
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Angga dan Amara nampak tersenyum canggung, saat keduanya sudah melakukan ciuman mesranya diatas permainan kincir angin tersebut.
"Maaf.. aku tadi tidak bisa mengendalikan hasratku. Habis kamu menggoda aku terus, aku jadi tidak bisa tahan." Ujar Angga menyesali perbuatannya.
"Hi.. hi.. kenapa minta maaf, heum? Aku juga menikmati, ciuman kak Angga." Ucap Amara tersenyum mengembang.
"Heum.. memangnya, kamu tidak marah?" Tanya Angga dengan mengulum senyum.
"Tidak, kak Angga sayang." Ucap Amara lirih, seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Apa? Kamu baru saja panggil aku, apa?" Tanya Angga ingin mendengar sekali lagi, saat Amara memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Ck.. malu ach! Tidak mau." Tolak Amara merasa malu, dengan wajah sudah bersemu merah.
"Aissh.. kenapa malu? Kita sudah berciuman tadi, kamu tidak malu. Ayo panggil apa tadi, aku ingin dengar sekali lagi." Desak Angga.
"Sayang.. sayang.. sayang.. puas!" Panggilnya berbisik dengan lirih.
"Terima kasih, sayang. Cup.. cup.. cup..! Mulai sekarang kita resmi berpacaran, ya sayang." Ucap Angga mengecup kening Amara dan seluruh wajah Amara dengan lembut.
"Heum.. iya, kak Angga sayang." Ucap Amara bahagia, sudah menjadi bagian dari jantung hatinya Angga.
"Apa yang membuat kak Angga, ingin menjadi pacarku, heum?" Tanya Amara penasaran. Karena selama ini, dia belum begitu mengenal Angga dan juga pertemuan mereka selalu diawali dengan tidak mengenakan.
"Aku juga tidak tahu, mengapa aku menginginkannya. Mungkin, karena kamu begitu menggodaku tadi."
"Iish.. kak Angga "kan bisa menutup mata, agar tidak tergoda dengan rayuanku."
"Mana bisa tahan, sayang. Wajahmu begitu cantik dan imut saat menggodaku. Aku seperti melihat bidadari surga, dengan jantungku yang berdebar tidak karuan. Layaknya sedang menaiki roller coaster, ataupun tersengat aliran listrik beribu kilo watt rasanya."
"Ha.. ha.. ha.. gombal..!" Seru Amara tertawa renyah.
Awal mula, Amara tidak pernah menyukai Angga sedikitpun. Dia merasa Angga seperti musuh, layaknya Tom and Jerry. Namun, semenjak kejadian saat Angga mengatakan dia pacarnya, dengan gagah berani menolongnya dari laki-laki brengseek seperti Betrand, hatinya mulai terenyuh dan luluh.
Apalagi, saat dirinya bersama Dadienya Mr. Ramon, yang sudah mencuri dengar tentang ucapannya kepada Betrand, semakin memperkuat rasa penasarannya.
Anggapun kemudian memeluk Amara dengan begitu mesra, hingga tanpa terasa permainan kincir anginpun terhenti.
"Eehem.. silahkan turun Mas dan Mbanya." Ucap pegawai mengulum senyum, yang menjaga permainan kincir angin tersebut, dengan berdehem melihat mereka yang masih berpelukkan mesra.
Sontak saja mereka langsung melepaskan diri dari pelukkan mesranya. Angga dan Amarapun nampak kikuk, karena mereka baru menyadarinya setelah sampai dibawah dan permainanpun terhenti.
"Terima kasih, Mas." Ucap Angga dan Amara bergantian saat mereka dibukakan pintunya.
"Sama-sama Mas, Mba." Ucap pegawai itu menggelengkan kepalanya kecil, melihat kelakuan amak muda zaman sekarang pikirnya.
__ADS_1
Angga dan Amarapun jadi salah tingkah dan tersenyum canggung, saat banyak para pengunjung yang antri untuk naik kincir angin tersebut.
Angga kali ini menautkan jari jemarinya, dengan jari tangan lentik Amara begitu mesranya. Amarapun mengikuti saja, apa yang dilakukan Angga kepadanya.
"Kak Angga, sekarang mau pulang atau masih ingin bermain lagi?"
"Kita berjalan-jalan dulu dipasar malam ini, sayang. Kita cari permainan yang menarik, sebentar."
"Baiklah, aku ikut saja." Ucap Amara mengikuti langkah Angga, dengan tersenyum merekah.
Anggapun melangkahkan kakinya mengitari seputaran pasar malam, dengan langkah penuh bahagia dan senyuman yang terukir sepanjang waktu bersama Amara.
Gadis yang awal mula dia anggap bar-bar, biang rusuh dan sombong. Tidak disangka bisa semanis dan semenurut ini kepadanya.
Angga menggelengkan kepalanya, merasa heran dengan dirinya yang berubah haluan menjadi menyukai gadis seperti Amara. Diapun tidak menyadari sejak kapan rasa itu muncul. Karena yang dia tahu, setiap kali bersama dan bertemu Amara, mereka akan selalu ribut dan bertengkar.
"Kak Angga, lihat deh permainan itu." Tunjuk Amara, ke arah permainan lempar botol.
"Kamu mau main itu, sayang?"
"Ayo, kita main bersama."
"Okey."
Merekapun mengikuti permainan lempar botol, atau disebut dengan Bottle Flip.
Angga melempar botol dengan bola, untuk yang pertama masih gagal. Diapun mencoba untuk yang kedua kalinya, masih gagal karena hanya tujuh botol yang roboh. Setelah percobaan yang ketiga, akhirnya Anggapun berhasil merobohkan kesepuluh botol tersebut.
"Strrrret.. duk.." Botol-botolpun roboh semuanya.
"YEEH.. KAK ANGGA BERHASIL." Teriak Amara dengan riang.
"Alahamdullilah, berhasil juga." Ucap Angga bersyukur.
Penjaga stand permainan Bottle Flip, kemudian memberikan hadiah boneka panda besar kepada Amara.
"Selamat Mba dan Mas, sudah menyelesaikan permainan dengan kemenangan. Ini hadiahnya, silahkan diterima." Ucap Mba Stand permainan tersebut dengan ramah.
"Terima kasih, Mba." Ucap Amara dan Angga bersamaan.
Puas mencoba permainan Bottle Flip, merekapun mencoba permainan Mesin capit boneka, nama lainnya yaitu Claw Machine.
Amara mencoba mencapit boneka, yang berada didalam sebuah kotak kaca. Dengan penuh semangat dan gigih, dia terus mencoba berulang-ulang dan akhirnya menyerah. Boneka yang berada didalam sudah terkena capitan tapi masih jatuh sebelum keluar.
"Kak Angga mau mencoba, tidak? Aku menyerah saja, gagal terus." Tanya Amara dengan lesu.
"Sini aku ajarin, sayang." Ucap Angga mengarahkan tangan Amara diatas mesin pencapit, dengan posisi tubuh Angga berada dibelakang Amara.
__ADS_1
Dengan lincah tangan Angga, menggerakkan tangan Amara yang berada dibawahnya.
"Srettt.. crekk.. push.." Percobaan pertama berhasil. Boneka kecilpun yang berbentuk kelinci keluar dari kotak kaca itu.
"YEEAH.. kak Angga hebat." Ucap Amara riang sedikit berjingkrak kegirangan.
Angga yang melihat pacar barunya itu begitu riang dan senang, tanpa disadarinya dia begitu mengagumi kepolosan dari diri Amara. Senyuman indahpun terlukis dari bibir Angga, dengan begitu merekah.
"Kak Angga aku mau coba satu kali lagi, boleh?" Tanya Amara antusias.
"Ayo." Anggapun mengiyakan permintaan Amara, lalu mengulangi lagi cara tadi. Akhirnya kembali berhasil dan mendapat boneka yang dicapitpun keluar, dari dalam kotak kaca. Boneka kali ini berbentuk hallo kitty yang berwarna pink.
"Horre.. berhasil lagi!" Seru Amara lagi-lagi berteriak kegirangan. Sedangkan Angga, hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Menggemaskan.." Ucap Angga bergumam pelan.
Selesai mencoba permainan dan berjalan-jalan, Amara dan Angga berhenti tepat distand pakaian yang menjual kaos couple. Merekapun membeli dan memilih kaos yang berwarna hitam dan tulisan yang sama, yaitu I Love U.
Tanpa ragu Amara dan Anggapun, langsung memakai kaos couplean tersebut dengan senang.
Keduanyapun meninggalkan pasar malam dan taman permainan tersebut, menuju mobilnya.
"Kamu suka kaosnya, sayang?"
"Suka dong kak! Kalau kakak bagaimana?"
"Suka juga, sayang."
"Boneka ini buat kak Angga, kalau kak Angga kangen sama aku saat tidur, bisa peluk bonekanya." Amara memberikan boneka kecil yang berbentuk kelinci.
"Terima kasih, sayang. Kamu sudah membuat aku bahagia malam ini. Aku benar-benar menyukai kamu, sekarang."
"Sama-sama kak Angga, aku juga ingin mengucapkan terima kasih, kak Angga sudah mau menolongku dan menjagaku malam ini."
"Heum.." Angga bergumam lalu memeluk Amara dengan erat seakan tidak ingin melepasnya.
"Aku tidak ingin beranjak dari sini, sayang. Aku takut ini hanya mimpi." Angga bergumam namun masih terdengar oleh Amara, karena mereka sedang berpelukkan.
"Aaaww.." Pekik Angga, saat pinggangnya dicubit oleh Amara dengan gemas.
"Bukan mimpi berarti kak, buktinya kakak menjerit kesakitan, he.. he.. he.." Amara meledeknya lalu terkekeh.
"Ha.. ha.. ha.. nakal ya, kamu." Ucap Angga mengusap sayang, puncak kepala Amara.
...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--