Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 16


__ADS_3

🥰🥰🤭Happy Reading🥰🥰


Mami Safira dan Andi akan pergi ke kantor, mereka sudah bersiap-siap. Mami Safira meminta Angga untuk menemani Papi Dahlan di Rumah Sakit.


"Mami, Kak Andi, apa boleh Angga ajak Kakak ipar ke Rumah Sakit? Biar Papa bisa mengenal Kakak iparku yang cantik." Tanya Angga dengan cueknya, tanpa memikirkan perasaan Kakaknya.


"Mami sih boleh saja kasih izin, tapi engga tahu dengan Kakakmu, kasih izin atau tidak?" Ujar Mami Safira seraya melirik kearah Andi.


Andi sebenarnya merasa tidak suka, seakan-akan Adik dan Maminya sengaja membuat dia cemburu atau marah pikirnya. Namun, dirinya seolah bersikap dingin seperti biasanya. Meski dirinya sedikit geram dan kesal saat ini.


"Andi sih terserah dia saja, kalau dia mau ikut silahkan, kalau tidak mau jangan memaksanya." Ucap Andi bernada kesal seraya berjalan keluar rumah meninggalkan mereka berdua.


Mami Safira dan Angga saling menoleh, sejurus kemudian mereka tertawa terpingkal-pingkal.


"Ha.. ha.. ha.. "


"Mami... sepertinya Kak Andi cemburu dengan Angga." Ucap Angga disela tawanya.


"Biarkan saja, kalau Kakakmu cemburu, berarti dia sudah mulai ada rasa dengan istrinya." Ucap Mami Safira senang.


"Hi.. hi.. hi.. tapi, kalau Kak Andi masih belum juga mencintai Kakak ipar, boleh engga Mih, kalau Angga yang menjadi suami pengganti buatnya?" Tawa Angga berucap dengan banyolan.


"Huuuss.. ngaco saja kamu! Memangnya kamu menyukai Kakak iparmu sendiri?" Tanya Mami Safira penuh selidik, seraya menatap Angga penuh curiga.


"Hi.. hi.. becanda Mih, ya enggalah Mih. Lagi pula, nanti juga Kakak Andi lambat laun akan mencintai Kakak ipar. Hanya Pria bodoh, yang tidak menyukai wanita secantik Kakak ipar." Andi tertawa kecil lalu memuji Kakak iparnya.


"Benar juga sih, hanya pria bodoh yang tidak menyukai dan mencintai menantu cantik Mami." Ucap Mami Safira membeo.


"Iya dong Mih, kita doakan saja yang terbaik untuk hubungan Kak Andi dan Kak Mutia." Ucap Angga mendoakan kebaikan untuk keduanya.


"Aamiin.." Ucap Mami Safira.


"Sayang, Mami berangkat dulu, takut Kakakmu kesal menunggu terlalu lama. Sampaikan salam Mami, sama Kakak iparmu." Pamit Mami Safira, seraya memeluk anak bungsunya, lalu mencium pipi kiri dan kanan anaknya.


"Assalamu'alaikum, by.. by.. sayang." Ucap salam Mami Safira.


" Wa'alaikumussalam, iya Mih.. hati-hati di jalan." Ucap Angga seraya melambaikan tangannya di udara.


*******


Andi sudah kesal menunggu Mami Safira, yang tidak kunjung datang. Akhirnya setelah menunggu lama, Mami Safira datang juga. Mami Safira membuka pintu mobilnya, lalu duduk disamping Andi.


"Mami lama sekalih, ngapain saja sih?" Protes Andi yang sudah menunggu lama.


"Aiish.. anak Mami ganteng ini, baru nunggu sebentar saja sudah kesal dan manyun." Decak Mami Safira meledek anaknya.

__ADS_1


"Habis lama sekalih, pasti Mami habis menertawakan aku yah? Hayo ngaku?" Tuduh Andi dengan mendelikkan matanya sebal kearah Maminya.


"Hi.. hi.. hi.. sok tahu kamu, sayang." Dusta Mami Safira seraya tertawa kecil.


"Tahu dong, orang tadi Andi dengar Mami dan Adik tertawa puas, saat Andi pergi." Ujar Andi langsung tembak, hingga Mami Safira tidak bisa menyangkal lagi.


"Ha.. ha.. ha.. ups.. ketahuan sama orangnya." Tawa Mami Safira menahan malu sudah tertangkap basah.


"Sudah Mih, jangan lupa pakai seatbeltnya." Ucap Andi mengingatkan.


"Siap, sayang." Ucap Mami seraya memasang seatbelt ditubuhnya.


"Kita langsung ke kantor, bukan? Tidak ada acara mampir-mampir 'kan Mami?"


"Tidak sayang, kamu bawa mobilnya fokus kedepan dan jangan banyak tanya." Omel Mami Safira.


"Siap Mih." Ucap Andi singkat. Andipun langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tanpa mengajak Maminya berbincang, matanya fokus kearah jalan.


Mami Safira mengomel karena ada satu alasan. Dirinya punya trauma dulu, dia mengalami kecelakaan bersama Papi Dahlan suaminya, karena tidak fokus saat membawa mobil.


Beruntung kecelakaan yang mereka alami, tidak terlalu parah saat itu. Tapi, kejadian itu membuat dirinya sedikit takut dan trauma setiap dirinya berbincang saat menyetir.


Mami Safira membuka ponselnya untuk mengabari suaminya di Rumah Sakit. Tapi, dirinya hanya berkirim pesan dengan suaminya.


["Assalamu'alaikum, Pih. Kami sedang dalam perjalanan ini."]


["Iya Pih, tadi Mami sudah mengingatkan Andi untuk fokus dan berhati-hati."]


["Bagus, kalau begitu."]


["Papi sudah mandi belum? Lalu sudah sarapan belum? Kalau belum, nanti Mami pinta Angga membawakan sarapan untuk Papi."]


["Sudah sayang, tadi Papi mandi sendiri dan sarapan sendiri. Padahal biasanya Mami yang temani Papi mandi dan sarapan. Papi jadi sedih, hua... hua.."]


["Aiish.. lebay nih Papi. Maafin Mami yah, demi sandiwara kita harus berpisah hari ini."


"Iya Mih, tapi Papi memang lebay sih, hi.. hi.. hi..."]


["Sudah dulu yah Pih, takut Andi curiga, kallau Mami berkirim pesan terus sama Papi."]


["Iya Mih, hati-hati yah. Nanti Mami bantu Andi untuk berbicara dengan klien Papi."]


["Siap Pih, tenang saja. Percayakan semuanya kepada Mami. Andi pasti langsung bisa mengikuti intruksi dari Mami."]


["Peluk dan cium dari jauh untuk Mami."]

__ADS_1


["Sama Pih, peluk dan cium dari jauh untuk Papi. Assalamu'alaikum."]


["Wa'alaikumussalam."]


"Mami.. mami... sudah kali main ponselnya. Sudah sampai dari tadi loh kita. Apa Mami masih mau disini saja?" Panggil Andi seraya menyentuh tangan Maminya.


"Eeh.. iya sayang, sebentar Mami masukkan dulu ponselnya ke tas." Ucap Mami Safira.


"Mami asik banget, berkirim pesan sama siapa sih, sampai senyum-senyum gitu?" Tanya Andi kepo.


"Iishh.. kepo! He.. he.. he.." Ucap Mami Safira terkekeh.


"He.. he.. he.. ya sudah Mih, lagi pula engga penting buat Andi." Kekeh Andi seraya keluar dari dalam mobilnya.


"Iissh.. anak itu kalau ngomong sama Maminya engga ada asik-asiknya." Decak Mami Safira sebal dengan anak sulungnya, namun dirinya sangat sayang kepadanya.


Mami Safirapun menyusul keluar dari dalam mobil, lalu Andi mengunci otomatis mobilnya.


Andi dan Mami Safira berjalan memasuki kantor Perusahaan milik keluarga Papi Dahlan yang sudah turun temurun.


Banyak pasang mata para karyawan yang menatap kagum kepada anak Direktur Perusahaan yang cukup tampan dan dingin.


"Itu sepertinya Tuan muda yang akan mewarisi kekayaan Direktur kita."


"Tuan muda kita itu sangat tampan, tapi terlihat dingin dan angkuh sepertinya."


"Tuan muda itu siapa namanya sih? Tidak ada senyum sama sekalih diwajahnya, berbeda sekalih dengan Papinya, yaitu Boss kita yang murah senyum dan ramah."


Begitulah semua pasang mata para karyawan membicarakan anak Direktur Perusahaan tempat mereka bekerja, seraya berbisik-bisik.


Asisten Bara menghampiri Nyonya Safira dengan tergesah-gesah. "Nyonya Safira, saya mohon maaf atas informasi yang baru saya terima."


"Ada apa Asisten Bara? Jaga napasmu itu. Kamu harus mengatur napasmu agar tidak terengah-engah."


Asisten Bara mengangguk kecil."Haaaah.." Asisten Barapun mengambil napas pelan dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Maaf Nyonya, pertemuan dengan Mr. Ramon, pengusaha dari Singapore dimajukan lebih awal 30 menit, dari jadwal yang sudah ditentukan." Ujar Asisten Bara.


"Apa maksud kamu Asisten Bara? Tapi, anak saya belum belajar sama sekalih soal bisnis ini. Waktunya sangat mepet sekalih."


"Tenang Mih, ayo kita temui mereka sekarang juga." Ajak Andi seraya menarik tangan Mami Safira. Lalu Safirapun mengikuti langkah anaknya itu.


"Baiklah, saya yang akan mengantar Nyonya dan Tuan muda, ke Hotel XX sekarang juga."


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2