
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Andi mulai menggerakkan jari-jemarinya, takkala dia merasakan kesadarannya mulai hadir. Efek dari obat bius yang diberikan, sepertinya berangsur-angsur mulai menghilang.
Tubuh Andi seakan sulit dan begitu berat untuk bergerak, namun dia mulai bisa membuka matanya secara perlahan. Bibirnya seakan kelu saat ingin berucap, dia sayup-sayup mendengar dan melihat sang Mami yang berada tidak jauh darinya menangis begitu pilu.
Dengan sekuat tenaga, Andi mencoba memanggil Safira meski begitu lirih. "M-mami.... M-mami."
Sontak saja meski begitu pelan, suara Andi mampu membuat Safira, Angga dan Amara menoleh kearah suara Andi yang berada tidak jauh dari samping ranjang Safira.
"Kak Andi sudah siuman, Mih." Ucap Angga senang.
Begitu juga dengan Safira dan Amara begitu senang dan tersenyum bahagia.
"Kak Andi, syukurlah kak Andi sudah sadar." Ucap Amara, berjalan bersama Angga mendekat kearah ranjang Andi.
Safira turun dari ranjangnya, lalu menghampiri Andi dengan begitu pilu.
"Sayang, apa kamu masih merasakan kesakitan?" Tanya Safira begitu sedih dengan air mata yang sudah menetes dipipi cantiknya.
Angga membantu Andi untuk menggeser tubuhnya, agar bisa duduk bersandar di kepala ranjangnya.
"Terima kasih, dik."
"Iya, kak."
"Iya, Mih! Badan Andi rasanya begitu kaku, hikkz.. hikzz.."
"Iya, sudah. Kamu jangan banyak bergerak dulu, sebelum luka-lukamu membaik." Ucap Safira dengan menepuk dan mengusap punggung tangan Andi begitu lirih.
Angga dan Amara hanya bisa menatap iba kepada Andi, yang mungkin saja akan semakin hancur jika mendengar kenyataan pahit yang sudah menimpa istrinya.
__ADS_1
"Istri Andi kemana, Mih? Mutiara sekarang dimana, dik?" Tanya Andi kepada Safira dan Angga, karena dirinya menyadari telah ingat dengan apa yang dia lakukan sebelum musibah itu terjadi.
Safira tidak sanggup memgatakan kenyataan pahit yang sudah terjadi, dirinya sendiripun hampir tidak percaya dengan apa yang sudah menimpa menantu kesayangannya itu.
Angga dan Amarapun hanya terdiam dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan tangis yang seakan mendesak segera ingin keluar.
"Mih.. dik, Amara! Kenapa kalian hanya diam saja? Tolong jawab pertanyaanku! Hikkz.. hikzz.. hikkzz.. Mutiara... maafkan suamimu ini, yang sudah menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Aku menyesal sayang, aku cemburu, hikkz.. hikkzz... aku bodoh... aku cemburu buta, hikzz.. hikz..
Andi terus berkata-kata dengan menyesali segala tindakkannya. Dia seakan hilang rasa malu dan harga dirinya didepan keluarganya bahkan didepan Amara yang bukan siapa-siapanya. Kedua tangan Andi mengepal dan menghentakkannya di kasur ranjangnya dengan keras.
"Sabar, sayang. Semua ini sudah takdir, jangan pernah kamu menyalahkan diri sendiri." Ucap Safira menghentikan aksi tangan Andi, yang terus memukul kasur dengan keras.
Andipun seketika berhenti, kepalan tangannya mulai kembali terbuka. Safira merengkuh anak sulungnya itu dengan sayang, lalu mengusap punggung Andi dengan lembut dan menepuk-nepuknya untuk memberikan rasa nyaman dan tenang.
"Istrimu akan baik-baik saja, sayang. Kita serahkan kepada Allah, sang Maha Pencipta dan Penyayang. Kita berdoa yang terbaik dan jangan pernah tinggalkan doa untuk istrimu dalam sholat kita." Sambung Safira, saat Andi mulai tenang.
"Iya, Mih. Tapi, kenapa istriku tidak bersama kita? Kenapa dia dipisahkan? Apa lukanya, lebih parah dariku, Mih? Dik Angga dan Amara, kenapa kalian juga diam saja? Kenapa kaian tidak ada yang mau menjawab keadaan istriku yang sebenarnya?" Tanya Andi saat sudah mengurai pelukkannya dari tubuh Safira.
Ketiganya masih bungkam, masih mencoba mencari cara mereka menyampaikan keadaan Mutiara yang sebenarnya. Safira seakan ikut hancur saat melihat anaknya begitu cemas dan rapuh, saat mencari keberadaan istrinya yang sudah pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Kenapa kak Andi cemburu buta, kepada kakak ipar? Sebenarnya apa yang sudah terjadi, kak?" Tanya Angga yang membuat Andi kembali menangis.
"Kakak marah, dik. Kakak emosi dan cemburu saat melihat Mutiara sedang berpelukkan dengan Kelik didepan Perpustakaan tadi siang. Kakak tidak mau mendengar penjelasan Mutiara, hingga kakak membawa mobil dengan emosi dan melaju sangat cepat. Hikzz.. hikzz.. hikzz.." Ungkap Andi dengan gamblang seraya menangis pilu.
Angga, Amara dan Safirapun, hanya bisa menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan jujur Andi.
*******
Sofyan berjalan gontai bersama Ayah Mukhlis menuju ruang administrasi rawat inap pasien. Sofyan membayar biaya operasi Mutiara dan Mukhlis serta perawatan luka Andi.
Untuk biaya ICU, Sofyan memakai Asuransi kesehatan Mutiara lewat kartu Asuransi Perusahaan, yang memang dipakai untuk keluarganya.
__ADS_1
Biaya ICU dan obat-obatan setiap harinya menghabiskan sekitar sepuluh juta. Bisa dibayangkan jika biaya dikenakan oleh dana pribadi, begitu besar dan berat rasanya.
Ayah Mukhlis begitu shock saat mendengar biaya yang harus dikeluarkan sebesar sepuluh juta dalam setiap harinya. Berarti, jika koma yang dialami Mukhlis berbulan- bulan lamanya, berapa total biaya yang harus dibayarnya. Seakan tidak sanggup mendengar, tiba-tiba saja tubuh Ayah Mukhlis itu tumbang.
Dengan sigap, Sofyan menangkap tubuh Ayah Mukhlis karena dirinya tepat berada disampingnya.
"Tenang, Pak! Semua ini pasti ada jalan keluarnya. Jangan terlalu dipikirkan." Ucap Sofyan sesaat setelah duduk di bangku tunggu depan ruang pembayaran Administrasi.
"Hikzz.. hikzz.. biayanya sangat mahal, Tuan. Saya begitu kaget dan bingung bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak itu." Ayah Mukhlispun menangis sejadi-jadinya dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan baginya.
"Iya, Pak! Saya faham sekali dengan keadaan ekonomi Bapak. Semoga saja, semua ada jalan keluarnya. Nanti, bukankah Bapak akan datang ke Pabrik anak Bapak bekerja? Coba dulu saja mengajukan terlebih dahulu disana, jika tidak bisa Bapak boleh datangi saya."
"Baiklah, Tuan. Terima kasih, atas semua bantuan anda dan kebaikan anda kepada saya, hikzz.. hikkzzz.."
"Sama-sama, Pak! Jangan pernah sungkan, jika membutuhkan bantuan saya lagi." Ucap Tuan Dahlan menenangkan hati Ayah Mukhlis.
Ayah Mukhlispun tersenyum bahagia, sudah bisa mengenal orang baik seperti Tuan Dahlan.
"Mari Pak, kita kembali ke depan ruang ICU untuk menemui istri Bapak." Ajak Tuan Dahlan pada akhirnya.
"Baik, Tuan." Ayah Mukhlispun mengikuti ajakan Tuan Dahlan dengan mengangguk pelan.
*******
Seusai Dahlan menengok Mutiara sang menantu kesayangannya, hatinya begitu perih dan sakit. Tidak tega melihat kondisi Mutiara yang dipenuhi dengan alat bantu medis disekujur tubuhnya beserta mulutnya yang memakai alat bantu pernapasan.
"Mengapa semua ini harus menimpa anak kamu, Bagus sahabatku? Andai semua bisa ditukar, lebih baik aku saja yang mengalami derita anak gadismu, saat ini." Ucapnya dalam hati Dahlan terus berkecamuk dan merasa bersalah tidak bisa menjaga putri sahabatnya itu dengan baik.
Diapun teringat kepada istri sahabatnya Lanjar, kemudian Dahlan menghubunginya yang berada di Jogjakarta. Namun, Dahlan mengutus anak buahnya dua orang untuk menjemputnya kesana. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Lanjar yang hidup sendiri di Jogjakarta saat ini. Apa lagi jika dia tahu kondisi Mutiara yang sedang terbaring koma diruang ICU, Dahlan tidak sanggup membayangkannya.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--jù