
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Angga sedikit mendengar gumaman Aldi sahabatnya, namun kurang begitu jelas. Diapun penasaran hingga bertanya kepada Aldi, apa yang baru saja dia gumamkan.
"A-aku engga ngomong apa-apa, Ga! Kenapa emang?" Ucap Aldi gugup saat Angga melontarkan pertanyaan yang baru saja dia gumamkan.
"Engga, ah. Tadi aku dengar sedikit kalau kamu bergumam menyukainya. Siapa maksudnya? Siapa yang kamu sukai, Al?" Tanya Angga mempertegas kalimat yang digumamkan Aldi, Angga begitu penasaran.
"Ha.. ha.. ha.. maksud kamu, aku ngomong suka sama seseorang, gitu bukan Ga?" Tawa Aldi menutupi rasa canggungnya.
"Huem.. kamu sedang menyukai seseorang, dari kemarin selalu seperti itu. Tapi, kamu tidak pernah memberitahuku dan mengenalkannya kepadaku."
"Belum saatnya, Ga! Aku tidak berharap, wanita itu akan membalas perasaanku juga. Wanita itu sudah memiliki kekasih, Ga. Aku tidak ingin menyakiti keduanya." Ujar Aldi menatap kearah Amara berada, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hei.. kamu menangis, bukan Al? Ha.. ha.. ha.. ternyata hati kamu itu sungguh melow yah, Al. Mudah sekali menangis."
"His.. kamu juga sama saja, memangnya aku tidak tahu, kalau kamu juga suka menangis karena wanita."
"Ha.. ha.. ha.. iya, kita sama-sama melow kalau urusan wanita."
"Ha.. ha.. ha.." Aldipun ikut tertawa menutupi rasa hatinya yang merasa bersalah sudah memiliki perasaan kepada wanita yang merupakan kekasih sahabatnya sendiri.
"Maafkan aku ya, Ga!" Tiba-tiba saja Aldi meminta maaf.
"Maaf? Untuk apa, Al? Kenapa kamu meminta Maaf?" Tanya Angga merasa heran dan aneh.
"Maaf, sudah terlihat cengeng dan lemah dihadapan kamu." Ucap Aldi menutupi kebohongannya.
"His.. lebay kamu, Al. Aku 'kan sahabat kamu, wajarlah kamu nangis, sedih dan tertawa kayak gini. Tapi malu dilihatin adik kelas, sudah usap air mata kamu tuh. he.. he.. he.."
Sontak saja semua adik junior yang awalnya sedang berdiskusi kelompok, beralih perhatian kepada sosok Angga dan Aldi yang tertawa sedikit keras.
"Tuh..'kan! Apa aku bilang? Mereka melihat kearah kita." Tutur Angga yang merasa semua adik kelasnya sedang menatap kearahnya.
"Huuh.. itu sih, gara-gara kamu tertawa begitu keras." Omel Aldi, semua gara-gara Angga yang menertawakannya.
"He.. he.. he.. iya, gara-gara aku deh, puas!" Kekeh Angga mengakui.
"Maaf yah adik-adik, kalau suara kami mengganggu diskusi kalian." Ucap Angga berdiri didepan kelas, sedangkan Aldi hanya tersenyum manis tanpa bangkit dari tempat duduknya.
"Tidak apa-apa, kak Angga." Sahut adik juniornya dengan lantang.
"Okey, terima kasih."
Angga berjalan kearah meja Amara dengan mengulum senyum, sedangkan Amara masih terlihat kesal dan jutek.
"Kenapa, sayang? Wajah kamu menggemaskan kalau jutek seperti itu!" Bisik Angga setengah menunduk didepan telinga Amara.
Sontak saja para calon Mahasiswa putra dan putri langsung riuh dan menyoraki mereka.
__ADS_1
"Cie.. cie.."
"Wadidau.."
"Uhuk.. uhuk.."
"So sweet.."
Seketika saja, wajah Amara merona merah menahan malu, akibat ulah sang kekasih yang membuat dirinya disoraki oleh teman-temannya.
Anggapun kembali keposisi berdiri dan berjalan kedepan kelas dengan tersenyum kecil, lalu menaruh tangan kanan didepan mulutnya. "Eehem.. sudah cukup, jangan ada yang berisik lagi." Angga berdehem demi menghentikan suara-suara riuh yang berasal dari adik-adik kelasnya.
Kelaspun kembali tenang, saat Angga berdehem untuk tidak bersuara.
"Sekarang, apa ada yang mau ditanyakan? Bagaimana dengan hasil diskusi kalian yang akan dijalankan, untuk acara hari jumat besok? Silahkan dijawab oleh salah satu perwakilan kelompok."
"Saya, kak..!" Ucap Nabila mengacungkan jari telunjuknya keatas.
"Iya.. silahkan, adik Nabila."
"Bagaimana kalau acara kemah tersebut, dilakukan di daerah Bogor saja? Tempatnya tidak jauh-jauh dari Jakarta ini, kak."
"Iya, benar kak Angga. Masa kemahnya hanya disekitaran kampus saja, engga seru dong." Ucap Puji menimpali.
"Usulan saya save ya, dik Nabila dan dik Puji." Ucap Angga dengan mengangguk kecil.
"Iya.. benar tuh, kak! Kita setuju kemahnya ke Bogor saja." Ucap calon Mahasiswa yang lainnya ikut bersuara.
"Hore...!" Sorak riang para calon Mahasiswa satu kelas tersebut.
"Tapi, seandainya ditolak, kalian jangan kecewa ya. Karena kita berkemah bukan hanya kelas ini, masih ada kelas-kelas yang lainnya."
"Okey, kak!"
"Teeeeetttttt..." Bunyi bell istirahat.
"Iya.. sudah, sekarang waktunya kalian istirahat, bell istirahat sudah berbunyi. Selamat beristirahat semuanya, jangan terlambat kembali kekelas ya."
"Baik, kak!" Ucap semua calon Mahasiswa sekelas dengan keras.
*******
Rayhan menghubungi Asyafa yang sedang bermain dengan kedua anaknya dirumah Alya, kebetulan Alya dan Damar habis syukuran rumah barunya.
"Rumah kalian nyaman sekali loh, kalian pintar mencari rumah didaerah sini." Kagum Asyafa saat melihat-lihat isi rumah Alya dan Damar yang baru satu minggu mereka tempati.
"Ini semua Damar yang pilih, Sya. Dia paling jago memang kalau urusan rumah." Jelas Alya memuji Damar suaminya.
"Drrt.. drrt.. drrt.." Getar ponsel Asyafa.
__ADS_1
"Sebentat ya, Alya, Damar. Aku akan angkat telponnya sebentar." Izin Asyafa.
"Silahkan, Sya." Ucap Alya, lalu diangguki oleh Damar.
Sementara Asyafa sedang menelpon, Alya dan Damar mengajak bermain anak cantiknya bersama kedua anak kembar Asyafa yang tampan dan pintar.
"Tante.. adik Aymaiya boyeh aku gendong tidak?" Tanya Raka dengan suara cadelnya, yang memang suka sekali dengan adik kecil.
"Jangan, Raka! Kata momie dan Dadie, kita masih beyum boyeh gendong adik Aymaiya." Cegah Riko dengan suara cadelnya.
Seketika saja Raka terdiam dan mengerucutkan bibirnya, karena keinginannya tidak terpenuhi.
Alya dan Damar yang melihat Raka nampak bersedih, diapun mengizinkan Raka untuk memangku Almaira sebentar saja dengan didampingi oleh Alya disampingnya.
"Pih.. ambil photo dong, kami berempat." Pinta Alya.
"Okey."
Damarpun mengambil camera digitalnya dari dalan tas yang tersimpan didalam lemarinya, lalu membidikan gambar kearah mereka berempat yang terlihat cute dan sweet.
"Clik..!
Beberapa photo sudah diambil lalu disave oleh Damar.
"Waah.. sedang berphoto kalian ya, asiknya." Ucap Asyafa yang baru saja kembali sesaat habis menerima panggilan telponnya.
"Ayo, Sya. Kita berphoto lagi." Ajak Alya senang.
"Nanti saja, Al. Kita bisa berphoto dilain waktu."
"Okey, tapi kenapa wajahmu terlihat bersedih, Sya?" Tanya Alya yang melihat wajah Asyafa nampak berbeda dari sebelumnya.
"A-andi kecelakaan, Al. Sekarang mereka sedang dirawat dirumah sakit, istrinya mengalami koma."
"Astagfirullohalazim.. apa aku tidak salah dengar, Sya?" Alya terkejut dengan apa yang baru saja Asyafa katakan.
Begitu juga dengan Damar, yang sama-sama shock dengan berita yang menimpa sahabatnya itu.
"Iya.. Al, sungguh. Suamiku yang baru saja menghubungiku, katanya dia akan kerumah sakit nanti, sekalian menjemputku. Dia bersama Dosen yang lainnya akan langsung kerumah sakit soalnya. Ayo, kita langsung kesana saja."
"Baiklah, ayo kita siap-siap." Ucap Alya pada akhirnya.
"Biar Raka dan Riko disini saja bersama Mbo Ayu, yah." Ucap Asyafa memberi pengertian kepada dua anak kembarnya.
"Baik, Momie." Ucap Raka dan Riko menurut.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--