Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 11


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Ini Visual Angga Permana yah guys! Semoga pas dengan karakternya.



Di kediaman Tuan Dahlan Permana.


Angga diantar pulang oleh Asisten Pribadinya Papi Dahlan, yaitu Asisten Bara. Setelah mobil mereka berhenti di halaman rumahnya, Angga turun dan mengucapkan terima kasih kepada Asisten Bara.


Asisten Bara mengangguk dan kembali ke Rumah Sakit untuk menjaga atasannya, karena dirinya yang selalu melaporkan semua pekerjaan yang berhuhungan dengan Perusahaannya.


Angga masuk kedalam rumahnya dengan dibukakan pintu oleh Mbo Panti, salah satu ART di rumahnya.


"Assalamu'alaikum, tumben Mbo Panti yang buka pintu? Biasanya Mbo Yuyun, kemana Mbo Yuyun sekarang, Mbo Panti?" Salam Angga seraya menanyakan keberadaan Mbo Yuyun.


"Wa'alaikumusalam, Mas Angga. Mbo Yuyun sedang menjaga Non Mutiara di kamarnya, sepertinya Non Mutiara demam Den." Jawab Mbo Panti dengan wajah cemas.


"Mutiara? Apa jangan-jangan istrinya Kak Andi?" Angga bergumam pelan.


"Non Mutiara istrinya Den Andi dari kampung, baru kemarin mereka menikah Den." Jelas Mbo Panti.


"Iya Mbo, saya sudah tahu soal itu dari Kak Andi dan juga Mami, Papi. Lalu sekarang Kak Andi kemana? Kenapa Mbo Yuyun yang menjaganya?" Tanya Angga merasa heran, istri Kakanya di jaga oleh ARTnya.


"Den Andi sedang keluar, sepertinya Den Andi belum tahu kalau istrinya sedang sakit." Jelas Mbo Panti.


"Ooh begitu rupanya! Baiklah, saya akan memeriksa keadaan Kakak iparku dulu Mbo. Sebelumnya, tolong bawakan tas saya kedalam kamar saya yah Mbo, terima kasih." Ujar Angga, kemudian diapun berjalan menuju kamar Kakaknya terlebih dahulu.


"Iya Den Angga, sama-sama." Ucapnya Mbo Panti.


"Den Angga begitu panik saat mengetahui Kakak iparnya sakit, sungguh Adik ipar yang sangat pengertian. Sudah ganteng, baik, perhatian pula orangnya." Mbo Panti bergumam pelan seraya tersenyum.


Angga mengetuk pintu kamar Kakaknya itu dengan pelan.


"Tok.. tok.. tok.." Bunyi ketukan pintu dari luar kamar Mutiara.

__ADS_1


"Sebentar, Mbo Yuyun bukakan pintunya dulu." Sahut Mbo Yuyun, saat mendengar pintu kamar diketuk.


"Jeglek." Pintu kamar dibuka perlahan.


"Eeh Den Angga? Ko Aden sudah pulang? Bukannya baru tiga minggu yah di Bandung?" Tanya Mbo Yuyun heran, pasalnya dia tahu saat berpamitan kepadanya, Angga berkata akan pergi sebulan ke Bandung.


"Iya Mbo, Angga minta izin pulang terlebih dahulu, karena mendengar Papi sakit." Jawabnya jujur.


"Ooh.. iya Den, Tuan memang sakit sudah tiga hari di rawat di Rumah Sakit."


"Mbo, istrinya Kak Andi katanya sedang demam? Bolehkah saya memeriksanya?"


"Ooh Den Angga sudah tahu juga yah, kalau Den Andi sudah menikah? Boleh Den, silahkan masuk."


"Iya Mbo, Angga sudah tahu dari Kak Andi sendiri." Ucapnya seraya berjalan masuk menemui Kakak iparnya.


"Assalamu'alaikum, Kakak iparku yang sangat cantik. Perkenalkan nama saya Angga Permana, Adik dari suami Kakak ipar, Kak Andi Permana." Salam sapa Angga, seraya tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Wa'alaikumusalam, Mas Angga, perkenalkan juga nama saya Mutiara Pandini." Jawab salam sapa Mutiara dengan ramah, seraya menerima uluran tangan Adik iparnya itu.


"Ooh.. i.. iya, Angga." Sahut Mutiara gugup.


"Engga usah grogi Kak, anggap saja kita sudah kenal lama. Jadi, kita bisa terlihat santai dan akrab."


"I.. iya." Sahut Mutiara masih gugup.


"Sudah dibilang engga usah grogi dan takut sama Angga, Kak. He.. he.. he.." Ucapnya terkekeh.


Mutiara tersenyum canggung, tanpa mengucapkan sepatah katapun.


"Kak Mutiara, kenapa engga tiduran di kasur saja? Kenapa harus tidur di sofa? Apa Kakak masih demam?" Tanya Angga nampak aneh dengan kondisi Kakak iparnya.


"I.. iya, saya engga bisa tidur di kasur itu, kasurnya terlalu besar. Saya engga biasa, tidur di kasur yang begitu besar. Demam saya sudah sedikit berkurang, tadi Mbo Yuyun sudah merawat saya dan mengompres kening saya." Jawab Mutiara apa adanya.


"Tapi, Kakak ipar 'kan sudah menikah dengan Kakak Andi, jadi harus tidur di kasur, bukan? Kalau kalian tidur terpisah, bagaimana saya akan cepat memiliki keponakkan?" Tanya Angga merasa aneh, dengan seenak jidatnya ingin memiliki keponakkan.

__ADS_1


Seketika saja, pertanyaannya membuat bungkam mulut Mutiara. Bibirnya tidak bisa lagi berucap, Mutiara takut rahasia hubungan dia dengan suaminya terbongkar oleh Adiknya yang berimbas kepada kedua orang tua Andi dan Ibunya sendiri nantinya.


"Kakak ipar kenapa diam saja? Apa ada yang salah dengan ucapan Angga? Kalau begitu, Angga minta maaf yah Kak." Ujar Angga merasa tidak enak.


Mutiara hanya menggelengkan kepalanya pelan, tanpa terasa air matanya sudah menggenang dipelupuk matanya yang hampir jatuh.


"Kakak ipar nanti saya ambilkan obat penurun panas, tunggu sebentar yah." Angga meninggalkan Mutiara dan Mbo Yuyun, untuk mengambil obat parasetamol.


Sepeninggalnya Angga, Mutiara baru bisa bernapas lega, Mutiarapun mengambil napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan. "Eeeemmm.... haaaah....."


"Kenapa Non Mutiara? Sepertinya Non Mutiara, tidak nyaman dengan pertanyaan Non Angga yah?" Tanya Mbo Yuyun merasa heran, melihat Mutiara yang seperti sesak menahan sesuatu.


"Engga Mbo Yuyun, saya hanya belum bisa terlalu dekat dengan Angga. Saya juga bingung menjawab pertanyaannya, saya takut nanti salah paham jadinya Mbo."


"Ooh begitu yah Non, Den Angga baik loh Non, memang gayanya saja seperti itu. Dia itu calon Dokter muda, dan sangat pintar Non." Puji Mbo Yuyun dengan wajah sumringahnya.


Angga langsung masuk kamar Kakaknya itu, karena sengaja saat pergi tadi, dirinya tidak menutup pintu kamarnya.


"Kak Mutiara, ini diminum segera obatnya. Kakak sudah makan, bukan?" Tanya Angga, yang baru saja melihat nampan dan piring kotor berada di atas nakas tidak jauh dari tempat Mutiara berbaring. Anggapun memberikan obat tersebut ketangan Kakak iparnya itu dan menyodorkan segelas air minum.


"Terima kasih, Angga Adik iparku yang sangat baik." Ucapnya, kemudian diapun meminum obat itu lalu mendorongnya dengan segelas air minum.


"Sama-sama Kakak ipar. Setelah selesai minum obat, sebaiknya Kakak ipar beristirah kembali agar esok hari sudah kembali sehat seperti sedia kala." Ucap Angga mengingatkan Mutiara untuk beristirahat.


Mutiara hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian diapun berbaring disofanya kembali.


"Eeh.. Kakak ipar sebaiknya tidur di kasur saja, biar leluasa geraknya. Di sofa 'kan sempit Kak." Pinta Angga dengan cepat.


"I.. iya Angga." Mutiarapun kembali bangkit, lalu berjalan ke tempat tidurnya. Mutiara berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebalnya.


"Nah gitu dong Kak, jangan tidur di sofa lagi yah Kak!" Ucap Angga senang, seraya mengacungkan jari jempol tangan kanannya ke udara.


"Kalian sedang apa? Kenapa kalian berada di kamarku?"


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2