Terpaksa Menikahi Dosen

Terpaksa Menikahi Dosen
Bab 44


__ADS_3

πŸ₯°πŸ₯°Happy ReadingπŸ₯°πŸ₯°


Andi dan Mutiara baru saja menyelesaikan mandi yang sesungguhnya, namun Andi terlebih dahulu menyudahinya. Karena istrinya harus membersihkan pembalutnya dahulu, dengan mengganti yang baru.


Andi sudah berpakaian rapi, hari ini ada jadwal mengajar pagi di kampus. Dia duduk diranjangnya dengan membuka laptop, untuk membaca materi apa saja yang akan dia berikan hari ini.


"Jeglek." Suara pintu kamar mandi terbuka oleh Mutiara. Dengan tersenyum mengembang, Mutiara menghampiri suaminya yang masih fokus menatap layar laptopnya.


"Serius banget Mas, sampai engga sadar ada saya disampingnya." Kata Mutiara pelan.


"Iya.. sayang, saya sudah tahu ko, kamu sudah selesai mandi, bukan? Cup.. ayo pakai baju kamu, nanti saya bantu keringkan rambut basah kamu dengan hair dryer." Ujar Andi mengulum senyum, dengan mengikis jarak dan mengecup bibir istrinya sekilas. Kemudian diapun fokus kembali, ke layar laptopnya.


"Iya.. Mas." Ucap Mutiara singkat.


Dengan cepat, Mutiarapun memakai dress yang dibelikan oleh suaminya. Dress pilihan suaminya saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di Apartementnya.


"Mas.. saya sudah selesai." Panggil Mutiara dengan tersenyum mengembang.


Andi menoleh saat istrinya memanggilnya, diapun tersenyum bangga memiliki istri yang luar biasa cantik. Teman kampusnya, bahkan teman sesama Dosenpun pasti iri dan kagum dengan kecantikan alami istrinya.


"Sayang.. belum dandan saja, sudah cantik sekali. Apa lagi kalau sudah dandan, pastinya luar biasa, bukan?" Puji Andi, lalu menutup laptopnya.


Andi turun dari ranjangnya mendekat kearah istrinya, lalu tersenyum smirk.


"M.. as Andi mau ngapain? Ingat.. Mas Andi mau pergi mengajar, bukan? J.. jangan aneh-aneh! Tanya Mutiara gugup, saat suaminya mendekat dengan intens tanpa mengikis jarak.


Mendengar suara istrinya yang gugup dan takut terjadi sesuatu, Andipun tertawa puas. "Ha.. ha.. ha.. saya hanya mengambil ini, sayang." Ucap Andi tenang, menunjukkan hair dryer dihadapan wajah istrinya. Sejurus kemudian Andi menyalakan hair dryernya dan mengarahkan ke rambut istrinya, dengan menyisirnya perlahan.


"Ooh.. kirain, Mas Andi mau macam-macam sama saya!" Seru Mutiara panik, pikirannya sudah traveling keangkasa raya.


"Nanti malam saja macam-macamnya ya, sayang." Cicit Andi berikutnya.


"Aissh.. engga! Pokoknya nunggu seminggu lagi... titik! Engga pake koma." Ancam Mutiara final tanpa bantahan, dengan tersenyum smirk.


Seketika saja Andi merengek seperti anak kecil dengan tampang lugunya. Merayu dan membujuk istrinya dengan senyuman mematikan. Namun, Mutiara kekeh dengan ucapannya.


"Sayang.. eeemm.. apa kamu engga kasihan sama adik kecil saya? Kalau dekat-dekat kamu 'kan sekarang gampang banget breaksi. Saya juga engga tahu kenapa, apa karena sudah ketemu yang pas jadi gampang bereaksi atau karena saya sudah benar-benar cinta ya, sayang?" Tanya Andi sungguh dilema dengan mengerucutkan bibirnya. Namun, tangannya masih lincah menyisiri rambut istrinya dengan rapi.


"He.. he.. tampang kamu lugu sekali, Mas? Aku jadi gemas lihatnya! Itu bibir bisa dikondisikan, tidak Mas? Sudah selesai Mas.. rambut saya sudah kering dan rapi." Kekeh Mutiara melihat tingkah suaminya yang lucu, pura-pura lugu dan polos padahal mengerikan, aslinya.


Andi tidak meladeni pertanyaan istrinya, tapi dia mematikan alat hair dryernya, lalu menyimpan lagi ditempatnya.


Lantas Andi berpura-pura merajuk dan berbicara sendiri dengan adik kecilnya."Tega sekali istriku yang cantik ini ya, adik kecilku? Kamu siap-siap puasa satu minggu ya, sabar ya adik kecilku."

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.." Mutiara tertawa puas saat suaminya benar-benar terpengaruh dengan ancamannya.


"Tertawa saja terus, kamu puas 'kan sayang, lihat adik kecil suaminya menderita?" Tanya Andi berpura-pura marah.


"Ha.. ha.. ha.. bercanda Mas.. gitu saja ngambek. Mas Andi jelek, kalau marah gitu. Sudah aah.. kita sarapan ya, saya sudah lapar Mas." Ucap Mutiara tertawa, lalu menarik tangan suaminya untuk keluar kamar mereka.


"Tunggu.. ! Jadi ancaman kamu tadi hanya bercanda, sayang? Seriusan engga bohong." Tanya Andi dengan wajah ceria seraya menangkup wajah istrinya, melihat matanya tidak ada kebohongan disana.


Mutiarapun mengangguk kecil, lalu berucap. "Mana tega saya Mas, membiarkan suami yang sudah mencintai saya kini, menderita menahan hasratnya, tersiksa karena tidak tahan dengan sentuhan istrinya."


"Ya ampun.. sungguh hatimu terbuat dari apa coba? Istri yang paling baik dan pengertian, betapa beruntungnya saya memiliki istri seperti kamu." Kata Andi terpesona dengan kebaikan istrinya, yang selama ini dirinya buta akan hal itu.


"Aiish.. lebay, sudah melownya.. ayo kita sarapan." Decak Mutiara merasa tersanjung dalam hatinya, saat suaminya memujinya. Namun, Mutiara berusaha menutupi perasaan senangnya. Dia malu akan hal itu, lalu mengalihkan pembicaraan.


"Saya minta cium satu kali saja, dua menit janji engga akan lama." Pinta Andi menahan langkah istrinya, yang hendak membuka pintu kamarnya.


Mutiara tersenyum, tanpa aba-aba dan berkata apa-apa, Mutiara yang langsung menarik tengkuk suaminya cepat dan langsung mencium bibir suaminya dengan lembut dan pelan.


Sontak saja Andi terkejut dengan tindakkan istrinya yang menurutnya begitu agresif, namun dirinya begitu menyukainya. Ciuman mereka semakin panas, waktu dua menit seakan kurang rasanya, hingga mereka ber cumbu melebihi waktu yang ditentukan. Hingga bunyi ketukan pintu, menghentikan ciuman panas mereka.


"Tokk.. tokk.. tokk.." Bunyi ketukkan pintu.


"Sayang... apa kalian tidak sarapan? Ini sudah jam sembilan loh, ayo sarapan dulu. Mami tidak mau ya, kalian sampai sakit karena tidak sarapan." Panggil Mami Safira engga sabar, karena waktu sarapan sudah telat.


"Iya.. kalian ditunggu Angga tuh, dia juga baru sarapan di meja makan." Sambung Mami Safira lagi, lalu meninggalkan mereka yang masih belum juga keluar.


"Aishh.. ganggu saja nih Mami! Tapi, saya tidak menyangka kamu agresif juga ternyata, sayang. Terima kasih ya, ciuman hotnya barusan. Tanpa sengaja, kamu sudah membangunkan adik kecilku lagi, dibawah sana. Kamu keluar duluan saja, saya akan menidurkan adik kecil saya dengan air dingin dulu." Ungkap Andi tanpa ada rasa malu lagi, tidak menutupi apa yang dia akan lakukan.


"Iya.. Mas, maaf sudah membangunkan adik kecilnya." Ucap Mutiara menyesal, dengan menahan senyum.


"Ha.. ha.. ha.. engga usah minta maaf sayang, orang suamimu ini sungguh menikmatinya. Kalau mau tertawa jangan ditahan-tahan, sayang. Wajah kamu sudah merah merona itu, seperti kepiting rebus." Tawa Andi puas dan meledek istrinya, lalu berlari ke kamar mandi.


"Ck.. suamiku benar-benar yah, dicium saja langsung bangun adik kecilnya." Decak istrinya menggelengkan kepalanya heran.


"Saya ke meja makan duluan ya, Mas!" Pamit Mutiara beranjak pergi meninggalkan kamarnya.


"Iya.. sayang." Sahut Andi singkat, dari dalam kamar mandi.


Mutiarapun berjalan menuju meja makan yang sudah sepi. Hanya Angga, yang sedang sarapan sendirian.


"Hai.. dik Angga." Sapa Mutiara ramah dengan senyuman manisnya.


"Hai.. juga, kakak ipar. Kenapa sendirian? Mana suami bucin kakak?" Sapa Angga kembali, lalu menanyakan keberadaan kakak kandungnya.

__ADS_1


"Masih di kamar, sebentar lagi menyusul." Ucap Mutiara santai.


"Ooh.. gitu! Iya.. sudah, kakak ipar ambil sarapannya saja terlebih dahulu." Tawar Angga santun.


"I.. ya dik, nanti saja tunggu Mas Andi datang." Ucap Mutiara kikuk.


"Angga ikut bahagia, hubungan kakak ipar dan kak Andi sudah ada peningkatan. Semoga kalian selalu diberi kebahagiaan yah." Ucap Angga tulus mendoakan mereka.


"Aamiin.." Ucap Andi yang mendengar doa adiknya dari belakang punggung Angga.


"Eeh.. kak Andi sudah datang! Ayo kak sarapan, kakak ipar engga mau sarapan dari tadi nunggu suaminya datang dulu, katanya." Ujar Angga menawarkan sarapannya.


"He.. he.. he.. jelas saja dik, nunggu kakak datang. Kita 'kan mau sarapan sepiring berdua, biar romantis. Iya 'kan, sayang?" Kata Andi terkekeh dengan ucapannya.


"Aiish.. Mas Andi, siapa bilang mau sepiring berdua? Engga ach.. nanti saya engga kenyang." Decak Mutiara tersenyum smirk.


"Kasian.. kasian.. kasian.. ha.. ha.. ha.. " Ucap Angga tertawa puas, lalu menggelengkan kepalanya pelan.


Sontak saja Andi mengerucutkan bibirnya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ha.. ha.. ha.." Angga dan Mutiara, tertawa puas melihat bibir manyun Andi. Lalu Andipun ikut terkekeh, dengan mereka bersama-sama.


...🌹🌹🌹🌹🌹...


Autor : Nah.. gitu dong! Akur.. senang lihatnya. πŸ₯°πŸ€­


Andi : Iya dong Tor.. terima kasih yah Tor, sudah bikin saya bahagia bersama istri dan adik saya. πŸ₯°πŸ’ƒ


Autor : Iya.. Mas Andi! Tapi.. jangan senang dulu Mas Andi. Masih banyak kejutan nanti yang akan datang menguji cinta Mas Andi.πŸ€­πŸ€£πŸ’ƒ


Andi : Apa lagi Tor? Jangan macam-macam Tor! Satu macam saja, saya sudah kelimpungan! Apa lagi macam-macam.😑😭


Autor : Kasih tahu, engga yah? πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈKaboor saja lah, biar Mas Andi penasaran.πŸ€£πŸ’ƒ


Andi : Huus.. sana kabur! Jangan balik-balik lagi sekalian.😑😈


...β™₯️β™₯οΈπŸŒΉπŸŒΉπŸ’πŸ’β™₯️β™₯️β™₯️...


Bagaimana cerita saya kali ini? Mohon like dan komennya yah! Boleh juga hadiahnya bagi Readers yang baik hati dan tidak sombong. Terima kasih yah, salam bahagia selalu dari Tina Rifky.


--BERSAMBUNG--


...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips juga komentarnya yah. Terima kasih.πŸ™πŸ™...

__ADS_1


__ADS_2