
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
"Duk.. duk.. duk.."
Amara dan Angga dikejutkan oleh suara ketukkan kaca mobil, seketika saja mereka langsung terbangun dengan mengerjapkan matanya.
Amara dan Anggapun jadi salah tingkah, karena ketahuan sedang berada didalam mobil sepagi ini berdua saja. Anggapun akhirnya pindah posisi kedepan, untuk membukakan jendela mobil otomatisnya.
Kaca mobilpun mulai terbuka setengahnya, Amara sedikit malu dan tegang, saat wajah security tersebut nampak begitu serius menatapnya.
"Permisi Nona Amara, mobil nona menghalangi mobil Tuan Jordan yang ingin lewat. Mohon untuk nona sedikit memundurkan mobilnya." Ucap seorang security itu dengan sopan.
"Oh.. i-iya, Pak." Ucap Amara sedikit gugup.
Angga yang mendengar itupun, segera memundurkan mobilnya sedikit.
"Terima kasih, Nona dan Tuan." Ucap security itu sopan.
"Sama-sama, Pak." Jawab Amara dan Angga.
Tuan Jordan membuka kaca mobilnya, lalu tersenyum dan mengangguk kearah Amara. "Terima kasih nona Amara yang cantik, maaf sedikit mengganggu." Ucap Tuan Jordan ramah.
Amara membalas anggukan dan senyuman Tuan Jordan. "Sama-sama, Tuan." Ucap Amara tidak kalah ramah.
Angga sedikit cemas, melihat tatapan pria yang baru saja melintas dihadapannya, seperti ingin memangsa lawannya dengan penuh hasrat. "Apakah dia tinggal di Apartement yang sama, sayang?" Tanya Angga kepo.
"Iya, kak. persis depan Apartement aku."
"Tampan dan keren, setiap hari kamu bertemu dan melihatnya dong."
"Tidak juga, kak. Dia anak pemilik Perusahaan Ariatama Grup, yang bekerja sama juga dengan perusahaan Dadieku yang ada di Singapore dan Indonesia, kak."
"Ooh.. hebat ya, siapa namanya?"
"Tuan Jordan Ariatama."
"Sudah menikah atau belum?"
"Belum sepertinya, dia anak pertama dari tiga bersaudara." Jawab Amara tanpa beban, lalu membuka pintu mobilnya untuk keluar.
"Kenapa keluar sendiri? Aku 'kan bisa membukakan pintunya untuk kamu, sayang." Tanya Angga begitu heran dengan Amara, yang langsung membuka pintu mobilnya tanpa bicara terlebih dahulu.
"Sudah terlanjur, kak. Lain kali kakak bukakan pintunya untukku." Ucap Amara santai.
"He.. he.. he.. iya." Ucap Angga terkekeh, lalu diapun menyusul Amara keluar dari mobil dan mengunci otomatis mobilnya.
Angga dan Amarapun berjalan menuju Apartement, keduanya menaiki lift dengan saling menautkan jari tangan mereka. Angga dan Amara merasakan debaran cinta yang begitu kuat.
__ADS_1
"Ting." Bunyi lift sudah terbuka, merekapun keluar dari lift menuju Apartement Amara yang baru pertama kali Angga menginjakkan kakinya disini.
"Apartement kamu yang mana, sayang?" Tanya Angga penasaran, karena ada beberapa pintu yang bersampingan dan berhadapan.
"Itu, kak." Ucap Amara seraya menunjukkan arah pintu Apartementnya.
"Ooh.. itu." Anggapun mengangguk kecil lalu menuju pintu Apartement Amara.
"Kalau Apartement pria tadi yang mana, sayang?" Tanya Angga penasaran.
"Maksud kak Angga, Tuan Jordan, bukan?"
"Eemm.. iya, Tuan Jordan." Ucap Angga sungkan.
"Itu Apartementnya, kak. Pas banget mengarah didepan pintuku." Ucap Amara menunjuk pintu Apartement Jordan.
"Ooh.. itu, apa dia sudah lama tinggal di Apartement ini, sayang?" Tanya Angga sangat penasaran.
"Sepertinya sudah, tapi aku kurang begitu mengenalnya. Dadieku yang faham soal dia dan keluarganya." Ujar Amara dengan ekspresi biasa, lalu menekan pasword Apartementnya. "431.. klik" Bunyi pintupun terbuka.
"Ooh.." Angga hanya mengucapkan kata ooh, dirinya sedkit gamang dengan keberadaan laki-laki tampan, yang baru saja dia lihat tadi diparkiran.
Amara dan Anggapun masuk kedalam Apartement, lalu Angga duduk disofa depan TV layar LED yang menempel ditembok dengan berukuran kurang lebih 50 inci.
"Mau minum apa, kak?" Tawar Amara tersenyum.
"Iiish.. aku mandi dulu kak, nanti saja ngobrolnya." Tolak Amara, lalu berjalan memasuki kamar pribadinya.
Anggapun tersenyum, membiarkan kekasihnya untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Sambil menunggu Amara melakukan aktivitas mandinya, Angga melihat-lihat photo yang berjejer didinding. Menampilkan photo Amara yang masih memakai seragam sekolah, bersama teman-teman dan Dadienya.
Wajah Amara begitu cantik dan menarik, dibandingkan ketiga temannya yang lain. Angga tanpa sadar sudah mengagumi gadis cantik itu, yang semalam sudah resmi menjadi kekasihnya. Sudut bibirnyapun tertarik melengkung, menampilkan senyuman yang terukir indah.
"Dari semua photo yang dipajang, kenapa tidak ada photo Momienya Amara? Mengapa Amara hanya berphoto dengan teman dan Dadienya saja?" Hati Angga bermonolog penuh tanya.
Tidak berselang lama, Amarapun keluar dari kamarnya sudah berganti pakaian rumahan.
"Kamu sudah selesai mandinya, sayang?" Tanya Angga saat mendengar pintu kamar Amara terbuka.
"Sudah dong, kak. Kakak sedang lihat apa?"
"Ooh ini, sedang lihat photo kamu dan teman-teman kamu. Ada Om Ramon juga disini, terlihat sangat bahagia sekali."
"Iya, kak. Sayangnya tidak ada Momie diphoto itu."
"Heem.. iya, sayang. Kenapa tidak ada Momie kamu diphoto ini?"
__ADS_1
"Momie aku sudah meninggal, sejak usiaku sepuluh tahun kak." Ucapnya Amara, tanpa sadar sudah membuat matanya berkaca-kaca, teringat masa indah bersama Momienya.
"Ooh.. maaf, sayang. Aku sudah membuat kamu bersedih." Sesal Angga, merengkuh Amara dengan sayang, lalu mengusap punggungnya dengan lembut.
"Tidak apa-apa, kak." Ucap Amara mengurai pelukkan Angga.
Angga lalu tersenyum dan mengajak Amara untuk duduk disofa, lalu mengajaknya berbincang-bincang lebih dalam.
"Sayang.. memangnya kamu dan Dadie kamu sudah berapa lama tinggal disini?"
"Aku dan Dadie, belum begitu lama di Apartement ini. Kita biasanya tinggal di Hotel, jika sedang berkunjung ke Perusahaan Dadie yang ada di Indonesia. Tapi, semenjak aku ingin kuliah dan tinggal di Indonesia sambil membantu pekerjaan di Perusahaan Dadie, kami memutuskan membeli Apartement ini untuk tempat tinggal sementara."
"Ohh.. begitu ceritanya. Apa kamu ada rencana untuk membeli rumah di Indonesia?"
"Untuk saat ini belum, kak. Tapi, semuanya tergantung Dadieku, kak."
"Apa yang membuat kamu memutuskan tinggal dan kuliah di Indonesia?" Tanya Angga penasaran.
"Eumm.. harus dijawab ya, kak?" Tanya Amara ragu, seraya menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa? Kamu tidak bisa menjawabnya? Jangan gigit bibir bawahmu, aku takut khilaf lagi." Angga berbisik lirih ditelinga Amara.
"Kak.. kamu mandi gih, aku nanti kasih pinjam baju Dadie. Mau 'kan?" Titah Amara, mengalihkan jawaban dari pertanyaan Angga.
"Okay.. aku numpang mandi dikamar kamu atau Dadie kamu?" Tanyanya bimbang.
"Dikamar Dadie saja, disana sudah lengkap peralatan mandinya. Nanti sambil nunggu kamu mandi, aku siapkan baju ganti kakak dan aku bikinin nasi goreng buat sarapan.
"Heumm.. iya, sayang." Ucap Angga mengangguk kecil.
Angga dan Amara berjalan ke kamar Tuan Ramon, kemudian Angga masuk ke kamar mandi. Sedangkan Amara menyiapkan baju ganti Angga dengan kaos dan celana casual milik sang Dadie.
Setelah setengah jam kemudian, Anggapun selesai mandi dan keluar kamar menuju dapur menghampiri Amara yang sedang memasak nasi goreng.
Tangan Angga melingkar indah, dipinggang Amara dan menaruh dagunya diatas bahu Amara dengan manja.
"Eeh.. kakak mengejutkanku!" Ucap Amara terkejut, dengan wajah bersemu merah.
"He.. he.. he.. maaf, sayang. Apa kamu bisa masak, sayang?" Tanya Angga tanpa melepaskan pelukkannya seraya terkekeh.
"Bisa dong, kak. Aku sudah terbiasa semenjak Momie tidak ada."
"Eeeheem.. apa yang sedang kalian lakukan?"
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--