
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Angga berjalan terlebih dahulu dengan Kelik yang mengikutinya di belakang. Kelik masih tercekat dengan kenyataan bahwa Anggapun pernah menyukai bahkan mencintai Mutiara sang mantan pacar. Kelik berpikir bagaimana bisa sang adik ipar menyukai kakak iparnya sendiri.
"Kak Angga, tunggu sebentar." Cegah Kelik dengan menarik lengan Angga yang akan mengetuk pintu kelas.
"Kenapa? Kamu masih penasaran kenapa aku bisa suka sama kakak iparku sendiri, gitu?" Tanya Angga yang sudah tahu maksud Kelik.
"He.. he.. he.. iya, kak!" Kelik terkekeh, karena Angga bisa menebak pikirannya.
"Semua orang pasti akan dengan mudah jatuh cinta dengan Mutiara, termasuk aku. Hanya saja, ada pria yang berani mengungkapkan rasa sukanya, ada juga yang hanya sekedar mengagumi. Buktinya kamu, susah moveon dan masih berambisi terhadap Mutiara, bukan?"
"He.. he.. he.. iya juga kak! Benar kata kakak, pria mana yang tidak suka dan jatuh cinta kepada Mutiara."
"Sekarang sudah faham, bukan? Sudah moveon, masih banyak wanita cantik dan baik yang akan kamu dapatkan nanti. Kamu itu tampan, tidak sulit untuk mendapatkan wanita pengganti Mutiara. Hanya saja kamu harus membuka hati untuk wanita lain, jangan mulu terbayang-bayang masa lalu." Angga memberikan nasehat untuk Kelik, sebagaimana dia juga akhirnya moveon dari Mutiara yang pernah mencuri hatinya.
"Baik kak Angga, terima kasih." Ucap Kelik pada akhirnya. Ucapan Angga ada benarnya, Kelikpun tersenyum simpul kala memikirkan dengan akal sehat, jika dirinya itu tampan dan tidak sulit untuk membuka hati kepada wanita lain yang tulus mencintainya.
Namun, karena cintanya selama ini menutupi akal sehatnya. Cinta itu buta, jadi wajar sajalah Kelik tidak bisa melihat cinta wanita lainnya. Cinta tidak mudah berpaling dari satu wanita kewanita lain, karena rasa cintanya yang teramat dalam.
"Tok.. tok.. tok.." Bunyi pintu kelas diketuk
"Assalamu'alaikum..! Selamat pagi, adik-adik semuanya." Salam Angga yang diikuti oleh Kelik dengan mengucap salam juga, lalu berjalan kearah tempat duduknya.
"Wa'alaikumussalam..! Selamat pagi juga kak Angga dan Kelik." Jawab semua adik kelas dengan menatap heran kepada Angga dan Kelik. Kedua wajah mereka nampak berseri, tidak seperti sebelumnya yang begitu menakutkan yang terlihat dari wajah Angga.
Namun, ada keanehan dimata adik-adik kelas, wajah Kelik yang sedikit memar, padahal sebelumnya nampak baik-baik saja.
"Maafkan kak Angga tadi ya, adik-adik semua. Kak Angga sudah meninggalkan kalian, dengan sikap kurang baik." Sesal Angga mengutarakan sikapnya tadi saat meninggalkan kelas.
"Tidak apa-apa, kak Angga." Sahut semua adik kelasnya memaklumi. Setiap orang pasti punya masalah dan tidak mungkin tidak ada yang terhindar dari masalah meski sekecil apapun itu.
"Terima kasih, kalau begitu silahkan dilanjut kegiatannya. Untuk Kelik, tolong dibantu, karena dia baru bergabung." Ujar Angga bersyukur dan masih memikirkan Kelik, yang mungkin harus beradaptasi dengan materi yang sudah diberikan oleh Aldi.
"Siap, kak Angga." Sahut adik-adik kelas dengan semangat.
__ADS_1
"Hei... bro, apa benar kak Andi dan Mutiara mengalami kecelakaan? Terus, Mutiara mengalami koma dirumah sakit?' Tanya Aldi penasaran.
"Iya, Al. Kamu tahu dari pacarku, huem?" Tanya Angga, berjalan kearah Aldi dan duduk dibangkunya.
"Iya, Ga! Aku memaksanya tadi, untuk meminta penjelasan dengan sikap kamu yang tiba-tiba aneh seperti itu." Ungkap Aldi jujur.
"Iya, Al! Aku kasihan sama kakak iparku dan kak Andi. Baru saja mereka menikmati masa-masa bahagianya, layaknya pacaran setelah menikah, harus mengalami nasib tragis seperti ini." Ujar Angga dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Sudahlah, Ga! Kita harus bersabar dan berdoa, untuk kesembuhan mereka. Terutama Mutiara, kakak iparmu agar lekas bangun dari komanya." Ucap Aldi simpatik.
"Huem, terima kasih, Al!" Ucap Angga dengan tersenyum miris, lalu mengusap air matanya perlahan. Angga sudah tidak bisa membendung air matanya untuk segera keluar, karena hatinya yang begitu tersayat, bila mengingat kondisi kedua kakaknya saat ini.
"Sepulang Ospek, kami semua akan segera menjenguk Mutiara dan kak andi, Ga. Adik kelas sudah tahu semuanya kondisi sahabat dan suaminya. tadi. Mereka akhirnya tahu, jika Mutiara sudah menikah dengan kakakmu, Ga." Jelas Aldi jujur.
"Siapa yang mengatakannya, Al?" Tanya Angga sedikit kesal, karena status Mutiara dan Andi terbongkar.
"Bukan begitu ceritanya, Ga! Tadi itu, ada yang bertanya kenapa sikap kamu yang seperti tadi, lalu Mutiara tidak masuk Ospek karena apa dan kenapa Mutiara bisa kecelakaan bersama Dosen Andi. Semuanya karena itu, pertanyaan yang mendesak terpaksa harus dijawab."
"Ooh.. kalau begitu, apa mau dikata, Al? Iya sudah, memang kenyataannya mereka suami istri." Ujar Angga pasrah, lalu tersenyum miris.
"Hiss.. nyebelin banget kak Angga, kenapa sikapnya dingin gitu, apa dia tidak ingin melihatku sama sekali ataupun menyapaku? Apa dia marah, gara-gara aku tidak izinkan menjemputku tadi pagi? Memangnya badannya tidak lelah, semalaman kurang tidur? Aku 'kan kasihan sama dia, kalau harus menjemputku." Amara bergumam pelan dengan mengerucutkan bibirnya tanpa sadar.
Aldi yang melihat wajah Amara dari depan, nampak tersenyum melihat wajah Amara yang terlihat kesal namun tetap cantik. Dia begitu menyukainya, namun terpaksa harus membuang jauh-jauh rasa itu.
"Ga.. Angga..!" Panggil Aldi membuyarkan lamunannya.
"Eeh.. iya, Al. Ada apa?" Ucap Angga tersentak karena dirinya sedang tidak fokus.
"Kamu melamun, ya?" Tanya Aldi penuh selidik.
"Huem.. banyak pikiran, Al." Sahutnya santai belum menyadari Amara terus memperhatikan dirinya.
"Banyak pikiran?"
"Iya, Al!"
__ADS_1
"Banyak pikiran soal apa, Ga? Soal kakak kamu, atau soal Amara?" Tanya Aldi menyindir kekasih sahabatnya itu.
"Dua-duanya, Al." Sahut Angga jujur, masih belum menyadari Amara memperhatikannya terus.
"Ooh.. pantas saja, pacar kamu terus lihatin kamu dengan wajah nampak kesal tuh."
Sontak saja, Angga langsung melihat kearah meja Amara berada. Benar apa yang dikatakan Aldi, wajah Amara nampak cemberut dengan mengerucutkan bibir kearahnya.
Tiba-tiba saja, Amara membuang muka, saat Angga melihat kearahnya. Anggapun tersenyum, lalu berbisik kepada Aldi. "Pacarku itu menggemaskan, Al. Sedang kesal dan cemberut saja nampak cantik dan sexy, apa lagi sedang tersenyum."
Sontak saja, Aldi langsung tertawa terbahak-bahak."Huaha. ha.. ha.."
Seketika saja, kelas nampak hening saat mendengar Aldi tertawa terbahak, saking kerasnya suara Aldi yang membuat semua adik kelasnya melihat kearah Aldi dan Angga berada. Begitu juga dengan Amara, yang sedang membuang muka kearah mereka, spontan ikut melihatnya.
"Eeh.. maaf.. maaf! Saya minta maaf ya, adik-adik junior. Silahkan kalian berdiskusi kembali. Jika ada yang kurang faham dan belum dimengerti, kalian boleh tanyakan kepada kami." Ujar Aldi berdiri karena terlanjur malu, dengan tawanya yang begitu keras.
"Baik, kak!" Sahut adik kelasnya, lalu melanjutkan kegiatan mereka.
Aldipun tersenyum canggung, lalu duduk kembali ditempatnya.
"Ini.. gara-gara kamu, Ga!" Ucap Aldi menyalhkan Angga.
"He.. he.. he.. kok gara-gara aku sih, Al?" Angga terkekeh merasa heran.
"Iya, gara-gara kamu, aku jadi tertawa seperti tadi."
"Kenapa? Memang benarkan, pacarku cantik dan sexy walau sedang cemberut seperti itu."
"Iya, karena itu akupun menyukainya." Aldi bergumam pelan.
"Apa? Kamu ngomong apa, Al?"
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--