
🥰🥰Happy Reading🥰🥰
Andi merasa menyesal, sudah egois dengan sikap yang dilakukannya sebelum kecelakaan itu terjadi. Seandainya Andi mau sedikit saja mendengarkan penjelasan Mutiara istrinya, mungkin musibah ini tidak akan terjadi.
Dengan begitu lirih dan pilu, dia berusaha sekuat tenaga untuk turun dari ranjangnya. Andi begitu sangat ingin melihat kondisi Mutiara, setelah akhirnya sang Papi Dahlan mengatakan semuanya yang sudah terjadi kepada istrinya beberapa saat yang lalu.
"Pih, tolong bantu aku untuk melihat istriku sekarang juga. Andi mohon, Pih!" Mohon Andi dengan penuh iba.
Dahlanpun dengan lirih membantu anak sulungnya itu untuk naik keatas kursi roda, dengan dibantu Angga mendorong kursi roda tersebut.
"Terima kasih, Pih, dik." Ucap Andi lirih.
Sedangkan Safira hanya mengikuti kemauan Andi tanpa banyak berucap. Amara yang pernah begitu mencintai Andipun, hanya bisa menangis sedih melihat kondisi Andi saat ini. Kemudian dengan terbata Amarapun memberi semangat kepada Andi.
"K-kak Andi harus kuat dan selalu bersabar, jangan pernah menyerah ya, kak Andi! Fighting.. !"
"Terima kasih, Amara." Ucap Andi lirih, dengan air mata yang masih membekas dipipinya akibat dirinya sudah tahu kondisi istrinya yang sedang terbaring koma diruang ICU.
"Iya, kak Andi."
Angga mendorong kursi roda Andi dengan perlahan menuju ruang ICU, dengan bergetar hebat tubuh Andi tarasa seperti ditusuk-tusuk belati, saat melihat kondisi sang istri yang begitu memilukan. Andi hanya bisa menahan tangis dalam diam, air mata yang menetes dipipi hanya saksi bisu betapa hancurnya hati Andi saat ini.
"Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu sayang. Aku tidak berpikir jernih, karena cemburu membutakan pikiran dan akal sehatku." Andi berperang dalam batinnya.
Safira juga begitu tersayat hatinya, takala melihat sang menantu sedang terbaring lemah dengan alat bantu medis diseluruh tubuhnya.
Angga dan Amara pun begitu shock, saat menyaksikan Mutiara yang tadi siang masih baik-baik saja, masih membaca buku di Perpustakaan bersamanya. Lalu, sekarang sedang terbaring koma, tanpa tahu sampai kapan dia akan bangun dan kembali ditengah-tengah mereka.
"Semua ini gara-gara Kelik, gara-gara aku cemburu kepadanya. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan kamu Kelik, jika sampai istriku tidak bangun kembali." Andi bergumam pelan dalam menahan tangisnya saat melihat istrinya dari luar ruangan ICU.
Saat ini ruangan ICU, masih dalam tahap perawatan insentif, jadi mereka hanya bisa melihat dari luar ruangan tersebut yang berdinding kaca besar.
Angga yang mendengar gumam Andi yang memang posisinya tepat di belakang Andi, hanya bisa mengusap pundaknya dengan pelan dan memberikan semangat dalam memperjuangkan hidup sang istri, agar terus optimis dan yakin bisa melewati semua ini.
__ADS_1
"Tetap tenang, sabar dan optimis, kak! Jangan berpikir macam-macam, yakin dan berdoa. Aku percaya, kakak ipar sedang berjuang melawan semua cobaan ini. Biarkanlah, semua yang sudah terjadi terjadilah, jangan pernah disesali yang akhirnya membuat hati kita sakit dan terpuruk." Tutur Angga bijak, memberikan dorongan spirit untuk kakak kesayangannya itu.
""Hiks.. hiks.. hiks... iya, dik! Apa yang kamu katakan ada benarnya." Isak tangis Andi terdengar takala mendengar nasehat sang Adik yang begitu bijak.
Amara tersenyum bangga, saat sang kekasih begitu pandai menenangkan sang kakak. Sedangkan Shafira dan Dahlan ikut mengusap pundak Andi, untuk memberikan semangat agar anak sulung mereka itu bisa tenang dan sabar melewati ujian kehidupan ini menjadi orang yang lebih baik lagi.
*******
Di Jogjakarta, Lanjar baru saja bersiap-siap untuk pergi ke Bandara. Anak buah Dahlan, membantu Lanjar membawakan koper nya. Perjalanan yang menempuh waktu hampir satu jam itu, akhirnya merekapun sampai di Bandara Soekarno-hatta.
Lanjar cemas dan khawatir, saat dirinya kini berada dalam mobil menuju rumah sakit tempat anaknya dirawat. Lanjar belum begitu tahu pasti kondisi anaknya saat ini, karena Dahlan tidak mengungkapkan kondisi Mutiara secara gamblang.
Dahlan tidak ingin besan nya itu shock yang berlebihan seperti sang istri, yaitu Shafira yang pingsan saat pertama kali tahu sang menantu jatuh koma.
"Mas-mas nya ini siapa ya namanya? Saya tadi lupa menanyakan nama Mas nya. Habisnya, saya begitu panik tadi, saat Mas-mas nya datang tiba-tiba menjemput saya."
""Perkenalkan nama saya Asep, Nyonya."
"Kalau nama saya Wildan, Nyonya."
"Saya juga tidak begitu tahu pasti, Nyonya. Saya hanya menjalankan tugas, untuk menjemput Nyonya saja." Ucap Asep yang kemudian dianggukkan juga oleh Wildan.
"Ooh.. begitu ya! Iya sudah, kalau begitu terima kasih, Mas-masnya."
Lanjarpun kembali duduk tenang, tanpa banyak bicara lagi. Matanya menatap kosong keluar kaca mobil, dengan pikiran yang entah mengapa sulit diselami. Hatinya seperti merasakan, jika sang anak yang sedang dirawat di rumah sakit kini, bukan hanya sakit biasa ataupun sakit ringan.
"Mutiara sayang, apakah kamu hanya sakit biasa, sayang? Apakah kamu akan segera sembuh, jika Ibu sudah datang?" Hati Lanjar bertanya-tanya, buliran air mata tak terasa menetes dipipi Lanjar, yang sudah mulai menua karena dimakan usia.
Tidak berapa lama mobil melanju, karena jalanan yang nampak sepi dipagi hari pukul lima pagi itu, akhirnya merekapun sampai dirumah sakit dengan cepat dan selamat.
"Mari, Nyonya! Mari ikuti langkah saya." Ucap Asep yang kemudian di ikuti oelh Lanjar.
Asep pun berjalan menuju ruangan dimana tempat Dahlan sekeluarga sekarang berada, karena Asep sebelumnya sudah konfirmasi kepada majikannya tersebut.
__ADS_1
Andi juga terpaksa dirawat dirumah sakit untuk satu sampai dua hari kedepan, karena kondisinya yang belum begitu Vit.
"Assalamu'alaikum, Tuan dan Nyonya." Ucap Asep memberi salam dan kemudian Lanjarpun ikut memberi salam.
""Waalaikumussalam, alhamdulilah besan sudah datang." Jawab Safira dan Dahlan yang masih terjaga.
Sedangkan Andi sudah tertidur pulas, karena dirinya yang memang baru saja tidur setengah jam yang lalu.
Amara dan Angga kembali pulang kerumahnya, karena mereka besok pagi harus melaksanakan tugas Ospek di kampus.
Lanjarpun berjalan menghampiri Safira dan Dahlan, dengan wajah yang begitu sulit untuk diartikan. Safira tiba-tiba saja menangis sejadi-jadinya, saat merengkuh tubuh Lanjar dengan bergetar. "Hikks.. hikks.. hikks.."
Sedangkan Dahlan hanya terdiam, tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun. Hatinya terlalu sakit, jika melihat Lanjar jadi teringat Bagus sahabatnya.
"Besan, kalau mantuku yang sedang dirawat disini, terus anakku Mutiara dimana sekarang?" Tanya Lanjar kebingungan, hanya melihat Andi yang sedang tidur dengan selang inpus ditangannya.
"Hikks.. hikks.. hikks.. s-sebenarnya Andi dan Mutiara mengalami kecelakaan, besan." Ucap Safira terbata dengan diiringi tangisan kecil.
"K-kecelakaan?" Tanya Lanjar terbata mengulang kembali kata Safira.
"I-iya, besan, hikks.. hikks.. hikks.."
"Kalau begitu, sekarang anakku dimana, besan? Kenapa hanya mantuku yang ada disini?" Wajah Lanjar mulai panik dan kebingungan.
"Menantu cantikku, sedang dirawat di ruang ICU, besan. Hikks.. hikks.. hikks.."
"A-apa? Mengapa bisa sampai dirawat diruang ICU? Apakah luka anakku begitu parah, hingga harus dilarikan ke ruang ICU?" Tanya Lanjar yang begitu tercekat dan hampir tidak percaya dengan berita yang baru saja didengarnya.
Safira menarik tubuh Lanjar kedalam pelukkannya yang mulai terlihat lemah, diapun tidak menjawab pertanyaan Lanjar. Safira tidak ingin Lanjar jatuh pingsan, diapun hanya menggelengkan kepalanya pelan.
♥️♥️♥️🌹🌹🍒🍒♥️♥️♥️
Jangan lupa kasih like dan komentarnya yah, biar Autor semangat up date lagi. Apa lagi bunga dan kopinya mau banget! Terima kasih yah Readers yang baik hati.
__ADS_1
--BERSAMBUNG--