
π₯°π₯°Happy Readingπ₯°π₯°
Setelah Andi mendengar pernyataan cintanya Angga adik kesayangannya, kepada istri bocilnya. Andi memilih banyak diam dan tidak terlalu sering bertemu dengan Angga.
Apa lagi semenjak Andi dan istrinya sudah tinggal di Apartement saat ini. Andi selalu menghindari bertatap muka dengan Angga, meski dikampus sekalipun.
Entah apa yang ada di hati Andi, dirinya merasakan sakit yang teramat sangat saat tahu fakta yang sebenarnya. Padahal, dirinyapun belum ada rasa cinta untuk istri bocilnya. Namun, dia akan bertahan dengan istri bocilnya sampai tiba waktunya enam bulan berakhir.
Dirinya tidak ingin sampai kedua orang tuanya tahu, masalah pernikahannya. Apa lagi dengan Papi Dahlan, dia menjaga betul jantung Papi Dahlan agar tetap baik-baik saja.
Andi dan Mutiarapun jarang sekali berkunjung ke rumah orang tua Andi. Selain menghindari pertemuan dengan Angga, Andipun tidak ingin istrinya tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi antara Angga dan dirinya.
Sudah satu bulan mereka tinggal satu atap di Apartement, baru dua kali mereka berkunjung ke rumah Papi Dahlan. Mereka hanya melepas rasa kangen saja, itupun hanya dua sampai tiga jam kemudian mereka kembali pulang ke Apartement.
Kadang Mami Safira mengomel kepada Andi anak sulungnya, yang jarang datang dan tidak mau menginap di rumahnya lagi. Namun, Andi sangat pandai mencari alasan dengan bersikap mesra terhadap Mutiara istrinya.
"Kami ini sedang banyak kesibukkan Mih, jadi tidak bisa menginap. Ibu Mutiara akan segera datang kesini Miih, untuk membawakan Izasah Mutiara masuk pendaftaran kuliahnya." Jelas Andi menolak menginap kali ini.
"Kapan itu sayang?" Tanya Mami Safira senang.
"Besok pagi Mih, tiket pesawat sudah Andi belikan, nanti Andi dan Mutiara akan menjemput di Bandara besok pagi sekitar pukul sembilan."
"Apa Mami boleh ikut menjemput? Besok 'kan hari minggu, Mami dan Papi libur kerja." Tanya Mami Safira dan Papipun mengangguk kecil mengikuti kemauan istrinya.
"Tentu Mih, Pih. Kalian boleh ikut menjemput, kita ketemuan saja disana."
"Okay.. kalau begitu, sekarang hati-hati kalian dijalan yah." Ucap Mami Safira mengingatkan.
"Iya Mih, Pih, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum.." Pamit Andi dan istrinya, mencium kedua punggung tangan mereka bergantian.
Mami dan Papi melepaskan kepergian mereka dengan senyuman, meski sejujurnya mereka seperti kehilangan moment kebersamaannya selama ini. Saking jarangnya bertemu, ataupun menginap dirumahnya.
Sebenarnya Andi ingin sekali menginap atau berkunjung sesering mungkin, namun dirinya selalu menghindari bertemu dengan Angga adiknya. Dia tidak ingin bertikai hanya karena wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Bagaimanapun dia lebih berhak atas Mutiara, meski belum ada cinta dari keduanya.
Tanpa disangka, saat Andi dan Mutiara baru saja keluar dari rumah Papi Dahlan, mereka berpapasan dengan Angga bersama kedua temannya yang baru sampai.
Anggapun menyapa Kakaknya dengan ramah, meski dia menyadari semenjak kejadian satu bulan yang lalu, sikap Kakaknya berubah derastis.
Andi yang selalu menghindari dirinya dikampus, yang seakan-akan tidak melihat keberadaannya. Anggapun menyadari akan hal itu, dirinyapun menerima sikap Andi karena memang dirinya yang bersalah dengan hatinya yang sudah jujur terang-terangan menyukai kakak iparnya sendiri.
"Hallo Kak Andi dan Kakak ipar, apa khabar? Kalian jarang banget kesini, sudah hampir satu bulan kita engga ketemu." Sapa Angga bersikap santai, meski hatinya sangat rindu bertemu Mutiara.
"Alhamdulilah baik dik, maaf kami tidak bisa lama-lama disini, kami harus segera pergi." Ucap Andi dingin, Mutiara hanya tersenyum canggung, lalu mengangguk kecil kepada Angga dan kedua temannya yang pernah dia jumpai di Mall saat itu.
__ADS_1
Angga hanya tersenyum miris, saat Andi dan Mutiara pergi tanpa mendengar dirinya menjawab terlebih dahulu.
"Segitu marah dan bencinya kamu Kak Andi padaku! Apa salah dengan hatiku? Apa salah dengan perasaanku? Apa salah dengan cintaku? Akupun tidak ingin semua ini terjadi Kak! Tapi, bukankah cinta itu buta? Tidak mengenal tempat, waktu dan status."
Ucap Angga dalam hatinya, tanpa sadar matanya sudah berkaca-kaca, saking rindunya hati Angga kepada Mutiara.
"Hai.. Ga! Loe melamun?" Tanya Dion salah satu teman Angga dan Feripun menatap aneh sahabatnya itu.
"Eeh.. engga, ayo masuk ke dalam." Elak Angga mengajak mereka masuk kedalam rumahnya.
"Ayo.. " Jawab Dion dan Feri bersamaan.
Merekapun masuk bersama kedalam kamar Angga setelah sebelumnya menyapa Papi dan Mami Angga.
*******
Sesampainya di Apartement yang hampir satu bulan mereka tempati, tidak ada yang berbeda dengan hubungan mereka berdua masih sama-sama dingin diantara keduanya.
Disaat hati Andi kadang menghangat, selalu saja ada suatu hal yang membuat mereka kembali dingin. Misalnya tiba-tiba muncul perasaan tidak percaya diri dengan hati Andi dan Mutiara. Keduanya belum bisa membuka hati masing-masing.
Mutiara yang selalu mengingat perjanjian nikah sampai enam bulan, sedangkan Andi yang tidak bisa jujur pada hatinya. Namun dirinya sering memberikan sinyal, kode ataupun isyarat, tapi Mutiara seolah tidak mengerti maksud dari suaminya tersebut. Alhasil Andipun bersikap dingin kembali.
"Mas Andi mau makan apa, malam ini? Nanti, saya masakkan." Tanya Mutiara saat mereka baru saja masuk kedalam Apartement.
"Pesan saja lewat online, memangnya kamu tidak capai hah..?" Ucap Andi sedikit ketus, dirinya masih kesal saat bertemu dengan adiknya tadi dirumah Papi Dahlan. Padahal dia berusaha menghindar, sebisa mungkin tidak bertemu dengan Angga.
Andi tidak menanggapi istrinya yang kesal atas ucapannya, dirinya memang sadar kalau ucapannya sedikit bernada tinggi kepadanya.
Di Apartement Andi hanya ada satu kamar. Andi memilih tidur disofa depan TV, sedangkan istrinya dia minta tidur di kamarnya.
"Bocil.. saya mau mandi, kamu sudah mandinya atau belum?" Tanya Andi yang dirinya sudah merasa lengket sedari tadi.
"Sebentar Mas, saya masih membilas rambut." Sahut Mutiara dari dalam kamar mandinya.
"Iya sudah, lima menit lagi saya tunggu yah. Soalnya sebentar lagi pesanan makanannya akan datang. Nanti kamu yang nerima, saya sudah bayar lewat aplikasinya."
"Jeglek.. iya Mas." Ucap Mutiara saat bunyi pintu terbuka.
"Heem.." Andi bergumam, lalu masuk kedalam kamar mandi.
Selesai merampungkan mandi, seperti biasa Andi berganti pakaian di kamarnya. Mutiara akan keluar kamar, jika suaminya sehabis selesai mandi.
"Mau kemana?" Tanya Andi santai mendekati lemari miliknya. Karena Mutiarapun memiliki lemarinya sendiri.
__ADS_1
"Mas 'kan mau ganti baju, saya mau keluar dulu." Sahut Mutiara datar.
"Bolehkah, saya minta siapkan baju tidur saya sekarang?" Tanya Andi tiba-tiba manja.
"Tumben, Mas Andi minta siapin baju tidur? Biasanya ambil sendiri." Tutur Mutiara merasa aneh.
"Kamu itu siapa? Bukankah kamu itu istri saya? Memangnya salah, kalau saya minta siapin baju sama kamu hah..?" Tanya Andi sedikit kesal, karena istrinya yang tidak langsung mengiyakan perintahnya.
"I.. iya Mas, saya siapkan." Ucap Mutiara melewati suaminya, lalu membuka lemari pakaian suaminya. Mutiara memilih baju tidur, yang sering suaminya pakai.
"Ini Mas, bajunya." Ucap Mutiara memberikan baju tidur diatas ranjangnya.
"Pakaikan." Ucap Andi cepat. Namun, Mutiara bergeming lalu mengerutkan dahinya heran, suaminya tidak biasanya bersikap seperti itu.
"Ayo.. pakaikan baju saya. Kenapa kamu malah melamun disitu?" Ucap Andi ketus.
"Tidak bisa Mas!" Tolak Mutiara membalikkan badannya membelakangi suaminya.
Tiba-tiba saja, Andi memeluk pinggang istri bocilnya itu dari belakang. Sontak saja Mutiara seketika terpaku, merasakan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Maafkan saya... kalau saya sering kasar dan egois sama kamu. Izinkan saya memeluk kamu sebentar saja." Bisik Andi dibelakang punggung istrinya, dengan menghirup wangi tubuh Mutiara yang membuat Andi merasakan kelembutan gadis yang berada dipelukkannya saat ini.
...ππππ...
Autor : Heeem... πππ
Andi : Kenapa Tor? Jangan ganggu lah Tor!π€§πΏ
Autor : Memangnya istri bocil kamu sudah nerima kamu?π€£π€£
Andi : Sudah dong Tor, buktinya dia mau aku peluk.πππ₯°
Autor : PD banget! Kita lihat saja nanti.ππ
Andi : Awas loh Tor, kalau macam-macam.π₯Άπ‘
Autor : Engga macam-macam, cukup satu macam saja. πββοΈπββοΈ kabuuur... !!!
Andi : Dasar Otor engga boleh lihat orang senang, bisanya ganggu saja. Sudah itu langsung kabur.. Huuh..π‘π‘π«π
...β₯οΈβ₯οΈβ₯οΈπΉπΉππβ₯οΈβ₯οΈβ₯οΈ...
Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.ππ...