Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 60


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sepulangnya Amara dan Angga dari pusat taman bermain dan pasar malam, Amara mengantarkan Angga kembali pulang kerumahnya.


Sesampainya di pintu gerbang rumah Papi Dahlan, Angga tidak langsung turun dari dalam mobil. Diapun memberikan kecupan sayang dan ciuman mesra sekilas.


"Issh.. kak Angga nakal ya. Main sosor terus!" Seru Amara kesal, namun ikut menikmatinya.


"Ha.. ha.. ha.. maaf, sayang. Bibir kamu manis, aku jadi candu."


"Aiish.. nanti aku bilangin Dadie, biar kak Angga nikahin aku, hueh.." Canda Amara namun diseriusi oleh Angga.


"Benarkah? Kamu mau langsung menikah saja, sama aku? Okey.. siapa takut! Satu tahun lagi aku lulus S1, aku bisa langsung menikahimu."


"Tidak kak! Aku hanya bergurau saja. Usiaku masih 18 tahun kak, belum siap menikah."


"Kak Andi saja menikahi kakak ipar, usianya sama denganmu. Dia mau dan tidak apa-apa, sayang." Ujarnya mengerling menggoda.


"Ha.. ha.. ha.. kalau kak Andi dan Mutiara menikah karena terpaksa kak, dadakan saat Om Dahlan sakit jantung masuk rumah sakit, bukan?"


"Kamu tahu dari mana, sayang? Kalau kak Andi dan kakak ipar menikah dadakan dan terpaksa, karena sakit jantung Papiku."


"Tahu dari Tante Safira. Aku 'kan sering bercerita banyak, sama Tante Safira di kantor."


"Ooh.. iya, kamu satu kantor dengan Mami dan Papi." Ucap angga baru teringat.


"Heumm.. iya sudah turun dong, nanti aku pulangnya semakin malam. Saat ini hampir jam dua belas malam, kak."


"Aku jadi khawatir, sayang. Jika kamu pulang sendirian selarut ini. Apa kamu mau menginap saja disini? Tenang, aku tidak akan macam-macam sama kamu."


"Tapi, aku tidak enak kak! Aku takut, orang tua kita berpikiran aneh-aneh." Tolak Amara dengan alasan yang tepat.


"Kalau aku antar kerumah kamu, bagaimana?" Usul Angga, karena dirinya tidak tenang jika kekasihnya pulang sendiri selarut itu.


"Kamu yakin kak? Rumahku jauh dan nanti kakak bolak balik bawa mobil."


"Tidak apa, sayang. Aku ingin kamu aman, pulang sampai rumah dan selamat tanpa kurang satu apapun."


"Aissh.. tumben khawatir dan perhatian, biasanya masa bodoh!" Serunya Amara tersenyum miring, lalu mengerlingkan matanya dengan gemas.


"Ha.. ha.. ha.. kamu 'kan kekasihku mulai saat ini. Aku tidak akan pernah, membiarkan kamu pergi selarut ini sendirian. Aku akan selalu memberikan perhatian dan rasa khawatir kepadamu." Tawa Angga pecah, melihat pacarnya yang super menggemaskan.


"Iya sudah kalau begitu, aku ikut saja apa maunya kak Angga." Ucap Amara pasrah.


Akhirnya Anggapun tidak jadi pulang kerumahnya, Amara kembali menjalankan mobilnya untuk menuju rumahnya.


"Tunggu, sayang. Biar aku saja yang bawa mobilnya, aku takut kamu kecapean dan lelah."


"Aiish.. kenapa tidak dari tadi sih, kak?" Decak Amara menggelengkan kepalanya.


Akhirnya mereka bertukar posisi tempat duduk, setelah itu Angga membawa mobilnya untuk menuju Apartement Amara.


"Kriing.. drrt.. kriing... drrt.." Bunyi telpon Amara berdering dan bergetar.


Amarapun meraih ponselnya dari tas tangannya, yang terus memekik minta diangkat.


"Siapa yang menelpon sayang, selarut ini?" Tanya Angga penasaran.


"Belum tahu kak, ini baru aku ingin buka ponselnya."


"Dadie.. !" Seru Amara saat membaca nama penelpon dilayar ponselnya.

__ADS_1


"Ooh.. Om Ramon! Angkat dong, sayang." Ucap Angga tetap fokus kejalan.


Amarapun kemudian mengangkat pangilan telpon dari Mr. Ramon dengan ceria.


"Hallo.. Dedie."


"Hallo, sayang. Apa kamu sudah sampai di Apartement?"


"Belum, Dad. Aku masih dijalan, mungkin tiga puluh menitan lagi baru sampai."


"Ooh.. masih dijalan ya. Kamu sendiri atau bersama Angga?"


"Kenapa memangnya, Dad?"


"Dadie tidak pulang malam ini, Dadie menginap diHotel bersama keluarga Tuan Dahlan. Mereka sudah menyewa Hotel, untuk menginap para tamu koleganya, termasuk Dadie."


"Ooh.. begitu, Dad. Lalu, aku di Apartement sendirian dong, Dad."


"Iya.. sayang, makanya Dadie telpon untuk mengabari kamu."


"Heum.."


"Sayang.. apa kamu marah? Kalau begitu, Dadie pulang saja, lalu berpamitan sama Tuan Dahlan dan Nyonya Safira."


"Jangan, Dad. Aku tidak apa-apa, aku bisa tidur sendiri malam ini. Jangan mengkhawatirkanku, Dad."


"Sungguh begitu, sayang. Kamu tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa, Dad."


"Iya sudah, hati-hati dijalan, sayang."


"Iya, Dad."


Keduanyapun mengakhiri sambungan telpon selulernya bersamaan, lalu Amara menyimpan Ponselnya kembali kedalam tas tangannya.


Angga yang mendengar pembicaraan mereka, sedikit kepo dengan apa yang Amara bicarakan dengan Mr. Ramon.


"Kenapa kamu tidur sendiri di Apartement, sayang? Memangnya Om Ramon tidak pulang ke Apartement?" Tanya Angga khawatir, jika Amara hanya tinggal sendiri malam ini di Apartement.


"Dadie diberi fasilitas menginap di Hotel oleh kedua orang tua kak Angga, sebagai tamu kolega bisnisnya."


"Berarti, keluargaku juga menginap diHotel semua." Ucap Angga tetap fokus, melihat jalanan yang nampak lenggang dan sepi.


"Heum.." Amara hanya bergumam pelan.


"Apa sebaiknya kita kembali ke Hotel saja, sayang?" Usul Angga.


"Tidak usah, kak. Lagi pula sebentar lagi kita hampir sampai Apartement. Jadi, tidak usah kembali ke Hotel." Tolak Amara.


"Baiklah, kalau begitu. Sebenarnya, aku cemas jika kamu harus sendiri malam ini di Apartemet." Ujarnya Angga khawatir.


"Tidak apa, kak. Aku sudah terbiasa tinggal sendiri. Apa lagi, saat Dadie pulang ke Singapore." Ucap Amara jujur.


"Ooh.. begitu ya, syukurlah." Ucap Angga tenang.


Beberapa menit kemudian, mobil mereka hampir sampai. Tanpa di duga, sambaran kilat bergemuruh sahut menyahut dengan suara petir yang begitu menggelegar.


"Duuwaaaarrrr... duuwaaarrrr.. duuwwaarrrr"


Suara petir yang begitu keras, membuat reaksi Amara yang begitu ketakutan, hingga menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Aaaaaaahhh..." Amara berteriak ketakutan.


Angga yang melihat Amara sangat ketakutan karena suara petir, sontak saja dia menepikan mobilnya dibahu jalan.


"Kenapa, sayang? Kamu takut dengan suara petir, bukan?" Tanya Angga khawatir, lalu menarik tubuh Amara kedalam pelukkannya dan menepuk-nepuk punggung Amara pelan.


"Heeum.. kak, aku memang takut sama petir." Ucap Amara jujur.


"Iya.. sayang, kamu harus tenang. Aku akan selalu menjagamu dan menemani hingga petirnya berhenti." Ujar Angga menenangkan.


"Duuwaarrr... duuwwaaarrrr... " Bunyi petir kembali menggelegar berdentum begitu keras, hingga Amara semakin mengeratkan pelukkannya ditubuh Angga.


Namun kali ini Amara tidak berteriak, dirinya hanya menyembunyikan wajahnya diceruk leher Angga. Tidak lama kemudian, air hujanpun turun membasahi tanah Ibu kota Jakarta.


Setelah hujan mulai turun, suara petirpun sedikit demi sedikit sudah menghilang. Amara sudah kembali tenang dan mengurai pelukkannya dari tubuh Angga.


"Terima kasih, kak."


"Iya, sayang. Sekarang petirnya sudah berhenti, tapi hujannya masih deras."


"Iya sudah, kak. Kita lanjut saja perjalanan kita. Hanya tinggal sedikit lagi, kita sampai di Apartement."


"Okey."


Anggapun melajukan mobilnya kembali, tidak sampai lima menit, mobilpun sampai didepan Apartement Amara.


"Sudah sampai, sayang. Apakah ada payung disini?"


"Tidak ada, kak. Aku lupa menyiapkannya, saat itu aku masih simpan didapur, lupa aku simpan kembali kemobil."


"Bagaimana ini, hujannya masih deras. Payung juga tidak ada, sayang."


"Kita tunggu sampai reda hujanya, kak."


"Tapi, sampai kapan? Kita tidak tahu hujan akan berhenti."


"Terus bagaimana dong, kak?"


"Kakak juga tidak tahu, menurut kamu tidak apa-apa kita menunggu disini hingga hujan berhenti."


"Heum.. tidak apa-apa sih kak. Asalkan kakak tetap bersamaku disini. Aku takut, kalau nanti ada petir lagi."


"Iya sayang, aku akan menjagamu disini, hingga hujan berhenti dan kamu bisa masuk ke Apartement."


"Hooaaammm... " Amara menguap, rasa kantuknya sudah melanda.


"Kamu sudah mengantuk, sayang. Tidurlah dibelakang sayang, agar kamu nyaman."


"Aku mau tidur, tapi dibahu kak Angga."


"Iya sudah, kita pindah kebelakang, sayang."


"Heum."


Amarapun pindah kekursi belakang, kemudian disusul oleh Angga.


Amara mulai bersandar dibahu Angga dan terlelap. Angga mengecup kening dan bibir Amara dengan sayang. Lalu perlahan dia rebahkan kepala Amara diatas kedua pahanya, agar Amara tidur dengan nyaman.


Hujanpun masih turun begitu deras, seakan tidak ingin berhenti. Perlahan Anggapun mulai merasakan kantuk, sejurus kemudian diapun ikut tertidur dalam heningnya malam, diiringi merdunya suara hujan.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2