
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Andi tanpa sadar memberikan potongan kue pertamanya kepada istri bocilnya, padahal otaknya ingin memberikan kepada Mami Safira.
"Bodoh banget aku, kenapa tanganku mengarahkan kue ini kepada istri bocilku. Sungguh otak dan tanganku tidak bisa bekerja sama dengan baik." Andi merutuki dirinya dalam hati.
"Mas Andi.. terima kasih." Ucap Mutiara saat mengambil kue dari tangan suaminya yang berada dihadapannya.
"Heeem.." Hanya gumaman yang Andi lakukan.
"Sayang, suapi dong kuenya sama istri kamu. Masa, hanya dikasih begitu saja." Ujar Mami Safira.
"Apa sih Mih, bisa makan sendiri. Engga perlu pake disuap-suapin, alay.. !" Tolak Andi menutupi rasa canggungnya.
"Aiish.. engga ada romantis-romantisnya banget yah Pih." Decak Mami Safira sebal.
Papi Dahlan hanya tersenyum canggung, sedangkan Andi hanya bersikap dingin dan cuek.
"Biar Angga saja Mih, yang suapi kuenya buat Kakak ipar kalau Kak Andi engga mau." Ucap Angga langsung mengambil kue dari tangan Mutiara.
Mutiara hanya termangu, tidak bisa berkata-kata lagi, sedang Andi diam tanpa bisa bicara karena kuepun sudah berpindah tangan oleh Angga.
Papi Dahlan dan Mami Safira kesal dengan sikap Andi yang tidak perduli saat adiknya Angga mengambil kue yang berada di tangan Mutiara.
"Aaaa... ayo dong Kak buka mulutnya, aaaa...." Angga ingin menyuapi kuenya, dengan sedikit memaksa namun berhasil juga.
Awalnya Mutiara malu untuk membuka mulutnya, karena merasa tidak enak dengan Mertua dan suaminya. Namun karena Angga memaksanya, mau tidak mau membuka mulutnya.
"Duh.. pelan-pelan dong Kak makannya, belepotan 'kan jadinya! Tapi tetap cantik sih." Ujar Angga, yang ingin langsung membersihkan bibir Mutiara dengan jari tangannya, namun terhenti diudara.
Sontak saja Andi, Mami Safira dan Papi Dahlan, sudah kesal dengan sikap Angga yang terlalu berlebihan kepada Kakak iparnya.
"Eeh.. engga usah, biar Kakak saja yang bersihkan." Mutiara menolak tangan Angga yang hendak menyentuh bibirnya.
Mutiarapun mengambil tisu yang berada di atas nakas.
"Angga... kamu apa-apaan sih? Engga sopan tahu! Bagaimanapun Mutiara itu Kakak iparmu, meski usianya dibawah kamu. Jangan kamu perlakukan dia seperti adikmu atau kekasihmu, dia itu istri Kakakmu, Andi. Kamu paham, bukan?"
"Iya Mih, Angga juga paham. Tapi, kalau Kakak Andi tidak masalah, kenapa Mami yang marah dan kesal? Kak Andi saja santai Mih.." Bantah Angga membungkam mulut Mami Safira.
"Angga.. jaga bicaramu! Kamu engga sopan. Plaak.." Papi Dahlan sudah tidak bisa menahan kekesalannya kepada Angga, hingga akhirnya diapun menampah wajah tampan Angga, yang kini terjiplak jelas tangan Papi Dahlan dipipi putih Angga.
__ADS_1
Dengan wajah marah dan kesal, Angga meninggalkan kamar Andi. Mami Safira shock, tidak menyangka untuk pertama kali suaminya tega menampar wajah anaknya sendiri.
"Pih.. apa yang sudah Papi lakukan kepada Angga? Tidak seharusnya Papi menamparnya! Papi sudah keterlaluan." Mami Safira marah dengan derai tangis air matanya, kemudian menyusul Angga yang sudah pergi.
Mutiara seketika matanya mulai berkaca-kaca, dia paham semua terjadi karena dirinya.
Andipun hanya terdiam, tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Sebenarnya dia merasakan sakit didadanya, saat Angga adiknya begitu perhatian dan bersikap manis kepada istrinya.
"Maafkan Papi yah sayang, karena tindakan Papi diluar kendali, jadi hari special ulang tahunmu semuanya berantakan." Sesal Papi lalu meninggalkan mereka berdua, dengan menutup pintu kamar Andi pelan.
Andi hanya menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Mutiara menangis, air matanya sudah tidak terbendung lagi.
"Tidak Pih.. jangan menyalahkan diri Papi." Ucap Andi lirih, saat Papi Dahlan menghilang dari balik pintu kamarnya.
Andi pergi meninggalkan Mutiara yang sedang menangis, dirinya mencuci mukanya sebentar untuk menutupi tangisannya agar tidak terlihat oleh istrinya.
Andi sebenarnya sangat bersedih dan menahan air matanya agar tidak terjatuh dipipinya, karena ini pertama kalinya melihat Papi Dahlan tega menampar Angga adiknya. Sedangkan dirinya saja, semarah-marahnya Papi Dahlan kepadanya tidak pernah menamparnya.
Setelah menyamarkan air matanya dengan air biasa dengan mencuci mukanya, Andi langsung beranjak naik keatas ranjangnya. Andi tidak ingin melakukan apa-apa lagi, karena masalah ini semuanya bermula dari istri bocilnya.
Andi sudah tidak bersemangat lagi, hadiah-hadiah dari merekapun tidak dia sentuh sama sekali, masih teronggok diatas nakasnya. Andi langsung melanjutkan tidurnya, yang sempat terganggu karena kejutannya yang berakhir dengan keributan.
Mutiara terus menangis duduk di sofa, tanpa sadar dirinya tertidur masih dalam keadaan menangis.
Andi melirik istrinya sedang tidur di sofa dalam posisi duduk, dengan air mata yang membekas diwajahnya.
"Bocil ini tidurnya asal saja, tidak cuci muka dan bersih-bersih dulu. Matamu pasti bengkak nanti kalau sudah bangun." Andi bergumam pelan, lalu mengangkat tubuh istrinya dan menaruhnya diatas ranjang.
Mutiata sedikit terusik saat merasakan pergerakan posisi tubuhnya, namun matanya tetap terpejam.
Andi mengganjal kepalanya dengan bantal dan meluruskan Kaki Mutiara yang panjang, dengan perlahan.
Andi memakaikan selimut ketubuh Mutiara, dengan menatap wajah istrinya yang masih terlelap damai.
"Mutiara, maafkan saya yang sudah membuatmu menangis seperti ini. Mulai besok, saya janji tidak akan membuatmu menangis. Saya akan memberikanmu kebebasan dan tidak akan mengekangmu lagi."
Saat Andi hendak beranjak dari ranjang bigsizenya, tiba-tiba saja ujung baju Andi di pegangi oleh Mutiara. Sontak saja Andi menengok ke arah belakang dan menghentikan langkahnya.
"Jangan pergi.." Mutiara mengigau dalam tidurnya.
"Aiish.. ternyata dia hanya mengigau." Decak Andi menggelengkan kepalanya pelan.
__ADS_1
Dengan perlahan, Andi melepaskan tautan jari tangan istrinya dari ujung bajunya. Tanpa diduga, jari tangan Mutiara malah menarik kencang baju Andi, hingga tubuh Andipun terjatuh diatas posisi tubuh istrinya.
Andi bergeming, merasakan aliran darahnya yang berdesir dan jantungnya yang berdegup kencang. Hawa panas mulai menjalar keseluruh tubuhnya, karena posisi mereka yang sungguh tidak terduga.
Saat Andi tidak mengikis jarak, agar emosi dalam tubuhnya masih terkontrol. Andi ingin sekali menepis rasa aneh dalam tubuhnya. Saat Andi mulai bergerak ingin mencium bibir istrinya yang begitu intens dengan bibirnya, Mutiara membuka matanya lebar dan mendorong tubuh suaminya kebelakang dengan keras.
"Uuuh.." Desah Mutiara, saat kedua tangan Mutiara mendorong suaminya dengan begitu kuat. Andipun terjatuh kelantai dengan bokongnya mencium lantai.
"Aaww.." Pekik Andi saat merasakan sakit dibokangnya.
"M.. mas Andi.. maaf, saya tidak sengaja." Ucap Mutiara menyesal dengan tindakkannya.
Andi tidak menjawab, dia bangkit dari tempatnya terjatuh. Setelah itu dia mengusap bokongnya yang terasa sakit, lalu beranjak ke kamar mandi untuk mandi saja pikirnya.
Mutiara masih merasa bersalah, namun dia juga merasa aneh, kenapa dirinya berada di ranjang dengan posisi tubuh suaminya berada diatas tubuhnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sedang Mas Andi lakukan tadi?" Hati Mutiarapun bertanya-tanya.
...🌹🌹🌹🌹...
Autor : Kasihan.. kasihan.. gagal pagi.. gagal pagi.. 🤣🤣
Andi : Gagal lagi tor! Bukan gagal Pagi! 🤕🥶
Autor : Salah dikit, gitu saja protes!🤧🤧
Andi : Artinya sudah lain Tor. Huuh.. bikin pusing kepalaku saja, kamu Tor. 🤕🤕🥺
Autor : Hah.. pusing kelapa? Sejak kapan, kelapa bisa pusing?" 🤣🤣
Andi : Cukup Tor! Jangan kamu permainkan perasaanku! Kepalaku pusing engga jadi terus, kapan tersalurkan hasratku, Tor?🤧😭
Autor : Sampai kuda melahirkan anak kelinci. 🤣🤣🏃♀️🏃♀️ kabaoor.. !
Andi : Awas loh Tor kalau balik lagi.. akan aku ikat di pohon cabe.🤧🤧🥶🥶 BTW harga cabe lagi mahal😫😫
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...