Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 69


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Sore ini mereka baru saja menjalani ospek hari pertama, sebagai calon Mahasiswa di Universitas milik keluarga Brawijaya Cipto Roso.


Andi sengaja menunggu ospek Mutiara berakhir, di depan kelasnya. Dengan duduk tenang dan sambil memainkan ponselnya.


Hari pertama mereka Ospek hanya perkenalan diri dan bakat, lalu membuat cerpen pengalaman selama dibangku sekolah SMA, hingga sampai memutuskan kuliah di Universitas tersebut.


Tanpa disengaja Rayhan melewati kelas dimana Andi sedang asik dengan ponselnya, tanpa menyadari keberadaannya.


"Eeheem.. asik banget, sampai tidak melihatku yang berada dihadapanmu!" Seru Rayhan berdehem.


"He.. he.. he.. kalau sudah bermain ponsel, kenapa bisa lupa waktu dan tidak sadar dengan keadaan sekitar ya, Ray?" Kekeh Andi menyalahkan ponselnya.


"Iya.. memang seperti itu sekarang sudah zamannya, mungkin."


"Ha... ha.. ha.. iya, sudah zamannya sekarang dimana-mana hampir semua orang tidak terlepas yang namanya ponsel, dari anak muda sampai orang tua. Bahkan anak kecil sekarang, sampai miris aku melihatnya, pandai sekali bermain ponsel."


"Iya.. anak kembarku saja, Raka dan Riko pandai sekali bermain ponsel, meski usia mereka baru menginjak lima tahun. Tapi, kadang aku dan Asyafa suka batasi waktu mereka untuk bermain ponsel."


"Memang harus diberi pengertian dan batasan waktu saat bermain ponsel, Ray. Oh.. iya, Raka dan Riko sudah sekolah ya?"


"Sudah, Ndi. Mereka sekolah taman kanak-kanak. Setiap hari antar jemput sama momienya."


"Waah.. Asyafa semakin repot dong, Ray. Kalau tiap hari antar jemput ke sekolah si kembar."


"Sangat repot, Ndi. Apa lagi kalau sedang datang rasa malas sikembar untuk bangun pagi, kadang-kadang merayunya sampai tidak ketulungan, ha.. ha.. ha..."


"Ha.. ha.. ha.. engga kebayang liat wajah Asyafa yang sedang repot dan bawel pastinya."


"Bawel dan pintar cari ide, Ndi. Istriku banyak sekali idenya, biar bisa merayu anak kembar kami untuk bangun pagi kesekolah."


"Ha.. ha.. ha.. memang dari dulu dia itu selalu punya ide brilian, Ray. Kamu beruntung bisa menikahi Asyafa, sahabatku."


"Iya.. Ndi, Alhamdulillah aku sangat beruntung bisa mencintai dan dicintai oleh istriku yang pintar dan baik." Ujar Rayhan tersenyum membayangkan wajah istrinya. Begitu juga Andi turut bahagia, melihat suami sahabatnya itu sangat baik dalam menjaga istri dan anaknya.


"Apa sikembar belum dikasih adik lagi, Ray?" Tanya Andi disaat Rayhan termangu, membayangkan wajah istrinya dan akhirnya diapun sedikit tersentak kaget.


"Eeh.. iya, Asyafa dan aku maunya sih kasih adik buat sikembar, tapi masih repot untuk saat ini. Mungkin kalau sudah masuk SD kepingin kasih adik yang cantik untuk sikembar, he.. he.. he.."


"Iya.. semoga dikabulkan oleh Allah, Ray. Setiap niat baik pasti akan didengar oleh sang pencipta."


"Aamiin.. ! Oh.. iya, apa kamu belum pulang jam segini? Bukankah kamu sudah habis jam mengisi mata kuliahnya?"


"Aku sedang menunggu istriku, Ray."


"Istrimu?"

__ADS_1


"He'um..!"


"Kuliah disini?"


"Iya.. istriku kuliah disini, baru hari pertama mengikuti ospek, Ray."


"Uuwhahaha.. ternyata benar ya, gadis yang kamu nikahi itu kemarin anak gadis baru lulus SMA?"


"Huuus.. jangan terlalu keras ngomongnya, nanti terdengar oleh teman-teman istriku. Takutnya istriku tidak nyaman, teman-temannya kepo, tentang status istriku." Cegah Andi agar Rayhan mengecilkan suaranya yang tertawa dan meledeknya.


"He.. he.. iya.. iya, Ndi."


"Eeheemm.. Assalamu'alaikum."


"Eeh.. Wa'alaikumussalam." Sahut Rayhan dan Andi bersamaan.


Mereka tidak menyadari Mutiara yang sedang menghampirinya, saking asiknya berbincang-bincang.


Mutiara kemudian menyalimi punggung tangan suaminya dengan takzim, lalu Andi mengecup kening Mutiara dengan begitu mesra.


Rayhan hanya tersenyum, melihat kemesraan mereka yang sederhana, namun begitu penuh makna.


"Maaf, Ray! Sudah kebiasaan kami jika seharian tidak bertemu." Ucap Andi dengan senyuman canggungnya. Begitupula dengan Mutiara terlihat malu dan merona pipinya.


"It's okey, Ndi. Akupun seperti itu, jika baru bertemu istriku. Bahkan, sikembar saja sudah terbiasa melihat kemesraanku dengan Momienya, he.. he.. he.."


"Ha.. ha.. Oh iya, Ray." Ucap Andi tertawa, sedangkan Mutiara hanya tersipu malu.


"Iya.. Ray, salam buat sikembar dan Momienya dari kami, Ray."


"Okey.. by.. by!" Seru Rayhan melambaikan tangan. Kemudian Andi dan Mutiarapun tersenyum dan membalas lambaian tangan Rayhan.


"Itu siapa, Mas?"


"Rayhan, Dosen di kampus ini. Ingat tidak, saat resepsi pernikahan kita? Dia bersama istri dan dua anak kembar laki-laki yang masih kecil, lucu dan tampan."


"Oh.. anak kembar yang wajahnya blasteran itu Mas?" Tanya Mutiara sedikit mengingatnya.


"Iya.. mereka bule, mirip Momie dan Dadienya."


"Iya.. aku ingat, Mas. Kak Asyafa, bukan?" Ujar Mutiara yang mengingat nama Asyafa.


"Kamu ingat nama Asyafa?" Tanya Andi begitu shock.


"He'um.. ingat dong! Kak Asyafa 'kan, gadis yang special dihati Mas Andi dulu."


"Deg.." Denyut jantung Andi berdebar sangat hebat, dia berpikir bagaimana istrinya bisa tahu Asyafa adalah gadis special dihatinya dimasa lalu.

__ADS_1


"Kaget ya, Mas? Hi.. hi.. hi.. biasa saja wajahnya, Mas. Jangan tegang gitu dong!"


"Eeh.. tidak, sayang! Kamu tahu darimana tentang Asyafa?" Tanya Andi penasaran.


"Huss.. sudah tidak usah dibahas, ayo kita pulang. Memangnya, Mas Andi mau disini terus, tidak mau pulang, heum?" Ujar Mutiara mengalihkan pertanyaan suaminya.


"He.. he.. he.. iya, ayo, sayang." Andi terkekeh, namun masih penasaran pada istrinya yang mengingat nama Asyafa, sahabatnya. Lalu menggandeng istrinya berjalan menuju parkiran.


"Hai.. kak Andi dan Mutiara." Sapa Amara yang berpapasan saat Amara dan Angga baru saja keluar dari dalam kelas.


"Hai juga... Amara, dik Angga." Sapa Andi dan Mutiara bersamaan.


"Kirain kalian sudah pulang dari tadi?"


"Belum, tadi ada temannya Mas Andi sedang berbincang. Kamu sendiri kenapa baru keluar kelas?" Tanya Mutiara balik.


"Ooh.. Itu, tadi aku temani kak Angga periksa hasil cerpen kelompok kita dulu."


"Ooh.. iya."


"Ayo, sayang. Kita langsung pulang keapartement atau cari makan dulu?"


"Terserah Mas Andi saja, aku ikut."


"Okey.. ! Kita cari makan saja. Kalau kalian langsung pulang atau mau cari makan dulu?"


"Kita ikut saja, kak." Sahut Angga, lalu diangguki oleh Amara.


Akhirnya merekapun berempat menuju parkiran, lalu melajukan mobilnya membelah jalanan menuju restauran yang sudah di rundingkan sebelumnya, ketika Angga dan Andi hendak memasuki mobilnya masing-masing.


Sesampainya di restauran, mereka langsung menuju tempat duduk yang ternyata sudah begitu ramai pengunjung. Akhirnya, ada satu ruangan kosong yang masih belum terisi. Merekapum menuju kesana dan langsung menempati tempat duduk yang kosong tersebut.


"Permisi, mohon maaf Tuan dan Nona, meja ini sudah dipesan oleh orang lain, jadi mohon maaf untuk mengosongkan meja ini." Tutur Waitress itu dengan sopan.


"Ooh.. begitu ya! Maaf kami tidak tahu, soalnya diluar mejanya penuh. Kami kira meja ini kosong, belum ada yang pesan." Ujar Andi ramah.


"Iya, Tuan.. tidak mengapa." Ucap Waitress itu mengerti dengan mengangguk kecil.


Akhirnya merekapun hendak keluar dari ruangan tersebut, namun berpapasan dengan seorang boss besar, yang tidak lain adalah pemilik Kampus tempat Andi mengajar.


"Tuan Brawijaya Cipto Roso" Bathin Andi berucap.


Sedangkan Angga dan Amara melongo, melihat Boss besar bersama Kelik dan dua orang ajudannya.


Mutiara dan Kelik saling bersirobak saat berpapasan, seketika saja mereka bergeming untuk sesaat.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2