
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Sekembalinya Andi dan Mutiara dari restoran, mereka hanya diam disepanjang perjalanannya menuju Apartementnya.
Mutiara nampak murung dan tidak bersemangat, namun Andi masih saja bingung dengan sikap Mutiara yang mendadak dingin semenjak acara makan direstoran tadi.
Andi mencoba mengajak berbicara istrinya, namun hanya anggukan dan gelengan kepala yang diberikan oleh Mutiara.
Andi heran dan mendadak resah, mendapati istrinya yang tiba-tiba berubah 180 derajat dari biasanya.
Kadang Andi berpikir apa ada sangkut pautnya dengan ucapan Kelik tadi direstoran, yang menyebut dirinya sedang patah hati dan hancur.
Andi mencoba menepis rasa curiga dihatinya, jadi dia bersikap biasa saja didepan istrinya tanpa menunjukkan rasa curiga sedikitpun.
"Sayang, ayo turun." Ucap Andi saat membukakan pintu mobilnya, di area parkir mobil didepan Apartementnya.
"Huem.." Mutiara hanya bergumam pelan, seraya mengulurkan tangannya kearah Andi yang sudah menyambutnya.
"Apa kamu sedang sakit? Kenapa kamu mendadak ingin pulang, disaat kita sedang menikmati makan bersama dengan pemilik Universitas tempat Mas mengajar?" Tanya Andi merasa heran.
"Aku sedang tidak enak badan, Mas." Dusta Mutiara masih menutupi apa yang sedang dia rasakan.
"Iya sudah, nanti kita berobat saja, sayang." Ucap Andi sambil membawa istrinya berjalan ke pintu Apartementnya.
"Tidak usah, Mas. Kalau aku sudah tidur dan beristirahat juga akan membaik." Ucap Mutiara seraya berjalan memasuki kamarnya.
"Huem.. kamu yakin, sayang? Aku khawatir sama kamu, sayang." Kejar Andi menyusul istrinya yang sedang rebahan dikasurnya.
"Iya Mas, terima kasih. Maafkan aku, hikkz.. hikkzz..." Ucap Mutiara tiba-tiba saja menangis.
"Sebenarnya ada apa sih, sayang? Ada apa denganmu? Mengapa kamu mendadak sedih seperti ini?" Tanya Andi seraya membawa istrinya kedalam pelukkannya.
Mutiara tidak bisa menjawab pertanyaan Andi yang beruntun. Dia hanya menggelengkan kepalanya seraya menangis tersedu-sedu, didalam dekapan suaminya.
"Sayang, apa kamu sudah mengenal Kelik sebelumnya?" Pertanyaan Andi yang begitu tiba-tiba.
"Deg.. deg.. deg.."
Denyut jantung Mutiara tiba-tiba saja berdetak lebih cepat, dia semakin gugup untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"A-anu, Mas Andi tahu dari mana kalau aku kenal Kelik sebelumnya?" Tanya Mutiara tergagap.
__ADS_1
"Dari seragam sekolah kalian, aku lihat sama SMA Pasung Yogyakarta."
"I-iya, Mas."
"I-iya, benar 'kan tebakkanku? Tapi kenapa Kelik memperhatikan kamu terus, tadi siang ya? Seperti sedang menyimpan kerinduan yang begitu dalam? Dia selalu berkata, saya sedang patah hati dan hancur. Apa maksud dari ucapannya ya, sayang?" Cecar Andi dengan pertanyaan yang membuat Mutiara bungkam seribu bahasa.
"Eem.. i-itu.. hikzz.. hikzz.. hikzz.." Mutiara hanya bergumam seraya menangis kembali saat tidak bisa menjawab pertanyaan suaminya.
"Apa dia pria yang pernah dekat denganmu, sayang? Atau jangan-jangan dia mantan pacar kamu?" Tanya Andi mendesak.
"Deg.. deg.. deg.."
Jantung Mutiara lagi-lagi berdenyut lebih cepat, dengan debaran yang begitu hebat. Seakan dirinya ingin menghilang saat ini juga dari hadapan suaminya, untuk menghindari pertanyaan yang dia pikir begitu menakutkan.
"M-mas Andi kenapa bisa berpikir seperti itu?"
"Aku seorang laki-laki, sayang. Aku tahu pria yang baru mengenal dengan pria yang sudah lama kenal dan pernah dekat dengan seorang wanita. Batin suami itu lebih peka, jika istrinya ada menyembunyikan sesuatu. Jujurlah, aku akan siap mendengarkannya." Ungkap Andi dengan begitu bijaknya.
"Hikkzz.. hikkzz.. hikkzz.. K-kelik a-adalah p-pacarku di SMA dulu, Mas." Tangis Mutiara semakin pecah dengan suara yang terbata.
"Hu'emmmm.. aku sudah menduganya, sayang." Ucap Andi santai semakin mengeratkan pelukkannya.
"A-apa? Mas Andi sudah menduga kalau Kelik adalah pacar aku?" Tanya gugup Mutiara mengurai pelukkannya, lalu mendongakkan kepalanya demi untuk melihat wajah suaminya yang nampak begitu santai saat mendengar jawaban atas pertanyaannya.
Andi percaya istrinya akan setia kepadanya, meski dia baru menikah dan diawali dengan tidak baik. Tapi, dengan berjalannya waktu perasaan cinta itu tumbuh dan saat ini adalah saat cinta mereka sedang kuat-kuatnya dan begitu dalam.
"Terima kasih, Mas Andi sudah percaya kepada aku. Apa Mas Andi tidak cemburu?" Tanya Mutiara, menatap wajah Andi yang sedang tersenyum kepadanya.
"Cemburu, sayang! Memangnya Mas tidak terlihat cemburu, dari tadi siang hingga kini? Mas itu sangat cemburu, saat mata Kelik begitu dalam menatap dan memandangi wajah kamu. Tapi, Mas tidak mau menunjukkan rasa cemburu dengan brutal."
"Maksudnya?"
"Iya, Mas menghargai ada Tuan Brawijaya Cipto Roso dan juga Angga bersama Amara. Mas juga pernah berada diposisi Kelik dulu, saat mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain."
"Pasti kak Asyafa atau kak Alya? Benar 'kan?" Tebak Mutiara dengan mendelikkan matanya, saat menyebut nama mereka.
Sontak saja Andi langsung tercekat mendengar kedua nama gadis yang disebutkan istrinya itu. "Haah? Kamu tahu dari siapa tentang Asyafa dan Alya, heum?"
"Eeem.. kasih tahu engga ya!" Seru Mutiara nampak berpikir dengan mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuk tangan kanannya.
"Hiss.. kelamaan, ayo ngaku!" Decak Andi seraya mengelitiki pinggang istrinya.
__ADS_1
"Aaawh.. hi.. hi.. geli Mas.. hi... hi.. aaawh... iya.. iya, aku tahu dari dik Angga."
Mutiara tidak bisa menahan rasa geli diseluruh tubuhnya saat suaminya terus menyerangnya dengan mengelitiki tubuhnya diarea titik sensitive rasa geli tersebut.
"Dik Angga? Mulut ember dia itu! Memang dasar dia itu, tidak bisa menjaga rahasia kakaknya." Rutuk Andi kesal kepada Angga, dengan mengerucutkan bibirnya.
Dia sering curhat sama adik satu-satunya itu, tentang wanita yang pernah dekat dan disukainya. Tapi, tidak menyangka adiknya membongkar tentang masa lalunya kepada istrinya yang tanpa seizin dirinya.
"Hi.. hi.. hi.. biasa saja kali bibirnya, engga usah dimanyunin gitu. Memangnya kenapa kalo dik Angga cerita sama aku, Mas? Memangnya tidak boleh, huem?" Tanya Mutiara dengan wajah menggemaskan.
"Bukan begitu, aku takut kamu cem.. Eempptthh..." Ucap Andi terhenti, saat Mutiara mendaratkan ciuman dibibir suaminya. Bibir Mutiara membungkam bibir Andi dengan begitu lembutnya. Mata Andi membulat sempurna, saat istrinya begitu pandai membelit lidahnya dan bermain-main didalam rongga mulutnya.
Setelah puas, Mutiara melepaskan bibirnya dari bibir Andi yang sudah bermain-main disana dengan begitu lincahnya.
Mutiara tersenyum kecil, saat melihat suaminya seperti tercekat saat mendapatkan serangan darinya.
"Kamu sudah berani nackal ya, sayang? Orang lagi kesal malah kamu berani sekali menyerang suamimu ini, heum? Mau aku balas, heum?" Tanya Andi menarik dagu istrinya dengan perlahan.
Mutiara hanya tersenyum manja dengan menyipitkan matanya, saat suaminya itu mengancam akan membalas serangannya.
"Hiss.. nantangin ya! Kalau begitu terima serangan suami kamu ini, heum.."
"Tunggu.." Ucap Mutiara mendorong wajah suaminya, saat hendak mendekatkan bibirnya.
"Kenapa? Takut, heum?"
"Bukan! Aku mau mandi, aku sudah gerah."
"Hiss.. Mas ikut, sayang."
"Ya sudah, kita mandi berdua."
"Asik.. sambil anu ya, sayang?"
"Hiss.. Nackal!"
"Biarin.. nackal! Sama istrinya sendiri ini, he.. he.. he.."
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--