Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 41


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Andi bergeming saat seseorang berbicara dari belakang, dia tahu suara itu adalah adiknya, Angga. Tapi, dia bingung untuk menjelaskannya. Kenapa dia berjalan pelan dan mengendap-endap seperti maling.


"Kak Andi mau ngapain? Memangnya belum tidur?" Tanya Angga lagi, karena kakaknya tidak menjawab pertanyaannya sedari tadi.


Andi berbalik badan, dia hanya bisa cengengesan tanpa bisa bicara jujur.


"Eeh.. kamu dik! Kamu sendiri belum tidur?" Andi malah nanya balik sama Angga.


"Aku habis ngerjain tugas hasil laporan KKN yang belum tuntas kak, satu minggu lagi harus sudah jadi. Dosen aku, memberi batas waktunya sangat singkat." Ujar Angga.


"Ooh.. begitu yah! Iya sudah, sekarang kamu tidur sana, nanti besok kesiangan loh." Kata Andi mengingatkan.


"Iya.. kak. Terus kakak sendiri belum tidur? Bukannya besok kakak ada jadwal mengajar pagi?" Tanya Angga mengingatkan kakaknya juga.


"He.. he.. he.. tapi kakak engga pagi-pagi banget, jam sepuluhan." Kilah Andi dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eeh.. iya deh kalau begitu, Angga mau kedapur ambil air minum, haus habisnya." Ujar Angga berjalan menuju dapur.


"Iya.. dik." Sahut Andi.


Andi menunggu Angga dari dapur, dengan bersembunyi dibawah tangga rumahnya yang tertutup lemari. Dirinya takut bertemu lagi dengan adiknya, yang akan curiga kepadanya.


Tidak lama kemudian, Anggapun datang dan naik tangga menuju kamarnya. Setelah dipastikan aman, Andipun keluar dari persembunyiannya.


"Aman.. hampir saja!" Ucap Andi, tangannya mengelus-elus dada.


Andipun meneruskan niatnya untuk membangunkan Mbo Yuyun, Andi kasihan sama istrinya jika terlalu lama menunggu ditoilet pikirnya.


"Tok.. tok.." Bunyi pintu kamar Mbo Yuyun diketuk. Satu kali tidak ada sahutan, dua kalipun demikian masih tidak ada jawaban.


"Mbo Yuyun sama Mbo Panti, tidurnya benar-benar seperti kerbau. Masa sudah dua kali masih engga dengar juga suara ketukkan pintu. Walah.. walah.. bagaimana ini?" Andi menggerutu sendiri didepan kamar mereka.


Akhirnya, Andipun memanggil Mbo Yuyun dan Mbo Panti tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Mbo Yuyun.. Mbo Panti.. bangun dong. Ini Andi diluar, bukain pintu kamarnya." Ucapnya pelas sedikit berbisik.


Mbo Yuyun seperti mendengar ketukkan pintu, lalu setelah itu samar-samar seperti suara laki-laki menyebut namanya dan juga nama Mbo Panti.


"Siapa yah malam-malam mengetuk pintu kamar dan membangunkan saya?" Mbo Yuyun bertanya dalam gumamman.


Mbo Yuyun akhirnya bertanya kembali, untuk memastikan pendegarannya tidak salah.


"A.. apa ada orang diluar?" Tanya Mbo Yuyun sedikit gugup.


"Iya Mbo.. ini Andi ada perlu sebentar." Sahut Andi dari luar kamar.


"Den Andi toh.. sebentar Den." Sahut Mbo Yuyun lalu bangkit dari ranjangnya dan membukakan pintu kamarnya.


"Jeglek." Bunyi pintu kamar terbuka lebar.


Mbo Yuyun mengerutkan keningnya dengan penampilan Andi yang memakai sarung. "Ada apa Den Andi? Den Andi baru habis sholat, bukan? Masih pakai sarung?" Tanya Mbo Yuyun heran, tengah malam dan masih pakai sarung menemuinya.


"I.. itu Mbo Yuyun, saya mau tanya sama Mbo, apa Mbo Yuyun punya stok pembalut?" Tanya Andi gugup dan setengah berbisik.


"Apa..? Pembalut? Huuaaaahaahaa..." Tawa Mbo Yuyun sedikit keras namun langsung dihentikan oleh Andi.

__ADS_1


"Huuuss.." Jari telunjuk Andi menempel dibibirnya sendiri.


"Eeh.. iya Den Andi, Mbo Yuyun lupa, ini tengah malam." Ucapnya.


"Mbo Yuyun jangan tertawa! Saya serius nanya, kasihan istri saya masih ditoilet nungguin pembalut." Ujar Andi jujur.


"Iya.. Den, Maaf! Mbo engga punya Den, Mbo 'kan sudah menopause. Jadi engga pernah stok pembalut." Jelas Mbo Yuyun.


"Yah.. kalau Mbo Panti?" Tanya Andi lagi.


"Sama Den, Mbo Yuyun dan Mbo Panti hanya terpaut dua tahun. Sama-sama sudah tua dan sama-sama sudah Menopause." Jelas Mbo Yuyun lagi.


"Terus Andi harus cari kemana, Mbo?" Tanya Andi galau.


"Tanya Nyonya saja, Den. Nyonya Safira belum menopause sepertinya." Usul Mbo Yuyun.


"Waah.. benarkah Mbo? Tapi Mbo Yuyun tahu engga, Mami naruh pembalutnya dimana?" Tanya Andi senang.


"Dikamar Nyonya Safira, sepertinya." Sahut Mbo Yuyun mengira-ngira.


"Mbo Yuyun mau engga tolong mintain pembalut sama Mami? Please!" Andi memohon.


"Waduh.. Mbo Yuyun engga berani bangunin Nyonya sedang tidur. Nanti kepala Nyonya Safira pusing lagi, gara-gara kita bangunin Den." Tolak Mbo Yuyun beralasan.


"Iya.. sudah, jalan satu-satunya kita kewarung depan Mbo. Tapi, masih ada warung yang buka engga yah, Mbo?" Tanya Andi ragu.


"Masih kali Den, toko mini market di depan 'kan 24 jam buka, Den." Ujar Mbo Yuyun.


"Iya sudah Mbo, terima kasih yah. Maaf.. sudah ganggu tidur, Mbo Yuyun." Ujar Andi merasa tidak enak.


"Engga apa-apa, Den.." Ucap Mbo Yuyun.


"Den Andi.. Den Andi... kasihan sekalih cari pembalut tengah malam begini." Ucap Mbo Yuyun bergumam pelan dengan menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum.


Andi pergi ke mini market menggunakan motor Pak Tejo, satpam rumahnya. Andi tidak ingin memakai mobil, takut membangunkan seisi rumahnya dengan suara mesin mobilnya yang menyala, pikirnya.


"Saya pergi dulu yah, Pak Tejo." Pamit Andi seraya menyalakan motornya, lalu meninggalkan halaman rumahnya.


"Iya.. Den Andi." Ujar Pak Tejo.


"Den Andi malam-malam pake sarung, ke mini market pula. Tumben-tumbenan, ada-ada saja Den Andi itu." Ucap Pak Tejo, bergumam pelan dan menggelengkan kepalanya heran.


Andi tiba di Mini market, diapun memarkirkan motornya didepannya. Kemudian dia masuk kedalam Mini market tersebut, dengan perasaan canggung dan gugup.


Wajar saja sih, namanya juga pria yang akan membeli keperluan wanita. Seumur-umur dirinya baru kali ini, membeli barang pribadi wanita pikirnya.


Andi mencari pembalut disepanjang rak dalam mini market tersebut, namun dirinya tidak mengerti dan menemukannya. Maklum saja, Andi belum pernah melihat bentuk pembalut sebelumnya seperti apa.


Seorang kasir perempuan yang berjaga menghampiri Andi, lalu menanyakan apa yang mau dicari dan dia menawarkan bantuannya.


"I.. ni Mba, saya cari pembalut wanita, apakah disini ada?" Tanya Andi sedikit gugup dan malu-malu.


Kasir itu tersenyum lalu berucap. "Ada Mas.. mari ikuti saya."


"Iya.. Mba." Ucapnya. Andipun mengikuti kemana kasir itu berjalan.


"Ini Mas pembalutnya, silahkan di pilih. Mas mau pakai yang jenis apa dan merk apa?" Tanya kasir itu ramah.

__ADS_1


Andi mengernyitkan dahinya, bingung apa yang harus dia pilih. "Saya engga tahu Mba, istri saya pakainya jenis pembalut yang seperti apa?" Ujar Andi.


Mba kasirnya tersenyum, lalu memberikan pilihan. "Istri Mas, suka pakai yang bersayap atau biasa?" Tanya Mba kasir itu lagi.


Lagi-lagi Andi dibikin bingung oleh Mba kasir tersebut. Andi hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu. "Tidak tahu, Mba." Ucapnya.


Mba kasirnya bingung harus memberikan pertanyaa lagi, akhirnya kasir itupun memberi solusi agar memilih beberapa jenis merk pembalut dan bentuknya.


"Kalau saran saya, Mas pilih saja beberapa jenis merk pembalut biasa dan bersayap." Ujar Mba kasir tersebut.


"Iya sudah Mba, saya beli semuanya saja." Ucap Andi tidak mau pusing.


"Haaah..? Mas engga salah? Mau beli semua pembalutnya?" Tanya Mba kasir tersebut shock.


"Habis.. dari pada saya bingung!" Ucap Andi jujur.


"Iya.. saya ambil beberapa bungkus saja, dari merk pembalut yang ada disini saja ya Mas." Ujar kasir itu.


"Iya Mba.. tolong cepat dibungkus Mba, kasihan istri saya takut kelamaan menunggu." Ujar Andi resah.


"Iya Mas.. saya akan ambil segera." Ucap kasir itu cepat.


Akhirnya selesai juga Mba kasir itu mengemas beberapa bungkus jenis pembalut kedalam plastik berwarna putih.


"Ini Mas.. total semuanya dua ratus ribu rupiah." Ujar kasir tersebut.


"Ini uangnya Mba, terima kasih banyak sudah membantu saya." Ucap Andi memberikan uang lima lembar 100 ribuan.


"Eeh.. Mas, ini kelebihan banyak, uangnya." Panggil kasir itu saat menyadari jumlah uangnya lebih tiga lembar.


"Buat Mbanya saja, uangnya." Ucap Andi dengan berjalan cepat.


Kasir wanita tersebut menggelengkan kepalanya heran lalu tersenyum. "Mas-mas itu, sudah tampan, sayang sama istri, baik pula sama orang lain. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya." Ujarnya bergumam pelan.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Autor : Cie.. baik banget sih jadi suami. 🤭🥰💃


Andi : Yah.. harus baik dong Tor!🤭🙈


Autor : Jadi seneng liatnya kalau Mas Andi yang kayak gini, mau beliin pembalut buat istri tercinta.🤭🤣


Andi : Meledek saja bisanya kamu Tor! Bilang saja puas sudah ngerjain saya.🙃🥺😡


Autor : Baru juga dipuji.. sudah nyolot lagi nih orang. 🤩🤧


Andi : Ya iya lah.. Nyolot! Habis Otor ngadi-ngadi sih.. Heuh..😡😭


Autor : 🏃‍♀️🏃‍♀️Kaboor saja lah mendingan.


Andi : Emang itu jurus terakhir kamu Tor, tukang kaboor.🤧🤣


...♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.🙏🙏...


__ADS_2