Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 75


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Angga segera menghubungi Mami Safira dan Papi Dahlan, setelah mendapat kabar dari seseorang yang sedang membawa sang kakak kerumah sakit akibat kecelakaan yang menimpanya.


Keduanyapun langsung mendatangi rumah sakit, yang dimaksud oleh orang yang menolong Andi dan Mutiara.


Mami Safira dan Papi Dahlan yang memang sedang meeting diperusahaan, begitu tercekat saat mendengar kabar anak sulung dan menantunya sudah mengalami kecelakaan.


"Ya Allah, Pih. Hikkz.. hikkz.. hikkz.. bagaimana keadaan mereka? Mengapa Andi dan Mutiara bisa mengalami kecelakaan ini?"


"Papi juga tidak mengerti Mih, lebih baik kita langsung ke rumah sakit saja."


"Iya, Pih. Hikkzz.. hikkz.. hikkz... tapi, Mami rasanya berat melangkah, kepala Mami pusing."


"Mami yang kuat, jangan terlalu berat pikirannya. Kita berdoa semoga keduanya, akan baik-baik saja. Anak dan menantu kita akan selamat dari kecelakaan itu."


Dahlan berusaha menenangkan istrinya, yang sedang begitu shock dan menangis pilu. Dahlanpun akhirnya memberikan segelas air minum untuk istrinya tersebut.


"Mami sayang, minumlah dulu airnya, agar lebih tenang," Ujar Dahlan menyodorkan gelas tersebut ketangan istrinya. Dirinyapun shock dan cemas, saat memikirkan keadaan anak dan menantunya kini.


"Iya, Pih. Terima kasih." Ucap Safira seraya mengambil gelas dari tangan suaminya, kemudian meminumnya dengan perlahan hingga habis.


"Bocor, Mih! He.. he.. he.." Ledek Dahlan terkekeh, saat melihat air didalam gelas tersebut habis tak bersisa. Dirinya ingin mencairkan ketegangan yang sedang melanda mereka berdua.


"Hiss.. Papi bisa-bisanya ledekin Mami yang sedang sedih begini." Decak Safira kesal dengan suaminya yang masih santai, saat apa yang sedang menimpa anak dan menantunya.


"Maaf, Mih. Bercandaan saja, biar tubuh kita tidak tegang. Sekarang sudah siap, kita cus kerumah sakit, bukan?"


"Iya, Pih. Tolong bilang sama Asisten Bara, untuk menghandel kerjaan Mami dulu, Pih."


"Iya, sayang. Kita pakai mobil kantor saja, biar Pak supir Zainudin yang mengantar kita kerumah sakit."


"Baiklah, Pih."


Akhirnya, keduanyapun berangkat menuju rumah sakit dengan menaiki mobil inventaris kantor. Papi Dahlan menghubungi Asisten Bara dan managernya Pak Budi, untuk menghandel semua pekerjaan yang masih belum finish, karena meeting yang terhenti saat tadi mereka baru saja mendapat kabar kecelakaan tersebut.


Setelah tiga puluh menit menempuh perjalanan, mobil yang membawa Dahlan dan Safirapun akhirnya sampai juga diarea parkir rumah sakit.


"Pak Zainudin, sekarang Bapak boleh kembali ke kantor. Biarkan, nanti kami pulang bersama Asisten Bara saja. Terima kasih ya, pak." Ucap Dahlan dengan ramah, lalu Safira mengangguk kecil, lalu tersenyum kecil.


"Baik Tuan, Nyonya.. saya akan segera kembali ke kantor. Semoga anak dan menantu Tuan dan Nyonya baik-baik saja." Ucap Pak Zainudin, dengan mendoakan kebaikan untuk anak-anak bosnya.


Dahlan yang sudah bercerita tadi saat perjalanan menuju rumah sakit, membuat Pak Zainudin begitu perduli dan khawatir dengan keadaan Andi dan Mutiara yang merupakan anak dan menantu bossnya tersebut.

__ADS_1


"Terima kasih, atas doanya, Pak Zainudin." Ucap Dahlan mengangguk dan tersenyum, lalu meninggalkan area parkir bersama istrinya menuju tempat Angga menunggu.


"Sama-sama, Tuan dan Nyonya." Ucap Pak Zainudin dengan merasa ikut bersedih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Tuan Dahlan dan nyonya Safira bertemu dengan Angga dan Amara di loby rumah sakit, dengan wajah sendu Angga dan Amara melihat kedatangan Dahlan dan Safira.


"Mami, Papi..!" Lirih Angga memghampiri keduanya lalu memeluk tubuh mereka bergantian. Angga begitu sedih saat melihat Andi dan Mutiara diruang IGD, yang sedang ditangani oleh Dokter.


"Hikkz.. hikzz.. hikzz.." Air mata Angga sudah meluncur bebas, saking sedihnya melihat kedua orang tuanya.


Begitu juga dengan Amara mengikuti Angga mencium pipi dan memeluk tubuh Safira, kemudian mencium punggung tangan kanan Safira dan Dahlan bergantian.


"Apa khabar, nak Amara sayang? Terima kasih, sudah repot meluangkan waktu datang kesini." Ucap Safira begitu menyukai Amara.


"Alhamdulillah, khabar Amara baik dan sehat Tante." Sahut lirih Amara, dengan menganggukkan kepalanya kecil. Amarapun terenyuh, melihat kedua orang tua kekasihnya terlihat sedih.


"Bagaimana keadaan kakakmu dan istrinya, sayang? Kenapa kamu masih menangis?" Tanya Safira, setelah mulai menghapus air mata yang menetes dikedua pipi Angga.


"Kak Andi dan kakak ipar masih ditangani oleh Dokter diruang IGD, Mih. Mereka masih tidak sadarkan diri, Mih." Sahut Angga lirih.


"Astagfirullohalazim.. kenapa semua ini bisa terjadi? Hikzz.. hikkz.. hikzz.. kenapa kecelakaan itu terulang kembali? Dulu Papimu, sekarang kakakmu. Apa yang menyebabkan kakakmu mengalami kecelakaan ini, sayang?"


"Angga juga belum tahu, Mami. Tadi orang yang membawa kak Andi dan kakak ipar, sudah pergi sebelum Angga dan Amara sampai disini."


"Lebih baik kita tunggu kabar dari Dokter saja, sayang. Untuk sekarang, kita lebih baik duduk saja dulu." Tutur Papi Dahlan seraya menggandeng istrinya untuk berjalan menuju bangku tunggu depan ruang IGD.


"Mih, Pih, Angga dan Amara mau cari makan dulu ya! Kami belum makan dari tadi siang, karena langsung kesini saat mendapat kabar kak Andi dan kakak ipar dibawa kerumah sakit."


"Iya, sayang." Sahut Mami Safira dan Papi Dahlan bersamaan.


"Mami dan Papi mau dibelikan apa?"


"Belikan nasi kotak dua dan minumnya es lemon tea dua. Dah itu saja cukup, sayang."


"Okey, Mih. Jika mereka sudah siuman, langsung kabarin aku." Pinta Angga.


"Sudah pasti, dong!" Ucap Papi Dahlan menimpali.


Angga dan Amarapun lemudian berjalan meninggalkan Safira dan Dahlan, yang sedang menunggu kabar dari Dokter yang menanganinya.


*******


Dokter bedah baru saja menjahit luka yang ada dipelipis mata Andi, dengan rapi dan hasil yang begitu bagus.

__ADS_1


Namun, dia tidak bisa menjahit luka Mutiara dan pasien yang tertabrak oleh mobil Andi. Dokter bedah iru bernama Dokter Zidan, diapun terpaksa harus melakukan operasi untuk kedua pasiennya tersebut.


"Suster, tolong panggilkan keluarga ketiga pasien ini." Pinta. Dokter Zidan santun.


"Iya, Dokter."


Suster itupun kemudian meninggalkan Dokter Zidan yang sedang menimbang-nimbang keputusan, untuk melakukan operasi terhadap Pasien.


"Mohon maaf, apakah ada keluarga Pasien yang bernama Dosen Andi Permana, saudari Mutiara Pandini dan juga saudara Mukhlis?" Tanya Suster dengan ramah.


Sementara keluarga dari mobil yang ditabrak Andi, ikut menghampiri Suster yang sedang memanggil Keluarga And, Mutiara dan juga keluarga Mukhlis.


"Kami keluarga Mukhlis, Suster." Ucap seorang pria paruh baya, dengan wajah yang begitu sembab, karena menangisi sang anak.


"Kami juga, Suster. Kami orang tua dari nama yang baru saja disebutkan oleh Suster." Ujar Safira dan Dahlan bersamaan.


""Kalau begitu, mari salah satu perwakilan pasien ikut saya."


"Baik, Suster." Ucap kedua pria, yang merupakan sang ayah dari pasien dengan mengangguk cepat.


Suster itupun berjalan menuju ruang Dokter Zidan, lalu menyerahkan dua lembar berkas dimeja yang sama dengan dibubuhi tanda tangan sang Dokter bedah dan pihak rumah sakit. "Ini Dokter lembaran berkasnya."


"Terima kasih, Sus." Ucap Dokter.


"Sama-sama, Dokter." Ucapnya.


Suster itupun meninggalkan ruang Dokter tersebut, lalu menunggu ketiga pasien tersebut diruang IGD. Sementara masih menunggu, Suster itupun prepare terlebih dahulu untuk keperluan sebelum operasi.


"Sebelum saya menjelaskan, mohon ini dibaca terlebih dahulu." Ucap Dokter Zidan tegas.


Papi Dahlan dan sang Ayah dari Mukhlis langsung menyambar lembaran kertas tersebut, satu persatu.


"Astagfirulloh, haaah? A-apa? Operasi terhadap Mutiara?" Ucap Dahlan tercekat saat mendapati info dilembar kertas tersebut


Begitupun operasi terhadap Mukhlis yang harus ditandatangani oleh keluarga pasien.


"Bagaimana ini, saya tidak punya uang untuk membayar operasinya, Dokter?"


"Jangan pikirkan biaya Operasi, sebaiknya kita langsung tanda tangan saja, demi keselamatan anak-anak kita. Biaya operasi biar saya yang bayar nantinya."


"Benarkah? Terima kasih, Tuan. Hikzz... hikkzz.. hikkz.. ."


♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️

__ADS_1


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--


__ADS_2