Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 51


__ADS_3

...🥰🥰Happy Reading🥰🥰...


Tuan Ramon dan anaknya Amara, datang dengan tersenyum mengucap salam seraya meminta maaf karena sudah datang terlambat. Amara membawa kado, untuk hadiah Anniversary Tuan Dahlan dan Nyonya Safira kolega bisnisnya.


Papi Dahlan memang sudah mengundang Mr. Ramon dan Miss. Amara, tadi siang saat mereka sedang meeting di kantor.


"Wa'alaikumussalam, Mr. Ramon dan Miss. Amara, selamat datang dan silahkan duduk." Jawab salam Tuan Dahlan yang diikuti oleh yang lainnya bersamaan, kemudian Tuan Dahlan menyambut kolega bisnisnya dengan begitu ramah.


"Terima kasih, Mr. Dahlan." Ucap Ramon mengangguk kecil lalu duduk disamping Tuan Dahlan.


"Happy Anniversary Mr. Dahlan dan Mrs. Safira, semoga kalian selalu diberi kebahagiaan dan rezeky yang melimpah dengan rumah tangga yang langgeng dan samawa." Ucap Mr. Ramon tulus, seraya berjabat tangan dengan mereka.


"Aamiin.. terima kasih, Mr. Ramon atas ucapan dan doanya." Sahut Tuan Dahlan ramah dan diangguki oleh Safira.


Sedangkan Amara menghampiri Nyonya Safira dengan mencium punggung tangannya dan memberikan kado yang dibawanya.


"Happy Anniversary yah Aunty Safira dan Uncle Dahlan, semoga semua yang diharapkan akan terkabul." Ucap Amara tulus seraya tersenyum ceria.


"Aamiin.. terima kasih Nak Amara yang cantik, ini segala repot-repot bawa kado." Jawab Safira senang, dengan tersenyum mengembang saat menerima kado dari tangan Amara. Sedangkan Papi Dahlan hanya tersenyum ramah.


"Tidak repot Aunty, Amara senang melakukannya." Ucap Amara dengan tersenyum mengembang, lalu duduk di bangku yang masih kosong, tepat ditengah-tengah antara Angga dan Mutiara.


Wajah Angga nampak tidak bersahabat dan tidak ada senyum dibibirnya.


Namun, Amara bersikap santai dan tidak ambil pusing dengan sikap jutek dan dingin Angga kepadanya.


"Hallo Mutiara, kak Andi, apa khabar?" Sapa Amara ramah dengan tersenyum.


"Hallo juga, Amara." Sahut Mutiara dan Andi bersamaan membalas sapa dan senyuman Amara.


"Nak Amara sudah kenal, dengan menantu Tante?" Tanya Mami Safira kepo, melihat Amara yang menyapa Mutiara ramah.


"Sudah Tante, kemarin kami bertemu dikampus saat akan mendaftar menjadi mahasiswa baru." Jawab Amara jujur, sedangkan Mutiara hanya mengangguk kecil dengan tersenyum.

__ADS_1


"Waah... kalian satu kampus? Berarti usia kalian tidak jauh berbeda yah?" Tanya Safira senang.


"Iya, Tante." Sahut Amara.


"Iya, Mami." Sahut Mutiara.


"Kalian seperti saudara kembar, kalau Mami perhatikan. Sama-sama cantik, pintar dan juga baik. Wajah kalian sekilas hampir mirip loh, hanya saja wajah nak Amara sedikit lebih tirus, tapi sedikit." Ungkap Mami Safira, tanpa sadar sudah membuat semua orang langsung menatap kedua gadis tersebut.


Angga yang sedang mode malas, seketika saja ikut menatap kearah mereka.


"Ck.. Mami.. Mami, jangan suka sama-samain wajah orang Mih. Dari arah sudut manapun, tetaplah wajah kakak ipar masih diatasnya." Decak Angga ketus dengan menjatuhkan harga diri Amara.


"Aiish.. kamu kenapa sih, Angga sayang? Kenapa kamu bicara seperti itu? Ketus sekali jadi cowok, pantas saja sampai kini masih jomblo terus." Ujar Mami Safira heran, seketika saja semua tertawa dengan ucapan Safira.


"Ha.. ha.. ha.. bisa saja Mami, kalau ngomong suka benar!" Seru Papi Dahlan tertawa puas. Sedangkan Angga merengut sebal dengan ucapan Mami dan Papinya.


"Ha.. ha.. ha.. sudah.. sudah, lebih baik sekarang kita nikmati makanan lezat ini, nanti keburu dingin." Ucap Andi seraya ikut tertawa.


Mutiara dan Ibu Lanjar hanya menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan sikap Angga. Padahal selama ini yang dia tahu, sikap Angga begitu ramah dan baik kepadanya.


"Ayo Mr. Ramon silahkan dinikmati makanannya, semoga tidak mengecewakan rasanya." Tawar Papi Dahlan dengan senang.


"Terima kasih, Mr. Dahlan. Hidangannya banyak sekali, sepertinya semua nikmat dan lezat." Ucap Mr. Ramon tersenyum.


"Ha.. ha.. ha.. iya dong Mr. Ramon, ini 'kan hari special kami, jadi makanannyapun harus special." Ucap Papi Dahlan seraya tertawa.


"Ha.. ha.. ha.. iya.. iya." Ucap Mr. Ramon mangut-mangut.


"Kak Andi, kenapa kak Andi engga pernah datang ke kantor lagi?" Tanya Amara disela-sela makan mereka.


"Kepo!" Sela Angga yang menjawab pertanyaan Amara.


"Ish.. ish.. ish.. aku 'kan nanya sama kak Andi, kenapa kak Angga yang sewot?" Ujar Amara kesal lalu menggelengkan kepalanya heran.

__ADS_1


"Aku hanya mewakilkan ucapan kakakku, memangnya salah, hah?" Tanya Angga ketus, dengan menatap mata Amara sebal.


"Angga.. jaga ucapan kamu! Apa kamu tidak menghargai kami disini? Apa kamu tidak melihat ada Mr. Ramon, kolega Papi dan Dadienya Amara, hah..? Jaga sikap kamu, lebih baik diam dan makan dengan tenang." Teriak Papi Dahlan kesal, mendengar sikap ketus Angga kepada Amara, yang merupakan klien dan koleganya.


"Iya, ada apa dengan kamu sih, Angga sayang? Apa kamu ada masalah dengan nak Amara? Bukankah Mobilmu sudah kembali seperti semula?" Tanya Mami Safira ikut menimpali suaminya.


Mami Safira tahu soal mobil Angga yang ditabrak oleh Amara, meski Angga bercerita tanpa menyebutkan nama gadis yang menabraknya. Namun, Amara sendiri yang bercerita kepada Safira kemarin siang saat berjumpa di kantor Papi Dahlan.


"Deg.." Jantung Amara merasa terkejut, lalu menyadari mungkin saja jika Angga masih kesal kepadanya, dengan kejadian seminggu yang lalu saat dirinya menabrak mobilnya.


"Tidak, Pih.. Mih." Sahut Angga pelan, tanpa menatap wajah Papi Dahlan dan Mami Safira, karena Angga tidak ingin berdebat dengan kedua orang tuanya.


"Maaf yah kak Angga, kalau aku sudah menabrak mobil kakak tanpa sengaja. Apa kak Angga masih kesal kepadaku?" Ujar Amara menoleh kearah Angga, yang masih asik menikmati makan malamnya.


Angga hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa melihat Amara yang sedang berbicara.


"Ooh.. jadi, mobil kamu Amara yang menabraknya, dik?" Tanya Andi begitu terkejut, saat tahu Amaralah yang menabraknya.


Begitupula dengan Mutiara, dirinya nampak terkejut dengan fakta yang baru dia dengar. Masalahnya, Angga bercerita kepadanya soal mobil yang ditabrak tanpa mengatakan siapa wanita yang menabraknya. Hanya menjawab gadis tidak penting dan angkuh jika ditanya.


Sebenarnya Andi tidak terlalu mencampuri urusan Adiknya Angga, namun melihat Angga dan Amara yang tidak bersahabat, jadi teringat dulu saat dirinya begitu tidak sukanya dengan Mutiara istrinya.


Angga hanya mengangguk pelan dan tetap menikmati makanannya tanpa berucap sepatah katapun.


"Jangan ketus-ketus, dik! Bagaimana kalau nanti jatuh cinta? Awas.. benci dan cinta itu beda tipis, he.. he.. he.." Ujar Andi terkekeh.


"Aish... Tidak mungkin!" Seru Angga menjawab dengan lantang.


"Ish.. issh.. issh.. siapa juga yang akan jatuh cinta sama kak Angga? Aku juga tidak mau, huh.. nyebelin!" Seru Amara ikut menimpali.


Sontak saja semua orang melihat Amara dan Angga, menggelengkan kepalanya heran. Amara dan Angga, layaknya Tom and Jerry.


...♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2