Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 66


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Seusai masa Perkenalan calon Mahasiswa baru dan menampilkan beberapa bakat yang dimiliki oleh masing-masing individu, Aldi dan Angga memberikan waktu mereka untuk beristirahat sejenak tiga puluh menit.


Para peserta Ospek dikelasnya itupun bersorak hore, tanda riang mereka akhirnya tiba saat bersantai sejenak, untuk sekedar cari minuman dan makanan dikantin sekolah.


Angga menghampiri Amara dan Mutiara untuk mengajaknya ke kantin bersama, tidak lupa Aldipun ikut serta bersamanya. "Sayang.. kakak ipar, kekantin bareng yuk." Ajak Angga tanpa ragu memanggil nama mereka didepan Aldi teman sesama jurusannya, namun beda kelas.


"Iya, kak." Sahut Amara, kemudian Mutiarapun mengangguk kecil dan tersenyum ramah.


Nabila mengajak Kelik untuk beristirahat bersama, namun dia menolaknya dengan santun. "Maaf Nabila, saya ada perlu dengan seseorang, lain kali saja kita istirahat bersama."


Dengan rasa kecewa, Nabilapun akhirnya beristirahat kekantin dengan teman yang lainnya. Padahal dia ingin sekali memamerkan kepada kaum hawa yang lain, kalau dia itu cocok jalan berdua dengan Kelik yang dalam sekejap menjadi idola kampus baru.


Kelik yang melihat mereka hendak keluar kelas, dengan berani dia menghentikan langkah mereka. "Maaf... Kak Angga dan kak Aldi, apa saya boleh berbicara sebentar dengan Mutiara?" Tanya Kelik santun.


"Kalau saya terserah orangnya, mau atau tidak." Ucap Angga ramah.


Mutiarapun mengangguk kecil, namun terlihat bersedih dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Angga yang melihat kakak iparnya terlihat sedih seakan curiga ada sesuatu yang disembunyikan mereka.


Angga yang menyadari seragam sekolah mereka berwarna sama, dengan nama asal sekolahan yang sama, yaitu SMA Pasung Yogyakarta.


"Apa jangan-jangan Kelik ini adalah pacar kakak ipar? Atau hanya teman biasa. Tapi, Kenapa bisa kebetulan sekali mereka satu kampus yang sama, bahkan satu jurusan dan satu kelas pula? Apa ini satu kebetulan atau disengaja? Entahlah." Hati Angga bermonolog penuh tanda tanya.


"Terima kasih, kak Angga." Ucap Kelik ramah dengan tersenyum mengembang kearah mereka.


"Kalau begitu, kami akan kekantin terlebih dulu. Siapa nama adik junior? Saya lupa tadi." Ucap Angga mencoba santai.


"Nama saya, Kelik Cipto Roso, kak." Ucap Kelik menyebutkan nama lengkapnya.


"Ooh.. iya, Kelik Cipto Roso. Nama kamu unik ya, Kelik? Tapi, nama belakang kamu saya seperti sering mendengarnya. Apa itu nama keluarga?" Tanya Angga penasaran.

__ADS_1


"Iya.. kak, nama belakang kakek saya yaitu Brawijaya Cipto Roso." Ucap Kelik jujur namun tetap santai.


"What? Pak Brawijaya Cipto Roso? Apa kamu tidak salah menyebut nama kakekmu, dik Kelik?" Tanya Angga dibuat shock saat Kelik menyebutkan nama kakeknya, dengan membelalakkan matanya tak percaya.


Aldi yang memang tahu sosok nama yang disebutkan oleh Kelikpun ikut shock tidak percaya, jika orang yang sedang berhadapan dengan mereka adalah cucu pemilik kampus tersebut.


Aldipun ikut membelalakkan matanya tidak percaya, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Jadi, kamu cucu pemilik kampus ini? Pak Brawijaya Cipto Roso, yang terkenal sangat baik dan dermawan." Tanya Aldi ikut penasaran.


Mutiarapun ikut shock saat mendengar kenyataan seorang Kelik sang mantan pacar mengenai silsilah keluarganya.


Selama Mutiara mengenal Kelik di Yogyakarta, lalu berpacaran selama dua tahun, Kelik tidak pernah bercerita dengan dirinya dan kakeknya yang masih ada di Jakarta.


Kelik adalah anak satu-satunya dari keluarganya yang masih tinggal diYogyakarta, keluarga yang terbilang sederhana jauh dari kata mewah sama sekali.


Hari ini Mutiara seakan shock, saat Angga mengatakan Kelik cucu dari pemilik kampus tempat dirinya menimba ilmu kini. Sampai-sampai tanpa sadar, Mutiara membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan lentiknya.


"Iya.. kak Angga dan kak Aldi." Sahut Kelik jujur.


"Ooh.. " Hanya kata ooh yang diucapkan Angga dan Aldi bersamaan, dengan menohok jawaban Kelik.


"Kalau begitu, saya mau ajak Mutiara bicara sebentar ya kak Angga dan kak Aldi." Pinta Kelik ramah.


"Ooh.. I-iya, silahkan dik Kelik, kami juga akan segera ke kantin. Kami pergi dulu ya, kakak ipar dan dik Kelik." Ucap Angga kikuk, dengan tersenyum terpaksa, sengaja memanggil Mutiara dengan sebutan kakak iparnya.


Kelik dan Mutiara mengangguk kecil, saat mereka mulai meninggalkan kelasnya. Kelikpun sudah tidak terkejut, saat Angga memanggil sang pacar dengan sebutan kakak ipar. Karena dia sudah tahu dari Ibu Lanjar, yang beberapa hari kepergian sang pacar yang sudah menikah dan tinggal di Jakarta.


Kelik masih menganggap Mutiara adalah pacarnya, selama dua tahun ini yang dia sangat cintai dan sayangi. Mengapa demikian? Karena dirinya tidak pernah melakukan kesalahan dan Mutiarapun tidak pernah mengucapkan kata putus dan mengakhiri hubungannya.


Berhari-hari semenjak Kelik tahu Mutiara sudah menikah dengan cara terpaksa karena perjodohan, Kelik begitu hancur dan rapuh. Cintanya yang selama ini dia jaga dan dia lindungi begitu besar dan tulus kepada Mutiara, dengan mudahnya jatuh ketangan orang lain.

__ADS_1


Sakit sesakit-sakitnya, jatuh sejatuh-jatuhnya dan hancur sehancur-hancurnya, juga remuk seremuk-remuknya. Hati Kelik sungguh-sungguh terluka teramat dalam, hingga akhirnya dia meminta bertemu dengan sang Kakek di Jakarta kepada Ibu dan Ayahnya.


Ayah Kelik bernama Bima Cipto Roso, yang menikahi gadis sederhana di Yogyakarta yang bernama Yuningsih. Pernikahan mereka tanpa restu kedua orang tuanya, terutama sang Papa Brawijaya Cipto Roso.


Akhirnya Bima memilih untuk meninggalkan kemewahan dan kekayaan orang tuanya, yang tinggal di Jakarta. Bima membangun rumah tangga bersama Yuningsih, dengan kehidupan sederhana dengan penuh cinta dan kasih sayang.


"Cah ayu, apa kamu masih ingat dengan panggilan sayang aku sama kamu, heum..?" Tanya Kelik lirih, saat sekarang mereka hanya berdua didalam kelas.


Mutiara hanya mengangguk kecil, air matanya sudah tidak tertahankan lagi, Meluncur bebas dipipinya yang mulus dan cantik. "Hikkz.. hikkzz.. hikkzz.." Suara tangis Mutiara yang terdengar.


"Apa aku masih boleh memelukmu, cah ayu?" Tanya Kelik lirih, seakan menahan gejolak rindu yang begitu besar dan menyakitkan.


Mutiara hanya menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak sanggup berkata-kata lagi.


"Kenapa cah ayu, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, heum? Apa kamu bahagia dengan pernikahanmu? Apa namaku semudah itu terhapus dalam hatimu, cah ayu?" Tanya Kelik begitu sedih menatap wajah Mutiara yang menangis tanpa berkata satu katapun.


"A-aku sudah menikah, Kelik. A-aku sudah bukan kekasih kamu lagi, Kelik. A-aku sudah bahagia dengan pernikahanku." Ucap Mutiara terbata dengan bibir bergetar.


"Ha.. ha.. ha.. benarkah kamu bahagia, cah ayu? Atau kamu hanya berpura-pura bahagia?" Tawa Kelik terbahak, menutupi rasa sakit hatinya saat mendengar wanita yang dia cintai menjawab pertanyaannya dengan begitu yakin.


"A-aku bahagia, Kelik. A-aku tidak berbohong padamu." Tutur Mutiara gugup untuk lebih meyakinkan Kelik agar berhenti berharap.


"Ha.. ha.. hikkzz.. ha... hikkzz..." Kelik menangis dalam tawanya, kemudian ambruk kedasar lantai dengan menundukkan kepalanya lemah.


Mutiara begitu sesak didada, saat melihat pria yang begitu dia cintai dulu terpuruk dan terluka karenanya.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2