
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Andi bertanya dengan suara lantangnya, sontak saja semua menengok kearah suara Andi berada.
"Hei.. Kak Andi, apa khabar Kak? Dari mana saja, tega banget ninggalin Kakak ipar yang sedang sakit." Tanya Angga seraya mengomel.
"Apa? Maksud kamu apa, Dik? Siapa yang sakit?" Tanya Andi kurang begitu mendengar, pasalnya suara Angga menguap begitu saja, saat Andi menatap istrinya yang sedang berbaring di kasur empuknya.
Andi seperti tidak rela, kalau kasurnya di tiduri oleh istri bocilnya itu.
"Kak Andi engga dengar aku ngomong apa barusan? Iish.. issh.. issh.. benar-benar Kakak Ini yah."
"Maaf Dik, tadi Kakak tidak begitu dengar dengan ucapanmu. Tolong ulangi sekali lagi, Dik." Rayu Andi dengan wajah memelasnya, agar Angga bisa mengulang lagi ucapannya.
"Kakak ipar sakit demam, baru saja habis minum obat penurun panas. Nanti kalau masih demam, lebih baik dibawa ke Dokter saja, Kak." Ujar Angga pada akhirnya.
"Heemm.. iya Dik, terima kasih sudah menjaga Kakak iparmu." Ucap Andi seraya berjalan menghampiri istrinya.
"Iya sudah Kak, Angga balik ke kamar dulu." Pamit Angga keluar kamar Kakaknya.
"Iya Dik." Ucap Andi singkat.
"Mbo juga mau ke dapur yah, Den Andi dan Non Mutia, mau membawa ini." Pamit Mbo Yuyun, seraya menunjukkan nampan dan piring kosong bekas Mutia makan malam.
Angga dan Mbo Yuyunpun meninggalkan kamar mereka berdua, lalu Mbo Yuyun menutup pintu kamarnya.
Andi menyentuh kening istrinya perlahan, masih terasa panas. Andipun langsung menatap istrinya yang seperti sedang takut akan sentuhan suaminya, padahal hanya menyentuh keningnya saja.
"Eehh.. mau ngapain Mas?" Mutia tersentak saat suaminya menyentuh keningnya.
Andi tidak menjawab pertanyaan istrinya, dia malah berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tiga puluh menit sudah Andi menyelesaikan mandinya, seperti biasa Andi hanya berbalut handuk kecil keluar dari kamar mandi.
Mutiara sepertinya, mulai terbiasa dengan pemandangan yang seperti itu.
Tanpa kata apapun Mutiara memejamkan matanya, agar dirinya tidak melihat pemandangan memalukan dihadapannya, pikirnya.
__ADS_1
Andi memakai pakaian tidurnya dihadapan istrinya, tanpa rasa malu ataupun sungkan seperti biasanya. Mungkin urat malunya sudah putus, ataupun juga menganggap istrinya seperti patung, bisa juga menganggap istrinya adalah anak kecil. Hanya hati dan pikiran Andi yang tahu, otor juga engga tahu. 🤣🤣🤣🙏🙏✌✌
Selesai Andi mengenakan pakaian tidurnya, Andi mengambil satu gelas air putih lalu meminumnya sampai gelas itu kosong.
"Aah.... alhamdulillah." Ucap Andi, setelah menghabiskan satu gelas air minumnya.
Andi berjalan ke arah kasur bigsizenya, kemudian dia duduk dan menyandarkan kepalanya di headboard.
Andi memainkan ponselnya untuk membuang rasa jenuhnya. Mutiara hendak turun dari kasur, namun dihentikan oleh suara bariton Andi. Dia berbicara tanpa melihat istrinya.
"Hei bocil, mau kemana loe?" Tanya Andi yang merasa pergerakan istrinya akan turun dari kasur bigsizenya.
"M.. mau pindah ke sofa, Mas." Sahut Mutiara gugup, dengan kaki yang sudah turun ke lantai.
"Karena loe sedang sakit, loe boleh tidur di kasur sama gue." Ucap Andi dengan alasan masuk akal.
"Engga usah Mas, biar saya disofa saja." Ucap Mutiara kekeh dan ngeyel dengan kemauannya.
"Kalau gue bilang tidur di kasur, yah dikasur. Jangan bantah ucapan gue! Loe ngerti engga sih hah..?" Sarkas Andi membentak istri terpaksanya, dengan keras.
Andi mulai meredakan emosinya, karena dia merasa sedikit bersalah sudah membentak istri terpaksanya tersebut. Namun dia tidak meminta maaf, karena egonya yang terlalu besar.
Mutiara mengusap air matanya, menggunakan kedua jari tangannya dengan perlahan.
Andi mulai memberikan sedikit perhatian, karena dirinya tidak ingin dibilang suami yang kejam. Sudah tahu istri sakit tapi tidak perduli, pikirnya.
"Apa loe masih demam?" Tanya Andi datar tanpa ekspresi, hanya sikap dinginnya saja yang dia tunjukkan.
"S.. sudah mendingan Mas." Sahut Mutiara gugup. Mutiara mencoba menghilangkan rasa gugupnya, namun dirinya masih belum bisa.
"Loe yakin? Kalau gue sentuh kening loe, nanti jangan kaget. Loe engga bohong 'kan?" Tanya Andi kurang yakin dengan ucapan istri terpaksanya itu.
"Y.. yakin Mas, Mutia sudah terasa lebih baik dibandingkan tadi sore." Ucap Mutiara jujur, namun masih gugup.
Andipun menghadapkan tubuhnya di samping Mutiara, kemudian jari tangannya menyentuh kening istrinya dengan pelan. Hanya sekian detik, Andipun menurunkan kembali jari tangannya dari kening istrinya.
"B.. bagaimana Mas? Sudah tidak panas lagi, bukan? Badan aku saja terasa gerah dan keringatku mengucur deras." Ujar Mutia dengan apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Baguslah, jadi loe tidak lagi merepotkan kami semua." Ucapnya Andi ketus seraya mengambil dua buah guling dan bantal untuk membuat pembatas tidur diantara mereka.
Guling dan bantal itu disusun dengan rapi, ditengah-tengah kasur oleh Andi.
"Karena malam ini loe tidur dikasur, gue juga lagi engga mau tidur disofa, gue buat pembatas jarak kita. Loe engga boleh melebihi batas yang gue bikin, awas saja kalau melewati, loe engga bakalan gue kasih izin tidur di kasur gue lagi." Ancam Andi dengan ketus.
"I.. iya Mas." Mutiara hanya mengiyakan tanpa banyak bicara.
Mutiara kemudian membaringkan tubuhnya kembali dan menarik selimutnya, untuk menutupi tubuhnya.
"Loe sudah mengantuk, bocil?" Tanya Andi dengan suara sedikit pelan.
"B.. belum Mas." Jawab Mutiara gugup.
"Kalau belum mengantuk, kenapa loe sudah tarik selimut?" Tanya Andi merasa heran.
"E.. engga apa-apa,, Mas." Ucap Mutiara gugup.
"Engga usah gugup gitu, perasaan dari mulai ketemu, loe selalu gugup ngomong sama gue. Memangnya loe takut sama gue hah..? Loe engga usah takut dan sungkan sama gue. Loe sudah gue anggap seperti Adik gue sendiri. Loe ngerti 'kan maksud gue?"
"I.. iya Mas." Ucap Mutiara masih gugup.
"Tuh 'kan, masih gugup saja. Padahal gue baru saja bilang jangan gugup, loe masih gugup saja. Kaku banget sih, dasar bocil."
"Engga.. saya engga gugup ko Mas." Sergah Mutiara menolak dibilang gugup terus.
"Mulai sekarang saya berjanji dengan diri saya sendiri, kalau saya tidak akan gugup dan takut lagi sama Mas Andi. Saya adalah gadis pemberani dan akan melawan setiap orang yang meremehkan saya." Janji Mutiara dalam hatinya.
"Aiish.. masih menyangkal saja nih bocil." Decak Andi seraya bergumam pelan.
"Masih terdengar oleh saya Mas, saya itu bukan bocil. Kalau bocil itu anak SD, sedangkan saya sudah lulus SMA dan sudah menikah juga. Jadi Mas berhenti memanggil saya dengan sebutan bocil mulai saat ini." Ujar Mutiara dengan berani.
Jari tangan Andi berhenti memainkan ponselnya, dia tersenyum mendengar bocilnya berceloteh membelakangi istrinya.
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....
__ADS_1