
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Di Rumah Sakit, pukul 7 pagi.
Andi datang dengan berjalan gontai untuk menemui Papi dan Maminya di ruangan rawat inap. Namun dia tiba-tiba dihentikan, oleh seorang Suster yang sedang berjaga disana.
"STOP!" Pekik Suster jaga dengan lantang.
Sontak saja Andi langsung berbalik badan, kebelakang arah suara dibalik punggungnya.
"Kenapa Sus? Kenapa menghentikan saya?" Tanya Andi heran hingga mengerutkan keningnya, padahal dia hanya akan masuk menemui kedua orang tuanya didalam.
"Maaf Mas, saya tidak bermaksud menghentikan Mas. T.. tapi, Pasien Tuan Dahlan tidak bisa diganggu." Ucap Suster itu gugup karena berdusta.
"Maksud Suster? Saya itu anak dari Pasien Tuan Dahlan. Lagian Mami saya juga menginap disini semalam, jadi apa salahnya kalau saya menemui mereka?" Tanya Andi dengan wajah kesal, namun tetap terlihat tampan.
"I.. itu Pasien Tuan Dahlan, sedang tidur bersama Ibu Mas. Semalam, Pasien habis melakukan kemoterapi untuk penyakitnya. Jadi saat ini mereka masih tidur, tidak bisa diganggu. Mungkin nanti sekitar pukul 11 siang, mereka baru akan bangun." Dusta Suster itu menutupi pasangan suami istri, yang terlihat sangat kompak dan manis.
"Apa? Pukul 11 siang? Yang benar saja, mereka bangun pukul 11 siang. Memangnya mereka baru tidur jam berapa, Sus?" Tanya Andi heran, tidak masuk akal pikirnya.
"Jam 5 pagi Mas." Ucap Suster itu, lagi-lagi berdusta.
"Maafin saya Mas! Saya jadi berbohong terus hari ini. Ya Allah ampuni dosaku, sudah membohongi Mas ini, gara-gara menutupi sandiwara pasangan suami istri."
Hati Suster itu merasa bersalah, namun apa dayanya, demi menyelamatkan sandiwara kedua pasangan suami istri itu, agar tidak terbongkar.
"Jam 5 pagi? Memangnya, kemoterapi Papi saya berapa jam, Sus? Lantas, mengapa harus dilakukan malam hari? Memangnya, kalau siang tidak bisa?" Andi bertanya, seolah-olah sangat merasa aneh.
"Waah .. mati aku! Mas ini terlalu pintar untuk dibodohi." Bathin Suster itu berucap.
"Sus.. Suster.. woi.. Suster kenapa kau diam saja?" Panggil Andi, dengan melambaikan tangannya di depan wajah Suster itu.
Sontak saja Suster itu terkejut, karena dirinya tampak melamun dihadapan Pria tersebut.
"Drrt.. drtt.." Suara getar, ponsel Suter jaga itu.
"Maaf Mas, saya harus angkat telpon saya dulu. Saya takut ini sangat penting." Suster itupun lantas meninggalkan Andi, dengan wajah yang masih keheranan.
__ADS_1
Andi menggelengkan kepalanya heran, Suster itu nampak takut melihat wajahnya. Lalu dia berusaha untuk masuk saja ke dalam kamar ruang rawat VVIP tersebut, meski Suster itu sudah melarangnya.
Di saat Andi menyentuh handle pintu dengan pelan, ternyata pintu kamarnya terkunci.
"Kenapa di kunci? Apa Mami sampai segininya, saat tidur di Rumah Sakit harus mengunci pintu segala?" Andi bergumam pelan, kesal dengan kesialan dua hari ini.
Kemarin harus terpaksa menikah dadakan, dengan gadis kampung yang masih bocil. Sekarang harus menunggu Mami dan Papinya bangun pukul 11 siang, mana pintu kamarnya juga di kunci. Andi kesal sendiri, memaki-maki dirinya. "Sial.. sial.. weekend terburuk bagiku."
*******
Di Hotel XX.
Nyonya Safira menghubungi Suster jaga, yang bertugas untuk membantunya bersandiwara. Dia menelpon Suster itu, seraya duduk disamping suaminya yang masih tertidur.
"Hallo Nyonya Safira."
"Hallo Suster, bagaimana apakah kamar kami aman?"
"Tidak Nyonya, kamar Nyonya sedang tidak aman."
"A.. apa Maksud, Suster?"
"Disini ada anak Nyonya Safira, Mas Andi ingin segera masuk ke kamar rawat inapnya."
"Apa? Sepagi ini, Andi sudah datang?"
"Iya, Nyonya."
"Lantas bagaimana ini? Ya sudah saya akan kesana secepatnya. Ooh iya, Suster tolong alihkan perhatian anak saya, nanti jika saya akan masuk ke dalam ruang rawatnya."
"Iya, Nyonya."
Mami Safirapun kemudian mematikan panggilannya, lalu diapun membangunkan suaminya untuk cepat mandi.
"Sayang, Papi.. ayo bangun. Andi ada di Rumah Sakit sekarang, kalau kita tidak segera kesana sekarang, dia pasti curiga. Sandiwara kita akan terbongkar!" Seru Safira membangunkan suaminya, yang masih kelelahan akibat pertempuran mereka semalam.
Sontak saja Papi Dahlan langsung terbangun dari tidur lelapnya, saat istrinya mengatakan kalau Andi sudah ada di Rumah Sakit sekarang.
__ADS_1
"Benarkah Mih? Andi sudah ada di Rumah Sakit?" Tanya Papi Dahlan dengan wajah shocknya.
"Iya Pih, sudah cepat mandi sana. Mami mau berdandan dulu." Titah istrinya untuk segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Iya Mami sayang, padahal Papi masih kangen. Cup.. cup.. cup.." Ucapnya, seraya menghujani wajah istrinya dengan ciuman singkat.
"Aiish.. Papi 'kan belum mandi! Jorok iih.... masih bau Pih...." Decak Safira kesal mendapat serangan diwajahnya.
"He.. he.. he... salah sendiri, kenapa begitu menggemaskan." Kekeh Papi Dahlan seraya berjalan ke kamar mandi, meninggalkan istrinya yang masih kesal.
"Papi.. Papi... Mami mana bisa marah sama Papi, kalau ucapanmu selalu membuatku jatuh cinta." Safira bergumam pelan, memandangi punggung suaminya yang menghilang dibalik kamar mandi.
Safira memoles wajahnya begitu telaten, meski dirinya sudah tidak muda lagi. Usianya sudah menginjak 45 tahun, karena saat menikah dengan suaminya Dahlan, usia Safira baru menginjak 18 tahun.
Pernikahan Dahlan dan Safira juga dulu adalah sebuah ketidaksengajaan, karena saat itu Dahlan akan menikah dengan Kakaknya Safira yaitu Clarisa. Namun saat Dahlan akan menikahi Clarisa dihari pernikahannya, Clarisa mendadak menolaknya dan kabur meninggalkan Dahlan bersama seorang Pria.
Karena orang tua Dahlan dan orang tua Ckarisa tidak ingin menjadi malu, akhirnya mereka berunding untuk menikahkan anak kedua mereka, untuk menggantikan sang Kakak yang sudah kabur dari pernikahannya.
Sang Adikpun mau tidak mau harus mengikuti perintah sang Papa, padahal dirinyapun baru lulus SMA saat itu.
Pernikahan mereka diawal yang nampak canggung, akhirnya setelah mengenal satu sama lainnya, merekapun bisa saling mencintai dan memiliki dua orang anak laki-laki, yang sangat tampan seperti Papi Dahlan.
Tanpa sadar, air mata Safira menetes dipipi cantiknya, saat terbayang masa mudanya yang terpaksa menikah untuk menggantikan sang Kakak.
"Jeglek." Bunyi pintu kamar mandi saat terbuka.
Dahlan berjalan menghampiri sang istri, dan memeluk pinggangnya dari belakang.
"Mami sayang, kenapa menangis? Apakah ada yang membuatmu bersedih?" Tanya Papi Dahlan seraya menyenderkan dagunya dipundak Safira.
"Tidak Pih, Mami hanya sedang teringat masa awal kita menikah dulu." Ucapnya seraya menggelengkan kepalanya. Lalu Safira membalikkan tubuhnya, menghadap suaminya dan tersenyum.
"Oohh... Mami, sudahlah masa itu aku bersyukur, tidak jadi menikah dengan Kakak tirimu. Aku malah bahagia menikah denganmu sayang, meski diawal pernikahan kita tanpa ada cinta."
"Iya Pih, Mami juga bahagia." Ucapnya Safira tulus. Papi Dahlan langsung mencium lembut bibir istrinya, yang sudah membuatnya bahagia.
--BERSAMBUNG--
__ADS_1
...Jangan lupa kasih like, favorite, vote dan tips komentar yah. Terima kasih....