Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 18


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Angga mengajak Kakak ipar cantiknya, membesuk Papi Dahlan di Rumah Sakit. Dengan sangat senang Mutiara langsung mengangguk dan mengiyakannya.


Mbo Yuyun menyiapkan makan siang untuk mereka berdua dan juga Papi Dahlan atas permintaan Mami Safira tadi pagi, saat Mami Safira baru saja berangkat ke kantor.


"Mbo, ini apa?" Tanya Angga penasaran, saat Mbo Yuyun memberikan sebuah rantang berukuran besar ke tangannya.


"Ini makan siang untuk Tuan Dahlan dan Den Angga juga Non Mutiara." Ucap Mbo Yuyun.


"Ya ampun Mbo, sampai repot segala, nanti 'kan saya bisa pesan online. Kenapa Mbo Yuyun harus cape-cape nyiapin semua ini?"


"Engga cape, Den Angga. Mbo senang, bisa masakin makanan buat Papinya Aden. Kata Mami Aden, kalau Tuan Dahlan itu kangen masakan Mbo Yuyun. Nyonya Safira tadi yang memintanya, dibuatkan makan siang untuk kalian nanti."


"Baiklah kalau begitu Mbo Yuyun, saya permisi dulu untuk pergi. Terima kasih yah Mbo, bekal makan siangnya." Ucap Angga yang diikuti oleh Mutiara.


"Iya Aden Angga dan Non Mutiara, hati-hati di jalan salam buat Tuan Dahlan."


"Iya Mbo, Assalamu'alaikum." Salam Angga dan Mutiara bersamaan.


"Wa'alaikumussalam, semoga kalian diberikan keselamatan dimanapun kalian pergi." Jawab salam Mbo Yuyun seraya mendoakan mereka.


Angga dan Mutiara sudah berjalan menuju mobilnya. Angga membukakan pintu mobil untuk Kakak iparnya, layaknya kepada sang kekasih.


"Silahkan masuk, Kakak iparku yang cantik."


"Terima kasih, adik iparku yang comel."


"Ko comel sih Kak? Memangnya aku cerewet banget yah jadi cowok?" Tanya Angga sebal seraya mengerucutkan bibirnya.


"hi.. hi.. hii.. sedikit sih." Mutiara tertawa kecil saat melihat Adik iparnya cemberut.


"Ish.. ish.. Kakak ipar cantikku ini ternyata sukanya sama cowok kayak es batu yah, macam kayak Kak Andi gitu, dingin dan angkuh." Jahil Angga meledek Kakak iparnya, seraya menaik-turunkan alisnya.


"Yah engga gitu juga Angga, masa iya saya suka sama cowok seperti itu." Mutiara membantah tuduhan Angga.


"Kalau begitu, Kakak ipar suka cowok yang seperti apa? Seperti Kak Andi atau seperti Angga?" Tanya Angga sungguh penasaran.

__ADS_1


"Aduh.. kapan berangkatnya kalau kamu disitu terus?" Mutiara menggelengkan kepalanya heran.


"Eeh.. iya Kak ipar, Angga sampai lupa, habis sih Kakak ipar belum jawab pertanyaan Angga tadi." Ucap Angga nyengir, lalu berjalan memutar masuk kedalam kursi kemudi.


"Kak ipar pasang seatbeltnya, apa mau Angga yang pasangkan?" Angga mengedipkan mata genitnya, sontak saja Mutiara mendadak ngeri dengan tingkah Adik iparnya itu.


"E.. engga usah, biar saya saja yang pakai." Mutiara menolak dengan halus, seraya memakai seatbeltnya sendiri. Namun agak sedikit macet, jadinya Mutiara kesusahan. Angga yang melihat itu, dirinyapu tidak tinggal diam. Angga langsung membantu Kakak iparnya untuk memasangkan seatbelt itu ketubuhnya.


"Eeh.. " Mutiara tersentak kaget, saat tangan Angga menyentuh seatbeltnya.


"Kaget yah Kak? Maaf yah Kak! Deg.." Bunyi jantung Angga berdentum hebat.


Angga merasakan sesuatu yang tidak biasa, bahkan belum ada dua hari dirinya mengenal Kakak iparnya. Namun, mengapa dirinya merasakan jantungnya seperti sedang lari marathon saat ini.


"Sudah.." Ucap Angga saat berhasil memakaikan seatbelt untuk Kakak iparnya.


"Terima kasih, Angga." Ucap Mutiara seraya tersenyum.


Angga mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir rumahnya, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan Angga nampak lebih diam dari sebelumnya, karena Angga sedang merasakan jantungnya tidak baik-baik saja.


"Apa yang ada dalam hatiku ini salah, jangan pernah ada rasa untuk Kakak iparku sendiri. Tapi, kenapa jantung dan hatiku ini tidak sejalan dengan otakku? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin menyakiti Kakakku, dengan merebut istrinya." Angga bermonolog dalam hatinya.


"A.. aawaas... A.. angga... stoop..." Teriak Mutiara panik, saat mobil mereka hampir menabrak seorang wanita paruh baya, yang akan menyebrang jalan.


"Sreeet.... ciiiittttt.... crrekkk... tiiiiiinnnnn...." Bunyi Mobil Angga saat mengerem dadakkan.


"Astagfirulloh, hampir saja." Ucap Mutiara beristigfar.


"Tiiiinnn... tiiiinnn... tiiinnn...." Bunyi klakson dari kendaraan yang berada di belakang mobil mereka.


"Heei.. ada apa kenapa berhenti mendadak" Suara teriakan seseorang dari arah belakang.


"Duk.. duk.. duk.." Bunyi ketukan kaca mobil.


Kemudian Angga membuka kaca mobil tersebut, dengan wajah yang sudah sangat pucat.


"Hei... kalau bawa mobil hati-hati! Hampir saja saya tertabrak." Teriak Seorang Ibu paruh baya, yang akan menyebrang jalan tersebut.

__ADS_1


Angga keluar dari dalam mobil, lalu dirinyapun meminta maaf kepada Ibu paruh baya tersebut.


"Maafkan saya yah Ibu, maaf saya kurang berhati-hati. Apakah Ibu ada yang terluka? Saya akan memberikan uang, untuk pengobatan Ibu ke Rumah Sakit. Kira-kira berapa? Apa cukup segini?" Angga meminta maaf, seraya mengeluarkan uang sebanyak 500 ribu rupiah.


"Saya tidak apa-apa, tidak terkena mobil anda. Hanya jantung saya yang kaget, mendengar bunyi klakson dari mobil anda yang hampir menabrak saya."


"Saya minta maaf sekali lagi yah Ibu, ini tolong diterima untuk jantung Ibu yang sudah kaget karena saya." Ucap Angga dengan menaruh uang tersebut ditangan Ibu paruh baya itu.


Angga kemudian meminta maaf kepada pengendara mobil yang lain, yang berada dibelakangnya. Setelah itu Anggapun langsung naik kedalam mobilnya kembali, meninggalkan Ibu paruh baya itu yang masih mematung.


Angga melajukan mobilnya kali ini dengan sangat hati-hati, dirinya tidak akan melamun atau banyak berpikir seperti tadi.


Sepanjang perjalanan Angga dan Mutiara hanya terdiam, hanya suara deru mesin mobil yang terdengar.


*******


"Kamu kenapa, Angga? Kamu sedang melamun tadi?" Tanya Mutiara, saat mobil mereka sudah sampai di halaman parkir Rumah Sakit.


"Iya Kakak ipar, saya minta maaf yah. Saya tadi kurang hati-hati bawa mobilnya. Untung saja Kakak tadi memperingatkan saya untuk berhenti, kalau tidak, sudah dipastikan Ibu itu tertabrak mobil tadi."


"Lain kali kalau bawa mobil jangan melamun, jangan banyak pikiran. Memangnya apa yang sedang kamu pikirkan, Angga? Hingga kamu bisa-bisanya melamun saat menyetir mobil."


"Saya memikirkan kamu Kakak ipar cantikku, jantung saya tidak bisa di kontrol saat ini. Debarannya kian kencang dan ada desiran hebat menjalar ditubuhku." Ucap Angga dalam hatinya.


"A.. angga.. a.. angga.." Panggil Mutiara saat melihat Angga melamun.


"He.. he.. iya Kak." Ucap Angga nyengir seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ditanya malah melamun lagi! Perasaan sejak tadi kamu melamun terus, saya jadi ngeri naik mobil bareng kamu lagi nanti." Ucap Mutiara merasa heran.


"Jangan gitu dong Kakak ipar, masa Kakak engga mau naik mobil bareng saya lagi. Nanti Kakak pulangnya naik apa? Memangnya Kakak tahu, jalan pulang ke rumah? Kakak 'kan belum hapal jalan sini, he.. he.. he.."


"Iya.. iya.. tapi kamu jangan melamun terus yah!" Seru Mutiara dengan tersenyum kecut.


"Aissh.. senyumnya asem benar Kak, jadi pengen ngerujak tuh bibir...."


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....


__ADS_2