
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di Rumah Sakit.
Papi Dahlan menceritakan tentang kejadian tadi pagi hingga sore mengenai anak bungsunya Angga terhadap menantunya Mutiara.
Papi Dahlan menceritakan bagaimana dekat dan perhatiannya Angga, kepada Kakak iparnya. Ada cinta dimata Angga untuk Mutiara, kakak iparnya sendiri.
Mami Safirapun shock bukan main saat mendengar cerita suaminya, mengenai huhungan Angga yang terlampau dekat dengan kakak iparnya itu.
"Mih.. lebih baik mulai besok Andi dan istrinya, kita suruh tinggal di Apartementnya atau rumah yang baru kita beli tahun kemarin."
"Boleh sih Pih, kalau Andinya mau. Tapi, emangnya Papi sudah yakin benar, kalau Angga mempunyai perasaan istimewa kepada Kakak iparnya itu?"
"Papi yakin Mih, Papi ini seorang Pria, jadi tahu bagaimana menyukai dan tidaknya seorang pria terhadap wanita. Kalau Angga tidak menyukainya, mana mungkin dia bersikap sangat baik dan perhatian, sampai memeluk Kakak iparnya di depan Papi, dengan wajah bersemu merah dan menahan hasrat ingin memiliki begitu erat dia memeluknya."
"Betul juga Pih, kalau begini sih tidak bisa kita biarkan. Pernikahan Andi baru saja tiga hari, masa harus kandas gara-gara Angga adiknya. Mami pikir, Angga sengaja membuat Kakaknya cemburu saja, agar tahu ada cinta Andi untuk istrinya. Ternyata, semua diluar perkiraan dan rencana Mami." Ujar Mami safira dengan gamblang.
"Nah 'kan betul tebakan Papi!"
"Tadi sore juga saat Andi dan Mami hendak berjalan kesini, Andi sempat menolak untuk mengantar istrinya pulang. Namun Angga seperti kelihatan senang, lalu menegaskan bahwa ada dia yang akan mengantarnya Pih. Namun, Mami engga peka dengan maksud dan tujuan Angga bersikap demikian."
"Iya.. begitulah kaum wanita, kadang tidak peka sama kaum pria. Seperti saat ini, Papi sangat merindukan sentuhan Mami, tapi Mami sangat tidak peka. He.. he.. he.." Ucap Papi Dahlan seraya menarik istrinya untuk duduk diatas kedua pahanya menghadap dirinya.
"Biarkan seperti ini, istriku sayang, cup.. cup.. cup.." Pinta Papi Dahlan seraya menciumi seluruh wajah dan bibir istrinya dengan gemas dan menuntut.
"AIissh.. Pih, Mami malu iich kalau harus ber cinta disini. Lebih baik besok Papi pulang saja kerumah, biar puas kita ber cinta, kalau disini engga bebas. Lepasin pih, geli tahu iich.." Safira ingin melepaskan diri dari kungkungan suaminya, namun tenaga suaminya terlalu kuat. Hingga akhirnya, diapun pasrah menerima serangan suaminya dan ikut menikmati permainannya.
__ADS_1
*******
Andi berpura-pura sudah tidur di kasurnya, dia tidak ingin menyapa atau mengomel masalah istrinya pulang selarut ini. Dirinya tidak ingin membuang tenaga, untuk mengomel malam ini.
Mutiara mengetuk pintu kamarnya, namun tidak ada sahutan. Dia lantas mencoba membuka handel pintu, ternyata tidak dikunci.
"Assalamu'aaikum, eeh.. Mas Andi sudah tidur ternyata. Wajar sih sudah tidur, lagi pula sudah malam juga." Mutiara bergumam pelan, namun masih terdengar oleh telinga Andi.
Mutiara menyimpan tas selempangnya, kemudian dia mengambil pakaian tidurnya dari tas besarnya. Lalu dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, hanya cuci muka dan gosok gigi serta membersihkan bagian penting miliknya saja.
Mutiara keluar dari kamar mandi sudah lebih fresh dan wangi setelah selesai berganti pakaian tidurnya.
Mutiara melihat secangkir kopi yang tinggal setengah, lalu mendekatinya dan mengambil cangkir itu untuk menaruhnya kedapur.
"Mas Andi minum kopi? Tapi kopinya engga dihabiskan? Biasanya, kalau aku minum kopi hitam seperti ini, aku tidak bisa tidur. Bahkan aku cenderung begadang semalaman. Tapi, Mas Andi tidak berpengaruh sepertinya." Mutiara bergumam pelan, tapi tetap masih terdengar oleh Andi.
Mutiara keluar kamar dengan membawa secangkir kopi, dia hendak ke dapur. Lalu dia membuang sisa kopi itu, lalu mencuci cangkirnya.
Mutiara membalikan tubuhnya saat mendengar suara Angga memamggilnya. Dia melihat Angga sedang minum dengan bertelanjang dada hanya menggunakan celana bo xernya saja.
Dada bidang dengan perut sixpak seperti roti sobek, sungguh membuat Mutiara kesulitan menelan salivanya. Bahkan Angga yang sedang minum saja, terlihat keren dimata Mutiara. Sontak saja, Mutiara menutup kedua matanya, dengan jari-jari tangannya.
Angga yang melihat Kakak iparnya malu, langsung melangkahkan kakinya maju kearahnya, lalu mendekatkan wajahnya di depan wajah Mutiara yang sedang ditutup oleh kedua tangannya.
"Kakak ipar kenapa? Kenapa matanya ditutup? He.. he.. gagal fokus yah, Kak? Iya sudah deh, Angga pakai baju dulu ke kamar."
Karena tidak ada jawaban dari Kakak iparnya, Anggapun berbisik ditelinga Kakak iparnya itu. "Kakak ipar selamat tidur yah, mimpi indah. Jangan begadang, tidak baik untuk kesehatan."
__ADS_1
Tanpa mendengar jawaban Kakak iparnya yang masih menutup kedua matanya, Anggapun berjalan meninggalkan Kakak iparnya dengan menggelengkan kepalanya gemas.
"Andai saja Mutiara bukan Kakak iparku, malam ini juga aku akan mengukungmu dan menciumu Mutiara. Sungguh aku pria jahat, bisa-bisanya berpikir seperti itu. He.. he.. he.." Angga bergumam pelan seraya terkekeh sendirian.
Mutiara membuka jari tangannya dari mata indahnya, lalu diapun bisa bernapas dengan lega. "Akhirnya dia pergi juga. Bahaya kalau dekat-dekat sama Angga, bisa-bisa aku salah tingkah dibuatnya." Mutiara bergumam pelan seraya meninggalkan dapur itu.
Mutiara berjalan kearah pintu kamarnya, dia melihat keseluruh sudut rumah. Semua nampak sepi dan hening. Semua ART dan penghuni rumah itu sudah tidur, hanya dirinyalah yang masih terjaga, pikirnya.
"Jeglek." Bunyi pintu kamar terbuka.
Mutiara masuk kedalam kamarnya, dengan perlahan dan berjalan mengendap-endap. Lalu dia mendekati ranjang suaminya, untuk mengambil bantal dan selimutnya.
Mutiara akan tidur di sofa seperti biasanya, diapun hendak mengambil selimut dan bantal untuk dibawanya ke sofa.
Mutiara memandangi suami tampannya yang sedang tertidur lelap, pikirnya.
"Mas Andi... maaf yah, kalau saya pulang terlalu malam. Maaf.. kalau saya tidak bisa mengerti dengan sikap Mas Andi. Saya akan penuhi janji kita, untuk tetap merahasiakan pernikahan kita sampai enam bulan ke depan. Saya akan berusaha kuat Mas, demi cita-cita saya dimasa depan. Hikkzz.. hikkzz.. hikk.."
Dengan isak tangis air mata yang mengalir tanpa permisi, sudah membasahi wajah cantik Mutiara.
Mutiara langsung berjalan meninggalkan suaminya, dia membaringkan tubuhnya disofa. Setelah dia sudah mengantuk, diapun memejamkan matanya untuk menyambangi mimpinya.
Andi membuka matanya perlahan, sudah mulai berkaca-kaca, lalu bangun dari posisi tidurnya. Dia mendengar semua apa yang diucapkan oleh istri bocilnya itu.
Andi turun dari ranjangnya, lalu berjalan mendekati istrinya yang sedang tidur disofa. Dia memandangi wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, seraya tersenyum dengan air mata yang mulai tumpah membasahi pipinya.
"Bocil.. maafkan Mas Andi yah." Hanya itu yang bisa Andi utarakan dari hatinya, hanya kata maaf saja dengan senyum dalam tangisnya.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....