Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 63


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Satu bulan sudah berlalu, sejak resepsi pernikahan Andi dan Mutiara digelar. Hari-hari keduanyapun, seakan dihiasi kebahagiaan dalam rumah tangga mereka.


Andi dan Mutiarapun kembali tinggal di Apartement sejak satu minggu yang lalu, karena beberapa hari lagi Mutiara mulai masuk kuliah.


Andi membawa Mbo Panti untuk membantu Mutiara di Apartementnya, atas izin Papi Dahlan dan Mami Safira sebelumnya.


Jarak tempuh antara Kampus dengan Apartement mereka lebih dekat, dibandingkan rumah kedua orang tua Andi. Maka dari itu mereka memutuskan kembali menempati kediaman mereka.


Hari ini adalah hari pertama Mutiara berangkat ke kampus dengan memakai pakaian seragam SMA, lengkap dengan atributnya seperti dasi, topi dan tas yang terbuat dari kantong plastik dengan rambut dikuncir tiga.


Mutiara melakukan semua itu, karena hari ini dimulainya masa pengenalan mahasiswa baru. Syarat semua mahasiswa baru, diwajibkan memakai baju seragam asal sekolahnya terdahulu, dengan segala peraturan yang sudah dibuat oleh kakak kelas pembina yang akan melakukan orientasi mahasiswa baru.


Mutiara mematut dirinya, didepan cermin besar dikamarnya. Dia tersenyum riang, saat melihat dirinya sendiri yang begitu lucu dengan hiasan kuncir dan pita dirambutnya.


"Cantik.. sangat cantik! Aku takut nanti, banyak laki-laki jatuh cinta kepadamu, sayang." Bisik Andi lirih tepat disamping telinga istrinya. Lengannya melingkar indah dipinggang istrinya, dengan mengendus tengkuknya.


"Mulai deh cemburunya! Tapi aku suka, kalau Mas Andi cemburu." Ucap Mutiara jujur, seraya merasakan geli disekujur tubuhnya akibat ulah jahil suaminya.


"He.. he.. he.. wangi banget tubuh kamu sayang, bikin aku candu."


"Iya.. Mas, tapi kita mau berangkat kekampus, nanti telat. Jangan macam-macam, hari ini 'kan hari pertamaku dikampus Mas."


"Heeum, tapi sun sedikit boleh ya?" Ucap Andi dengan menunjuk bibir istrinya.


"Iya.. Mas."


"Cup.. cup.. cup.." Andi menghujani seluruh wajah istrinya dengan kecupan singkat, kemudian beralih kepada bibir istrinya. "Mmmppt.." Perlahan tapi pasti, bibir mereka saling bersentuhan menelusup kedalam rongga mulut mereka, saling mencecap, bertukar saliva dan membelit lidah dengan lembut. Menikmati sensasi ciuman hangat yang sedikit menuntut berubah menjadi panas, detik kemudian Mutiara mulai tersadar, lalu melepaskan pangutannya dengan mendorong pelan dada suaminya yang sudah menghimpitnya.


"Eeem.. Mas hentikan." Ucap Mutiara saat pangutan mereka terlepas.


"He.. he.. he.. maaf, sayang." Ucap Andi menyesal seraya terkekeh.


"His.. Mas Andi kebiasaan, kalau minta ciuman ujung-ujungnya minta lebih. Baju aku jadi kusut 'kan!" Grutu Mutiara sebal, mengerucutkan bibirnya terlihat kesal.


"Ha.. ha.. ha.. iya, iya deh.. jangan marah, sini Mas bantu rapihin bajunya lagi." Ujar Andi terkekeh melihat istrinya yang merajuk akibat ulahnya yang tidak bisa terkontrol bila sudah berciuman dengannya.


Andipun merapikan seragam SMA istrinya, yang sedikit kusut karena ulahnya. Sedangkan Mutiara hanya melihat wajah tampan suaminya, yang sedang asik merapikan seragamnya.


"Jangan dilihatin terus, memang sudah tampan dari lahir, tidak bisa disetting lagi."


"Aisssh.. sombongnya yang tampan, hi.. hi.. hi.." Ledek Mutiara tertawa kecil.


"Tapi, memang benar tampan, bukan?" Tanya Andi percaya dirinya tingkat akut, dengan tersenyum devil dan menaik turunkan alisnya gemas.


"Heum.. percayalah, asal jangan macam-macam saja sama cewek lain diluar." Ancam Mutiara, meraup wajah suaminya yang begitu menggemaskan kini, dengan kedua tangan kecilnya.


"Ha.. ha.. ha.. ya tidak dong, sayang. Justru aku yang takut, jika kamu nanti yang akan digodain sama cowok-cowok kampus."


"Digodain boleh, asal jangan tergoda, Mas." Ucap Mutiara.


"Iya, sayang. Sudah rapi nih, sekarang kita sudah siap berangkat." Ujar Andi selesai mengechek semua seragam, dasi, kunciran rambut, dan topinya.

__ADS_1


"Okey.. Mas, terima kasih." Ucap Mutiara senang, kemudian melihat pantulan dirinya kembali kecermin besar.


"Mbo Panti, kami berangkat dulu ya." Pamit Mutiara dan Andi bersamaan.


"Iya.. Non, Aden. Ini bekal makan siangnya Non, jangan lupa dimakan." Ucap Mbo Panti mengingatkan, seraya menyodorkan sekotak wadah yang berisi makanan untuknya.


"Terima kasih, Mbo." Ucap Mutiara dan dikuti oleh Andi.


"Sama-sama Non, Aden."


*******


Sementara dikediaman keluarga Mr. Ramon, hari ini begitu sibuk. Mr. Ramon sibuk membantu, menyiapkan keperluan Amara kuliah dihari pertamanya.


Amara kerepotan menguncir rambutnya sendiri, karena selama ini yang biasa menguncir rambutnya, ART dirumahnya yang di Singapore.


Diapun memanggil Dadienya, untuk membantunya menguncir rambut. Padahal Mr. Ramon juga sudah bersiap-siap, berangkat ke kantor pagi ini.


"Dad.. tolong kuncirin rambutku, aku tidak bisa rapi kalau kuncir sendiri. Lihat ini berantakan, bukan?" Ujar Amara menunjukkan kunciran rambutnya tang tidak beraturan.


"Ha.. ha.. ha.. Dadie juga pasti lebih berantakan, sayang. Dadie 'kan tidak bisa melakukan hal itu."


"Dicoba dulu, Dad." Pinta Amara.


"Heeum.. dicoba ya, tapi kalau tidak rapi jangan salahin Dadie."


"Iya.. Dadie, setidaknya kalau sama Dadie, mungkin lebih baik dibandingkan sama aku sendiri."


"Iya.. sayang, kemarikan karet dan sisirnya." Ucap Mr. Ramon mengikuti semua keinginan anak manjanya yang begitu dia sayangi.


"Dad.. sepertinya ada tamu. Jangan-jangan itu Angga, Dad." Ucap Amara menerka-nerka.


"Mungkin, sayang. Coba Dadie lihat dulu, ya sayang." Ucap Mr. Ramon, lalu meninggalkan Amara yang masih duduk didepan meja riasnya.


Mr. Dahlan melihat wajah Angga dari layar monitor, kemudian diapun membukakan pintu untuk Angga masuk.


"Klikk.." Bunyi pintu terbuka.


"Assalamu'alaikum, Om."


"Wa'alaikumussalam, nak Angga. Kamu rajin sekali, sudah datang sepagi ini."


"Iya.. Om, ini 'kan hari pertama Amara kuliah. Angga siap antar jemput, untuk Amara." Ujar Angga terlihat bahagia.


"Iya.. iya, nak Angga silahkan duduk dulu, Amara masih bersiap-siap dikamarnya." Ucap Mr. Ramon ramah.


"Iya.. Om." Ucap Angga menurut.


"DADIE.. SIAPA TAMU YANG DATANG? KAK ANGGA, BUKAN?" Teriak Amara dari dalam kamarnya.


"Iya.. sayang, nak Angga yang datang." Sahut Mr. Ramon.


"Kak Angga masuk sini, bantu aku kuncir rambut aku, bisa tidak?" Tanya Amara setelah membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Lah.. katanya sama Dadie, dikuncirnya?"


"Tidak apa, Dadie. Sudah ada kak Angga, yang akan membantuku."


"Baiklah, kalau begitu Dadie berangkat duluan ke kantor, takut telat sudah pukul tujuh pagi." Ujar Mr. Ramon tersenyum ramah.


"Iya.. Dadie, hati-hati dijalan." Ucap Amara menyalimi tangan Dadienya, lalu diikuti oleh Angga.


"Iya.. sayang, kalian juga jangan sampai telat ya." Ucap Mr. Ramon mengingatkan.


"Okey.. Dadie." Ucap Amara siap.


"Iya.. Om." Ucap Angga menurut.


Mr. Ramonpun berjalan meninggalkan mereka dengan tenang, untuk berangkat ke kantornya.


"Kak Angga bisa bantu kuncirkan rambutku, tidak?" Tanya Amara menatap wajah Angga, dengan begitu memohon.


"Heumm... iya, sayang. Dimana sisir dan ikat karetnya?"


"Ini.. kak Angga." Ucap Amara menyerahkan sisir dan ikat rambutnya ketangan Angga kekasihnya.


Anggaoun mulai mengikat rambut Amara satu persatu hingga selesai dan terlihat sangat rapi dan cantik. Angga begitu pintar dan telaten, hingga membuat Amara kagum dari hasil pekerjaan Angga menguncir rambutnya.


Setelah itu, Amara memakaikan tali pitanya sendiri, karena itu hal yang mudah baginya.


"Selesai.. kak Angga pintar ya, mengikat rambutku sampai rapi begini. Aku tidak menyangka, kak Angga pintar dalam segala hal." Puji Amara mengulum senyum.


"Ha.. ha.. ha.. bisa saja, pacarku ini memuji. Hadiahnya mana?"


"Hiss.. minta imbalan!"


"Bercanda.. sayang."


"Cup.. itu hadiahnya kak." Ciuman kilat dibibir Angga, membuat wajah Amara merona merah karena ulahnya sendiri.


Angga tersenyum, saat mendapat ciuman kilat dari Amara. Sejurus kemudian, Angga menarik tengkuk Amara dan membungkam bibir Amara dengan ciuman hangatnya dan mengulumnya dengan lembut, setelah puas berciuman, merekapun melepaskan pangutannya.


"His.. kak Angga nakal, aku takut kebablasan kak." Protes Amara dengan menggerutu sebal dan memukul lengan Angga pelan.


"Iya.. engga lagi deh, maaf. Aku khilaf kalau sedang berduaan dengan kamu, sayang. Bibir kamu manis dan candu habisnya, he.. he.. he.." Ucap Angga terkekeh.


"Janji ya, kak!"


"Eeumm.. janji! Tapi, kamu jangan nakal dan memancing-mancing hasratku."


"Heum.. kalau itu aku ga bisa janji kak, makanya kakak harus bisa tahan napsu godaan dariku, he.. he.. he.." Ujar Amara keluar dari kamar untuk bersiap-siap memakai sepatunya.


"Hiis.. itu curang dong, mana tahan aku lihat bibir ranum kamu, sayang. Ha.. ha.. ha.."


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2