Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 7


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mami Safira dan Papi Dahlan sudah tiba di Rumah Sakit, namun dirinya masih menunggu untuk mencari cara masuk keruang kamar rawat inap. Andi masih menunggu di depan kamar Papi Dahlan, seraya bermain ponsel.


"Papi bagaimana ini? Andi masih disitu terus. Padahal Suster sudah mencoba mengalihkan perhatiannya." Mami Safira cemas- memikirkan cara mereka agar bisa membuat Andi meninggalkan tempatnya sekarang.


"Mami coba telpon Suster, bilang Andi diminta ke ruang Dokter sebentar gitu. Andi pasti mau menemuinya, saat itu kita baru bisa masuk keruang rawatnya." Ide Papi Dahlan yang brilian.


"Waah.. benar juga Pih, kenapa Papi pintar banget sih? Mami makin cinta deh sama Papi. Cup.. muach.. " Puji Mami Safira kepada suaminya, seraya mengecup pipinya kilat.


"Iya dong Mih, suami siapa dulu! Jangan mancing-mancing, nanti Papi balas cium disini." Bangga Papi Dahlan, seraya menaruh jari telunjuk tangan kanannya dibibir istrinya.


"Aiish.. Papi engga ada puasnya." Decak Mami Safira, gemas dengan suaminya yang tidak pernah ada puasnya.


"He.. he.. he.." Papi Dahlan terkekeh, mendengar istrinya mengomel.


Mami Safirapun langsung menghubungi Suster jaga tersebut, lalu meminta Andi untuk menemui Dokter sebentar. Suster itupun paham, dan langsung menjalankan rencana Mami Safira.


"Permisi Mas Andi, anda diminta untuk menemui Dokter Rian yang menangani Pasien Tuan Dahlan." Ujar Suster itu, dengan senyum ramahnya.


"Suster tahu nama saya? Padahal kita belum pernah berkenalan, bukan?" Tanya Andi, merasa aneh dengan Suster yang sudah tahu namanya.


"S.. saya tahu dari Nyonya Safira, sebelumnya sudah berpesan kepada saya, jika anaknya yang akan menjenguk itu bernama Mas Andi. Begitu ceritanya Mas." Ucapnya gugup saat berbohong.


"Ooh.. begitu ceritanya. Iya nama saya memang Andi, kalau Suster siapa namanya? Ooh.. Suster Laura Kirana, ya sudah saya menemui Dokter Rian dulu yah Sus." Ucap Andi ramah, seraya membaca papan nama yang bertuliskan Laura Kirana.


Sontak saja Suster itupun tersenyum canggung, karena dirinya terus-terusan harus membohongi, Pria tampan yang begitu baik pikirnya.


Andi berjalan meninggalkan kamar Papi Dahlan, untuk menemui Dokter Rian di ruangannya. Papi Dahlan dan Mami Safirapun, tidak membuang kesempatan. Merekapun langsung berjalan menuju kamarnya.


"Mami kuncinya mana? Ayo cepat sini, nanti Andi keburu kembali." Pinta Papi Dahlan, dengan tidak sabaran.


"Iya Papi sebentar, ini juga Mami lagi cari kuncinya. Nah akhirnya ketemu, ini Pih kuncinya." Ujar Mami Safira, seraya memberikan kunci kamarnya.


Papi Dahlanpun membuka kunci tersebut, lalu masuk dan menutup pintunya kembali.

__ADS_1


"Akhirnya Mih, kita bisa juga masuk ke ruangan ini lagi." Ucap Papi Dahlan merasa lega.


"Untung ada Suster yang kita bisa handalkan, Pih! Coba kalau tidak ada, sandiwara kita sudah pasti terbongkar." Ucap Safira merasa beruntung, dengan adanya Suster jaga itu.


"Ayo Pih, kita mulai berakting lagi. Semoga Andi tidak curiga yah Pih." Ajak Safira, memasangkan selang infusnya kembali ketangan Papi Dahlan.


"Siap Mih, jangan sampai sandiwara kita terbongkar yah." Ucap Papi Dahlan mengingatkan.


*******


Andi menemui Dokter Rian Keruangannya, ternyata Dokter Rian tidak ada ditempat, hanya ada Asistennya saja yang sedang berjaga diruangannya.


"Permisi Suster, saya mau bertemu dengan Dokter Rian, apakah beliau ada?" Sapa Andi sopqn dan ramah.


"Dokter Rian belum datang, biasanya beliau datang sekitar pukul sebelas siang Mas. Sekarang baru pukul 9, Dokter Rian masih dirumahnya." Jelas Asisten Dokter Rian jujur.


"Ooh.. jadi begitu yah Suster! Tapi tadi Suster Laura kirana mengatakan, jika saya dipanggil Dokter Rian untuk menemui beliau. Kalau memang Dokter Rian belum datang, yah sudah saya pamit dulu yah Suster. Saya minta maaf sudah mengganggu waktu anda." Ujar Andi sopan seraya undur diri.


"Iya Mas, tidak apa-apa." Sahut Suster itu ramah.


"Mengapa Suster Laura Kirana berbohong kepada saya? Apa salah orang, atau bagaimana yah?" Tanya Andi dalam hatinya.


"Maaf Suster Laura, saya sudah keruang Dokter Rian, ternyata beliau belum datang. Apakah anda tidak salah informasi?" Tanya Andi heran, dengan cara kerja Suster jaga itu.


"Maaf Mas Andi, maaf banget. Saya memang salah informasi, barusan saya baru saja dihubungi kembali oleh Dokter Rian, kalau beliau akan datang terlambat." Dusta Suster Laura, seraya menangkupkan kedua jari tangannya di depan wajah Andi untuk meminta maaf.


"Iya sudah, saya maafkan. Tapi, untuk lain kali jangan seperti ini lagi yah!" Ucap Andi pada akhirnya, dan memaafkan kesalahan Suster itu.


"Terima kasih, Mas Andi." Ucap Suster itu merasa tidak enak.


"Sama-sama, Suster." Andipun berlalu pergi meninggalkan Suster jaga itu dengan santai.


Disaat Andi kembali kedepan pintu ruang rawat VVIP milik Papi Dahlan, Andipun melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Di saat itulah, Andi langsung masuk kedalam kamar tersebut.


"Mami.. Papi.. apakah kalian baru bangun tidur?" Tanya Andi sedikit heran.

__ADS_1


"Iya sayang, Mami dan Papi baru saja bangun." Ucap Mami Safira tersenyum canggung.


"Katanya, Papi habis kemotherapi bukan, Mih? Kalian baru tidur pukul lima pagi, bukan? Lalu kenapa Kalian sudah bangun sekarang." Tanya Andi heran.


"Haah..? Bagaimana ceritanya ini? Jangan-jangan Suster Laura mengarang bebas, soal Kemotherapi dan tidur jam lima pagi." Hati Mami Safira bermonolog.


"He.. he.. he.. iya sayang. Mami tadi baru saja bangun, dan Papimu juga baru terbangun. Kenapa memangnya, sayang?" Kekeh Mami Safira, terlihat salah tingkah.


"Andi hanya merasa heran Mih, kenapa pintu kamar tadi dikunci segala? Kenapa Mami sudah terlihat sangat cantik dan rapih, tidak seperti baru bangun tidur?"


"M.. mami bangun tidur tadi langsung mandi dan berganti pakaian, kalau masalah cantik dan rapih, itu memang sudah style Mami dari sananya, sayang." Mami Safira sedikit gugup.


Papi Dahlan senyum-senyum sendiri, saat mendengar jawaban istrinya yang super percaya diri.


"He.. he.. he.. iya juga sih, Mami memang selalu terlihat cantik dan rapih setiap saat, makanya Papi nempel terus kayak perangko. Itu tangan dari tadi engga dilepas-lepas, anaknya mau peluk jadi engga bisa kayaknya."


"Eeeh.." Pekik Mami dan Papi bersamaan, saat menyadari tangan mereka saling bertautan.


"Sini Mami peluk, anak Mami yang ganteng dan perhatian."


"Mami, cup.." Andi memeluk dan mencium pipi Mami Safira.


"Papi, cup.." Andi memeluk dan mencium pipi Papi Dahlan.


"Papi sudah terlihat bugar yah, setelah Kemotherapi?"


"Iya sayang, Papi sepertinya bisa cepat sembuh, karena kamu sudah menikah sekarang. Menantu Papi mana? Kenapa kamu tidak mengajaknya kesini?


"Dia tidak ikut, tadi pagi pingsan jatuh di kamar mandi!" Andi menjawab dengan santai, tanpa beban.


"Apa? Istrimu pingsan dan jatuh di kamar mandi, kamu malah kesini, bukannya merawat dan menjaganya? Dimana Perasaan kamu Nak? Sekarang lebih baik kamu pulang dan jaga istrimu!" Mami Safira mengomel dan Papi Dahlan menggelengkan kepalanya heran.


"Iya.. iya.. Andi pulang. Padahal sudah ada Mbo Yuyun Mih, Pih yang merawat gadis itu. Andi 'kan hanya ingin melihat keadaan Papi saja."


"Iya sayang, tapi istrimu jauh lebih penting!" Seru Mami Safira dan Papi Dahlan mengangguk kecil.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2