
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Amara dan Mr. Ramon memisahkan Angga dan Betrand yang tengah beradu mulut. Mereka takut, akan terjadi baku hantam lagi diantara keduanya.
Amara menarik lengan Angga, agar terlepas dari kerah baju Betrand, yang seperti ingin melayangkan luapan emosinya kembali.
Sedangkan Mr. Ramon menahan Betrand, agar tidak mengikuti gerakan langkah Amara yang membawa Angga pergi menjauh.
Angga mengikuti gerakkan langkah kaki Amara yang menarik tangannya hingga menuju mobilnya.
Amara membukakan pintu mobil penumpang, untuk Angga.
"Masuk, kak Angga." Pinta Amara dengan serius.
"Untuk apa? Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Angga gamang.
"Masuklah dulu kak, nanti akan tahu juga." Ujarnya dengan lirih.
Akhirnya Anggapun menuruti perintah Amara dan mau masuk kedalam mobilnya dan duduk disamping kemudi.
Amara berjalan memutar, membuka pintu mobilnya dan duduk dikursi kemudi dengan tenang. Mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. "Huuuh..."
Pemandangan itupun tidak luput dari penglihatan Angga, hingga tanpa sadar ada senyum terukir dibibir Angga.
"Pakai seatbeltnya kak, apa aku juga yang harus memakaikannya, heum..?"
"Tidak mau, aku tidak ingin pergi dari sini. Disini aku sedang merayakan resepsi pernikahan kakakku. Kenapa harus pergi?" Bantah Angga, pura-pura tidak ingin mengikuti ucapan Amara.
"Keras kepala sekali, kak Angga ini." Omelnya Amara menggerutu kesal.
Lantas dengan gerakan kasar, Amara menarik seatbelt tersebut dan memasangkannya ke tubuh Angga.
Otomatis wajah Angga dan Amara mengikis jarak, mungkin kedua jantung mereka seakan berdentum lebih kencang dan seperti ingin lepas dari tempatnya.
Napas keduanya kian memburu dan mata mereka saling bersirobak. Ada desiran hebat didalam darah mereka seakan ada gelenyar yang membuat tubuh mereka bergetar.
"Eeheum..." Suara deheman Angga keluar, saat dirinya merasa tidak tahan untuk berlama-lama mengikis jarak dengan wajah Amara.
"Eeeh.." Ucap Amara membuyarkan lamunannya.
"Kenapa?" Tanya Angga seakan menggoda, dengan tersenyum begitu manisnya.
"T-tidak.. ! Sekarang seatbeltnya sudah terpasang dengan aman." Jawabnya terbata, dirinya mencoba menetralisir tubuhnya yang sedang merasakan gejala aneh, pikirnya.
"Heum.." Angga hanya bergumam manja, sejurus kemudian dia mengacak puncak kepala Amara gemas.
__ADS_1
"Aissh.. apa sih kak? Berantakan nih, jadinya." Omel Amara menggerutu sebal, menutupi jantungnya yang berdebar tidak karuan.
"Heum.. kamu mau ajak aku, kemana?" Tanya Angga membuka obrolan.
"Kita lihat saja, nanti." Ucap Amara tersenyum miring, lalu menyalakan mesin mobilnya dan langsung meninggalkan area parkir gedung Hotel tersebut.
"He.. he.. he.. aku jadi takut, malam-malam dibawa kabur gadis bar-bar seperti kamu." Kekeh Angga merasa ngeri, padahal senangnya bukan kepalang.
"Uem.. asyem nih orang, dibaikin malah ngelunjak." Amara menggerutu dalam gumamannya.
"Kenapa? Kamu sedang mengatakan sesuatu?" Tanya Angga yang sedang melihat bibir Amara bergumam tidak jelas.
"Tidak.. jangan banyak tanya, aku sedang fokus menyetir." Ujar Amara tanpa melihat kearah Angga.
"Okey.." Sahut Angga menurut.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah taman permainan anak-anak dan pasar malam.
"Kamu mau ngapai, kesini? Bukankah ini pasar malam?" Tanya Angga nampak kebingungan dengan apa yang dilakukan Amara.
"Iya.. memangnya kak Angga belum pernah datang ketempat seperti ini, heum..?"
"Pernah.. tapi, sewaktu masih kecil dulu bersama kak Andi."
"Ooh.. sudah lama dong. Ayo turun, kita berjalan-jalan malam, sebentar." Ajak Amara lalu turun dari mobilnya.
"Ayo kesini kak, kita cari permainan yang asik."
Angga tersenyum, dengan sikap berani Amara yang tidak sungkan untuk mengajaknya berjalan-jalan malam. Diapun menuruti semua apa yang dikatakan Amara.
"Kak Angga mau naik perahu-perahuan itu tidak? Atau naik ayunan itu, atau kincir angin itu?" Tanya Amara menunjuk beberapa permainan anak-anak yang dia lihat.
"Eeem.. kincir angin, boleh juga." Ucap Angga kemudian.
"Iya sudah.. ayo kita mengantri dulu." Ajak Amara menarik lengan Angga, untuk mengantri dan membayar tiket permainan.
Setelah Amara membayar tiket untuk dua orang, merekapun menunggu sebentar permainan kincir angin berhenti untuk penyewa sebelumnya.
Setelah permainan kincir angin berhenti, banyak orang mulai menuruni satu persatu wadah berbentuk kotak tersebut.
Satu kotak wadah, hanya untuk dua orang dewasa saja. Maka Amara dan Angga, berada dalam satu kotak itu berdua.
Setelah kesepuluh kotak penuh, operator mesin kincir anginpun mulai menyalakan mesinnya dengan perlahan dan konsisten.
Panorama dari atas kincir angin terlihat begitu indah, dengan terang lampu disekitarnya dan bintang-bintang dilangit yang berkerlap-kerlip, menambah suasana indah malam ini.
__ADS_1
"Kak Angga, terima kasih ya tadi." Ucap Amara membuka obrolan, saat keduanya nampak canggung.
"Terima kasih, untuk apa?" Tanya Angga sedikit berpura-pura bodoh.
"Terima kasih, sudah menolongku tadi. Masa sih, masih tanya untuk apa?" Kata Amara kesal.
"Ooh.. he.. he.. he.." Angga hanya mengucapkan kata Oh lalu terkekeh.
"Kenapa tertawa? Memangnya ada yang lucu, heum..?"
"Tidak..! Hanya saja, aku tidak suka dengan Betrand yang menganggap gadis seperti kamu, sama seperti gadis lainnya, yang gampangan menerima rayuan si Betrand dengan modal tampang dan rayuan gombalnya."
"Masa sih, kak? Sepertinya, bukan itu alasannya! Buktinya, kakak mengaku kepada pria itu yang bernama Betrand, kalau aku itu pacar kakak. Memangnya, sejak kapan aku jadi pacar kakak, heum..?"
"Ck.. itu hanya alasan saja, biar dia tidak bisa ganggu kamu lagi." Ucap Angga berdusta, padahal dalam hatinya begitu berdebar.
Amara merasa hatinya tergelitik saat mendengar penjelasan Angga, diapun menatap lekat kedua mata Angga dengan mengikis jarak. "Tapi.. kenapa aku ragu ya, kak?"
Angga jadi salah tingkah, saat posisinya begitu intens berada tepat didepan wajah Amara. Diapun menggaruk kepalanya yang tidak minta digaruk, saking gugupnya. Dengan tersenyum canggung, diapun hanya bisa menatap lekat wajah Amara tanpa berkedip.
"Ck.. kenapa tidak dijawab, heum? Aku sedang bertanya loh, kak Angga?" Tanya Amara dengan tersenyum miring dan mengerlingkan matanya menggoda.
"Ha.. ha.. ha.. " Angga lalu tertawa melihat tingkah lucu Amara, kemudian memalingkan pandangannya kearah lain.
Melihat itu, Amara kemudian memutar wajah Angga dengan kedua tangannya menangkup kedua pipinya untuk tetap kearahnya.
Amara menatap lekat kedua mata Angga dan tersenyum iblis. "Kak Angga, kenapa? Kenapa memalingkan wajah kak Angga yang tampan ini?" Tanya Amara dengan mata yang sudah sayu.
"Eeemm.. tidak!" Ucapnya Angga lirih.
"Tidak? Maksudnya?" Amara terus menggodanya.
"Kamu jangan memancing hasratku Amara, aku bisa menerkammu sekarang juga." Angga berbisik, saat wajah mereka terkikis jarak hanya beberapa centi saja.
"Memangnya kak Angga berani, heum..?" Tantang Amara dengan suara menggoda.
"Berani, siapa takut?" Ujar Angga dengan suara parau terdengar.
"Ha.. ha.. ha.. eemmppt.." Tawa Amara terhenti, saat Angga mulai mendaratkan bibirnya di atas bibir Amara.
Amara membelalakan matanya saat bibirnya sudah dibungkam oleh Angga, ciuman yang begitu hangat dan manis tersaji saat ini. Amarapun membalas ciuman Angga dengan lembut dan saling melumaat dan mencecap lidah, dengan permainan ciuman yang awalnya hanya menempelkan bibir, lama kemudian menjadi panas dan bergairah.
Monggo dilanjut ya kakak semuanya dikhayalan kalian. 🤭🙈
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--