Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 28


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mami Safira dan Papi Dahlan menatap Andi dengan terkejut, apa lagi dengan Angga yang sedang memeluk istrinya yang merupakan Kakak iparnya.


Mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Andi, karena saking gugupnya.


Andi yang melihat istrinya sedang dipeluk oleh adiknya Angga, sontak saja langsung menunjukkan wajah dinginnya dan rasa cemburunya.


"Kenapa dengan istriku, Dik? Apa yang kamu lakukan kepadanya, hah.. ?" Tanya Andi dengan ketus.


"I.. ini Kak..." Kata-kata Angga terhenti saat Mami Safira menyelanya.


"Semua ini salah Mami, sayang. Angga hanya menolong istrimu, yang terjatuh ke kolam renang. Kami tidak tahu, kalau Mutiara tidak bisa berenang." Mami Safira berkata sejujurnya kepada Andi anaknya, agar tidak ada kesalahpahaman antara mereka berdua.


"Ooh.. semua karena Mami, iya sudah angkat keatas Dik, istriku." Ucap Andi sedikit lembut.


"Iya, Kak." Ucap Angga, kemudian mengangkatnya naik keatas.


Mutiara hanya terdiam, tubuhnya sudah kedinginan dan menggigil, bibirnya gemetar dan matanya sudah memerah karena menangis.


Andi langsumg menggendong istrinya ala bridal style, diapun nampak panik melihat keadaan istrinya untuk kedua kalinya yang seperti itu.


Mami Safira dan Papi Dahlan mengikuti Andi dan istrinya sampai kamarnya.


"Mami dan Papi mau ngapain?" Tanya Andi saat Mami dan Papinya ikut masuk kedalam kamarnya.


"Mau bantu dan temani istrimu, sayang." Jawab Mami Safira yang diangguki oleh suaminya.


"Tidak perlu Mih, Pih, aku yang akan merawat istriku sendiri. Tolong Mami dan Papi bisa tinggalkan kami berdua." Tolak Andi dengan sopan.


"Iya sudah kalau begitu, Mami dan Papi keluar. Tapi, kalau ada yang diperlukan, kamu jangan sungkan panggil Mami yah." Kata Mami pasrah namun masih berusaha menawarkan bantuan untuk menantu kesayangannya itu.


"Iya Mih, Pih, terima kasih." Ucap Andi, lalu dia mendudukkan istrinya disofa.


Mami Safira dan Papi Dahlanpun akhirnya keluar kamar Andi dengan wajah kecewa, karena Andi sepertinya tidak sadar kalau Papinya baru saja pulang dari rumah sakit.


"Baju kamu dimana?" Tanya Andi saat mencari tas istrinya tidak ada ditempatnya.


"B.. baju saya sedang dicuci semua Mas Andi. Hanya baju ini yang tersisa, yang saya pakai." Jawab Mutiara jujur, karena dirinya hanya membawa beberapa baju saja.


"Iya sudah, kamu kekamar mandi dan berendam air hangat. Nanti saya ambilkan baju gantinya." Ujar Andi dengan lembut.


"I.. iya Mas." Ucapnya masih gugup saat suaminya berkata lembut kepadanya.


Andipun meninggalkan kamarnya, lalu mencari Mbo Yuyun dan Mbo Panti.


"Sayang, kenapa istrimu kamu tinggal? Bukannya ditemani? Kalau begitu, Mami yang akan temani istrimu yah?"

__ADS_1


"Mutiara sedang berendam air hangat Mih, aku ingin mencari Mbo Yuyun dan Mbo Panti. Mami lihat mereka tidak?"


"Ooh.. begitu toh, Mbo Yuyun sedang keluar dan Mbo Panti sedang didapur sepertinya."


"Iya sudah, terima kasih Mih."


"Sayang, kamu ko engga tanya kabar Papi, yang sudah pulang dari rumah sakit?"


"Astagfirulloh, Andi lupa Mih. Saking paniknya tadi. Sekarang Papi ada dimana?"


"Ada dikamar, sayang. Iya sudah kalau kamu mau ke Mbo Panti."


"Iya Mih, nanti Andi pasti temui Papi." Ucap Andi kemudiam meninggalkan Maminya ke dapur.


"Mbo Panti.." Panggil Andi pelan dan menyentuh punggung Mbo Panti.


"Eeh.. Astagfirulloh, Den Andi bikin kaget saja."


"He.. he.. he.. makanya kalau masak jangan sambil melamun!" Kekeh Andi melihat ARTnya terkejut olehnya.


"I.. iya Den, ada apa Den Andi kesini? Ada yang bisa Mbo Panti bantu?"


"Mbo tahu engga baju Mutiara yang sudah dicuci?"


"Tahu Den, tapi baju Non Mutiara belum di gosok sama Mbo. Biasanya hari ini, Mbo akan gosok pakaian yang sudah menumpuk. Tapi, Mbo Panti belum sempat Den, karena masih masak untuk nanti makan malam."


"Siap Den, itu sih sudah pasti."


"Baiklah kalau begitu, terima kasih Mbo."


"Sama-sama, Den."


Andi pergi meninggalkan Mbo Panti di dapur, diapun kembali ke kamarnya.


Andi mengambil baju tidurnya, yang bisa dipakai oleh pria dan wanita.


"Pakai ini sajalah, biarkan saja walaupun nantinya kebesaran." Ucap Andi bergumam pelan.


Andi merasa aneh, karena istri bocilnya belum juga keluar dari kamar mandinya.


"Tok.. tok.." Bunyi pintu di ketuk.


"Hei bocil.. kamu engga pingsan lagi, bukan? Kenapa lama sekalih didalam?"


"I.. iya Mas Andi, sebentar lagi saya selesai. Bajunya sudah ada Mas?" Sahut Mutiara dari dalam kamar mandi.


"Engga ada, baju kamu belum digosok. Kamu pakai bajuku saja untuk sementara. Tidak apa kalau sedikit kebesaran nantinya."

__ADS_1


"I.. iya Mas, engga apa-apa."


"Iya sudah, aku keluar dulu. Nanti aku balik lagi."


"I.. iya Mas, terima kasih."


Andipun keluar kamar meninggalkan istrinya sendiri. Kemudian dia menemui sang Papi, untuk menanyakan kabar kesehatannya.


"Hallo Mami, apa Papi masih di dalam kamar, Mih?" Tanya Andi, lalu duduk disamping Mami Safira yang sedang mengupas buah mangga.


"Hallo juga sayang, masih. Sepertinya Papimu sedang mandi. Mana istrimu? Kenapa engga di ajak ke sini?"


"Lagi ganti baju Mih, nanti Andi susul lagi kalau Andi sudah ketemu Papi."


"Kenapa kamu engga tungguin istri kamu ganti baju? Setelah itu baru temuin Papi."


"Deg.." Jantung Andi seketika berdebar-debar.


"I.. itu Mih, engga lah, masa hanya ganti pakaian saja harus ditemani!" Tutur Andi gugup, dirinya takut salah berucap didepan Maminya.


"Iya memangnya kenapa kalau ditemani? Kamu 'kan suaminya! Kecuali Angga yang temani, baru engga boleh." Ucap Mami Safira sengaja membuat hati Andi cemburu.


"Iish.. Mami ngomong apa sih? Pamali Mih, ngga baik ngomong kayak gitu." Ucap Andi sedikit kesal, lalu dia mengambil potongan mangga yang baru saja dikupas Mami Safira. "Nyam.. nyam.. enak Mih, mangganya manis."


Papi Dahlan berjalan kearah Andi dan Mami Safira, kemudian duduk di samping kiri istrinya dengan wajah berseri.


"Eeh.. Papi, baru selesai mandi pih? Bagaimana jantung Papi? Apa Papi sudah benar-benar pulih? Maaf tadi belum sempat menyapa, saking paniknya Andi."


"Iya sayang, jantung Papi sehat dan masih bisa bekerja dengan baik. Bagaimana keadaan istrimu sekarang?"


"Dia baru saja berendam air hangat dan sedang berganti pakaian."


"Oh.. syukurlah kalau begitu! Sayang.. ada yang ingin Papi bicarakan dengan kamu."


"Iya, Pih. Tapi, soal apa Pih?"


"Kamu harus tinggal terpisah mulai besok, kamu boleh tinggal di Apartement atau di rumah Papi, yang baru saja di beli tahun lalu."


"Apa harus, Andi pindah besok juga, Pih? Kalau di Apartement, sempit dan kamar hanya ada satu. Tapi, kalau dirumah Papi yang baru beli, sangat jauh dengan kampus Andi." Andi galau harus memilih salah satu dari tempat tinggalnya yang akan dia tempati besok.


"Iya, sayang. Kalau sudah menikah harus mandiri dan prihatin. Kamu 'kan sudah bekerja menjadi Dosen dan Menggantikan tugas Papi. Keuangan harus kalian yang mengatur, agar bisa sukses dimasa depan." Tutur Mami Safira ikut menimpali.


"Haah.. ? Mengatur keuangan? Andai Papi dan Mami tahu, pernikahanku hanya akan berlangsung sampai enam bulan, sampai jantung Papi benar-benar pulih kembali." Bathin Andi berucap.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2