Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 36


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Pagi ini, Andi dan Mutiara menjemput Ibu Lanjar di Bandara. Mereka juga bertemu dengan Mami Safira dan Papi Dahlan.


Semalam Andi dan istrinya memutuskan akan tinggal di rumah Papi Dahlan untuk sementara waktu selama Ibu Lanjar berada disini.


Merekapun tidak bisa menampung Ibu Lanjar di Apartement mereka, karena kamar mereka hanya ada satu pikirnya.


Andipun tidak ingin tidur terpisah dengan istrinya, yang baru saja mereka mulai tidur bersama semalam dengan satu ranjang meski hanya tidur yang sesungguhnya.


Andi takan berani melakukan hal diluar kendali lagi, sebelum dirinya merasa yakin sudah bisa mencintai dan menerima Mutiara sebagai istrinya.


Andi sudah berhenti memanggil sebutan bocil kepada Mutiara, karena kata-kata itu bisa saja melukai perasaan istrinya.


Sikap Andi sekarang mulai sedikit lebih perduli dan pengertian terlihat jelas dari sikap dan ucapannya.


Papi Dahlan dan Mami Safira yang melihat hal itupun terlihat senang dan bahagia.


"Kalian manis sekalih sih, Mami jadi iri lihatnya." Ledek Mami Safira, melihat jari tangan Andi dan istrinya yang saling bertautan.


Ada rasa bahagia dihati Mami Safira dan Papi Dahlan, sepertinya usaha mereka untuk menyatukan anak dan menantunya sudah membuahkan hasil. Keputusan mereka untuk tinggal terpisah di Apartement lambat laun semakin tumbuh rasa cinta diantara keduanya, pikirnya.


Mutiara nampak malu mendengar ledekan Mami mertuanya, pasalnya perubahan Andi dari semalam hingga saat ini yang begitu drastis 180 derajat, dari dingin menjadi hangat dan lembut.


"Aiish.. Mami bisa saja kalau meledek anaknya. Sendirinya sama saja itu, nempel terus kayak perangko, he.. he.. he.." Decak Andi terkekeh saat melihat lengan Mami Safira melingkar indah di lengan suaminya.


"Kalau Mami 'kan sudah biasa, bukan begitu Pih? Kalau kamu 'kan baru kali ini Mami melihatnya. Jadi tambah bahagia deh Mami, sebentar lagi pasti ada calon cucu Mami disini." Ujar Mami seraya menyentuh perut Mutiara yang masih rata.


Sontak saja Andi dan Mutiara kompak terbatuk. "Uhuk.. uhuk.. uhuk.."


"Issh.. batuk saja barengan! Sungguh kalian pasangan yang kompak sekalih." Mami Safira mendengus sebal.


"He.. he.. he.. " Andi terkekeh melihat wajah Maminya yang terlihat sebal, sedangkan Mutiara hanya tersenyum canggung.


Papi Dahlan sudah hapal kelakuan anak dan istrinya yang sering kali bertengkar kecil, namun terlihat lucu dimatanya.


"Terus.. kapan kalian akan menikah secara resmi?" Tanya Mami Safira disela tawa Andi, seketika saja Andi menghentikan tawanya.


Andi dan Mutiara saling menoleh dan menatap dalam, entah mengapa hati mereka merasakan keanehan saat Mami Safira menanyakan soal pernikahan resmi mereka.


Disatu sisi, Andi masih belum bisa menyatakan dirinya cinta atau tidak kepada istrinya. Karena pengalaman cinta yang dulu masih membekas dihatinya, kegagalan mencintai seorang wanita yang kandas ditinggal pergi dan menikah dengan orang lain.


Lain hal dengan Mutiara, meski dirinya sudah memiliki kekasih sewaktu SMA dulu, namun dirinya bisa melepaskan cintanya demi kebahagiaan sang Ibu dan wasiat Almarhum Ayahnya.


Dirinyapun akan menerima dengan terbuka pria yang menjadi suaminya, meski dirinya belum pernah mengenalnya sama sekalih.


Tapi, Mutiara tidak menyangka jika suaminya itu memberikan ultimatum kepadanya. Perjanjian menikah selama enam bulan, sampai penyakit Papi Dahlan sembuh total.

__ADS_1


Namun, Mutiara yang baik mau menerima saja perintah suaminya. Dirinya tidak ingin membuat Ibunya sakit, jika mendengar soal pernikahan mereka yang sebenarnya.


Tidak berselang lama, baru saja Andi ingin menjawab pertanyaan Mami Safira, setelah saling bertatap mata dengan istrinya. Ibu Lanjarpun muncul dari balik pintu airport, membawa koper besar dengan tersenyum mengembang.


"Assalamu'alaikum, Ibu.. " Salam Mutiara dan Andi menghampiri Ibu Lanjar seraya mencium punggung tangannya bergantian.


"Wa'alaikumussalam, sayang. Semoga kalian selalu diberkahi, dikasih kesehatan dan selalu dilimpahkan kebahagiaan. Rumah tangga yang langgeng dan Ibu bisa lekas menggendong cucu yang imut dan lucu." Jawab salam Ibu Lanjar dengan doa-doa tulusnya, seraya mengulurkan tangan kanannya untuk memberikan keberkahan kepada anak dan menantunya.


Keduanyapun mengamini dalam hati, dengan saling melempar senyum.


"Kenapa engga diaminin? Seharusnya doa orang tua yang baik itu diaminin, sayang." Tanya Mami Safira untuk anak dan menantunya, seraya merangkul Ibu Lanjar dengan erat.


"Sudah Mih.." Sahut keduanya bersamaan, perkataan Mami Safira itu membuat keduanya membuka suara.


"Ooh.. jadi Aamiinnya didalam hati! Mana Mami tahu kalau begitu, iya engga Jeng Lanjar?" Ujar Mami Safira mengurai pelukkan besannya dengan senyuman hangat. Sedangkan Lanjar hanya tersenyum menimpali ucapan besannya itu.


Papi Dahlanpun kemudian bersalaman dengan ramah dan sopan.


"Apa kabar dengan Mas Dahlan? Apakah penyakitnya sudah sembuh? Alhamdullillah kita sudah sekian lama, bisa bertemu lagi yah Mas Dahlan." Tanya Lanjar dengan kodisi sahabat suaminya itu.


"Alhamdullilah Dik, jantung saya sudah sehat. Terima kasih, kamu sudah melahirkan anak gadis seperti Mutiara yang begitu cantik dan baik. Saya beruntung memiliki menantu seperti Mutiara, bukan begitu Mih?" Ungkap Dahlan ramah.


"Iya dong Pih, kami sangat bahagia Jeng. Apa lagi anak saya Andi, beruntung sekalih bisa punya istri seperti Mutiara." Kata Mami Safira jujur.


"Bagaimana Mih, Pih dan Ibu, kita langsung pulang saja atau cari makan dulu?" Tanya Andi menyela obrolan para orang tua yang membahas dirinya juga istrinya. Kalau mereka memuji terus istrinya, bisa dipastikan dirinya pingin cepat-cepat pulang ke Apartement dan mengurung istrinya dikamar berdua dengannya.


"Iya sudah.. ayo kita pulang saja. Untuk beberapa hari Ibu tinggal di Jakarta, kami akan tinggal dirumah Mami sementara yah, Mih." Kata Andi dengan tersenyum ramah.


"Okay.. " Sahut Mami dan Papi bersamaan, sedangkan Ibu Lanjar dan Mutiara hanya mengangguk dan tersenyum.


Merekapun akhirnya pulang ke rumah Papi Dahlan. Tidak butuh waktu lama hanya satu jam saja, merekapun sudah memasuki halaman rumah Papi Dahlan.


Sesampainya disana, Ibu Lanjar dibuat terkagum-kagum dengan kemewahan rumah besannya itu, yang baru pertama kali dia menginjakkan kakinya. Lanjar dan Safira lalu berbincang-bincang di kamar tamu berdua saja. Sedangkan Papi Dahlan mencari Angga dikamarnya, untuk bertemu Ibu Lanjar. Andi dan Mutiara masuk kedalam kamar mereka sebelumnya.


"Besar dan mewah sekali rumahnya, Jeng Safira!" Seru Ibu Lanjar memuji.


"Terima kasih Jeng, ini hanyalah titipan dari Allah, bagaimana kita menjaga dan merawatnya, kita akan mempertanggungjawabkannya kelak." Ucap Safira dengan senyuman.


"Mih.. ayo kita segera makan, perut Papi sudah lapar. Ajak dik Lanjar segera, Andi dan Mutiara sekalian." Ucap Papi Dahlan memghampiri istrinya yang sedang menemani besannya di kamar tamu.


"Okay Pih! Tapi, Angganya mana?" Ucap Mami Safira, lalu bertanya keberadaan Angga.


"Angga pergi sama teman kampusnya, kata Mbo Yuyun tadi." Jawab Papi Dahlan.


"Ohh.. ya sudah." Ucap Safira.


Merekapun akhirnya menuju meja makan bersama-sama. Mami Safira kemudian mengetuk pintu kamar Andi dan Mutiara untuk segera makan bersama, namun mereka tidak bisa ikut bergabung.

__ADS_1


"Mih.. nanti saja kami makan belakangan, kami masih kenyang tadi pagi sudah sarapan. Mami dan Papi saja temani Ibu makan yah." Sahut Andi dari dalam kamarnya.


"Okay.." Sahut Safira.


"Dasar anak itu, sepertinya mereka sedang bucin dan kasmaran dikamar." Umpat Safira bergumam, dengan menggelengkan kepalanya pelan.


*******


Di dalam kamar.


"S.. sayang, apa yang dikatakan Papi dan Mami tadi di Bandara, benar loh."


"Benar apanya, Mas?"


"Benar kalau saya sangat beruntung, bisa mendapatkan kamu yang cantik dan baik."


"Massa sih, Mas? Jangan dustai hati kamu Mas! Jangan ikut-ikutan Mami dan Papi memuji saya. Nanti, kalau Mas tidak bisa Move on sama saya setelah enam bulan pernikahan, bagaimana loh? Hi.. hi.." Ujar Mutiara dengan gamblang seraya tertawa kecil


"S.. sayang, lupakan pernikahan enam bulan kita, lupakan perjanjian sialan itu, hilangkan pembatas antara kita. Saya minta maaf sudah membuatmu tersakiti selama ini, saya ingin mencoba membuka hati ini untukmu, sayang. Apakah kamu mau menerima saya dengan segala kekurangan dan kelemahan saya, MUTIARA PANDINI?"


Mutiara bergeming, tidak percaya dengan kata-kata suaminya. Baru semalam mereka mencoba menyelami hati masing-masing, masa dengan cepat suaminya mengambil keputusan.


"S.. sayang, kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan saya?" Tanya Andi dengan menatap wajah istrinya intens, seraya tangannya menangkup wajahnya.


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Autor : Heem.. dia yang buat perjanjian, dia juga yang membatalkannya.🀧🀧


Andi : Biarin dong Tor! Suka-suka saya lah.πŸ€£πŸ’ƒ


Autor : Engga punya prinsip!🀭🀭


Andi : Tidak apa-apa, dari pada nanti istriku diambil orang. Mending lupakan saja prinsip!πŸ™ƒπŸ™ƒπŸ˜‚


Autor : Ternyata.. Mas Andi takut, kalau istrinya direbut sama orang lain!🀣🀣


Andi : Engga takut Tor.. hanya saja menjaga, agar hal itu tidak terjadi.🀭🀭


Autor : Itu sih sami mawon Mas.. ! 🀧🀧


Andi : πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈKaboor deh kalau begituπŸ˜…


...β™₯️β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--

__ADS_1


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...


__ADS_2