
π₯°π₯°Happy Readingπ₯°π₯°
Mutiara turun dari ranjang, dirinya sudah tidak tahan untuk buang air kecil. Langsung saja dia menggedor pintu kamar mandi, suaminya begitu lama belum keluar sedari tadi.
"Dor.. dor.. Mas Andi.. tolong buka pintunya, saya sungguh sudah tidak tahan." Mutiara mengedor pintu kamar dengan menahan buang air kecil.
Tidak ada sahutan dari dalam, Andi tidak perduli dengan gedoran pintu dari istrinya.
"Mas.. Mas Andi pleas.. saya tidak mau sampai ngompol di sini Mas." Mohon Mutiara lirih.
Andipun merasa kasihan juga sama istrinya, akhirnya diapun membuka kamar mandinya dengan mengenakan handuk kecil, namun rambutnya masih penuh busah shampo. "Jeglek." Bunyi pintu terbuka.
"M.. maaf, Mas.. ! Saya sudah kebelet." Ucap Mutiara dengan tersenyum meringis menahan pipisnya.
"Heeem.." Andi hanya bergumam pelan, lalu berjalan ke bathtub, membuka handuknya masuk kembali kedalam bathtubnya.
Pemandangan itupun sudah biasa dia lihat, jika suaminya sehabis mandi. Namun, dia biasanya akan menutup kedua matanya atau berbalik badan. Untuk saat ini, entah kenapa dirinya tidak melakukannya. Dia membelalakkan matanya saat melihat tubuh sixpack suaminya, dengan kesulitan menelan salivanya.
Lamunannya tersadar, saat suara bariton Andi bertanya. "Kamu engga jadi buang air kecil? Katanya, sudah kebelet?"
"Eehh.. i.. iya Mas." Ucap Mutiara gugup.
Mutiara berjalan menuju closet duduknya, dia nampak malu sebenarnya, saat melewati suaminya yang masih berendam.
"Kenapa? Kamu engga jadi pipisnya, bukan?" Tanya Andi yang melihat istrinya hanya berdiri saja di depan closet.
"A... anu, saya malu ada Mas Andi." Ucapnya menahan malu dan gugup.
"Ha.. ha.. ha.. tahu malu kenapa ikut masuk? Sudah tahu saya sedang mandi. Iya sudah, saya tutup mata." Ucap Andi tertawa.
"Benarkah Mas Andi? Iya sudah, Mas Andi tutup matanya yah!" Tanya Mutiara sedikit ragu.
"Iya." Ucap Andi singkat, lalu menutup matanya dengan kedua jari tangannya.
"Jangan mengintip yah, Mas." Pinta Mutiara mengingatkan.
"Iya.. ayo cepat jangan bicara terus." Ucap Andi tersenyum, merasa lucu saja pada istrinya, padahal mereka sudah menikah namun masih malu saja.
"Sudah, belum?" Tanya Andi merasa lama, padahal hanya pipis saja.
"Iya sebentar Mas, tadi pipisnya kelamaan ditahannya, jadi sekarang sedikit tersendat." Ujar Mutiara beralasan, padahal dia merasa gugup saat pipis satu ruangan dengan seorang pria, meski itu suaminya sekalipun.
"Heemm.." Andi bergumam pelan, namun entah mengapa dirinya saat ini tidak merasa kesal dengan istri bocilnya.
"Sudah, Mas." Ucap Mutiara, yang sedang menekan tombol air pembersih closetnya.
Andipun menurunkan kedua jari tangannya dari wajah tampannya yang semakin bersinar saat mandi dengan penuh air busa ditubuhnya.
__ADS_1
"Terima kasih yah Mas, maaf sudah mengganggu mandinya." Ucap Mutiara, lalu hendak berjalan melewatinya. Namun, tangan Andi langsung mencekal lengan istrinya agar berhenti berjalan.
Mutiara seketika menghentikan langkahnya, dirinya sungguh gugup saat tangan suaminya menahan lengannya.
"A.. ada apa, Mas?" Tanya Mutiara gugup tanpa melihat kearah suaminya, karena malu jika suaminya melihat wajahnya sudah bersemu merah.
"Mau mandi bareng, tidak?" Tanya Andi, tetap dengan mode dinginnya.
"Deg.. " Jantung Mutiara berdebar.
"Eemm.. M.. mas Andi engga salah ngomong?" Tanya Mutiara gugup, menahan jantungnya yang entah mengapa tiba-tiba berdebar.
"Engga..! Kalau kamu mau mandi bareng, ayo buka baju kamu dan masuk kedalam bathtub. Apa perlu saya yang bukain bajunya?" Ujar Andi dengan ekspresi datar, padahal hatinya sudah tidak karuan rasanya. Namun, dirinya sangat pintar menyembunyikan perasaan yang sedang dia rasakan.
Kalau ingin jujur, Andi sebenarnya merasa cemburu dengan Angga adiknya. Apa lagi saat semalam, Angga bersikap manis dan romantis kepada istrinya tanpa malu-malu.
Mutiara menggelengkan kepalanya pelan, dia takut ini hanya mimpi ataupun khayalannya saja.
"Kenapa? Kalau tidak mau, saya takan memaksa."
"M.. maaf Mas Andi, saya belum bisa." Ucap Mutiara gugup, dirinya masih belum bisa melakukan hal ini tanpa rasa cinta dihati keduanya.
"Heem.." Andi bergumam kecewa, lalu melepaskan lengan istrinya perlahan.
Mutiara menahan degup jantungnya yang sedari tadi dia rasakan, dengan langkah cepat Mutiara keluar kamar mandi, lalu menutup pintunya perlahan.
Andi sedang merasakan getir dalam hatinya, betapa kecewa dirinya yang sudah berusaha bersikap baik dan lembut, namun ditolak dengan jelas oleh istri bocilnya.
Andi keluar kamar mandi nampak segar dan berseri, seolah tidak terjadi apa-apa tadi. Andi berusaha menutupi rasa kecewanya, dengan tetap bersikap seperti biasanya dingin dan cuek.
"M.. mas sudah mandinya?" Tanya Mutiara gugup.
"Iya.. apa kamu mau mandi?" Tanya Andi saat melihat istrinya sudah membawa baju ganti dan handuknya.
"Iya, Mas Andi." Ucap Mutiara kemudian masuk ke kamar mandi.
"Menggemaskan.." Andi bergumam seraya menggelengkan kepalanya pelan.
Selesai berganti pakaian, Andi mematut dirinya di depan cermin. Dia bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku sedang menyukainya? Atau aku hanya tidak suka melihat adikku dekat dengan istriku? Apa aku seegois itu? Aku memang tidak mencintainya, tapi mengapa kadang otak dan hatiku sering kali bertentangan?"
Andi keluar kamar, lalu menuju kamarnya Angga, dengan pelan dia mengetuk pintu adiknya itu.
"Tok.. tok.." Bunyi pintu di ketuk.
"Siapa?" Tanya Angga dari dalam kamar.
__ADS_1
"Kak Andi! Apa Kakak boleh masuk, dik?"
"Masuk saja, tidak dikunci."
Andi kemudian membuka pintu kamar Angga dengan pelan. Dia berjalan ketempat Angga, yang sedang duduk di sofa.
"Kamu sudah bangun dari tadi, dik?" Tanya Andi menyapa.
"Belum lama, ada apa Kak? Tumben banget pagi-pagi sudah kesini."
"Hari ini Kakak pindah ke Apartement, agar Kakak lebih dekat untuk pergi ke kampus. Kakak iparmu nanti, akan segera kuliah disana juga." Ujar Andi menjelaskan maksud kedatangannya ke kamar adiknya. Namun, sebenarnya dia ingin melihat keadaannya setelah kejadian semalam. Tapi, rasa gengsinya yang tinggi dia tidak mengatakan hal itu.
"Ooh.. hanya itu saja, Kak? Kakak tidak ingin mengatakan hal lainnya?"
"Bagaimana dengan pipimu? Apa begitu terasa sakit? Maafkan Kakak yah, dik!"
"Tidak apa Kak. Pipiku hanya memar sedikit, nanti juga sembuh. Tapi, hatiku yang sakit Kak!"
"Hati kamu sakit? Maksudnya?" Tanya Andi bingung dengan ucapan Angga adiknya.
"Aku menyukai Kakak ipar. Mungkin, aku tidak pantas mengatakan hal ini Kak. Tapi, aku sudah mencoba menepisnya. Sekarang, Angga mau tanya sama Kak Andi, Apa Kak Andi menyukai Kakak ipar? Jujur saja Kak, kalau memang tidak menyukainya." Ungkap Angga dengan gamblang.
"Deg.. " Jantung Andi merasakan sakit yang entah tahu kenapa, saat mengetahui kenyataan yang baru saja dia dengar. air matanya tiba-tiba saja menggenang, lalu diujung mata indahnya menetes dipipinya.
"K.. kakak tidak tahu harus jawab apa. Tapi, kenapa kamu harus menyukai istri Kakak, dik?" Tanya Andi dengan bibir bergetar.
"Angga merasa nyaman sama Kakak ipar, dia baik, ceria dan lembut hatinya. Memangnya, Kak Andi tidak merasakan hal itu ketika dengan Kakak ipar?" Ujar Angga dengan jujur, lalu dia menanyakan hal yang sama kepada Kakaknya.
"Eemm.. belum!" Jawab Andi sedikit gugup.
"Belum? Berarti, tidak ada rasa suka atau cinta, dari Kak Andi untuk Kakak ipar? Lebih baik, Kak Andi lepaskan saja dan bebaskan Kakak ipar dari ikatan pernikahan itu. Kakak baru menikah sirih, bukan? Jadi masih mudah prosesnya, hanya bilang talak saja, Kakak sudah terbebas dari pernikahan itu. Biarkan Angga yang akan memberikan rasa suka dan cinta untuk Kakak ipar. Tolong pikirkan ucapanku, Kak!" Ujar Angga tegas dengan terang-terangan.
Andi bergeming, dengan segala ucapan yang baru saja keluar dari bibir Angga dengan penuh penekanan.
...β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈπΉπΉππβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ...
Autor : Nah loh, Andi galau nih! Angga sudah berani jujur dengan cintanya kepada kakaknya sendiri.ππππ
Andi : Tor.. kamu jahat banget sih, kenapa harus Angga adikku yang menjadi rivalku? Aku jadi serba salah jadinya.ππ€§π
Autor : Itulah ujian cintamu, Andi.ππβ
Andi : Autor jahat.. !π‘πΏ
Autor : πββοΈπββοΈ Kabuur... !
Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.ππ...