
π₯°π₯°Happy Readingπ₯°π₯°
Mbo Yuyun datang bersama Mbo Panti, mereka tersenyum melihat Mutiara dan Andi sedang duduk berdua terlihat akrab.
"Eeh.. Non Mutiara dan Den Andi masih didapur?" Tanya Mbo Yuyun menyapa, sedangkan Mbo Panti hanya tersenyum saja.
"I.. iya, Mbo Yuyun." Sahut Mutiara dan Andi bersamaan dengan gugupnya, sontak saja membuat Mbo Yuyun tertawa sedangkan Mbo Panti hanya menahan tawanya.
"Ha.. ha.. ha.. Aden sama Nona kompak sekalih jawabnya dan gugupnya." Mbo Yuyun meledek mereka dengan puasnya.
Andi dan Mutiara saling menoleh sebentar, kemudian berucap. "Tidak.. !"
"Tuh.. 'kan? Masih mau ngelak lagi? Padahal memang kompak kok Non Mutiara dan Den Andi. Terus itu tangan Aden kenapa dipegangin terus? Kenapa ada obat antiseptik dan hansaplast disini?"
"Eehh.." Sontak saja, Mutiara langsung melepaskan tautan jari tangan mereka. Keduanya nampak malu dan gugup tertangkap basah oleh ARTnya.
Andipun tidak sadar, saat jari tangannya masih bersentuhan dengan istrinya, mungkin saking nyamannya hingga terbawa suasana.
"Non Mutia, apa sudah buat coklat panasnya?" Tanya Mbo Yuyun, saat melihat tidak ada secangkir coklat panas didekat mereka.
"Belum Mbo, tadi ada insiden kecil saat saya akan menyeduh coklat bubuknya." Jawab Mutiara jujur.
"Insiden kecil? Memangnya apa yang terjadi sebenarnya Non, Aden?"
"Ini Mbo, saat saya akan menuangkan air panas kecangkir berisi coklat, tanpa saya sadari terkena tangan saya. Lalu cangkirpun pecah dan setelah itu mengenai jari tangan Mas Andi, saat Mas Andi akan membersihkannya." Jelas Mutiara dengan panjang lebar.
"Ooh.. jadi seperti itu kejadiannya! Ya sudah saya buatkan coklat panasnya lagi yah, Aden Andi?"
"Engga perlu Mbo, saya sudah tidak berselera, saya mau ke kamar saja." Ucap Andi, kemudian berdiri dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan mereka.
"Mas Andi, tunggu.." Panggil Mutiara bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri suaminya.
Andi langsung menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan menghadap istrinya.
"Kenapa?"
"Maaf.." Hanya kata itu yang keluar dari bibir mungilnya Mutiara.
"Heem.." Andi hanya bergumam pelan, menatap wajah cantik istrinya.
Semenjak istrinya pulang malam bersama Angga Adiknya, tadi malam. Ada perasaan tidak suka dan marah, jika istrinya sangat dekat dengan adiknya itu. Namun, Andi tetaplah Andi yang tetap dengan mode dinginnya.
__ADS_1
Andipun meninggalkan istrinya yang masih terdiam ditempat, setelah mengucapkan maaf kepadanya. Mutiara begitu sangat tidak berartinya dimata suaminya, yang tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku itu sungguh tidak berguna, hanya membuat secangkir coklat panas saja tidak becus, apa lagi kalau harus melakukan pekerjaan yang lain? Aku memang bodoh Mas, aku memang ceroboh. Apa yang Mas Andi katakan tentangku semuanya benar adanya." Hati Mutiara mengumpat kebodohannya.
Mutiara tanpa sadar air matanya mengalir deras dipipinya, saat dirinya mengingat ucapan kasar suaminya tempo hari.
"Non Mutia.. Non Mutia.." Panggil Mbo Yuyun, melihat Mutiara hanya berdiri terpaku.
"Eeh.. iya Mbo." Mutiara kembali sadar dari lamunannya.
"Non Mutiara melamun, bukan?" Tanya Mbo Yuyun.
"Eengga Mbo, hanya saja saya merasa tidak berguna sebagai istri. Masa hanya buatkan coklat panas saja, sampai engga bisa." Ucap Mutiara, lalu tangannya mengusap kasar air matanya yang masih mengalir dipipinya.
"Non Mutia, menangis? Non Mutia harus sabar yah menghadapi suaminya. Mas Andi memang bersikap dingin dan ketus, namun hatinya sebenarnya sangat hangat, Non."
"I.. iya Mbo.. hikkzz.. hikkzz.." Mutiara menangis dipelukkan Mbo Yuyun, Mbo Pantipun mendekat dan ikut bersedih.
"Sudah Non, jangan menagis lagi. Non Mutia harus sabar dan kuat dengan semua sikap Den Andi." Ucap Mbo Yuyun mengusap punggung Mutiara pelan.
Setelah Mbo Yuyun memberi ketenangan kepada Mutiara, lalu merekapun mengurai pelukkannya.
"Terima kasih Mbo, hi.. hi.. baju Mbo jadi basah dengan air mata saya, hikkz.. hikkzz.." Ucap Mutiara dengan tertawa kecil dalam isak tangisnya.
"Iya Mbo Yuyun, saya tinggal dulu yah. Mari Mbo Panti." Ucap Mutiara kemudian meninggalkan mereka berdua di dapur.
Mbo Yuyun dan Mbo Panti hanya tersenyum iba, merasa kasihan dengan gadis cantik itu.
Mutiara mengetuk pintu kamarnya, karena tahu ada suaminya di dalam kamarnya. Suaminyapun mempersilahkan dirinya masuk, setelah tahu istrinya yang datang.
"Masuk saja tidak dikunci." Ucap Andi dengan suara yang terdengar dari dalam kamarnya.
Mutiarapun masuk dengan perlahan, setelah pintu kamarnya terbuka. Andi sedang duduk diatas ranjangnya, dengan serius menatap layar laptopnya. Tanpa sepatah katapun dari keduanya, Mutiara bergegas masuk ke kamar mandi.
Andi melirik istrinya yang sudah menghilang dari balik dinding kamar mandinya, dia melihat sekilas tadi wajah istri bocilnya, yang sedikit lusuh seperti habis menangis.
"Apa dia menangis? Kenapa? Apa dia sedang ada masalah?" Andi bertanya dalam hatinya.
Namun, setelah itu Andipun kembali menatap layar laptopnya dengan serius. Andi mengirim pesan e-mail untuk Dosen Fatur, sahabatnya sesama Dosen.
Hari ini Andi terpaksa izin absen lagi, tidak mengajar. Dirinya hanya mengirim tugas dan soal yang dia sudah buat drafnya di file, kemudian mengirimnya lewat e-mail.
__ADS_1
Dosen Faturpun paham akan kesibukan sahabatnya itu, hingga diapun mau saja menggantikan tugas Andi sementara.
Andi merasa tenang sesudah mengirim pesan e-mail kepada sahabatnya, lalu diapun menutup kembali laptopnya.
Mutiara keluar dengan wajah yang nampak cerah, tidak selusuh tadi saat baru masuk kedalam kamar.
"Kamu habis nangis? Ada masalah?" Tanya Andi, setelah menaruh laptopnya diatas nakas, lalu berjalan mendekatinya.
"Deg.." Jantung Mutiara berdebar, saat suaminya bertanya dengan wajah serius menatapnya intens.
Mutiara bergeming, merasakan debaran jantungnya yang kian berdentum hebat. Bibirnya seakan sulit untuk menjawab pertanyaan suaminya.
"Kenapa diam? Apa kamu mendadak bisu?" Tanya Andi kembali dengan wajahnya yang penuh tanya.
"E.. engga Mas, saya engga habis menangis." Dusta Mutiara menutupi rasa canggungnya.
"Enak saja bilang aku bisu, nyebelin banget sih Mas Andi." Ucap Mutiara dalam hatinya.
"Masa? Kalau engga nangis, kenapa wajah dan mata kamu terlihat habis menangis?" Tanya Andi dengan mencari kebenaran dari mata istrinya, menatap wajah teduhnya dengan intens.
Mutiara melangkah mundur, karena suaminya semakin dekat dengan dirinya. Namun, semakin Mutiara mundur, Andipun semakin berjalan maju kearahnya. Hingga Mutiarapun terhimpit, tubuhnya menyentuh lemari pakaian suaminya.
"M.. mas A.. andi, mau apa?" Tanya Mutiara gugup, dengan bibir sedikit bergetar, dan wajah sedikit memerah. Kalau soal jantung, jangan ditanya kondisi jantung Mutiara saat ini. Sungguh jantungnya berdentum kencang, meski hanya dirinya yang mendengar.
Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Andi tersenyum iblis. Diapun langsung menarik tengkuk istrinya, lalu menciumnya dengan perlahan. Namun, Mutiara tidak merespon dan membalas ciuman itu, Andipun melepaskan bibirnya dari bibir istrinya.
Andi keluar kamar dengan perasaan tidak menentu, meninggalkan Mutiara yang masih shock, atas perlakuan suaminya yang mencium tanpa permisi bibirnya itu.
"Mas Andi sudah mengambil ciuman pertamaku.. !" Mutiara masih terdiam membeku.
...ππππ...
Autor : Waduh.. main sosor ajah sih Mas Andi, kasihan 'kan istrinya belum siap.π€π€
Andi : He.. he.. he.. habis saya sudah engga tahan tor, lihat bibir mungilnya itu.π π π
Autor : Sabar napah, jadi orang ko engga sabaran.π₯Ίπ₯Ί
Andi : πββοΈπββοΈπββοΈ kaboor sajalah, autornya mau ngamuk.π π
Autor : Dasar anak engga sopan.π±π±π±
__ADS_1
--BERSAMBUNG--
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.ππ...