
🥰Happy Reading🥰🥰
Pagi hari Mutiara sudah bangun, seperti biasa dia selalu bangun seperti itu meski dirinya tidur sudah larut malam.
Kebiasaan bangun tidur paginya, selalu dia lakukan setiap hari sewaktu di Yogyakarta.
Mutiara melakukan kewajiban paginya, mandi dan sholat shubuh. Sehabis sholat dia pergi keluar kamar untuk mencari udara segar.
"Mas Andi, manis dan tampan jika sedang tidur. Mas Andi, saya keluar dulu yah. Saya ingin mengambil udara segar diluar." Mutiara berbicara pelan dengan tersenyum.
"Jeglek." Bunyi pintu kamar dibuka.
Mutiara keluar kamar dan menutupnya kembali. "Bluug."
Andi terbangun saat mendengar bunyi pintu kamar terbuka dan tertutup, dirinyapun langsung terduduk dengan wajah masih mengantuk.
"Mau pergi kemana dia? Sepagi ini dia sudah bangun dan keluar kamar?" Andi bertanya dalam gumammannya.
Andi turun dari ranjangnya, kemudian pergi kekamar mandi membersihkan tubuhnya singkat. Selesai mandi, Andi memakai pakaian casual lalu menunaikan sholat shubuh dua raka'at.
Masih mengenakan sarung, Andi keluar kamarnya, dia penasaran apa yang sedang dilakukan istrinya sepagi ini.
"Eeh.. Aden Andi sudah bangun? Habis sholat shubuh yah Den?" Tanya Mbo Yuyun, saat melintasi kamar Andi dengan membawa belanjaan dari luar rumahnya.
"Iya Mbo Yuyun. Apa Mbo Yuyun, habis belanja sepagi ini?" Tanya Andi saat melihat ARTnya membawa sekeranjang sayuran.
"Iya Aden, seperti biasanya yang Aden lihat. Mbo 'kan memang belanja sayuran segar di pasar tiga hari sekali." Kata Mbo Yuyun, seraya tersenyum.
"Ooh.. maaf Andi engga begitu paham soal itu Mbo."
"Iya engga apa Den, lagi pula Aden 'kan laki-laki mana mengerti soal belanja sayuran dan kebutuhan dapur."
"Iya, he.. he.. he.." Ucap Andi terkekeh saat dirinya memang tidak mengerti soal ARTnya yang belanja sepagi ini.
"Sini Mbo, saya bantu bawakan belanjaannya." Tawar Andi seraya akan mengambil keranjang bawaan Mbo Yuyun.
"Jangan Den, keranjangnya engga berat ko, hanya isi sayuran saja." Cegah Mbo Yuyun, dengan menahan tangan Andi.
"Iya sudah kalau begitu, Mbo." Ucap Andi menyerah.
"Mbo Yuyun... i.." Ucapan Mutiara terhenti saat dirinya melihat Mbo Yuyun sedang berbicara dengan suaminya.
"Ayo Non, kita bawa ke dapur saja." Ajak Mbo Yuyun untuk membawa belanjaannya kedapur.
__ADS_1
Diluar tadi, saat Mutiara sedang menghirup udara segar dan berolah raga kecil. Dia melihat Mbo Yuyun, baru saja turun dari mobil dan membawa beberapa bungkusan belanjaan. Dengan inisiatifnya, Mutiara ingin membantu Mbo Yuyun.
Awalnya Mbo Yuyun menolaknya, namun akhirnya menyerah juga karena usaha gigih Mutiara untuk membantunya.
Andi melihat Mutiara dengan mode dinginnya kembali, tidak secerah wajahnya saat berbicara dengan ARTnya.
"I.. iya Mbo Yuyun." Ucap Mutiara seraya mengikuti Mbo Yuyun melangkah.
"Permisi Den Andi, Mbo mau beresin belanjaannya dulu."
"Iya Mbo Yuyun." Andi hanya melirik istrinya sekilas, lalu beralih meninggalkannya masuk kedalam kamarnya lagi.
Mutiara hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun dirinya sadar, mungkin suaminya masih marah kepadanya, soat kemarin dirinya turun dari dalam mobilnya dan pindah ke mobil adik iparnya. Apa lagi, ditambah dirinya pulang larut malam dan mendapati suaminya sudah terlelap tidur.
"Tolong letakkan disitu saja Non, belanjaannya." Kata Mbo Yuyun, seraya menunjuk ke arah meja panjang yang ada di dapur.
"Baik, Mbo." Mutiara kemudian menaruh kantong belanjaannya diatas meja tersebut.
"Terima kasih, Non."
"Iya, Mbo. Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Mbo?"
"Tidak usah Non, sekarang Non temui Den Andi suami Non saja. Kemarin dia uring-uringan Non, menunggu Non belum pulang-pulang sama Den Angga."
"Iya Non, benar. Mbo Yuyun dan Mbo Panti yang melihat Den Andi seperti itu. Bahkan Den Andi menanyakan sama Mbo Yuyun beberapa kali, kalau Non sudah pulang atau belum."
Mutiara bergeming, saat yakin Mbo Yuyun tidak sedang bercanda.
"Hallo Non? Non Mutiara?" Panggil Mbo Yuyun seraya melambaikan tangannya di depan wajah Mutiara.
"Eeh.. iya Mbo. Maaf, saya tadi shock saja dengarnya."
"Non Mutiara, melamun? Non Mutiara shock dengar Mbo mengatakan perihal kebenaran tentang suami Non? Apa Non Mutiara sudah menyukai Den Andi? Non Mutiara, pulang jam berapa semalam sama Den Angga?"
"Aduh.. Mbo Yuyun, kalau bertanya itu satu-satu, jangan diborong. He.. he.. he.." Mutiara bingung harus menjawab semua pertanyaan Mbo Yuyun seraya terkekeh.
"He.. he.. he... iya Non, habisnya Mbo Yuyun penasaran sama Non Mutiara. Sepertinya Nona, menjaga jarak dengan Den Andi?"
"Engga, Mbo Yuyun. Itu hanya perasaan Mbo Yuyun saja. Hubungan Mutiara dan Mas Andi baik-baik saja, seperti layaknya suami istri pada umumnya." Mutiara berdusta mengenai hubungan rumah tangganya, yang baru seumur jagung itu.
"Ooh.. Syukurlah, kalau Nona dan Aden baik-baik saja."
"Iya, Mbo Yuyun."
__ADS_1
"Oh.. iya Non, biasanya Den Andi suka dibuatkan coklat panas, kalau pagi hari seperti ini. Apa Non mau membuatkannya untuk Den Andi?"
"Boleh, Mbo Yuyun. Dimana coklat bubuknya disimpan, Mbo?"
"Diatas lemari itu Non, biasanya naik pakai kursi Non untuk mengambilnya." Kata Mbo Yuyun seraya menarik kursi.
"Sini Mbo kursinya." Pinta Mutiara dengan melambaikan tangannya.
"Iya, Non." Mbo Yuyunpun memberikan kursinya kepada Mutiara.
"Apa Nona, bisa ambil sendiri coklat bubuknya? Saya mau mencari Mbo Panti dulu, sebentar." Ujar Mbo Yuyun bertanya.
"Bisa Mbo Yuyun, saya biasa panjat pohon jambu air kalau di rumah Ibu."
"Iya sudah, Mbo tinggal dulu yah."
"Iya, Mbo."
Mutiarapun mulai naik keatas kursi, diapun mencari coklat bubuk yang disimpan diatas lemari tersebut, kata Mbo Yuyun. Namun, dirinya belum juga mendapatkan apa yang dia cari.
Setelah kakinya pegal berjinjit, agar mudah dalam mencari coklat tersebut. Akhirnya, coklat bubuk itu dia temukan juga.
"Alhamdulillah, ketemu juga kamu coklat." Kata Mutiara seraya meraih bungkusan coklat tersebut dengan senang.
Saking senangnya dirinya, tanpa disangka dirinya hilang keseimbangan. Kursinya mulai bergoyang, lalu diapun terjatuh."
"Aaaaaa..." Mutiara berteriak karena dirinya takut terjatuh.
"Bruuuukk.." Bunyi kursipun ambruk.
Mutiara terkejut untuk beberapa detik, tanpa sadar tubuhnya sudah ada dalam gendongan Angga, adik iparnya.
Mata mereka saling bersirobak dan menatap dengan penuh arti bagi Angga, sedangkan Mutiara masih dalam keterkejutannya.
"E.. eeh.. k.. kenapa ada kamu Angga? T.. tolong turunkan saya." Ucap Mutiara gugup.
"Iya, akan Angga turunkan nanti. Tapi, kenapa Kakak ipar naik-naik keatas kursi segala. Kalau engga ada Angga, pasti Kakak ipar sudah jatuh mencium lantai. Sakit pastinya, he.. he.. he.."
"I.. iya, tapi tolong turunin saya dulu dari sini. Saya tidak ingin ada salah paham dan..." Ucap Mutiara terhenti saat dia melihat wajah suaminya yang sedang berdiri menatap dirinya.
"Eeheemm..." Suara deheman Andi membuat Angga membalikkan tubuhnya, seraya masih menggendong Mutiara ala bridal style.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....