
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Andi sudah sampai di rumahnya, ternyata dirinya sudah lebih sampai terlebih dahulu. Mobil adiknya belum ada di garasi rumahnya.
"Sial.. mereka belum pulang." Umpat Andi memukul bundaran stir mobilnya kesal.
Andi berjalan gontai, memasuki rumah besar milik orang tuanya.
Mbo Yuyun yang melihat Tuan mudanya begitu suram wajahnya, diapun enggan untuk menyapanya.
"Mbo Yuyun, tolong buatkan saya kopi hitam. Jangan terlalu banyak gulanya, terima kasih."
"Iya Aden, ditunggu sebentar yah!"
"Iya, Mbo Yuyun."
Andi masuk kedalam kamarnya, setelah itu dirinya berendam air hangat untuk melepaskan rasa penatnya seharian ini serta rasa kesalnya kepada istri dan adiknya.
Seusai berendam, Andi membilas tubuhnya dengan air biasa dan menyelesaikan dengan tuntas sesi mandinya.
Andi mengenakan baju santai dengan kaos dan celana pendeknya. Diapun menyisir rambutnya yang basah, lalu menyemprotkan tubuhnya dengan parfum mahalnya. "Sreet.. sreet.. sreet.." Hingga satu ruangan kamarnya tercium aroma wangi Parfumnya.
Andi mematut wajahnya di depan cermin, seraya termenung. "Kenapa aku kesal dengan bocil itu? Kenapa aku tidak menyukai adikku Angga dekat dengan bocil itu? Apa yang salah dengan bocil itu? Kenapa aku semarah ini?" Bathinnya berucap.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu kamar diketuk.
"Aden, kopinya sudah jadi. Mau ditaruh dimana?"
"Bawa masuk saja Mbo, pintunya tidak dikunci."
"Jeglek.." Bunyi pintu terbuka.
Mbo Yuyun masuk membawa secangkir kopi, lalu diapun menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur Andi.
"Aden, silahkan diminum kopinya, Mbo mau pamit ke dapur lagi."
"Iya Mbo Yuyun, terima kasih."
"Sama-sama, Aden Andi."
"Drrt.. drrtt... drrtt.." Ponsel Andi bergetar.
Andi melihat nomor ponselnya tidak di kenal, diapun tidak menjawab panggilan ponselnya hingga mati sendiri.
Lalu Ponselnya bergetar kembali untuk kedua kalinya, dia melihatnya masih nomor yang tidak ada di nomor kontaknya.
"Siapa sih yang menelpon? Apa bocil itu? Tapi, dia 'kan sudah aku save nomornya. Lalu itu nomor siapa yah?" Andi bergumam pelan penuh tanya.
Akhirnya Andipun mengangkatnya, karena dirinya penasaran.
"Hallo.."
__ADS_1
"Hallo Kak Andi! Ini betul 'kan nomor ponsel Kak Andi?"
"Iya, ini siapa yah?"
"Ini Amara, rekan bisnis Kak Andi. Mulai besok kita 'kan akan sering bertemu, jadi aku ingin menjalin hubungan lebih akrab dengan Kak Andi."
"Ooh.. ternyata, kamu? Kita engga perlu terlalu akrab, kita hanya rekan bisnis, bukan sepasang kekasih."
Amara bergeming, saat mendengar ucapan dingin dan ketus lawan bicaranya saat ini.
"Kenapa kamu diam, hah..? Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan lagi, saya akan tutup sambungan telponnya."
"Tunggu, Kak Andi."
"Heemm... apa lagi?"
"Kenapa sih Kak Andi dingin dan ketus sama aku? Memangnya, salah apa aku sama Kak Andi?"
"Kamu tidak salah apa-apa, hanya aku saja yang memang pembawaannya seperti ini."
"Tapi, aku suka sama Kak Andi. Apa lagi kalau Kak Andi sedang tersenyum, semakin tampan dan berkharisma. Apa ini yang dinamakan, cinta pada pandangan pertama yah Kak?"
"Haah..? Kamu jangan ngawur Amara! Tidak ada, yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Semua itu butuh proses dan waktu, untuk membentuk rasa cinta dan sayang."
"Kak Andi engga percaya? Ya sudah akan Amara buktikan kepada Kak Andi, kalau ucapanku sungguh benar adanya."
"Heem.. terserah apa katamu!"
"Baiklah, sampai jumpa Kak Andi, say...."
"Aiissh.. nyebelin banget Kak Andi, main matiin saja sambungan telponnya. Aku 'kan hanya ingin memanggilnya sayang. Tapi, kenapa aku semakin penasaran yah, sama Kak Andi. Aku jadi ingin tinggal di Indonesia dan kuliah disini saja." Amara bergumam pelan, seraya menatap ponselnya yang mulai meredup.
*******
"Kakak ipar, kita langsung pulang kerumah atau pergi kemana dulu gitu? Angga ada satu tempat untuk menenangkan diri, jika sedang penat ataupun ada masalah." Tanya Angga, dengan menatap Kakak iparnya.
"Benarkah? Kalau dik Angga mau kesana, saya mau ikut." Mutiara sangat senang, mendengar ada tempat untuk menenangkan diri.
"Baiklah, kita kesana sekarang." Ucap Angga memenuhi keinginan Kakak iparnya.
Jarak tempat yang Angga katakan, tidak begitu jauh dari tempatnya sekarang. Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai ketempat itu.
Akhirnya merekapun sampai juga di tempat itu, sebuah danau yang begitu tenang dan indah.
"Ternyata, di Jakarta masih ada tempat yang indah seperti ini!" Mutiara bergumam pelan, seraya merentangkan kedua tangannya, menghirup udara segar dalam-dalam kemudian menghembuskannya pelan.
"Haaaah..." Suara hembusan napas Mutiara.
Angga hanya memandangi dan mengagumi kecantikkan Kakak iparnya saja. Menurutnya pemandangan yang indah itu bukanlah danaunya, tetapi wajah cantik Kakak iparnya.
Merekapun berbincang-bincang hangat dan menikmati makan malam yang memang sudah ada pedagangnya dipinggir danau. Mutiara merasa nyaman dan bahagia, saat berbicara dengan adik iparnya.
__ADS_1
Begitu pula dengan Angga, dia semakin tidak bisa lagi memendam perasaan kagum dan sayangnya kepada Kakak iparnya itu.
Satu persatu pengunjung semakin bertambah, padahal awal mereka datang masih nampak sepi.
Puas dengan memandangi dan menikmati danau yang nampak alami, Mutiarapun ingin meninggalkan tempat tersebut. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun tempat itu semakin ramai pengunjung.
"Ayo dik, kita pulang sekarang." Ajak Mutiara seraya tersenyum merekah.
"Memangnya, Kakak sudah puas?"
"Sudah, dik."
"Okaylah kalau begitu, Kakak ipar cantikku."
Mutiara hanya mengangguk, lalu merekapun berjalan menuju tempat mobilnya berada.
Seperti biasa, Angga membukakan pintu mobil untuk Kakak iparnya, dengan hati-hati dan menuntunnya naik keatas jok penumpang. Kemudian Anggapun berputar untuk naik kemobilnya dikursi kemudinya.
Mutiarapun sedikit tersanjung, dengan sikap dan perhatian kecil dari adik iparnya itu.
Angga membawa mobilnya dengan kecepatan sedang, bahkan bisa dibilang cukup santai. Mutiara hanya menatap kedepan jalan, tanpa berbicara sedikitpun kepada Angga.
"Eemm.. Kakak ipar sedang sariawan yah?Kenapa diam saja dari tadi, apa Kakak masih belum puas disana?" Angga mencoba membuka obrolan, untuk melepaskan rasa canggung diantara mereka.
"Hi.. hi.. hi.. sariawan dadakan dik! Bukankah, kalau sedang menyetir jangan banyak mengobrol? Katanya harus fokus, biar engga terjadi kecelakaan." Mutiara tertawa kecil seraya beralasan.
"He.. he.. he.. iya sih Kak, tapi engga segininya juga. Kalau masalah kecelakaan sih sudah takdir, yang penting kita membawa mobilnya hati-hati, tetap fokus ke jalan dan tidak ugal-ugalan bawa mobilnya. Kalau masalah mengobrol kecil sih bukan masalah utama, yang penting jangan sambil menelpon dan bercanda." Kekeh Angga seraya menjelaskan panjang lebar.
"Iya dik, benar apa kata kamu." Ucap Mutiara seraya tersenyum manis.
"Senyum Kakak ipar manis sekalih, saingan sama gula pasir rasanya. He.. he.. he.." Jahil Angga, saat melihat senyum Kakak iparnya sekilas.
"Aiis.. sempat-sempatnya ngegombal, sudah diam saja jangan banyak bicara. He.. he.. he.." Decak Mutiara seraya terkekeh.
"He.. he.. he.. tapi, Kakak ipar suka 'kan dengan gombalan Angga?"
"Huusshh.. fokus dik.." Mutiara tidak menjawab pertanyaan adik iparnya, dia malah mengalihkan untuk fokus menyetir.
"Iya deh.." Ucap Angga singkat.
Akhirnya merekapun sampai rumah kediaman Tuan Dahlan. Angga memarkirkan mobilnya disamping mobil Andi.
"Kakak ipar jangan turun dulu, biar Angga yang bukakan pintu mobilnya." Cegah Angga, saat melihat Mutiara akan menyentuh pintu mobilnya.
"Engga apa-apa dik, biar saya turun sendiri saja."
"Engga boleh Kakak iparku, pokoknya Kakak diam saja, tetap duduk manis disitu. Tunggu Angga turun pokoknya."
Angga turun dari mobil, kemudian berjalan memutar, berhenti tepat didepan pintu mobil penumpang. Angga membukakan pintu mobilnya, lalu memegangi tangan kanan Mutiara dengan erat, ketika akan turun dari mobilnya.
Pemandangan itu tidak lepas dari tatapan mata Andi, dirinya melihat jelas perlakuan istimewa adiknya kepada istrinya, dari balik gorden jendela kamarnya. Pasalnya, saat Andi mendengar deru mesin mobil adiknya terparkir digarasi rumahnya, Andipun penasaran ingin mengintip mereka, kenapa baru pulang selarut ini.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....