
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di Rumah Sakit.
Angga dan Mutiara sudah sampai di depan kamar rawat Papi Dahlan, Mutiara mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu diketuk.
"Assalamu'alaikum Papi." Salam Angga dan Mutiara bersamaan.
"Wa'alaikumussalam... kalian jenguk Papi?"
"Iya dong Pih, ini dibawain bekal makan siang sama Mbo Yuyun. Katanya Papi kangen masakan Mbo Yuyun, benar begitu Pih?" Tanya Angga seraya menunjukkan bekal makan siangnya, lalu Angga mencium punggung tangan Papi Dahlan.
Mutiarapun tersenyum, lalu ikut mencium punggung tangan Papi mertuanya takzim.
"Iya sayang, Papi bosan dengan makanan jajanan terus, sekali-kali pingin makanan masakan Mbo Yuyun."
"Loh.. memangnya Papi boleh makan jajanan diluar? Bukankah Papi sedang sakit? Makanannya 'kan harus sehat, yang sudah disiapkan oleh dapur sehat Rumah Sakit.
"Ooh.. iya, maksudnya makanan rumah sakit." Dahlan sudah melupakan jika dirinya sedang berpura-pura sakit, hingga dirinya keceplosan makan jajanan di luar.
"Waduh.. hampir saja ketahuan. Bisa ngamuk nanti kalau semua ini adalah sandiwara semata. Dasar ini mulut, kadang engga bisa terkontrol." Ucap Dahlan dalam hatinya seraya tersenyum menutupi hatinya yang sedang galau, takut rencana yang dibuat bersama istrinya terbongkar.
"Papi, kata Dokter bagaimana perkembangan kesehatan Papi? Kapan Papi segera bisa keluar dari rumah sakit?"
"Eeemm.. kata Dokter, jantung Papi sudah baik-baik saja. Kalau soal keluar dari rumah sakit, sepertinya secepatnya. Tapi, selama Papi dirumah, Papi tidak boleh mendengar berita sedih, tidak boleh kaget dan tidak boleh mendengar pertengkaran."
"Kayaknya setahu Angga yah Pih, memang ada benarnya sih apa yang dikatakan Papi. Tapi, yang lebih penting soal penyakit Papi itu, pasien harus menjaga pola makan sehat dan harus rajin berolah raga. Selain itu juga, pasien penyakit jantung itu tidak boleh merokok dan minum alkohol."
"Uhuuk.. uhuuk.." Papi Dahlan sontak saja terbatuk menutupi rasa malunya, saat mendengar anak bungsunya menjelaskan persoalan penyakit jantung.
Jelas saja Papi Dahlan tidak tahu soal penyakitnya, orang dirinya hanya bersandiwara soal penyakit jantungnya, pikirnya. Jelas kalah telak dengan Angga anaknya, yang merupakan calon Dokter.
__ADS_1
"Ini menantu Papi namanya siapa? Papi lupa?" Tanya Papi Dahlan jujur lupa dengan nama menantunya itu, seraya tersenyum.
"Saya Mutiara Pandini Om, eeh.. Papi." Ucap Mutiara sedikit kikuk.
"He.. he.. he.. masih belum terbiasa yah panggil Papinya? Bagaimana kamu tinggal disini Nak Mutiara? Apakah menyenangkan? Atau sebaliknya?"
"Iya.. Pih, m.. menyenagkan Pih." Ucapnya Mutiara bohong, namun Papi Dahlan nampak tidak percaya dengan jawaban menantunya.
"Yang benar, Nak? Kalau kamu senang tinggal disini, kenapa wajah kamu nampak murung, Nak? Apa kamu kangen sama Ibu kamu?"
"I.. iya Pih, saya kangen sama Ibu saya." Ucap Mutiara gugup seraya matanya berkaca-kaca.
"Kalau begitu, nanti saya akan pinta Ibu kamu ajak kesini yah?"
"J.. jangan Pih." Tolak Mutiara cepat, pasalnya dia takut jika sandiwara pernikahan dirinya dengan Mas Andi suaminya, terbongkar.
"Mas Andi pasti bakalan marah dan semakin benci aku, kalau sampai Ibu datang kesini. Aku juga tidak ingin melihat Ibu sakit nantinya, jika tahu pernikahanku yang palsu ini." Bathin Mutiara berucap.
"Kenapa jangan, Nak? Katanya kamu kangen sama Ibu kamu?" Tanya Papi Dahlan merasa heran.
"Maksud Kakak ipar, jangan sekarang juga Pih. Kakak ipar 'kan baru tiga hari disini, masa iya sudah pingin ketemu Ibunya? Mungkin nanti-nanti, kalau sudah satu sampai dua minggu Pih. Bukan begitu, Kakak ipar cantikku?
"I.. iya Pih, apa yang dikatakan Dik Angga benar seperti itu." Ucap Mutiara gugup, menatap dua pria berbeda usia dihadapannya bergantian.
Wajah Mutiara sudah tidak bisa dibohongi lagi, air matanya mulai tidak terbendung. Isak tangis Mutiara mulai terdengar, Angga yang paham betul keadaan Kakak iparnya, langsung menariknya kedalam pelukkannya. "Hikkz.. hikkzz.. hikkzz.."
Mutiara sempat ingin menolak dan menepis tangan Angga saat akan menyentuhnya, namun tangan Angga terlalu cepat dan kuat menarik tubuhnya hingga masuk kedalam pelukkannya.
"Biarkan seperti ini Kak, anggap saja Kakak sedang di peluk oleh Adik kandungnya sendiri. Jangan menolak atau menepis, karena adik iparmu ini siap memberikan kekuatan dan semangat untukmu."
Mutiara bergeming, saat mendengar kata-kata Angga adik iparnya. Dia tidak menyangka adik iparnya itu sangat perduli kepadanya. Berbanding terbalik dengan suaminya, yang dingin dan tidak perduli pikirnya.
Papi Dahlan mengerutkan keningnya, seakan tidak mengerti dengan anak dan menantunya itu. Dia melihat ada cinta dimata anak bungsunya, untuk menantunya itu. Namun, ini tidak bisa dibiarkan, dia harus bertindak.
__ADS_1
"Kalau api cinta dalam hati Angga dibiarkan terus, lama-lama semakin membesar. Aku harus memisahkan keduanya, hubungan mereka tidak bisa seperti ini. Aku harus bicara dengan Safira, mengenai perihal ini." Papi Dahlan bergumam pelan.
"Eehem.." Papi Dahlan berdehem, agar memisahkan keduanya yang saling berpelukkan.
Sontak saja, Angga dan Mutiara langsung melepaskan pelukkan mereka. Wajah Mutiara, nampak basah dengan air mata. Angga yang melihat itu, seketika tangannya mengarah kepada wajah cantik Kakak iparnya.
"Diam Kakak ipar, jangan bergerak." Angga menghapus sisa air mata yang masih basah menempel di pipi Mutiara dengan lembut dan sayang.
Perasaan Angga terus bergetar seolah ingin memberikan perhatian dan kasih sayang untuk Kakak iparnya. Namun, ini begitu cepat menurutnya. "Apa ini yang dinamakan, jatuh cinta pada pandangan pertama? Tapi, tidak sepantasnya aku bersikap seperti ini. Apa kata Papi nanti." Bathinnya bermonolog.
Akhirnya Angga melepaskan tangannya dari wajah Mutiara, dengan tersenyum canggung diapun meminta maaf kepada Kakak iparnya. "Maaf Kakak ipar, tadi Angga refleks saja menyentuh pipi Kakak ipar untuk menghapus air matanya."
"Heemm.. " Hanya gumaman saja yang terdengar dari bibir Mutiara. Dirinya nampak malu dan canggung, saat Papi mertuanya menatap dirinya dengan wajah heran..
"Nak Mutiara, sebaiknya kamu cuci muka dulu, sayang. Mata kamu terlihat bengkak, sepertinya kamu sungguh merindukan Ibumu, jadi besok pagi, Asisten Papi akan menjemputnya."
"Jangan Pih, nanti saja kalau izasah saya sudah keluar. Ibu bisa datang kesini, sekalian membawa izasah saya untuk masuk perguruan tinggi."
"Ooh.. kamu mau meneruskan sekolahmu, Nak? Kamu mau kuliah dimana?"
"Mas Andi, meminta saya kuliah ditempatnya mengajar Pih."
"Waah.. satu tempat kuliah dengan Angga dong Kakak ipar. Nanti, kita bisa berangkat bareng yah."
"Apa-apaan kamu, Angga? Kakak iparmu yah bareng sama suaminya dong, masa bareng sama kamu." Hardik Papi Dahlan, tidak ingin membiarkan Angga jatuh hati terlalu jauh kepada Kakak iparnya.
"Aiish.. santai dong Pih, masih lama kali. Lagian nanti Angga numpang sama mobil Kak Andi, 'kan tidak capai harus bawa mobil sendiri."
"Kamu tuh, bisa saja ngelesnya!"
"He.. he.. he.. apa sih Pih, ko Papi jadi sensi banget sama Angga?"
Mutiara menggelengkan kepalanya heran, melihat Angga dan Papi mertuanya berdebat masalah sepele.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....