
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Kelik begitu rapuh, tubuhnya seakan tidak memiliki tulang sesaat. Air matanya tumpah membasahi wajahnya yang tampan nan rupawan. Nabila begitu shock dan khawatir, yang posisinya memang berdekatan dengannya.
"Kelik.. kamu kenapa seperti ini? Ayo berdiri, aku tidak tega melihat kamu seperti ini." Ujar Nabila begitu lirih.
Namun, Kelik seakan tidak ingin bergerak dari tempatnya, dia mengunci tubuhnya.
"Terserah kamu, Kelik. Aku kasihan sama kamu, jangan terus menyalahkan diri sendiri. Itu semua adalah musibah, kamu harus bisa ikhlas."
Nabilapun beranjak pergi meninggalkan Kelik yang masih duduk bersimpuh didepan ruangan ICU, tempat Mutiara sedang dirawat.
Sebenarnya Nabila tidak tega meninggalkannya sendiri, tapi apa mau dikata, Kelik tidak ada tanda-tanda beranjak dari tempatnya. Mungkin, jika dia kelelahan kelak akan pergi dari tempat itu.
Teman-teman sekelasnya yang lainpun, sangat iba melihat Kelik yang begitu terpuruk dan hancur saat ini. Menyesalpun tiada guna, toh sudah terjadi musibah itu. Bukan rahasia lagi, jika Kelik adalah mantan kekasih Mutiara yang susah moveon. Semua teman satu kelasnya sudah tahu kabar itu, semenjak awal pertemuan Mutiara dan Kelik dikelas mereka.
"Nak Kelik..!" Panggil lirih Ibu Lanjar.
Kelik bergeming, saat mendengar suara seorang wanita yang tidak asing ditelinganya.
"Nak Kelik, bangunlah." Ujar Ibu Lanjar kembali.
Sontak saja Kelik langsung mengangkat kepalanya keatas, demi melihat wajah seorang wanita yang sedang memanggilnya. Diapun yakin, suara wanita itu sangat dia kenal selama ini.
"Ibu..! Ibu Lanjar." Ucap Kelik lirih dengan wajah nampak sedih terlihat jelas dimata Lanjar.
Lanjar begitu merasa bersalah sudah memisahkan cinta Kelik dengan sang anak, yang ternyata begitu dalam dan membekas.
"Ayo, nak Kelik, berdirilah." Pinta Lanjar dengan mengulurkan kedua tangannya kearah Kelik.
Dengan begitu berat hati, Kelikpun menerima uluran tangan Lanjar, lalu berdiri mensejajari tubuh Ibu Lanjar. Diapun kemudian memeluk tubuh Lanjar, yang sudah Kelik anggap seperti Ibunya sendiri.
"Ibu, maafkan Kelik, sudah membuat Mutiara menjadi seperti ini. Semua gara-gara Kelik, hingga terjadi musibah itu dan membuat Mutiara terbaring koma di ICU. Hikks.. hikks.. hikks.." Sesal Kelik terisak tangis.
"Tidak, nak Kelik. Semua ini sudah takdir dari yang maha kuasa, takdir Allah tidak bisa dihindari. Nak Kelik jangan merasa terlalu bersalah, yang sudah biarlah berlalu. Ayo kita duduk dikursi itu." Ujar Lanjar bijak, lalu mengajak Kelik berjalan menuju kursi yang baru saja Lanjar tunjuk.
"Iya, Ibu." Sahut Kelik menurut.
Safirapun mengikuti mereka dibelakang, sedangkan Nabila tersenyum bahagia. Akhirnya, Kelik bisa dibujuk oleh seorang wanita yang dipanggil Ibu olehnya. "Siapa wanita paruh baya itu? Apakah dia Ibu dari Mutiara?" Tanya Nabila dalam hatinya.
__ADS_1
"Hi.. Nabila, sampai segitunya liatin Keliknya? Kamu menyukainya ya?" Tanya Amara menyapa Nabila.
"Hiss.. apa sih kamu Amara? Engga kok, aku engga suka sama Kelik. Aku hanya kasihan sama dia." Dusta Nabila.
"Masa sih? Aku kira kamu menyukainya! Ganteng loh, tapi sayang dia begitu sangat mencintai Mutiara sampai begitu sulit untuk moveon. Andai aku belum punya kak Angga, aku suka loh sama Kelik. Kayaknya cintanya begitu tulus, besar, dalam dan setia." Ungkap Amara dengan memuji Kelik.
"Hiss.. sudah punya kak Angga juga, masih lirik cowok lain. Memangnya kak Angga kurang ganteng? Kurang baik? Terus, kurang setia, heum?" Keki Nabila cemburu.
"Hi.. hi.. hi... cemburu nieh! Katanya engga suka sama Kelik? Kok cemburu? Bukankah aku bilang, seandainya belum punya kak Angga. Karena aku sudah punya kak Angga, ya enggalah, aku engga bisa suka sama Kelik. Buat kamu saja ya, Nabila." Amara terkikik melihat ekspresi wajah Amara yang tiba-tiba kesal akibat cemburu.
"Hiss.. kamu itu paling bisa bikin orang mati kutu, Amara." Decak Nabila bersungut.
"Berarti benar dong, kamu menyukai Kelik? Betul atau engga?"
"Eeem... sudah ah, malu." Nabila tersipu malu takkala dirinya tidak bisa memungkiri perasaannya yang mulai berbunga.
"Baiklah, kalau begitu nanti aku bantu comblangin kalian ya."
"Engga usah, aku bisa sendiri." Tolak Nabila.
Diapun berjalan melewati Amara dengan tersenyum kecil.
"Huem.. " Nabilapun bergumam pelan, melambaikan tangannya tanpa menoleh kebelakang.
"Dasar Nabila.. Nabila, aku yakin kamu bisa menaklukan hati Kelik nanti. Semoga saja Kelik bisa lekas melupakan Mutiara dan membuka hatinya untuk wanita lain." Gumam Amara pelan.
"Kenapa sayang? Kok kamu sebut-sebut nama Kelik?" Tanya Angga yang berada dibelakang Amara bersama Aldi yang baru saja datang.
"Eeh.. kalian baru sampai? Kok lama banget?" Tanya Amara sedikit kecewa, dia mengalihkan pertanyaan Angga.
"Tadi jalanan padat merayap, mobil kami terjebak macet. Bukan begitu, Al?" Ujar Angga jujur.
"Huemm.. iya, Amara. Jalanan padat merayap, mobil kami jadi terjebak macet." Ucap Aldi membeo.
"Ooh.. mungkin berbarengan dengan jam kantor pulang ya?"
"Mungkin, sayang." Ucap Angga menarik jemari Amara lalu menautkan dengan jemarinya.
Aldi yang melihat itupun, tiba-tiba saja mengalihkan perhatiannya kearah lain dengan sembarang. Hatinya merasakan cemburu, meski itu perasaan yang salah.
__ADS_1
"Ga.. ajak aku keruangan kak Andi." Ujar Aldi mengalihkan perhatian Amara dan Angga.
"Ayo, Al." Sahut Angga, kemudian berjalan melewati Aldi untuk menuju kamar rawat VIV tempat Andi berada.
"Hi.. kak Angga, kak Aldi." Sapa Kelik, saat melihat Angga dan Amara juga Aldi berjalan mendekat kearahnya.
"Hi juga, dik Kelik, Ibu dan Mami." Balas sapa Angga, lalu mencium punggung tangan kedua wanita spesial dihati Angga. Kemudian diikuti oleh Aldi dan Amara.
"Sayang, kalian mau masuk kedalam ya?" Tanya Mami Shafira.
"Iya, Mih." Sahut Angga cepat, lalu diangguki oleh Amara dan Aldi.
"Saya ikut kak Angga." Ucap Kelik bangkit dari tempat duduknya.
"Iya, ayo dik Kelik." Sahut Angga dengan tersenyum.
Kelikpun mengikuti mereka masuk kedalam ruangan Andi dengan mengucap salam terlebih dahlulu.
"Assalamu'alaikum, kak Andi." Salam Angga yang diikuti oleh yang lainnya.
"Wa'alaikumusalam," Sahut Andi tersenyum, lalu wajahnya berubah masam saat melihat Kelik yang berada dibelakang Aldi terlihat oleh matanya.
"Bagaimana kabarnya kak? Apakah kakak sudah lebih baik kondisinya?" Tanya Angga mencairkan suasana, karena Angga menyadari raut wajah sang kakak yang nampak berubah saat menatap Kelik.
"Sudah dik, alhamdulillah." Ucap Andi lirih, melihat kearah Angga.
"Syukurlah, kalau begitu." Ucap Angga.
"Alhamdullilah ya, kak Andi." Ucap Amara menanggapi, lalu diikuti oleh Aldi.
"P-pak Dosen Andi, saya mau minta maaf. Karena sayalah, penyebab terjadinya kecelakaan itu. Saya sudah menyesal, tidak memberikan jawaban yang benar saat itu. Saya benar-benar menyesalinya Pak Dosen." Tutur Kelik terbata dengan air mata yang sudah menggenang disudut matanya, yang seakan ingin mendesak untuk segera keluar dari tempatnya.
Andi hanya terpaku saat mendengar penuturan Kelik yang meminta maaf kepadanya. Dia tidak bisa menyalahkan Kelik juga, karena memang kesalahan dirinyalah, yang tidak bisa mempercayai perkataan istrinya dan tidak mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1