
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sepulangnya keluarga Dahlan dari acara Anniversary mereka yang ke 28 tahun, mereka langsung saja bergegas memasuki keruangan kamarnya masing-masing untuk beristirahat.
Andi yang sudah tidak sabar untuk memasuki gawang Mutiara, setelah satu minggu istrinya datang bulan. Malam pertama yang tertunda setelah hampir dua bulan, betapa Andi begitu bersemangat untuk melakukan penyatuan mereka.
Sedangkan Mami Safira dan Papi Dahlan, yang sudah tidak sabar ingin merayakan malam Anniversary mereka berdua dikamarnya dengan menghabiskan malam panjang yang begitu panas dan merindu.
*******
Berbeda dengan Angga, dia harus rela meluangkan waktunya untuk mengantar Mr. Ramon dan Amara ke Apartementnya terlebih dahulu.
Mobil Mr. Ramon tiba-tiba saja mogok, mesinnya tidak bisa dihidupkan. Mau tidak mau Mobil Mr. Ramon harus tertahan di area parkir restoran.
Mr. Ramon sudah menghubungi tukang bengkel mobil untuk mendereknya esok hari.
Selama di Indonesia Mr. Ramon dan Amara memang hanya membeli Apartement, karena tempat tinggal aslinya ada di Singapore.
"Maaf ya, nak Angga harus repot mengantar kami jadinya." Ucap Mr. Ramon yang baru saja masuk kedalam mobil milik Angga.
"Tidak apa-apa Mr. Ramon, semua 'kan namanya juga musibah. Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di masa depan." Ujar Angga bijak.
"Sayang, kamu duduk didepan saja temani nak Angga. Tidak sopan, kalau kamu duduk disamping Dadie, sayang." Ujar Mr. Ramon, saat Amara baru saja membuka pintu mobil Angga disamping Mr. Ramon.
"Tapi, Dadie!"
"Jangan membantah, sayang."
"Heeem."
Amarapun menutup kembali pintu mobilnya dan membuka pintu mobil penumpang disamping Angga. Tanpa ada kata, Amara memasangkan seatbeltnya lalu memejamkan matanya.
Amara malas untuk ribut dan berdebat dengan Angga, makanya dia memilih diam dan memejamkan matanya.
"Ck.." Decak Angga dengan menyorot tajam kearah Amara yang sudah terpejam.
Amara yang mendengar decakan Angga disampingnya, seakan sengaja menulikan pendengarannya.
Anggapun tanpa banyak bicara, langsung menancapkan gas mobilnya meninggalkan halaman parkir restoran.
"Om Ramon.. apa langsung ke Apartementnya atau mau mampir dulu?" Tanya Angga setelah hampir setengah perjalanan.
__ADS_1
"Jika saya mampir sebentar, apakah nak Angga tidak keberatan?" Mr. Ramon balik bertanya.
"Tidak Om, memangnya Om Ramon mau mampir kemana?"
"Saya ingin mampir ke butik teman saya, di pertigaan jalan nanti." Ujar Mr. Ramon.
"Okay, Om." Ucap Angga setuju.
Sedangkan Amara malah tertidur pulas, saat matanya terpejam. Niat Amara yang menghindari selisih paham dan keributan, tanpa sengaja dirinya begitu lelap dalam tidurnya.
Sesampainya dipertigaan jalan, Mr Ramon meminta Angga untuk berhenti didepan butik yang memang terlihat dari jalan raya.
"Stop disini, nak Angga!" Pinta Mr. Ramon dengan pelan, seraya menunjuk arah butik itu berada.
"Heeem.. Om Ramon." Ucap Angga mengangguk kecil, lalu menghentikan laju mobilnya.
"Tunggu sebentar ya, nak Angga. Sepertinya Amara tertidur, ya sudah nak Angga biarkan saja. Maaf... merepotkan." Ujar Mr. Ramon merasa sungkan.
"Tidak apa-apa Om, saya akan menunggu disini." Ucapnya ramah dengan tersenyum mengembang.
"Okay.. terima kasih." Ucapnya Mr. Ramon, lalu turun dari mobil Angga dan menutup pintu mobilnya dengan perlahan.
Sekilas Angga melirik kearah Amara yang sedang tertidur pulas, terlihat damai dan cantik. Seakan terpesona, dengan wajah gadis itu yang begitu imut dan menggemaskan.
Angga semakin tertarik untuk menatap Amara, diapun semakin memperhatikan wajah Amara dengan mengikis jarak. Wangi tubuh Amara, semakin menyeruak kedalam indra penciuman Angga.
"Heem.. wangi tubuhnya begitu harum tercium dihidungku. Kenapa aku tiba-tiba, menyukai harum parfum yang dia kenakan? Sungguh ini begitu aneh!" Angga bergumam pelan, merasa terbuai dengan wangi tubuh Amara.
Rambut yang panjang hitam bergelombang sebahu, dengan alis yang sedikit tebal namun terlihat rapi. Bulu mata yang begitu lentik, terlihat jelas saat matanya terpejam. Hidung yang mancung meski mungil dan bibir yang kecil berwarna ping alami, begitu menggoda.
Dengan susah payah, Angga menelan salivanya naik turun, saat dirinya menatap lekat bibir kecil Amara. Ada dorongan hasrat, ingin mencium bibir Amara saat itu juga.
Lalu, Angga merasakan tubuhnya mendadak gerah saat memperhatikan wajah cantik Amara begitu dekat, padahal AC dimobilnya cukup dingin.
"Ueeemmm....." Amara mengigau, lengan kanannya bergerak keatas pangkal paha Angga tanpa disadari, karena Amara yang masih dalam keadaan tidur.
Seketika tubuh Angga mene gang, betapa terkejut dirinya. Tangan Amara yang berada tepat diatas pangkal pahanya, tepat menyentuh aset berharga miliknya.
Angga yang sedang merasakan hawa panas ditubuhnya, tiba-tiba aset miliknya yang paling berharga begitu terasa sesak disangkarnya.
"Astaga.. ada apa denganku? Kenapa gadis ini, begitu membuatku gerah dan berdebar?" Tanya Angga dalam hatinya.
__ADS_1
Angga mencoba menggeser lengan kanan Amara, yang berada tepat di atas aset miliknya yang berharga itu. Namun, Amara tiba-tiba bergerak memeluk tubuh Angga dengan erat. Seakan-akan, dirinya guling yang sedang dipeluknya.
"Uueemm.." Amara mengigau kembali.
"Haaah.." Angga mengambil napas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Sumpah demi apapun, gadis ini mengapa tidurnya begitu rusuh?" Angga merutuki cara tidur Amara didalam hatinya.
Tapi, entah mengapa dirinya merasakan begitu tenang dalam pelukkan Amara tanpa disadarinya.
Amara semakin nyaman dalam tidurnya, seakan dada Angga menjadi bantalan tubuhnya.
Angga ingin sekali membangunkan Amara, tapi dia merasa tidak tega melakukannya. Akhirnya dirinya membiarkan saja Amara memeluknya, dalam keadaan terpejam dengan dengkuran halus dari bibirnya.
Tidak berapa lama, Mr. Ramon kembali dari butik dengan membawa dua buah jas kerja lengkap dengan hangernya.
Mr. Ramonpun langsung masuk kedalam mobilnya, tanpa mengetuk kaca mobilnya terlebih dahulu, takut membangunkan Amara pikirnya.
Saat Mr. Ramon sudah duduk di kursi penumpang, betapa terkejut dirinya melihat anaknya Amara yang sedang memeluk Angga dalam keadaan tidur terlelap, terdengar dengkuran kecil dari bibirnya.
Malu.. ! Begitulah yang sedang dirasakan Mr. Ramon saat ini. Betapa anehnya kelakuan anak gadisnya ketika tidur di mobil, bagaikan sedang tidur di atas kasur empuknya.
Angga hanya tersenyum meringis dan canggung kepada Mr. Ramon, pasalnya dia tidak tega untuk membangunkan gadis yang sedang memeluknya itu.
Dengan susah payah, Angga menahan hasrat kelaki-lakiannya, sedangkan aset miliknya sudah meronta-ronta sedari tadi terasa sesak didalam sana.
Angga merasa heran, mengapa aset miliknya begitu mudah terbangun, padahal dia tidak mencintai gadis yang sekarang sedang memeluknya. Bahkan lebih tepatnya, tidak menyukai gadis yang sedang memeluknya kini.
Mr. Ramonpun menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyentuh bahu anaknya dengan lembut.
"Sayang.. bangunlah.." Ucap Mr. Ramon.
Namun Amara masih tetap tidak terbangun, hingga akhirnya Mr. Ramon sedikit mengguncangkan bahu Amara. "Bangun sayang.." Ucapnya Mr. Ramon sedikit lebih kencang.
"Eeummp.. " Amara terbangun dengan mengerjapkan matanya pelan, lalu menggeliatkan tubuhnya saat kesadarannya mulai terkumpul.
"Eeeh.." Amara begitu shock saat wajahnya dengan wajah Angga begitu mengikis jarak.
Sontak saja, Amara menjauhkan wajahnya dari wajah Angga. Seketika saja, wajah Amara mendadak merona menahan malu. Hingga dirinya tidak sanggup untuk berucap sepatah katapun.
...♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--