Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 70


__ADS_3

🥰🥰Happy Reading🥰🥰


Tuan Brawijaya Cipto Roso yang sudah berpapasan dengan Andi, seketika saja langsung tersenyum dan menyapa Andi dan yang lainnya dengan ramah.


"Waaah.. Dosen Andi mau kemana?" Tanya Tuan Brawijaya ramah.


"Kami salah masuk ruangan, Tuan Brawijaya." Ucap Andi sopan dengan mengangguk kecil dan tersenyum ramah.


Begitu juga dengan Angga, Mutiara dan Amara ikut mengangguk kecil dan tersenyum ramah kepada Tuan Brawijaya dan juga Kelik.


"Sepertinya diluar penuh sekali pengunjung untuk makan disini, sebaiknya kita bergabung saja. Meja yang saya sudah pesan, sepertinya cukup untuk kalian berempat." Ujar Tuan Brawijaya menawarkan, lalu mempersilahkan mereka duduk.


"Ayo.. silahkan duduk, jangan sungkan." Ujar Tuan Brawijaya mempersilahkan mereka duduk dibangku yang sudah tersedia.


"Haaah.. ? Benarkah, Tuan Brawijaya? Kami boleh ikut bergabung? Apa tidak mengganggu acara Tuan Brawijaya nantinya?" Tanya Andi tercekat dengan tawaran Tuan Brawijaya.


Begitupula dengan Angga, begitu kagum dengan sosok seorang Tuan Brawijaya yang terkenal baik dan dermawan.


Sedangkan Mutiara merasa sungkan dengan Kelik, yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya kearah dirinya.


Lainhal dengan Amara, dia hanya menyimak dan tersenyum saat bertemu dengan Kelik yang merupakan mantan kekasih Mutiara, dia berpikir itu sang kakek yang sedang bersamanya.


"Tidak, Dosen Andi! Oh.. iya, perkenalkan ini adalah cucu kesayangan saya satu-satunya yang bernama Kelik Cipto Roso." Ujar Tuan Brawijaya mengenalkan sang cucu dengan bangga.


"Oh.. cucu Tuan Brawijaya! Perkenalkan nama saya Andi Permana, saya Dosen ditempat kampus milik kakek anda." Tutur andi ramah lalu mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Kelik.


"Saya Kelik Cipto Roso, teman satu kelas dengan Mutiara dan Amara." Ungkap Kelik menerima jabatan tangan Andi.


"Woooh.. cucu Tuan Brawijaya ternyata baru masuk kuliah juga? Kebetulan sekali ya, berarti sudah saling mengenal." Tanya Andi antusias.


"Iya, Dosen Andi. Berarti kamu sudah mengenal teman-teman kamu, sayang?" Ujar Tuan Brawijaya, lalu bertanya kepada Kelik.


"Iya, Opah." Sahut Kelik singkat, lalu mengangguk kecil.


Akhirnya merekapun menduduki bangkunya masing-masing, seusai dipersilahkan duduk oleh Tuan Brawijaya.


Tuan Brawijaya memesankan makanan terenak dan terlezat yang disediakan di restoran tersebut, lalu dia mengatakan bahwa semua biaya sudah dibayar olehnya. Jadi, mereka hanya tinggal menikmati dan menunggu pesanan jadi.


Posisi duduk Mutiara disamping suaminya Andi, namun tepat berhadapan dengan Kelik didepannya.


Sikap Kelik yang terlihat baik-baik saja didepan mereka, membuat Andi tidak curiga sedikitpun siapa Kelik. Andi terus asik mengobrol bersama Tuan Brawijaya, tanpa melihat istrinya yang sedang gamang sedari tadi.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Angga dan Amara, yang terus memperhatikan mata Kelik saat menatap Mutiara dengan penuh cinta yang teramat dalam.


Angga dan Amara mengerti, bagaimanapun mereka adalah sepasang kekasih dimasa lalu. Tapi, mau bagaimana lagi Mutiara sudah resmi menikah dengan sang kakak. Jadi, Kelik tidak ada hak lagi untuk menaruh perasaan cintanya kepada Mutiara.


Amara dan Angga saling melirik dan memberi kode, agar Kelik berhenti menatap wajah Mutiara. Karena Mutiara terus menunduk, tanpa berani menatap balik Kelik.


"Dik Kelik, bagaimana hari pertama dikampus?" Tanya Angga berbasa-basi, hingga membuat Kelik menoleh kepada Angga untuk memutuskan tatapan matanya kearah Mutiara.


"Menyedihkan dan hancur berkeping-keping, kak Angga." Jawab Kelik lirih dan jujur dengan apa yang sedang dia rasakan.


Sontak saja, ucapan Kelik membuat semua orang menatap kearahnya saking shock dan tidak percaya.


Apalagi sang kakek Brawijaya, dirinya lebih shock mendengar ucapan cucu kesayangannya itu.


"Apa yang ka..." Ucapan Tuan Brawijaya terhenti, saat waitress datang membawa makanan yang sudah dipesan mereka sebelumya.


"Permisi Tuan dan Nona, saya mohon izin hendak menaruh semua makanan dan minuman yang sudah dipesan." Ujar salah satu Waitress itu sopan dan ramah.


"Ooh.. silahkan, Mba." Ucap Tuan Brawijaya dengan ramah dan tersenyum kecil.


"Terima kasih, Tuan." Ucap Waitress tersebut dengan membalas senyuman Tuan Brawijaya.


Ketiga Waitress tersebut, meletakkan makanan keatas rotating dining table. Dengan begitu hati-hati, saat menata makanan kedalam setiap wadahnya, hingga semua wadah terisi penuh oleh makanan lezat dan menggugah selera.


"Terima kasih, Mba." Ucap Tuan Brawijaya dan yang lainnya mengikuti kemudian mengangguk kecil.


"Sama-sama Tuan dan Nona, kami permisi untuk kembali. Jika ada yang bisa ditanyakan atau ada yang bisa kami bantu, silahkan panggil kami kembali." Ujar salah satu Waitress tersebut dengan ramah, lalu tersenyum dan dianggukan juga oleh kedua temannya sesama Waitress.


"Ayo, silahkan dinikmati makanannya selagi hangat, jangan sungkan ya." Tutur Tuan Brawijaya mempersilahkan mereka untuk menikmati sajian makanan lezat yang ada dihadapan mereka.


Tanpa ragu Andi mengambil piring untuk dirinya dan juga Mutiara istrinya, padahal hati Mutiara sedang tidak baik-baik saja.


Mutiara sudah menahan tangisnya sedari tadi, yang terus ditatap oleh Kelik tanpa bosannya.


Angga dan Amara yang merasa risih melihat mata Kelik yang tidak lepas dari pandagannya kembali kepada Mutiara, seakan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


Percobaan mengalihkan perhatian Kelik diawal tadi saja, sangat mencengangkan jawaban dari bibirnya. Jadi Angga dan Amara memutuskan untuk diam saja.


"Sayang, kamu kenapa diam saja? Ayo, makanlah." Tanya Andi, yang melihat istrinya seperti tidak berselera untuk makan.


"I-iya, Mas! Aku belum begitu lapar." Ucap Mutiara terbata dengan berdusta.

__ADS_1


"Huem.. apa kamu sakit, sayang? Kenapa wajah kamu terlihat pucat?" Tanya Andi melihat wajah istrinya yang memang sedikit pucat dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.


"Tidak, Mas! Aku baik-baik saja." Lirih Mutiara menahan hatinya yang sedang kalut.


"Iya sudah, kalau kamu baik-baik saja segera dihabiskan makanannya." Ujar Andi mempercayai ucapan istrinya.


"Hu'em.." Mutiara hanya bergumam pelan.


"Ooh.. ini istrinya Dosen Andi ya? Maafkan saya sebelumnya kalau tidak mengenali." Tutur Tuan Brawijaya, saat tahu Andi memanggil sayang kepada Mutiara.


"I-iya Tuan, saya istrinya." Ucap Mutiara gugup.


"Iya.. salam kenal dengan Nona siapa namanya, Dosen Andi?" Tanya Tuan Brawijaya ramah.


"S-saya Mutiara Pandini, Tuan." Ucap Mutiara gugup.


"Iya, Nona Mutiara Pandini senang bisa mengenal anda. Dosen Andi adalah seorang Dosen kesayangan saya, yang rajin dan pintar." Ujar Tuan Brawijaya memuji Andi.


Kelik yang berada disamping sang Kakek tercekat, hingga kesusahan menelan salivanya. Sedangkan Amara dan Angga hanya tersenyum canggung.


"Aach.. Tuan Brawijaya bisa saja, saya hanya sebagian kecil diantara para Dosen yang lebih unggul di Kampus." Ucap Andi merendah.


"Ha.. ha.. ha.. bisa saja Dosen Andi ini merendah, saya sangat menyukai sifat kamu ini." Tawa Tuan Brawijaya pecah.


Kelik yang mendengar Kakeknya terus memuji rivalnya yang sudah merebut kekasihnya itu, hanya tersenyum kecut. Diapun sudah tidak berselera makan, hanya diaduk-aduk saja makanannya sedari tadi.


"Apa makanannya tidak enak, sayang?" Tanya Tuan Brawijaya kepada Kelik yang terlihat tidak berselera makan.


"Enak, Opah."


"Terus, kalau enak kenapa tidak dihabiskan? Kenapa hanya diacak-acak saja makanannya?"


"Aku sedang tidak enak hati, Opah. Aku sedang patah hati dan sedang hancur." Ujar Kelik dengan lirih masa bodoh dengan tatapan tidak mengenakkan dari Amara dan Angga. Mata Kelik terus terfokus kearah Mutiara, meski Mutiara tertunduk.


"Deg.." Jantung Mutiara berdenyut dengan debaran yang begitu kencang, dirinya takut jika Andi tahu kenyataan tentang Kelik.


Andi dan Tuan Brawijayapun seketika mengerutkan keningnya heran, mendengar ucapan Kelik dengan manik matanya yang terus menatap kearah Mutiara.


...♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️...


Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.

__ADS_1


--BERSAMBUNG--


__ADS_2