
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Tatapan Angga terus tertuju kepada Amara sang kekasih, yang begitu lepas tertawa bahagia dengan canda tawa dan saling berbisik, tanpa canggung satu dengan yang lainnya.
Angga benar-benar merasakan cemburu yang teramat sangat dengan Aldi sahabatnya, yang selama ini dia kenal begitu dekat dengan dirinya. Bahkan, diapun pernah sempat bermusuhan karrena salah faham dengan pacar sahabatnya tersebut.
"Amara.. Aldi, kalian adalah orang-orang terpenting dalam hidupku setelah keluargaku, Mami, Papi, kak Andi dan kak Mutiara." Ucap Angga lirih dalam hatinya, tanpa sadar air matanya menetes dari sudut mata indahnya, yang begitu tajam.
"Hei.. kakak ganteng!" Seru Desi tidak ada respon dari Angga.
"Kak Angga!" Panggil Desi sekali lagi, dengan melambaikan tangannya didepan wajah Angga.
"Eeh.. iya." Sahut Angga tersentak dari lamunannya, yang matanya tidak lepas dari menyorot terus kearah Amara dan juga Aldi berada.
"Kak Angga melamun ya? Kok dari tadi dipanggil engga menyahut terus?" Tanya Desi sedikit merasa aneh.
"Iya... Des, sepertinya kak Angga tampan kita sedang melamun, padahal dari tadi makan kita temani." Celetuk Sheila ikut menimpali ucapan Desi teman satu grup dan satu kelasnya.
"E-engga, kok." Dusta Angga tersenyum kikuk, merasa tertangkap basah oleh kedua gadis disampingnya yang sedikit genit.
"Engga melamun, tapi kak Angga sepertinya menangis." Ujar Desi kemudian yang menyadari ada air mata yang menetes dipipi Angga.
"Heem.. benar tuh Des, kak Angga memang menangis." Celetuk Sheila ikut menanggapi ucapan Desi kembali.
"Menangis? Menangis apa, maksudnya?" Tanya Angga masih belum menyadari, jika air matanya yang menetes dipipinya tadi saat melamun menatap Amara dan Aldi penuh dengan rasa cemburu.
"Tuh, air mata kakak banjir diwajah ganteng kakak." Ucap Desi dengan melebih-lebihkan, lantas menahan senyum.
"Masa sih, aach.. air mata apa? Orang aku engga menangis kok. Ini hanya tadi kena debu barangkali." Ujar Angga meneliti dan meraba wajahnya yang sedikit mengeluarkan air mata, namun tidak seperti apa yang dikatakan Desi barusan kepadanya.
Anggapun terpaksa mencari alasan sembarang, demi menutupi rasa sedihnya yang ternyata tanpa sadar sudah membuat air matanya menetes.
"Iih.. masa iya, orang aku lihat dari tadi kakak ganteng nangis kok. Memang sih tidak banyak, tidak sesuai dengan yang aku katakan. Tapi, memang kakak barusan habis menangis." Terang Desi jujur.
"Kak Angga, tidak akan mengaku, Des." Seloroh Sheila, merasa ada sesuatu yang sedang dipikirkan sang kakak senior yang menjadi mentornya tersebut.
"He.. he.. he.. sudahlah tidak usah dibahas lagi, habis ini kakak mau mandi dulu ya, gerah soalnya." Kekeh Angga tidak ingin membahas soal air matanya yang dikira Desi sedang menangis, meski benar adanya.
"Ooh.. iya sudah, kalau begitu. Silahkan, kakak ganteng." Ucap Desi yang selalu memanggil Angga dengan sebutan ganteng.
"Kakak tampan, gerah ternyata. Apa jangan-jangan karena kami ya, kak?" Seloroh Sheila yang merasa Angga tidak nyaman berada didekat mereka.
"I-iya, terima kasih. dik Desi. Engga kok, dik Sheila." Ucap Angga sedikit canggung dengan tersenyum kikuk, kepada kedua gadis tersebut.
Sebenarnya dirinya merasa risih, dengan sikap Desi dan juga Sheila yang terlalu menempel kepadanya, seakan sok akrab dan perhatian. Tapi, Angga tidak bisa berbuat apa-apa, karena dirinya terpaksa demi sebagai mentor untuk grup kelompoknya tersebut.
Angga mengajak Dody, Sandi dan teman pria yang lainnya untuk mandi sore, karena waktu yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Kak Angga, tunggu sebentar! Apa kita tidak mengajak teman-teman pria yang lain juga yang berada diluar grup kita?" Tanya Dody menahan langkah kaki Angga.
"Kamu ajak saja, biar kita mandi bersama." Ucap Angga dengan memberikan usulan. Angga sedang enggan berbicara dengan Aldi yang membuatnya sangat cemburu hari ini.
"Okey, kalau begitu!" Seru Dody dengan mengangguk kecil dan tersenyum riang.
__ADS_1
"Ayo teman-teman, kita ajak semua anak laki-laki untuk mandi bersama dicurug semuanya." Sambung Dody mengajak Sandi dan yang lainnya untuk mengajak anak laki-laki yang lainnya, mandi dicurug yang terlihat begitu jernih dari kejauhan.
"Ayo..!" Ucap anak pria yang lainnya dengan antusias.
Sandi dan Dodypun mengajak anak-anak laki-laki semuanya untuk mandi, begitu juga dengan Dosen Rayhan dan Fathur.
Aldipun ikut beranjak dari tempat duduknya bersama Kelik dan yang lainnya, untuk mengikuti ajakan Dody untuk mandi di curug tersebut. Sedangkan para gadis, menunggu giliran nanti setelah para pria kembali dari curug.
Selama dicurug, Angga tidak menghampiri Aldi sama sekali. Aldipun merasa sikap Angga sedikit berubah terhadapnya, diapun akhirnya yang menghampiri Angga.
"Hi.. Ga!" Sapa Aldi dengan tersenyum kecil, kala dirinya sudah berada dekat dengannya.
"Heem.." Angga hanya bergumam pelan, lalu tersenyum kecut kearah Aldi.
"Hei.. kamu kenapa sih, Ga? Kok kamu, seperti engga suka aku ada disini." Celetuk Aldi bertanya dengan perasaan yang sedang dirasakan. Aldi sebenarnya tahu, Angga sedang marah dan cemburu kepadanya, karena sandiwara Amara yang meminta dirinya untuk memanas-manasi hati Angga.
"Kamu nyadar, Al? Syukurlah kalau kamu sudah menyadari!" Ucap Angga ketus, tanpa ada senyum yang biasa dia tunjukkan kepada sahabatnya itu.
"Apa maksud kamu, Ga? Apa kamu sedang merasa cemburu, Ga?" Tanya Aldi yang ingin mengetahui lebih dalam hati Angga kepada Amara.
"Cemburu? Ha.. ha.. ha.. cemburu sama siapa? Sama kamu, hah?" Tanya Angga dengan membulatkan matanya kearah Aldi dengan penuh emosi.
"Huem.. bisa dibilang seperti itu." Ucap Aldi santai dengan mengulum senyum.
"Apa alasannya, aku harus cemburu sama kamu, sahabatku sendiri?" Dusta Angga tidak ingin jujur dengan perasaan yang sedang dirasakannya kini, karena sang kekasih masih begitu marah kepadanya saat tadi siang.
"Alasannya, kamu tidak seperti biasanya. Sikap kamu begitu acuh terhadapku, seperti enggan berbicara denganku." Jelas Aldi menelisik mata Angga yang enggan menatap kearahnya.
"Ha.. ha.. ha.. perasaan kamu saja, Al." Tawa Angga menutupi dirinya yang memang benar adanya, apa yang dikatakan oleh Aldi sahabatnya. Namun, dirinya seakan sulit untuk mengakuinya.
Angga yang mendengar tawa Aldi dengan ucapannya, sedikit kesal dan kecewa. Ternyata sahabatnya itu masih belum bisa mengenal dirinya, yang memang sedang cemhuru kepada kekasihnya yang dekat dengan Aldi sahabatnya.
*******
Sekembalinya para pria mandi dan mengambil air wudhu dicurug, merekapun bersama-sama melaksanakan sholat Ashar berjama'ah. Sedangkan para wanita sudah sholat Ashar sebelumnya, baru mereka mandi bersama-sama kecurug dengan Dosen Lina yang mengawal mereka kecurug untuk mandi bersama.
Selama mandi dicurug, para Mahasiswa perempuan asik bermain air dan berphoto ria, tanpa disadari hari mulai petang, hampir pukul setengah enam sore.
"Ayo, sekarang kita kembali ketempat kemah, sudah terlalu lama kita disini." Ujar Dosen Lina, memperingatkan anak didik Mahasiswanya.
"Iya, Ibu Dosen." Ucap para Mahasiswa putri semua, kemudian merekapun beranjak dari air curug tersebut yang begitu menyegarkan.
Sesampainya diperkemahan, Amara berjalan beriringan dengan Nabila, Desi dan Sheila yang kebetulan bersitatap dengan Angga yang sedang berjalan berlawanan arah bersama anak laki-laki lainnya yang merupakan adik junior grup kelompoknya.
Amara berjalan layaknya orang asing, yang tidak saling mengenal dengan Angga sang kekasih. Amara masih sangat cemburu dengan sikap Angga yang seperti tadi siang, yang membuat hatinya meradang.
"Eeh... kak Angga ganteng." Sapa Desi dengan wajah berbinar.
"Kak Angga tampan mau kemana?" Timpal Sheilapun bertanya dengan wajah sok imut.
Sontak saja Amara semakin geram, dengan sikap Desi dan Sheila yang kecentilan dan sok cantik. Amarapun semakin kesal dan marah kepada Angga yang bersikap acuh kepadanya.
Anggapun jadi serba salah, saat berada dikondisi seperti itu. Gadis-gadis centil yang menyapanya dengan begitu manis, sedangkan kekasihnya yang memasang tampang jutek, seakan tidak perduli dan melewati Angga begitu saja.
__ADS_1
Angga dan Amara, saling cemburu dan salah faham tentang perasaan hatinya, yang memang mereka rasakan saat ini.
"Ra.. Amara, kok kamu acuh gitu sama kak Angga? Bukankah kalian pacaran selama ini? Kok kak Angga juga cuek gitu sama kamu?" Panggil Nabila sambil setengah berlari mengejar langkah Amara, dengan membrondong pertanyaan penuh rasa penasaran.
"Engga kok Bil, aku biasa saja sama kak Angga! Aku lagi badmood saja sama dia, Bil." Sahut Amara sekenanya, kemudian dia berjalan menuju tendanya untuk berganti baju.
"Ooh.. tapi, hubungan kalian baik-baik saja, bukan?" Tanya Nabila lagi, setelah mereka masuk kedalam tenda dan berganti baju.
"Mungkin iya, mungkin juga tidak, Bil." Sahut Amara jujur, kemudian mereka keluar tenda tersebut, karena ada teman yang lainnya akan berganti pakaian juga seperti mereka.
"Kok, kamu bimbang begitu, Ra?" Tanya Nabila sedikit aneh.
"Bukankah, kamu lihat sendiri bagaimana sikap kak Angga saat bersama Desi dan Sheila tadi?" Amara balik bertanya kepada Nabila yang tadi juga melihatnya.
"Aah.. itu sih, Desi dan Sheila saja yang keganjenan dan sok kenal sok dekat, Ra. Kalau kak Angga kayaknya biasa saja dengan mereka, atau kamu sedang cemburu ya, Ra?" Seloroh Nabila dengan apa yang dia lihat dan simpulkan.
"Masa sih, Bil? Memangnya menurut kamu, kak Angga bersikap biasa saja tadi? Bukankah dia begitu cuek dan tak perduli denganku?" Tanya Amara menjadi tertarik dengan pernyataan Nabila tentang Angga sang kekasih.
"Iya itu mungkin perasaanmu saja, Ra. Kalau menurutku, sikap kak Angga wajar sih, soalanya dia 'kan mentor digrup kelompoknya." Ujar Nabila jujur menurut pemikirannya.
"Tapi, menurutku, kak Angga terlalu akrab dengan mereka, apalagi dengan para anak perempuan digrupnya. Terutama dengan Desi dan Sheila yang begitu genit dan kecentilan." Tutur Amara penuh dengan rasa cemburu.
"Fix.. kamu itu cemburu buta, Ra. Sudah buang rasa cemburu kamu itu, jangan sampai nanti menyesal. Kak Angga itu orang baik loh, sudah tampan dan smart, dia juga begitu sayang dan cinta kamu, bukan?" Seloroh Nabila benar adanya.
Amarapun memikirkan ulang kata-kata Nabila yang memang benar adanya, lalu diapun tertawa kecil saat teringat ucapan Nabila tersebut.
"Hi.. hi.. hi.. benar juga ya Bil, apa katamu." Ucap Amara seraya terkikik.
"Ha.. ha.. ha.. akhirnya, kamu mendengarkan kata-kataku juga, Ra." Tawa Nabila pecah.
"Hiss.. kamu tuh, Bil. Paling bisa bikin aku insecure, dengan semua ucapan kamu." Decak Amara menggelengkan kepalanya kecil, lalu tersenyum kecil.
*******
Selepas sholat isya berjama'ah, semua Mahasiswa baru bersama mentor-mentornya, dikumpulkan oleh Dosen Rayhan, Fathur dan juga Dosen Lina.
Mereka mengadakan brifing malam, untuk melakukan kegiatan jejak malam yang akan dilaksanakan malam ini. Semua cara permainan dan petunjuk juga arahan, sudah dijelaskan oleh Dosen Lina.
"Semuanya harus taat peraturan yang berlaku ya, jangan ada yang menyalahi apa lagi melanggar aturan permainan. Jika ada yang melanggar aturan permainan, maka akan didiskualifikasi, maka grup kalian tidak akan mendapatkan kesempatan mendapatkan hadiahnya." Jelas Dosen Lina dengan gamblang.
Para mahasiswa barupun begitu antusias, saat akan mengikuti perlombaan mencari jejak malam tersebut.
Amara menghampiri Angga yang sedang duduk bersama anak-anak dikelompoknya. " Hai.. kak Desi, Sheila dan teman-teman." Sapa Amara ramah.
"Hai juga, Amara." Balas Desi dan yang lainnya.
"Aku ada perlu dengan kak Angga, apakah boleh?" Tanya Amara menatap kearah Angga yang sedang menatap juga kearahnya sedari dia baru datang tadi.
"Heem.. silahkan saja, Amara." Ucap Sheila, sedangkan Desi terdiam seakan penuh tatapan tidak suka.
"Ada apa? Apakah sudah tidak marah lagi? Atau sudah bosan dengan Aldi?" Tanya Angga, yang sedikit ketus tanpa memutus tatapan matanya kewajah Amara.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--