Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 55


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Andi dan Mutiara yang sedang menjadi raja dan ratu diacara pestanya, begitu terlihat binar-binar bahagia dan bersinar.


Kedua orang tua Andipun nampak bahagia, diatas pelaminan menemani mereka. Ibu Lanjarpun sangat bahagia, terlihat jelas senyuman di wajahnya, meski sudah tidak muda lagi.


Malam ini adalah malam paling bahagia, untuk pasangan yang awal pernikahannya diwarnai dengan sandiwara dan keterpaksaan.


Siapa sangka pria ketus dan dingin bagai kulkas dua pintu seperti Andi, bisa cemburu dengan adiknya sendiri. Padahal, dari awal dirinya tidak punya rasa cinta sama sekali kepada istri bocilnya itu.


Andai saja waktu bisa diputar kembali, bagaimana ketusnya dan cueknya Andi sama Mutiara, mungkin dirinya ingin menghilang dari tempatnya saat ini berada duduk bersanding diatas pelaminan dengan wajah rupawannya.


Amara dan Dadienya Mr. Ramon baru saja hadir dipesta pernikahan mereka. Papi Dahlan yang memang sudah mengundangnya.


Penampilan Amara begitu berbeda kali ini, sedikit membuat Angga memandang takjub. Apa lagi semenjak kejadian dua minggu yang lalu, sepulang dirinya mengantar Amara dan Dadienya ke Apartementnya.


Perasaan Angga semakin tidak menentu dan kadang terbayang kelakuan rusuh Amara. Angga mencoba menepis perasaan yang berbeda kepada Amara, dirinya belum bisa membuka hati untuk gadis lain, setelah cintanya kandas terhadap kakak iparnya sendiri yaitu Mutiara.


Amara bersama Mr. Ramon menaiki pelaminan pengantin yang begitu bagus dan berwarna. Mereka memberikan selamat kepada Andi dan Mutiara, lalu beralih kepada kedua orang tua Andi dan Ibu Lanjar.


Ada perasaan sedih dan kecewa dihati Amara, dirinya sudah mengorbankan untuk tinggal dan menetap di Indonesia, bahkan kuliah dan membantu bisnis Dadienya di Indonesia, hanya ingin mengejar cinta Andi nantinya.


Siapa sangka cintanya bertepuk sebelah tangan, layu sebelum berkembang. Belum menyatakan perasaan, namun sudah terlanjur mengetahui kenyataan pahit, bahwa pria yang dia cintai adalah suami orang.


Selama Amara tinggal di Singapore, dia tidak pernah menemui pria seperti Andi yang ketus, dingin dan menyebalkan, pikirnya.


Amara selalu menjadi pusat perhatian para pria tampan disana, saat dia masih duduk dibangku Menengah Atas. Dirinyapun bahkan tidak pernah menerima cinta pria disana, yang selalu menggodanya dan menyatakan cintanya.


Berbeda dengan sikap Amara kepada Andi, pertemuan untuk pertama kali saat dirinya begitu mengagumi sosok Andi dengan wajahnya yang datar, ucapan yang ketus dan sikapnya yang dingin, membuat Amara semakin penasaran dan menyukainya.


Pria yang dengan mudahnya bisa membuat Amara jatuh cinta, pria yang dengan mudahnya mampu memporak-porandakan hati Amara saat ini.

__ADS_1


Betapa hancur dan kecewanya dirinya, saat tahu Andi sudah menikah sewaktu pertemuan mereka, yang tanpa sengaja di kampus yang sama tempat dia mendaftarkan diri menjadi calon Mahasiswa baru.


Namun Amara begitu pintar menutupi perasaan sakit hatinya, dengan dirinya bersikap wajar dan tersenyum ramah.


Dadie Ramonpun tidak tahu mengenai perasaan putrinya sendiri, yang begitu mencintai Andi.


Setelah mengucapkan selamat kepada Andi dan Mutiara, Amarapun turun dari atas pelaminan dan berbaur dengan para tamu yang lainnya.


Sedangkan Dadie Ramon dia tinggalkan, karena asik berbincang-bincang dengan Papi Dahlan dan Mami Safira yang merupakan kolega bisnisnya.


Amara mengambil beberapa dessert, kemudian memakannya dengan begitu asik. Tanpa disadarinya, ada seorang pria yang mengajaknya berkenalan dan menawarkan minuman soda.


"Hai.. cantik! Boleh berkenalan, tidak? Siapa nama kamu, nona?" Tanya pria itu dengan begitu ramah.


Amara hanya tersenyum kecut, lalu menggelengkan kepalanya pelan dan masih menikmati dessertnya dengan asik.


"Sial.. sombong sekali ini cewek, apa dia belum kenal siapa gue?" Ucap pria itu dalam hatinya.


Amara masih terdiam dan menggelengkan kepalanya, dirinya malas meladeni pria yang tidak dikenalnya dan terlalu agresif pikirnya.


"Sepertinya dessertnya sangat lezat, apa nona sangat menyukainya?" Pria itu masih mencoba mengambil perhatian Amara dengan jurus rayuannya.


"Heeem.." Amara hanya bergumam tanpa menoleh kepada pria yang sedang bertanya kepadanya.


Pria itupun tidak menyerah begitu saja, dengan seribu satu cara untuk merayu Amara.


"Sepertinya, nona bukan orang asli sini ya? Nona terlihat berbeda, dengan gadis-gadis disini." Ujar pria itu sedikit mengikis jarak.


Amara sedikit merasa risih, dengan sikap pria yang tidak dia kenal itu. Lalu diapun berkata ketus dan sedkit marah.


"Heem.. bisa tidak anda bersikap sopan kepada saya? Apa anda tidak tahu malu, hah..? Ini tempat umum dikeramaian, tolong jaga jarak anda dari tubuh saya!"

__ADS_1


Pria itupun mendengus sebal dan tersenyum miring, lalu menjaga jarak agak sedikit memundurkan kakinya. "Shiit.. Apa nona takut kepada saya, heum..? Atau nona sudah jatuh cinta dan berdebar-debar saat saya mendekati nona?" Ujarnya percaya diri.


Amara merasa lega, setelah pria itu tidak mengikis jarak lagi. Namun, dirinya terasa mual mendengar ucapan pria itu, yang percaya dirinya mengalahkan pria-pria yang pernah dia temui selama ini.


"Aiish.. anda terlalu percaya diri sekali! Maaf, saya tidak ada waktu untuk meladeni anda." Acuh Amara hendak meninggalkan pria itu menjauh.


Sialnya, pria itu langsung mencekal lengan Amara yang hendak menjauh. "Jangan pergi nona, kita belum berkenalan!"


"Aawh.. sakit! Lepaskan lengan saya breengsek!" Amara meringis saat merasakan sakit dilengannya yang ditahan oleh pria itu. Dengan wajah merah menahan kesal, Amara mengumpat pria tersebut "Shiit.. lepasin lengan ssya, dasar pria brandalan!" Lalu menghentakkan kakinya agar lengannya dilepaskan oleh pria tersebut.


"Sakit ya, nona! Saya belum ngapa-ngapain loh, baru pegang lengan saja." Ujarnya pria itu tersenyum menyeringai, tanpa melepaskan lengan Amara.


"Apa anda, ingin saya berteriak ditempat ini, hah? Atas dasar anda bersikap tidak sopan kepada saya."


"Silahkan berteriak nona, saya tidak takut sama sekali. Bahkan saya akan membungkam bibir nona dengan bibir saya saat ini juga, agar nona tidak bisa berteriak." Ancamnya pria itu tersenyum iblis.


"T- tapi, anda sudah menyakiti lengan saya. Pasti ini akan membekas jika anda tidak juga melepasnya." Ujarnya gugup sedikit takut.


"Lepaskan lengan pacarku, kamu sudah menyakitinya!" Pekik Angga sedikit kencang, dengan menghampiri kedua orang berbeda jenis sedang bertengkar.


"Angga.. ? Suaranya seperti Angga! Apa memang dia Angga? Tapi, kenapa dia menyebutkan aku pacarnya?" Amara bermonolog dalam bathinnya.


Karena penasaran, Amarapun langsung melihat sosok pria yang terdengar dari suaranya, karena dirinya memunggungi pria yang berteriak tersebut.


"Haaah.. ternyata benar, apa yang aku lihat." Ucapnya hampir tidak percaya.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


__ADS_2