Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 47


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Andi tersenyum, kepada Pak Arjuna. Pasalnya dia sadar, pernikahan dadakannya tidak banyak yang tahu. Lalu diapun mengatakan sejujurnya kepada Pak Arjuna.


"Sebenarnya saya sama istri saya baru menikah siri Pak, saat itu saya menikahnya di Yogyakarta. Baru satu bulan setengah saya menikahi gadis itu, yang memakai baju warna putih."


"Ohh.. yang baju warna putih itu Pak Dosen! Cantik yah istrinya, tapi sepertinya pendiam. Tidak seperti gadis disebelahnya, yang saya perhatikan nyerocos terus sedari tadi. He.. he.. he.." Ujar Pak Arjuna terkekeh.


"Ha.. ha.. ha.. itu sih emang gadis centil dan petakilan Pak Arjuna." Kata Andi dalam tawanya.


"Tapi.. cantik Pak Dosen." Ucap Pak Arjuna memuji.


"Ck.. Pak Arjuna suka yah? Nanti saya salamin deh sama anaknya." Ujar Andi meledek Pak Arjuna, yang terbilang masih perjaka tingting dengan kaca mata tebalnya.


"Aissh.. Pa Dosen bisa saja! Saya malu lah Pak, engga PD kalau kirim salam dengan anak ABG yang usianya baru lulus SMA, he.. he.. he.." Ujar Pak Arjuna malu.


"Ha.. ha.. ha.. saya juga bercanda Pak Arjuna." Ucap Andi tertawa, yang diikuti oleh Pak Arjuna juga ikut tertawa namun terpaksa.


"Iya.. sudah sebentar Pak Dosen, saya ambilkan formulir pendaftarannya dulu."


"Okay.. sekalian dua Pak, untuk gadis petakilan itu." Ucap Andi, lalu menghampiri istrinya.


"Heeem..." Hanya gumaman yang keluar dari bibir Pak Arjuna.


Pak Arjuna mengambil formulir tersebut dari dalam lemari sebanyak dua lembar, sesuai apa yang diminta oleh Dosen Andi.


Pak Arjuna memanggil Andi dengan sedikit berteriak." Eeeheemm... Pak Dosen Andi.. ini formulirnya, tolong diambil." Ucap Pak Arjuna dengan lantang.


Andi yang sedang mengobrol mesra dengan istrinyapun sedikit terkejut, dengan suara Pak Arjuna yang menggema diruangannya.


"Aiish.. Pak Arjuna, bisa engga suaranya sedikit lebih dipelani? Saya engga tuli! Engga usah teriak-teriak, nanti saya salamin sama Amara Anastasya mau lagi, he... he.. he.." Omel Andi dengan candaannya, lalu mengambil kertas formulir pendaftaran dari tangan Pak Arjuna. "Terima kasih."


Sontak saja Amara yang disebut namanya oleh Andi, seketika membulatkan matanya ke arah Andi. Sedangkan Andi bersikap santai dan cuek bebek, melihat perubahan wajah Amara yang terlihat kesal.


Mutiara hanya tersenyum melihat keisengan suaminya, yang setahu dia selama ini dingin dan ketus.


"He.. he.. he.. maaf Pak Dosen, habis saya engga diajakin nimbrung sih." Canda Pak Arjuna terkekeh, seraya memberikan kertas formulir pendaftaran mahasiswa baru ketangan Andi.


"Aiish.. ganjen nih Pak Arjuna." Ledek Andi. "Amara.. ada yang mau kenalan tuh sama kamu. Sepertinya Pak Arjuna mulai suka, he.. he.. he.." Ujar Andi terkekeh, seraya memberikan kertas formulir pendaftaran mahasiswa baru ketangan Amara dan istrinya.


"Ha.. ha.. ha.. What? Apa engga ada yang mudaan lagi, kak Andi?" Canda Amara dalam tawanya, bibirnya mencebik saat Andi meledeknya. Namun, tangannya menerima surat formulir tersebut.


"Sudah habis stok pria muda disini, sisa Pak Arjuna saja, he.. he.. he.." Canda Andi terkekeh, lalu duduk disamping istri cantiknya.


"Huuh.. kak Andi nyebelin! Dari pada sama Pak Arjuna itu, mendingan sama kak Andi, eh.. salah, maksudnya sama adiknya kak Andi yang tadi." Ucap Amara mencebik sebal dan canggung, lalu mengerucutkan bibirnya dan menggerutu engga jelas.


"He.. he.. he.. betul Amara! Angga jomblo loh." Ujar Mutiara terkekeh, namun sedikit cemburu saat Amara menyebut nama suaminya diawal ucapannya.

__ADS_1


"Waah.. benar tuh Amara, yang dibilang istriku. Adikku jomblo, sepertinya kalian cocok kalau disatukan, he.. he.. he.." Andi ikut menimpali kata istrinya.


"Eeeheemm.. kalian membuat hatiku merana! Hikz.. hikzz.. hikk.." Pak Arjuna berdehem, lalu pura-pura menangis.


"Huss.. ada yang sedih loh! Kamu sih Amara, terang-terangan nolak Pak Arjuna." Ujar Andi tersenyum menyeringai.


"Aiish.. kak Andi, sukanya memancing di air keruh!" Hardik Amara merasa dirinya tersudutkan.


"Ha.. ha.. ha.. makanya jangan menolak Pak Arjuna!" Andi terus tertawa dan membuli Amara yang sudah kesal saat ini.


Mutiara hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat suaminya yang senang membuat Amara menjadi kesal.


"Bodo amatlah, aku mau isi formulirnya saja." Ucap Amara santai, tidak ambil pusing. Diapun berjalan ke depan Pak Arjuna, untuk mengisi formulir pendaftarannya.


"Dasar.. bocil.. bocil." Ucap Andi santai, lalu tanpa sadar membuat Mutiara sedikit mengerutkan dahinya heran.


"Mas Andi!" Panggil Mutiara pelan.


"Iya.. sayang." Sahutnya.


"Mas Andi, panggil Amara bocil?" Tanya Mutiara sedikit cemburu. Pasalnya panggilan nama bocil itu, teringat dirinya saat baru tinggal dan menjadi istrinya Andi.


"Ha.. ha.. ha.. memangnya kenapa, sayang? Memang Amara masih bocil, bukan?" Andi tertawa melihat istrinya yang seperti sedang cemburu.


"Heeem..." Mutiara tidak menjawab pertanyaan suaminya, dirinya hanya bergumam pelan.


"Tahu ah.. saya sedang isi formulir. Jangan ganggu saya." Ucap Mutiara ketus.


"Huem.. marah! Maaf.. sayang. Iya deh, saya engga sebut nama bocil lagi kepada siapapun." Ujar Andi menyesal. Dirinya tidak menyangka, jika istrinya bisa semarah itu. Padahal dia hanya memanggil Amara dengan sebutan bocil.


"Heeem.." Hanya gumaman yang Mutiara berikan. Dirinya masih tidak terima kesalahan suaminya, padahal tidak penting pikirnya. Namun, begitu berarti bagi dirinya, sebab sebutan bocil itu sebegitu melekatnya dihati Mutiara.


*******


"Pak.. ini kertas formulirnya. Administrasinya, akan saya transfer sekarang juga ya. Ini benarkan nomor rekening banknya yang tertera di kertas, atas nama Pak Arjuna Saputra?" Ujar Amara dengan santai.


"Iya.. Nak Amara." Sahut Pak Arjuna senang.


"Terima kasih Pak, sekarang saya transfer ya. Langsung lunas ya, Pak." Ucap Amara ramah.


"Ting." Bunyi Notifikasi tanda transfer sudah terkirim. Kemudian, Amarapun menunjukkan tanda bukti transfernya ke Pak Arjuna.


"Ini sudah yah Pak, tanda bukti transfernya." Ucap Amara santun.


Pak Arjunapun melihatnya secara teliti dengan nomor rekening dan nama yang tertera dilayar ponsel Amara.


"Okay.. saya akan ceklis namanya. Tolong kirim tanda bukti transfernya ke nomor WA saya, Nak Amara."

__ADS_1


"Nomor WA Pak Arjuna yang ada di kertas formulir ini, bukan?"


"Iya.. Nak Amara." Ucap Pak Arjuna.


"Okey.. saya akan kirim segera kenomor WA Bapak Arjuna." Ucapnya, lalu mengirim tanda buktinya ke nomor WA Pak Arjuna.


"Terima kasih, WAnya sudah saya terima." Ucap Pak Arjuna tersenyum, semanis madu rasa. Lalu menjulurkan tangannya untuk bersalaman. " Selamat yah, anda menjadi mahasiswa di kampus ini." Ucap Pak Arjuna.


"Sama-sama Pak, terima kasih banyak Pak Arjuna." Sahut Amara santun. Lalu diapun menghampiri Andi dan Mutiara.


"Hei.. apa kamu sudah beres, Amara?" Tanya Mutiara ramah.


"Sudah dong." Sahutnya.


"Syukurlah." Ucap Mutiara, lalu melanjutkan mengisi data dirinya kembali.


"Kak Andi, apakah nanti akan mengajar juga dikelas semester satu?" Tanya Amara penuh harap.


"Bisa iya.. bisa tidak! Tergantung sih, ada yang meminta saya mengajar dikelas semester satu atau tidak." Sahut Andi melirik istrinya yang masih kesal karena cemburu.


"Ooh.. kalau begitu saya akan meminta sama Pak Dekan yah kak, biar kak Andi bisa mengajar di kelas semester satu nantinya." Ucap Amara santai, tanpa sadar membuat hati Mutiara cemburu lalu mengerucutkan bibirnya sebal.


Andi yang melihat perubahan istrinya yang cemberut, membuat hatinya senang. Dirinya dicemburui oleh Mutiara, istri bocilnya yang menggemaskan pikirnya.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Autor : Cie.. senangnya dicemburui Mutiara! Berasa dicintai yah Mas Andi? 🀭πŸ₯°πŸ€£


Andi : Senang sih Tor! Tapi, asal jangan cemburu buta yah Tor, bisa-bisa saya ditinggalin sama dia.πŸ™ˆπŸ˜­


Autor : Engga dong Mas Andi! Kecuali Mas Andi menanggapi Amara dan memberi cela Amara masuk kedalam hati Mas Andi.πŸ€§πŸ™ƒπŸ˜…


Andi : Maksud Otor, saya selingkuh gitu?πŸ˜‘πŸ‘Ώ


Autor : Mungkin? πŸ™ˆπŸ€£


Andi : Engga lah Tor! Awas saja Otor bikin perkara itu.. saya tidak mau melihat Otor lagi. 🀧😭


Autor : Kita lihat saja nanti Mas. πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈkabur.


Andi : Awas saja sampai itu terjadi! Otor akan saya gantung di pohon bawang merah yang kini sedang mahal harganya.🀭🀣✌


...β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...


__ADS_2