
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Hari ini adalah hari kedua Mutiara mengikuti Ospek, di Universitasnya.
Kali ini, dia lebih percaya diri dan santai dalam menghadapi Kelik sang mantan pacar.
Mutiara tetap menjaga jarak aman dari Kelik, agar tidak bisa berdua atau mendekatinya.
Andi yang sudah tahu masa lalu Mutiara dan Kelik, akan ekstra lebih protektif dan hati-hati menjaga istrinya dari incaran para pria dikampusnya, terlebih lagi dari Kelik sang mantan pacar yang tidak kalah tampan darinya dan lebih muda pula.
"Sayang, kamu harus makan yang banyak, ya. Biar nanti kamu bisa menjalankan semua tugas Ospek, yang diberikan oleh kakak Senior kamu." Andi mengingatkan istrinya saat berada dikantin kampus saat ini.
"Iya, Mas." Ucap Mutiara saat memasukkan bakso kedalam mulutnya.
Andipun senang saat melihat istrinya tampak baik-baik saja. Diapun hanya memperhatikan istrinya yang sedang makan, sambil meneguk minuman dinginya sendiri.
"Hi.. Mutiara dan kak Andi." Sapa Amara berseri yang diikuti oleh Angga dan Aldi.
"Hi.. juga, ayo makan, kalian pesan dan duduk disini." Balas Mutiara dengan mengajak mereka bergabung.
Aldipun langsung memesankan makanan yang sama persis yang sedang dimakan Mutiara, untuk dirinya dan juga untuk Angga dan Amara. Mie ayam bakso dan air minumnya es teh manis.
Sementara Angga dan Amara menarik kursi, yang berada disamping Andi dan Mutiara.
"Pantas aku cariin kamu tadi menghilang, ternyata ada pawangnya, toh. Hi.. hi... hi..." Ledek Amara terkikik.
Andi dan Mutiara hanya melempar senyum kearah Amara.
"Kak Andi memangnya ga ada kelas?" Tanya Angga.
"Ada, dik! Tapi, kakak tinggal sebentar untuk menemani istri kakak istirahat." Jawabnya pelan.
"Waah.. enak dong, dijagain terus! Dirumah dijagain, di kampus dijagain juga." Ledek Amara semakin menjadi dengan tersenyum meledek.
"Huus.. pelan-pelan, nanti ada yang dengar." Andi memperingati Amara agar tidak berisik dengan menaruh jari telunjuk tangan kanan dibibirnya sendiri.
"Up's.. iya, aku lupa kak Andi!" Seru Amara membekap mulutnya sendiri.
"Iya.." Ucapan Andi singkat.
"Memangnya kenapa kak, kalau semua orang tahu, kalau kak Andi suaminya Mutiara?" Tanya Amara merasa penasaran.
"Kalau kak Andi sih ga apa-apa, tapi kak Andi kasihan sama Mutiara, diakan baru masuk kuliah jadi kurang enak saja rasanya. Tapi, dengan berjalannya waktu, nanti juga semua teman-temannya akan tahu juga, bukan?"
"Oh.. begitu ya, terserah saja, 'kan kalian yang jalani." Ucap Amara.
__ADS_1
Andi dan Mutiarapun mengangguk kecil dan melemparkan senyumnya.
"Pesanannya sudah ya, kita tinggal tunggu sebentar lagi." Kata Aldi seraya menarik bangku disamping Amara.
"Iya, Al. Terima kasih." Ucap Angga dan Amara bersamaan.
"Kak Andi engga makan?" Tanya Amara perhatian.
"Engga.. kakak masih kenyang, tadi pagi sudah sarapan soalnya. Kalau istri cantikku ini belum sarapan, makanya kakak paksa suruh makan sekarang."
"Kenapa tadi pagi, Mutiara tidak ikut sarapan bareng kak Andi?" Tanya Amara heran.
"Katanya lagi ga enak perutnya, mungkin masuk angin." Jawabnya.
"Tapi, sekarang kakak ipar sudah enakkan perutnya, bukan" Tanya Angga khawatir.
"Sudah, dik Angga. Perutku sudah enakkan, ini makan mie ayam bakso." Sahut Mutiara menunjukkan mangkuk yang berisi makanan tersebut.
"Ha.. ha.. ha.. iya, makan yang banyak kakak ipar, biar tidak sakit perut lagi. Pasti kakak ipar sakit perut, gara-gara kemarin telat makan, saat direstoran kakak ipar 'kan tidak jadi makan." Tawa Angga mengungkit kejadian kemarin.
"Hiss.. engga usah dibahas, dik. Tidak enak kalau nanti terdengar cucunya Tuan Brawijaya." Timpal Andi mengingatkan.
"Eeh.. iya, aku lupa. Maaf!" Ucap Angga cengengesan.
Di tempat yang sama Kelik hanya bisa memandangi wajah Mutiara yang terlihat bahagia, saat bersama suami dan teman-temannya.
Sungguh hati Kelik begitu sakit, masih belum bisa menerima dan rela dengan kenyataan bahwa gadis yang selama ini dia cintai secepat itu melupakannya.
Hati yang tersimpan selama dua tahun lamanya, tergeser oleh seseorang yang baru tiga bulan Mutiara kenal. Sungguh tidak adil baginya, menurut pemikirannya.
Kelikpun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya dibawah meja, dengan rahang yang mengeras. Wajahnya merah padam, dengan mata yang menatap seperti elang.
"Sial.. ! Seharusnya aku yang disana, seharusnya aku yang bahagia bersama kekasihku. Bukan dia, bukan Dosen itu!" Umpat Kelik merutuki nasibnya.
"Hii.. Kelik! Rupanya kamu disini, kenapa kamu tidak ajak aku?" Sapa Nabila dengan suara kerasnya, hingga membuat Mutiara dan yang lainnya mendengar nama tersebut, lalu melirik kearah Kelik berada.
"Heum.." Kelik hanya bergumam pelan dengan ekspresi dingin.
Begitu tercekatnya mereka, saat tidak menyadari ada Kelik dalam satu tempat meski posisinya lumayan jauh. Tatapan mata Kelik menghunus tajam kearah Mutiara, meski Nabila sedang mengajaknya berbicara.
Andi dan yang lainnya menyadari tatapan tajam Kelik yang ditujukan kepada Mutiara, membuat mereka sedikit risih dan geram melihatnya.
"Kayaknya, mantan kamu itu belum move on, sayang. Tatapannya, seperti ingin memakanmu hidup-hidup" Ucap Andi cemburu.
"Cie.. cie, kak Andi cemburu, ya! Keliatan banget dari ucapan dan ekspresi kak Andi." Ledek Angga to the point.
__ADS_1
"Iya.. lah, kakak cemburu. Siapa coba yang engga cemburu, liat istri cantiknya ditatap sang mantan pacar kayak gitu?" Ungkap isi hati Andi jujur.
"He.. he.. he.. enaknya diapain ya tuh anak, kak? Lama-lama ngeselin juga liatnya. Walaupun dia cucu dari pemilik Universitas ini, kita jangan takut kak sama dia."
"Aiish.. kamu dik, semua masalah pasti ada jalan penyelesaian secara baik-baik, bukan secara kekerasan."
"Tapi, kak... " Ucap Angga terhenti dengan Amara yang menyela dan memotong ucapannya.
"Sudah kak Angga, benar kata kak Andi. Biarkan saja Kelik kayak gitu, selama tidak berbuat yang lebih."
"Huem.. iya, sayang." Ucap Angga menurut.
"Ayo kita sudahi istirahatnya, sebentar lagi kalian masuk, bukan?" Andi mengingatkan.
"Iya, kak." Ucap Angga yang diikuti oleh yang lainnya.
Akhirnya merekapun meninggalkan kantin tersebut bersama-sama menuju kelasnya kembali. Sedangkan Andi berpisah menuju ruang kelas yang dia isi mengajar.
"Dik Angga dan Amara, titip istri kakak ya, dari sang mantan." Seloroh Andi menatap intens sang istri yang malu-malu kucing, lalu mengusap puncak rambut istrinya gemas.
Mutiara hanya tersenyum kecil, menerima perlakuan suaminya yang begitu manis.
Melihat itu, Amara membathin. "Seandainya aku yang digituin sama kak Andi."
"Pasti dong, kak!" Ucap Angga dan Amara kompak.
"Terima kasih, ya." Ucap Andi kemudian meninggalkan mereka didepan kelasnya.
*******
Angga dan Aldi memulai acara Ospeknya kembali. Kali ini dia meminta setiap kelompok untuk membuat kreativitas, yang terbuat dari kertas origami.
Setiap kelompok paling tidak membuat sepuluh sampai lima belas jenis bentuk benda atau binatang dari kertas origami, lalu dikumpulkan setelah selesai kedepan.
"Kami minta jangan ada yang gaduh dan tetap tenang ya. Kami akan memeriksa hasil cerpen kalian kemarin. Jika ada yang belum mengumpulkan, segera kumpulkan sekarang juga." Jelas Aldi berbicara didepan kelas.
"Baik, kak!" Ucap semua adik kelas menyahut.
"Kelik.. Nabila! Kenapa kalian baru datang? Jam istirahat sudah masuk dari tadi!" Tegur Aldi kepada mereka yang baru saja datang, tanpa rasa bersalah.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1