Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 13


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Mutiara bangun tidur pukul lima pagi, dia merapihkan tempat tidurnya yang sedikit lecek olehnya, dia melipat selimut bekas dirinya. Diapun menata guling dan bantal pada tempatnya kembali, bekas semalam yang dijadikan alat pembatas tidur dirinya dengan suaminya.


Setelah rapih, Mutiara menatap lekat suami dinginya sesaat, lalu diapun melamun. "Mas Andi kalau dilihat-lihat sangat ganteng, tapi kalau sedang tidur. Kalau sedang marah-marah sih kelihatannya jelek, engga ada ganteng-gantengnya sedikitpun." Mutiara berucap dalam hatinya, lalu diapun mengukir senyum dibibirnya.


Mutiara meninggalkan suaminya yang masih tertidur lelap ke kamar mandi. Selesai mandi Mutiara lupa membawa pakaian gantinya, kebiasaan di rumahnya dulu yang sering lupa membawa baju ganti ke kamar mandi.


"Astagfirulloh, kenapa aku lupa bawa baju ganti? Ini gara-gara tadi lihat Mas Andi sih, jadi lupa deh bawa baju gantinya." Mutiara beristigfar mengingat dirinya lupa bawa baju gantinya.


Mutiara mengendap-endap keluar dari kamar mandinya, dia akan mengambil baju gantinya yang dia simpan didalam tasnya. Semenjak dia tinggal di rumah suaminya, dia masih belum diajak berbagi lemari dengannya.


Padahal lemari pakaian suaminya berukuran besar dan panjang, pintunya saja bisa digeser ke kanan dan ke kiri, ada tiga pintu yang bisa dibuka.


Yang pertama pintu lemari untuk menyimpan pakaian rumahan, yang kedua pintu lemari untuk pakaian pergi, kerja dan kantor, sedangkan pintu lemari yang ketiga untuk menyimpan bermacam-macam asesoris, seperti handuk, topi, dasi, pakaian dalam, kaca mata, sabuk, jam tangan, sepatu dan masih banyak perlengkapan yang lainnya.


"Syukurlah, Mas Andi belum bangun." Mutiara bergumam pelan, kemudian diapun berjalan melewati Andi yang masih terlelap tidur, pikirnya.


Mutiara hanya memakai handuk yang menutup bagian inti miliknya saja yaitu dua gundukan indah dan lembah madunya.


Saat dia berjongkok dan membuka resleting tasnya yang berisi pakaiannya, Andi terbangun dari tidurnya, diapun mengerjapkan matanya pelan.


Andi langsung menatap pemandangan yang tidak biasa, saat matanya tertuju kepada istrinya yang hanya memakai handuk ditubuhnya dan sedang mencari sesuatu membelakangi dirinya.


"Hei.. bocil, sedang apa loe disitu? Sama orang saja bilang pakai baju ganti itu di kamar mandi, padahal sendirinya saja seperti apa yang gue lakukan. Ucapan loe engga konsisten!" Teriak Andi dengan nada mengejek.


Mutiara bergeming, dia jadi bingung harus berbuat apa. Padahal bajunya sudah dia pegang, dirinya jadi salah tingkah engga bisa bergerak kemana-mana karena dirinya hanya mengenakan handuk saja.


Mutiara ingin rasanya memaki suaminya, andai saja dia mengenakan pakaian lengkap. Kali ini suaminya beruntung bisa terhindar dari makian Mutiara, yang sudah mulai geram dengan sikap suaminya yang seenak jidatnya memanggil dirinya bocil.


Andi turun dari ranjangnya, kemudian dia mendekati istri bocilnya itu.


"Loe, kenapa jongkok disitu terus? Mau sampai kapan loe engga pakai baju? Memangnya loe engga dingin, hah..?" Tanya Andi tepat di belakang Mutiara, dengan berbisik pelan setelah itu diapun terkekeh. "He.. he.. he.. "


Sehabis tertawa kecil, Andipun masuk ke kamar mandi meninggalkan istri bocilnya untuk berganti pakaian.


Di kamar mandi Andi berendam air hangat, diapun tersenyum, teringat saat melihat pemandangan yang indah saat dirinya bangun tidur tadi.

__ADS_1


"Dasar bocil.. bocil.. bisa-bisanya dia takut sama aku. Jangankan memakai handuk kayak gitu, jika dia telan jang di depanku juga, semua itu halal buatku." Andi bergumam pelan.


Setelah berendam cukup lama, Andi menuntaskan mandinya dan menggosok giginya.


"Jeglek." Bunyi pintu kamar mandi terbuka.


Andi mengedarkan pandangannya keseluruh sudut kamarnya, dia mencari istri bocilnya itu yang ternyata sudah tidak ada di kamarnya.


"Kemana bocil itu? Apa yang dia kerjakan pagi-pagi seperti ini? Baru juga jam enam pagi, kenapa dia keluar dari kamar? Dasar bocil bikin orang emosi saja." Andi mengomel sendiri seraya berjalan mengambil pakaian gantinya.


*******


Mutiara kini sedang berada di dapur dengan Mbo Yuyun dan Mbo Panti. Dia ingin sekalih membantu mereka namun dilarang oleh Mbo Yuyun.


"Non jangan main disini, nanti Non Mutia baju dan tangannya kotor terkena bumbu masakan dan kompor."


"Engga apa-apa Mbo Yuyun, dirumah saya di kampung, saya sudah terbiasa membantu Ibu di dapur. Saya paling suka kalau Ibu memasak sayur gudeg dan opor ayam, Mbo." Ujar Mutiara jujur dengan ucapannya.


"Apa Non, sudah kangen sama Ibunya di kampung?" Tanya Mbo Yuyun serius, sedangkan Mbo panti menyimak saja obrolan mereka seraya memotong sayuran.


"Kangen banget Mbo, padahal baru dua hari di Jakarta, tapi seperti setahun rasanya engga ketemu Ibu." Ungkap Mutiara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Air mata Mutiarapun jatuh membasahi pipinya. Isak tangisnya sampai terdengar di telinga Angga Permana yang baru saja akan berolah raga pagi.


"Siapa yang menangis di sana?" Tanya Angga saat berjalan menuju dapur.


Mutiara langsung mengusap air matanya, dia takut jika suaminya yang datang melihat dirinya menangis akan dikatakan bocil lagi.


"Eeh.. Den Angga. Ada apa yah Den Angga ke dapur? Den Angga sepertinya akan berolah raga pagi yah?" Tanya Mbo Yuyun saat melihat penampilan Tuan mudanya itu.


"Alhamdullilah ternyata Angga yang datang, suaranya hampir mirip." Ucap Mutiara dalam hatinya. Lalu Mutiarapun membalikkan badannya menghadap Angga.


"Iya Mbo Yuyun, tadi saya mendengar ada suara tangisan dari arah dapur, jadi saya chek saja ke dapur. Apa Kakak ipar yang menangis?" Tanya Angga khawatir.


"I.. iya Den, Non Mutiara kangen sama Ibunya di kampung. Non Mutiara juga tadi mau membantu kami memasak di dapur, tapi kami melarangnya, karena Mbo Yuyun takut Non Mutiara kotor nanti baju dan tangannya." Ungkap Mbo Yuyun dengan gamblang.


"Ooh.. begitu ceritanya, Kakak iparku yang cantik ini sedang kangen sama Ibunya. Memangnya Ibu Kakak ipar tinggal dimana? Maaf saya belum tahu asal usul Kakak ipar, habisnya semalam belum sempat ngobrol banyak, karena sudah sangat lelah Angganya." Tanya Angga ramah.

__ADS_1


"Yogyakarta, Mas Angga." Ucap Mutiara jujur.


"Ko panggil Mas lagi? Angga 'kan adiknya Kakak ipar, jadi panggil saja Angga yah." Pinta Angga dengan mengulas senyum, dari bibirnya yang menawan.


"Kakak ipar, Angga mau lari pagi nih, mau ikut engga? Ayo kita lari keliling komplek sebentar." Ajak Angga antusias.


"Mau sih, tapi Kakak engga ada sepatu olah raganya." Ucap Mutiara kecewa.


"Tenang Non Mutiara, Mbo Panti punya sepatu olah raga kalau buat lari. Mbo Panti 'kan suka ikutan senam aerobik sama Nyonya Safira kalau hari minggu pagi."


Mbo Pantipun mengambil sepatu olah raganya lalu memberikan kepada Mutiara.


"Ini Non, dicoba sepatunya."


"Terima kasih, Mbo Panti." Mutiara mencoba sepatu milik Mbo Panti, namun masih agak longgar di kakinya.


"Ayo, Kakak ipar cantikku." Ajak Angga bersemangat. Mutiarapun mengangguk kecil dan tersenyum.


*******


Andi keluar kamar sudah rapih dengan pakaian mengajarnya, hari ini ada mata kuliah pagi pukul 8 wib.


Andi mencari istri bocilnya, sampai dipenjuru rumahnya, namun tidak juga melihatnya.


"Pagi Den Andi! Apa yang sedang Aden cari?" Tanya Mbo Yuyun, saat melihat Tuan mudanya seperti sedang mencari seseorang.


"Pagi juga Mbo Yuyun. Saya sedang mencari si bocil, apa Mbo Yuyun melihatnya?"


"Bocil? Maksud Aden Non Mutiara istrinya Aden, bukan?" Tanya Mbo Mutiara heran dengan Tuan mudanya, yang selalu menganggap istrinya itu masih bocil.


"Iya Mbo, apa Mbo Yuyun melihatnya?" Tanya Andi penasaran.


"Non Mutiara tadi pergi sama Den Angga, katanya mau olah raga pagi keliling komplek." Ucap Mbo Yuyun jujur dengan apa adanya.


Andi seketika bergeming, saat mendengar penuturan ARTnya.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2