
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
"M-mas Andi, aku bisa jelasin semuanya." Ucap Mutiara lirih dan gugup dengan mata yang sudah berkca-kaca.
Andi hanya bisa tersenyum acuh, menyayangkan sikap istrinya yang tidak punya malu. Dia berpikir bahwa istrinya masih memiliki perasaan kepada sang mantan pacar, maka dari itu dia mau saja peluk-pelukkan ditempat umum seperti ini, tanpa memikirkan orang lain yang akan melihatnya.
Sedangkan Kelik hanya tersenyum iblis, tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk memberikan penjelasan. Dia menyukai sikap Andi, yang sepertinya sedang terbakar api cemburu karenanya.
"Rasakanlah apa yang sedang aku rasakan selama ini, sakit bukan melihat orang yang dicintai ternyata sedang berpelukkan dengan pria lain, apa lagi pria itu masih pacarnya dan sangat mencintainya?" Ucap Kelik dalam hatinya.
"K-kelik, kamu bantu aku ngomong dong sama suamiku. Aku dan kamu sudah tidak ada hubungan lagi, kita hanya berteman saja dan itu pelukkan terakhir yang kamu pinta." Ujar Mutiara meminta Kelik untuk ikut membantu menjelaskan semua yang terjadi, agar tidak ada kesalahfahaman.
Bukannya menjawab permintaan Mutiara, Kelik malah tersenyum menyeringai kearah Mutiara dan Andi bergantian, lalu berjalan pergi meninggalkan mereka berdua disana.
Cukup lama mereka bergeming dalam posisi berdiri dengan Andi yang menatap lekat-lekat wajah sang istri, namun dengan wajah penuh tanda tanya dan kegalauan yang melanda.
Sedangkan Mutiara hanya bisa menunduk pasrah, dengan air mata yang mulai keluar dari kedua sudut matanya, lalu tumpah membasahi kedua pipinya yang mulus cantik tersebut. "Hikkz.. hikkzz... hikkzz.."
"M-mas Andi!" Panggil Mutiara lirih dengan bibir bergetar, saat dirinya mulai berani menatap wajah suaminya sesaat. Namun, dia kembali menunduk saat melihat wajah suaminya begitu merah padam.
"M-mas Andi, kenapa diam saja? S-emua ini hanya salah faham." Sambung Mutiara gugup, karena tidak kunjung mendengar jawaban dari bibir Andi.
"M-mas.. Mas Andi, tolong jangan seperti ini! A-aku..." Belum selesai Mutiara berbicara, Andi langsung memotong ucapannya.
"Tidak perlu kamu jelaskan lagi, pulang sekarang!"
Dengan wajah dingin, Andi berjalan cepat meninggalkan Mutiara yang masih menghapus sisa air matanya. Mutiarapun berjalan cepat demi menyusul suaminya, yang sepertinya masih tidak ingin berbicara kepadanya.
Andi sudah menunggu didalam mobil, siap duduk dibangku kemudi tanpa membukakan pintu mobil untuk Mutiara, yang biasa dilakukannya selama ini.
Mutiarapun membuka pintu mobilnya perlahan, lalu duduk dibangku samping Andi. Diapun memasang seatbeltnya sendiri, tanpa dibantu sang suami seperti biasanya.
Andi hanya diam tanpa mengucapkan sepatah katapun, setelah itu dia meninggalkan area parkiran kampus dalam suasana hati yang tidak baik-baik saja.
Dengan perasaan penuh rasa cemburu yang sedang membakar hatinya, Andi melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi. Pikirannya sedang kosong dan kalut, dia menahan emosi yang sedang meledak-ledak kini.
Mutiara begitu takut, dengan kondisinya saat ini. Mobil yang Andi lajukan, tidak seperti biasanya. Dia hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga semuanya baik-baik saja dan selamat sampai Apartement.
__ADS_1
Namun, naas apa yang dia panjatkan dalam doanya, tidak sesuai keinginannya. Mobil yang Andi lajukan bertabrakan dengan mobil yang hendak menyebrang dipersimpangan jalan.
"MAS ANDI... ADA MOBIL YANG AKAN MENYEB..." Mutiara belum selesai bicara, namun mobil sudah menabrak mobil yang berada tepat dihadapannya yang begitu dekat.
"Cciiiiiit...!" Andi mencoba mengerem gas mobilnya, saat mendengar suara Mutiara berteriak.
"Duuuuug...!" Namun tetap tidak terkendali, mobilnya tetap menabrak.
"Brwaaaakkkk...!" Mobil Andi menabrak begitu keras, hingga membuat keduanya tak sadarkan diri.
Kecepatan laju mobil Andi yang begitu cepat tidak bisa dihindari lagi, saat ada mobil yang hendak menyebrang tanpa lampu sein. Kesalahan fatal yang dilakukan pengendara mobil lainnya itupun tidak bisa Andi hindari, karena kondisi laju mobil Andi yang terlalu cepat.
"Astaga.. ada kecelakaan." Ucap pengendara mobil dan motor dibelakang mobil Andi.
"Kenapa berhenti, ada apa didepan jalan kita, ya?" Tanya pengendara lainnya yang berada jauh dibelakang mobil Andi.
Kondisi kedua mobilpun rusak parah, pengendara mobil yang ditabrak Andipun seketika tidak sadarkan diri.
Pengendara lainpun turun kejalan, demi melihat kondisi orang yang berada didalam mobil, akibat baru saja mengalami kecelakaan.
Mereka melihat kondisi Andi yang sudah berlumur darah, dipelipis dahinya yang mungkin saja akibat benturan keras mengenai bundaran stirnya.
Merekapun berusaha mengeluarkan Andi dan Mutiara, keluar dari dalam mobilnya. Ada juga yang menghubungi Polisi setempat, demi menyelamatkan nyawa Mutiara dan Andi.
Sebagian orang lainnya, membantu mengeluarkan orang yang berada didalam mobil, yang sudah ditabrak oleh Andi. Kondisinyapun tidak jauh berbeda dengan Andi dan Mutiara.
"Kasihan sekali mereka, sepertinya pasangan muda."
"Mengerikan..! Aku tidak berani melihat darah yang berceceran."
"Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal jalanan saat ini cukup sepi, tidak begitu ramai."
"Itulah akibatnya jika membawa kendaraan ugal-ugalan dijalan."
Begitulah bisik-bisik para pengendara lainnya, yang sedang menyaksikan kondisi Andi dan Mutiara juga supir mobil yang ditabrak.
Mereka akhirnya dibawa oleh pengendara yang lain menuju rumah sakit terdekat untuk segera ditangani, agar tidak kehabisan darah. Ketiganya masih hidup, namun tidak sadarkan diri. Jika tidak segera dibawa kerumah sakit, bisa saja ketiganya kehilangan nyawa karena kehabisan darah.
__ADS_1
*******
Angga dan Amara masih menunggu Andi dan Mutiara ditaman, keduanya sedang bercanda dan berbincang mesra.
Duduk berdua ditaman, dengan kepala Amara yang bersandar dibahu Angga. Keduanya menikmati moment indah, saat-saat bersama seperti ini.
"Sayang, kamu lapar tidak?" Tanya Angga yang kini cacing dalam perutnya mulai meronta-ronta minta diisi.
"Lapar, tapi kenapa kak Andi dan Mutiara belum juga datang ya? Apa jangan-jangan mereka sudah pulang dari tadi?"
"Iya juga ya, sayang. Coba aku telpon dulu, kak Andinya." Ujar Angga merasa khawatir.
Akhirnya Anggapun segera melakukan panggilan selulernya menghubungi ponsel Andi.
"Tuut.. tuut... tuuut..." Panggilan telpon tersambung.
"H-hallo.."
"Hallo.. ini siapa ya? Bukankah ini nomor ponsel kakak saya, kak Andi? Kenapa anda yang mengangkat telpon kakak saya?"
"M-maaf Mas, ini saya memang bukan kakak anda. Tapi saya yang sedang membawa kakak anda kerumah sakit."
"Kerumah sakit?"
Wajah Angga tiba-tiba tegang dan pucat, saat mendengar sang kakak sedang menuju rumah sakit.
Amara yang mendengar Angga menyebut rumah sakit, seketika saja dia tercekat dan merasa cemas. Apa lagi melihat wajah sang kekasih yang begitu tegang dan risau.
"Iya Mas, kakak anda mengalami kecelakaan bersama teman wanitanya."
"A-apa, kak Andi dan kakak ipar mengalami kecelakaan?"
Angga begitu tercekat, saat dirinya mengetahui kabar yang baru saja dia dengar.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--