapun banjir peluh diseluruh tubuhnya, dan kelelahan.


"Kakak ipar.. kita istrirahat dulu di bangku itu yah?" Tanya Angga yang melihat bangku taman yang ada di depan pohon besar.


"Boleh." Sahut Mutiara, seraya menganggukkan kepalanya.


Merekapun duduk berdua di bangku taman itu, sinar mentari pagi yang indahpun mereka rasakan menerpa tubuhnya. Matahari seakan hangat membakar tubuh mereka yang sedang berkeringat.


"Kakak ipar.. ini minum air dulu." Tawar Angga dengan tulus.


"Terima kasih, Angga." Ucap Mutiara seraya mengambil botol minuman yang dibawa Angga dari runahnya tadi.


Mutiara mencoba membuka segel penutup botol minumannya, namun dirinya seperti kesulitan. Angga yang melihat itupun tidak tinggal diam, dia langsung saja menawarkan bantuan.


"Kakak ipar, sini botolnya biar Angga yang bukakan segel penutupnya." Tawar Angga dengan mengambil botol air minum itu dari tangan Mutiara.


"Iya." Mutiara memberikannya seraya tersenyum canggung, karena dirinya nampak malu tidak bisa membuka segel saja, padahal sepertinya mudah.


Angga membuka segel botol itu dengan mudahnya, Mutiara sampai kesusahan menelan salivanya.


"Ternyata mudah sekalih, jika melihat kamu yang membukanya." Ucap Mutiara.


"Memang mudah Kak. Ini minum airnya, habiskan juga engga apa-apa. Tapi, kalau engga habis jangan dibuang, biar Angga nanti yang meminumnya." Pinta Angga.


"Ini botolnya gede banget, airnya saja isi satu liter. Sepertinya saya engga bisa menghabiskan air minum ini." Sahut Mutiara mengambil botol minuman itu dari tangan Angga, seraya menggelengkan kepalanya menyerah.


"Iya kalau engga habis, berbagi sama Angga Kak. Engga apalah, bekas bibir Kakak ipar ini, he.. he.. he.." Ucap Angga santai seraya terkekeh.


Mutiara meminum air itu pelan hingga membasahi tenggorokkannya yang sudah mengering akibat lari pagi tadi. Angga hanya melihat pergerakkan Kakak iparnya, yang begitu cantik.

__ADS_1


"Eeh.." Pekik Mutiara saat dahinya tersentuh oleh handuk kecil.


"Maaf Kakak ipar, Angga hanya mengusap peluh Kakak yang lumayan banyak." Dengan perasaan campur aduk, entah mengapa Angga ingin sekalih memperlakukan Kakak iparnya ini dengan baik dan istimewa.


"T.. terima kasih, tapi biar saya saja yang mengusapnya." Ucap Mutiara, mengambil alih handuk dari tangan Angga.


"Deg.." Jantung Angga terasa berdebar, saat tangan Mutiara menyentuhnya, mengambil handuk kecil dari tangannya.


Angga tersenyum kikuk, menutupi jantungnya yang sedang berdebar kencang.


"Kenapa dengan jantungku? Kenapa menjadi aneh begini? Angga, kamu jangan gila? Ini Kakak ipar kamu? Buang jauh-jauh perasaan gila ini." Hati Angga bermonolog.


"Jadi, Kakak iparku ternyata berasal dari Yogyakarta? Orang tua Angga juga orang Yogyakarta Kak, Waktu kecil juga kami pernah tinggal disana." Ungkap Angga teringat masa kecilnya dulu, saat itu usianya masih sangat kecil.


"Iya, dari kecil saya tinggal di Yogyakarta. Saya juga engga kepikiran, bisa menginjakkan kaki saya di Jakarta." Ucapnya, seketika kangen suasana Yogyakarta yang indah.


"Apa Kakak ipar, mencintai Kak Andi?" Tanya Angga dengan polosnya, tanpa sadar hatinya ingin menanyakan hal itu.


"B.. belum, t.. tapi saya akan berusaha bisa mencintai Mas Andi." Ucap Mutiara gugup, seakan dirinya ingin menghilang dari tempat duduknya saat ini.


"Ooh.. wajar sih Kakak ipar belum mencintai Mas Andi. Lagi pula, kalian menikah karena Papi sakit jantung. Mungkin, kalau Papi tidak sakit, Kak Andi tidak akan menikahi Kakak ipar sekarang ini. Maafkan atas tindakan keluarga kami yah, Kakak ipar." Ujar Angga seraya meminta maaf atas kesalahan keluarganya.


"Heemm.. iya." Mutiara hanya mengucapkan itu, dan mengangguk kecil, namun air matanya sudah tergenang di pelupuk matanya.


"Tapi, kenapa Kakak ipar setuju dengan pernikahan mendadak tersebut? Memangnya, Kakak iparku yang cantik ini tidak mempunyai kekasih? Kalau Kakak ipar bukan istri dari Kak Andi, sudah pasti Angga langsung jatuh hati sama Kakak ipar." Tanya Angga penasaran, dengan gamblang mengungkapkan rasa ketertarikkannya.


"Iya, saya tidak ingin membuat Ibu sedih dan kecewa. Pernikahan ini juga wasiat dari Almarhum Ayah saya, jadi mana saya berani menolaknya. Masalah kekasih, saya memang sudah punya kekasih. Saya berpacaran sudah dua tahun, dari kami masih duduk di kelas dua SMA." Ungkap Pakta Mutiara, tentang dirinya yang mau menerima pernikahannya.


Mutiarapun akhirnya menangis saat air matanya tumpah membasahi pipinya. Air mata yang sudah dia tahan sedari tadi, tapi sudah tidak terbendung lagi.


"Eeh.. maaf Kakak ipar, saya sudah membuat Kakak ipar menjadi menangis haru." Sesal Angga dengan wajah bersalahnya seraya menangkupkan kedua jari tangannya di depan Mutiara.

__ADS_1


"E.. engga apa-apa ko. Saya hanya sedih saja, jika teringat Ibu di kampung." Jawab Mutiara jujur, seraya mengusap air matanya pelan.


Angga yang melihat Kakak iparnya menangis, seakan tidak tega untuk membiarkannya menangis sendiri. Ingin rasanya dia merengkuhnya, berbagi sedih dan duka bersamanya saat ini.


Namun, hal itu dia urungkan lagi. Anggapun melanjutkan obrolan dirinya dengan Mutiara, yang membuat penasaran soal pacar Kakak iparnya.


"Ohh.. begitu Kak! Jadi, Kakak ipar sudah tidak mempunyai seorang Ayah? Aku salut sama Kakak, selalu mementingkan kebahagiaan orang tuanya. Terus, bagaimana dengan kekasih Kakak ipar? Apa dia mau merelakan Kakak ipar menikah dengan orang lain?" Tanyanya penasaran.


"E.. emm... p.. pacar saya, sampai detik ini tidak tahu kalau saya sudah menikah dan pergi ke Jakarta." Jawab Mutiara gugup, saat mengingat betapa jahat dirinya meninggalkan kekasihnya tanpa sepatah katapun.


"Haah.. ? Lalu, apa dia sudah menghubungi Kakak ipar atau bagaimana?" Tanya Angga dengan penuh keterkejutan.


"T.. tidak, saya tidak sanggup jika harus mengatakan perihal yang sebenarnya terjadi. Ponselnya saya tinggal di Yogyakarta, biar nanti Ibu saya yang menjawab pertanyaan pacar saya dan menjelaskan semuanya." Jawab Mutiara merasa bersalah kepada kekasihnya.


"Ooh.. begitu yah, kalau dipikir-pikir kasihan juga yah Kakak dan pacarnya? Terpisah, karena menikahi orang yang tidak pernah di kenalnya dan mendadak pula." Ujar Angga prihatin.


"Hi.." Mutiara hanya tersenyum kecil. Diapun merasa tidak enak sudah mengatakan sejujurnya kepada Adik iparnya itu. Padahal baru semalam mereka kenal, tapi dirinya merasa Angga sangat baik. Berbanding kebalik dengan suaminya.


"Kalau boleh saya tanyakan sesuatu apa boleh?" Tanya Mutiara memberanikan diri, meski dirinya malu.


"Iya boleh Kak, memangnya Kakak mau tanya apa?" Angga penasaran dengan wajah Kakak iparnya yang nampak malu-malu.


"Kalau boleh tahu, sebelum Mas Andi menikahi saya, apa dia sudah punya pacar sebelumnya?"


"Setahu Angga sih, Kak Andi tergolong orang yang tipikal Pria setia sama satu gadis. Dulu saja Kak Andi menunggu cinta teman satu kampusnya, hingga sampai di tinggal menikah sama gadis tersebut. Lalu Kak Andi akhirnya memutuskan memacari gadis yang tidak sengaja bertemu karena tas mereka tertukar. Namun, mereka putus karena pacarnya masih mencintai mantannya. Lalu Kak Andi mencintai Kak Alya Mentari sahabat kuliahnya, lagi-lagi di tinggal menikah juga."


Mutiara terharu mendengar kisah suaminya, mungkin karena ini salah satu penyebabnya, mengapa suaminya bersikap dingin kepadanya.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2